
AAI 93 - SAH
Seminggu kemudian,
Tenda biru terpasang di depan halaman sebuah rumah minimalis di sudut kota Surabaya. Ornamen-ornamen bunga memenuhi tempat itu, seakan menandakan jika disana tengah terlaksana sebuah acara yang sangat meriah. Terlihat banyak sekali orang yang berlalu lalang dengan menggunakan pakaian terbaik mereka. Wajah-wajah berseri setiap orang menambah kesan kebahagiaan yang dirasakan oleh semua orang disana.
Di dalam tenda tersebut telah terdapat sebuah meja dengan beberapa orang yang duduk mengelilinginya. Di atas meja itu sudah nampak banyak lembaran kertas serta buku dan juga bolpoin sebagai pelengkapnya.
Raut wajah tegang terlihat jelas seorang laki-laki yang tengah duduk dengan menggunakan pakaian serba putih. Keringat dinginnya begitu nampak meski kepalanya tengah menggunakan peci yang senada dengan pakaiannya.
"Apa semuanya sudah siap?" Tanya seorang penghulu kepada semua orang yang ada di sana. Mereka saling pandang lalu sama-sama menganggukkan kepala.
"Baiklah, silakan Pak Doni." Ujar penghulu itu seraya mempersilakan ayah Indah untuk memulai prosesinya. Dengan menghela napas panjang, Doni pun mengulurkan tangannya dan disambut oleh laki-laki yang tengah duduk di hadapannya itu.
"Ananda Galih Surya Wibawa bin Hendra Surya Wibawa almarhum Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Indah Permatasari dengan maskawin nya berupa seperangkat alat sholat dan uang sebesar tiga juta tujuh puluh dua ribu dua puluh tiga rupiah dibayar tunai." Ucap Doni lantang kepada Galih seraya memberikan sedikit tekanan pada salaman tangannya. Galih yang mendapatkan kode itu langsung menghirup dalam-dalam udara.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Indah Permatasari binti Doni Pratama dengan maskawin nya yang tersebut, tunai." Sahut Galih tak kalah lantang. Saat ini detak jantung nya seakan ingin lompat dari tempatnya karena saking nervous nya. Ia sangat gugup meski ini adalah kali kedua bagi Galih untuk menikahi wanita yang sama. Seluruh orang yang ada di sana menahan napas, menantikan jawaban dari para saksi yang menyaksikan prosesi pernikahan tersebut.
"Bagaimana para saksi? Sah?" Tanya penghulu.
"SAH"
Semua orang akhirnya bisa bernapas lega. Begitu juga Galih, ia merasa jika hidupnya kini telah kembali. Rasanya ia masih tidak percaya bisa mendapatkan kembali cinta pertama dan terakhir baginya itu.
__ADS_1
Doa-doa mulai dipanjatkan, baik Galih dan seluruh orang yang ada di sana terlihat khusyuk menundukkan kepala seraya mengamini semua yang diucapkan oleh pemuka agama. Setelah selesai, kini tibalah bagi mempelai wanita untuk keluar dari persembunyiannya.
Wangi melati mulai menguat di indera penciuman semua orang yang ada di sana. Tak ada yang tidak terpesona melihat kecantikan sang ratu sehari itu. Galih yang duduk membelakanginya tak bisa ikut melihatnya.
Detak jantung Galih kian tak menentu saat sudut matanya melihat pakaian Indah yang menjuntai di samping kirinya. Setelah Indah duduk, barulah Galih menoleh ke arah wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya lagi.
Subhanallah,
Tanpa sadar Galih menyebut nama Allah saat ia melihat kecantikan sang ratu. Kata-katanya yang sedikit keras mengundang gelak tawa semua orang yang ada di sana. Sedangkan mempelai wanita hanya bisa menundukkan kepala karena tersipu malu mendengar perkataan sang suami.
Kini tiba saatnya prosesi resepsi setelah semua proses akad selesai. Semua keluarga serta tamu undangan tak henti-hentinya menahan tawa saat melihat mempelai laki-laki yang begitu romantis dan menempel kepada mempelai wanitanya.
"Ih, Mas. Jangan terlalu dekat-dekat. Malu dilihatin banyak tamu," bisik Indah seraya menyikut lengan Galih. Galih tak bergeming, ia seolah tuli dan memasang wajah tebal meski wajah Indah sudah memperlihatkan kekesalannya.
"Lihatlah, Bu. Menantumu itu sangat tidak tahu tempat. Apa tidak malu dilihat banyak orang, ha? Rasanya pengen tak bejek-bejek itu muka," desis Doni seraya mengepalkan kedua tangannya. Ia sangat geram karena Galih yang membuat malu seluruh keluarga di depan para tamu undangan. Ratih hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan sang suami.
"Cih, jangan samakan dengan kita dulu lah. Itu lain lagi," elak Doni. Ia tidak suka ketika sang istri menyamakan dirinya dengan menantunya itu. Entah mengapa melihat wajah Galih yang sekarang membuat Doni merasa sangat kesal. Apalagi ia kalah telak dari Galih saat keduanya main catur bersama dihari pertama keduanya bertemu. Doni sangat malu, ia dikalahkan oleh Galih padahal ia berangan-angan bisa mengalahkan Galih di permainan itu. Karena permainan itu adalah salah satu syarat yang harus dilakukan Galih jika ingin kembali pada Indah.
"Huh, aku tak suka melihat wajahnya." Sungut Doni. Ratih hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sang suami yang layaknya seperti anak kecil.
Sedangkan di tengah-tengah pelaminan, Galih dan Indah diminta untuk berdiri oleh fotografer mereka. Keduanya mengikuti arahan hingga kini posisi keduanya terlihat sedikit intim. Galih dan Indah berdiri berhadapan, dengan kedua tangan Galih melingkar di pinggang sang istri. Sedangkan tangan Indah berada di leher Galih.
"Kau tahu, Indah. Aku sangat mencintaimu. Sejak pertama kita bertemu sampai detik ini. Kaulah duniaku, Indah. Terimakasih karena kau sudah bersedia menjadi pendamping laki-laki tak sempurna seperti diriku ini. Terimakasih banyak," ucap Galih tulus dengan memberikan kecupan hangat di kening Indah. Indah yang terlalu fokus dengan Galih sampai tidak bisa mendengar suara riuh dari semua pasang mata yang melihat mereka. Sang fotografer pun tak mau ketinggalan. Ia mengabadikan setiap detik kejadian yang tengah berlangsung di atas pelaminan tersebut.
__ADS_1
"Aku juga sangat berterimakasih kepada mu, Mas. Terimakasih karena sudah mencintaiku sebesar ini. Aku sangat bersyukur telah dipertemukan dengan mu. Aku akan meminta kepada Allah agar menyatukan kita kembali di surganya nanti. Aku juga mencintaimu," balas Indah yang semakin membuat riuh para tamu. Mereka berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah kepada sang pengantin. Bahkan para tamu laki-laki saling bersiul hingga membuat Galih dan Indah langsung tersadar. Keduanya begitu malu dan kikuk karena tertangkap basah oleh semua tamu undangan.
"Peluk,"
"Cium,"
"Peluk,"
"Cium,"
Galih yang melihat wajah malu istrinya langsung menarik tangannya dan memeluk tubuh ramping Indah.
Ciuit...
Wow...
Prok prok prok
Indah semakin menyembunyikan wajahnya yang malu di pelukan suaminya. Ia tak menyangka jika pernikahan keduanya akan merasakan se-malu ini.
"Jangan malu-malu, Sayang. Wajahmu yang tersipu membuatku semakin ingin," bisik Galih tepat di telinga Indah. Tanpa pikir panjang, Indah mencubit pinggang Galih dengan kuat hingga membuat laki-laki itu melepaskan pelukannya.
Semua tampak bahagia. Hingar binar kebahagiaan terpancar jelas di wajah semua orang yang ada di acara tersebut. Kecuali satu orang.
__ADS_1
"Apa istimewanya gadis itu? Kenapa aku harus menikahinya? Lia benar-benar sudah gila," gumam seorang laki-laki seraya pandangannya tertuju pada Gita yang tengah tertawa bahagia menyaksikan keromantisan kakaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...