Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI Maafkan aku,


__ADS_3

AAI 41 -


Sore harinya,


Semenjak kepulangan Indah dari kantor Galih, wanita itu terlihat lebih pendiam. Begitu banyak masalah sampai pertanyaan yang muncul di dalam benaknya. Tingkah suaminya yang berbohong membuat Indah menjadi was-was. Ia sangat mencemaskan Galih dan juga pernikahannya.


'Kemana kamu pagi ini, Mas? Kamu tidak mungkin menghianati ku, kan? Kamu masih mencintaiku kan, Mas?' tanya Indah dalam hati. Setetes air mata kembali mengalir dari kedua sudut matanya. Dengan cepat Indah segera menghapusnya sebelum ibu mertuanya mengetahui hal itu.


"Indah? Indah?" Panggil Hesti dengan suara lantang. Dia berjalan keluar kamar mencari keberadaan sang mantu pertamanya.


Indah yang tengah mengaduk sup ayamnya, mendadak terkejut lalu mematikan api kompor itu. Ia segera bergegas meninggalkan dapur untuk menghampiri sang ibu mertua.


"Iya, Bu? Ada apa?" Tanya Indah. Wanita itu bisa melihat raut wajah kesal sang mertua karena dirinya yang tengah melamun saat dipanggil.


"Dari tadi di panggil gak nyahut kemana saja, hah? Bikin naik darah kau ini," dengys Hesti seraya mengambil segelas air putih dan meminumnya.


"Maaf, Bu. Tadi aku masak di belakang, jadi tidak mendengar jelas saat Ibu memanggilku." Sahut Indah. Hesti menatap sinis menantunya itu sambil meletakkan kembali gelas kosongnya.


"Alasan kamu itu," omel Hesti. Indah hanya bisa menundukkan kepala mendengar omelan ibu mertuanya.


"Aku mau besok pagi kau buatlah bubur ayam dan taruh di tempat makan. Aku akan memberikan kepada seseorang," ucap Hesti. Besok pagi ia ingin mendatangi Melinda dan memberikannya bubur ayam. Indah mengeryitkan dahi mendengar hal itu. Tidak biasanya ibu mertuanya itu memberikan makanan buatannya untuk orang lain. Pasalnya Hesti biasa memesan makanan dari rumah makan langganannya.


"U-untuk siapa, Bu? Apa dia sedang sakit?" tanya Indah penasaran.


Hesti tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu.


''Tidak, dia tidak sakit. Tapi sedang hamil," dengan seutas senyuman, Hesti menjawab pertanyaan dari menantunya itu penuh arti.


'Asal kau tahu, Indah. Dialah madumu, istri kedua dari suamimu yang sangat kau cintai itu.' lanjut Hesti dalam hati. Ia tidak mungkin mengatakan hal itu langsung pada Indah, atau ia pasti akan mendapatkan balasan dari putranya. Oleh sebab itu, Hesti tidak mau berbuat nekat.


"O-oh, baik Bu. Besok akan aku buatkan," ujar Indah pada akhirnya. Ia tak ingin bertanya lebih lanjut lagi atau ia akan mendapat sembur dari Hesti.

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban dari Indah, Hesti pun segera menyingkir dari area dapur.


'Kira-kira siapa ya yang sedang hamil? Haih, berapa beruntungnya dia. Kapan aku akan hamil, Ya Allah? Berikanlah kami keturunan agar memperamai suasana rumah yang besar ini. Kami begitu sangat ingin mendengar tangisan seorang bayi di dalam rumah ini, Ya Rabb.' setetes air mata kembali mengalir dari pelupuk mata Indah untuk yang kesekian kalinya.


Sudah beberapa tahun ini ia selalu menangis di kesendiriannya. Menangisi takdir sang pencipta yang tidak adil terhadapnya.


Tepat pukul enam sore, Galih pulang dari bekerja. Dengan membawa tas kerjanya, laki-laki itu berjalan masuk menuju ke arah dapur. Ia merasa bersalah kepada Indah karena telah berbohong pagi ini. Maka dari itu, ia sudah berencana untuk meminta maaf padanya setiba dirinya di rumah.


'Semoga Indah bisa memaafkan ku. Aku sangat menyesal karena telah berbohong padanya. Tapi aku tak punya pilihan lain. Aku terpaksa berbohong padanya karena wanita itu. Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku,' ujar Galih dalam hati. Langkahnya begitu tergesa mengingat hari sang istri yang mudah rapuh. Seumur hidupnya ia mengenal Indah, tak pernah sekalipun Galih berbohong padanya. Namun, semenjak adanya kejadian itu, Galih tidak bisa jujur dan selalu berbohong padanya.


''Sayang? Indah? Kamu dimana, Indah?'' suara Galih setibanya di dapur. ia memanggil-manggil nama aang istri sambil melihat sekeliling dapur. Namun nihil. Ia tidak melihat keberadaan sang istri di sana.


''Sepertinya dia sedang ada di kamar. Ini makanannya sudah siap semuanya. Aku akan menghampirinya ke kamar sekalian mandi. Badanku sudah terasa lengket sekali seharian ini," gumam Galih seraya mencoba mencium aroma tubuhnya sendiri.


Sambil berjalan menaiki tangga, Galih melepas jas dan melonggarkan tali dasi nya.


cklek


''Dia sedang mandi,'' ujar Galih.


Sambil menunggu Indah selesai, Galih duduk di sofa kamar. Namun baru saja pantatnya menyentuh sofa, terdengar dentingan suara ponsel miliknya yang berada di dalam saku celananya.


Ting


Galih merogoh saku itu dan mengambil ponselnya yang berwarna hitam tersebut. Wajahnya berubah dingin kala melihat sebuah pesan yang masuk ke dalam nomornya.


Dari : X


Sudah pulang, Mas? Aku rasa anak kita sedang merindukan ayahnya dan aku yakin kamu juga merindukannya, iya kan?. Maka dari itu, aku mengirimkan foto anak kita demi mengobati rindumu.


Kami sangat menyayangimu, Ayah.

__ADS_1


'Baji Ngan. Berani sekali dia mengirimi foto dan pesan padaku.' geram Galih yang tanpa sadar sampai meremas ponselnya. Pikirannya begitu kacau hingga tak menyadari jika istrinya sudah selesai dengan mandinya.


Indah yang masih dengan balutan bathrobe nya mengerutkan keningnya saat melihat sang suami tengah melamun. Tidak biasanya Galih menekuk wajahnya ketika sudah pulang dari kerjanya.


'Ada apa dengan Mas Galih? Kelihatannya dia sedang banyak pikiran,' ujar Indah dalam hati.


perlahan indah mendekati Galih.


''Mas?'' panggil Indah setibanya ia di samping Galih. Galih yang tersadar dari lamunannya langsung terkejut dan bangkit dari duduknya. Ponselnya terjatuh begitu saja karena keterkejutannya akibat kedatangan tiba-tiba Indah.


Prakk


Indah hanya menggelengkan kepalanya sambil membantu mengambilkan ponsel milik Galih. Galih yang melihat itu seketika langsung ikut berjongkok dan segera merebut ponsel miliknya dari tangan istrinya.


''Sini, ponselnya.'' ucap Galih yang seketika membuat Indah terkejut. Tatapan mata Indah semakin bingung dengan sikap yang ditunjukkan oleh sang suami.


deg


'Kenapa aku merasa sikap Mas Galih sedikit berubah? Tapi mengapa? Tidak biasanya Mas Galih kasar padaku. Apa aku berbuat salah? Tapi apa kesalahan yang sudah ku perbuat?' tanya Indah dalam hati. Ia menatap wajah sang suami dengan tatapan mata penuh tanya.


Galih pun tersadar. Ia buru-buru meminta maaf pada Indah karena sikapnya barusan.


''Ma-maafkan aku, Sayang. Aku tak sengaja membentak mu. Maafkan aku,'' sesal Galih. Rasa takutnya akan ketahuan oleh Indah membuatnya tanpa sadar melukai hati sang istri.


Meski sakit, namun sebisa mungkin Indah tidak memperlihatkan wajah kecewa nya.


''Tidak apa-apa, Mas. Mungkin Mas kecapekan saja,'' ujar Indah dengan nada rendah. Galih terdiam, disaat dirinya ingin bicara Indah lebih dulu menyelanya.


''Sebaiknya Mas mandi, lalu kita makan malam bersama Ibu. Aku juga akan berganti pakaian terlebih dulu," setelah mengatakan hal itu, Indah pun segera pergi masuk ke dalam walking closetnya. Galih menatap kepergian sang istri dengan nanar.


'Maafkan aku, Indah. Lagi-lagi aku menyakitimu tanpa sadar. Maafkan aku,'

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2