Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 49 - Indah siuman


__ADS_3

AAI 49 - Indah siuman


Setelah pertengkaran hebat dengan sang ibu, Galih bergegas menuju kamar inap Indah. Dengan detak jantung yang seakan ingin keluar dari tempatnya, Galih mengetuk pintu kamar tersebut.


Tok.


Tok


Tok


Cklek


Perlahan Galih membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Ia bisa melihat Ayah dan Ibu Indah yang tengah duduk berdampingan di sofa yang ada di dalam sana.


"Ayah? Ibu?" Panggil Galih. Laki-laki itu mendekat ke arah keduanya.


Doni dan Ratih menoleh. Raut wajah renta keduanya berubah muram. Apalagi Ratih, wanita itu meneteskan air mata melihat kedatangan sang menantu. Keduanya bangkit, berjalan mendekati Galih.


"Yang sabar ya, Nak. Semua adalah ujian dari Allah," ucap Ratih seraya memeluk tubuh Galih. Ia terisak dalam pelukan sang menantu, merasakan kesedihan karena kehilangan calon cucunya.


Sedangkan Galih? Laki-laki itu kian merasa bersalah karena telah melukai hati kedua mertuanya. Kini ia tahu, baik Doni dan Ratih belum mengetahui tentang permasalahannya dengan sang istri.


'Maafkan aku, Ayah, Ibu. Aku telah melukai hati putrimu. Maafkan aku,' ujar Galih dalam hati. Perlahan laki-laki itu mengangguk lemah. Apalagi ia merasakan tepukan tangan dari sang Ayah membuatnya kian merasa bersalah.

__ADS_1


"Duduk dulu, Bu. Biarkan dia duduk, dia masih lemah." Ujar Doni. Ratih pun tersadar, lalu ia menuntun sang menantu menuju sofa.


"Sebenarnya bagaimana semua ini terjadi, Galih? Bagaimana Indah bisa pendarahan seperti itu?" Tanya Ratih. Ia begitu terkejut mendengar kabar itu. Cucu yang selama ini di idamkannya harus ia relakan pergi sebelum berjumpa.


'Bagaimana aku bisa menjawabnya, Ya Allah? Aku sangat bersalah, dan tidak mampu mengatakan yang sebenarnya.' batin Galih. Ia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan segalanya kepada sang mertua. Kepalanya tertunduk, menghindari kontak mata diantara mereka.


"Itu, Bu." Belum juga Galih mengungkapkan kebenaran, sebuah suara menyela pembicaraannya.


"Indah terpeleset, Bu Ratih."


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu me oleh ke arah sumber suara. Mereka bisa melihat kedatangan Hesti yang kini sudah berdiri di ambang pintu kamar tersebut.


"Astaga, apa itu benar, Galih? Indah terpeleset? Di mana?" Tanya Ratih dengan suaranya yang bergetar. Suaminya hanya bisa menenangkannya dengan memegang kedua pundaknya. Galih tampak melihat ke arah sang ibu. Ia melihat tatapan mata Hesti dan anggukan kecilnya.


Sontak jawaban dari mulut Galih membuat Isak tangis Ratih mulai terdengar. Wanita itu langsung berbalik dan memeluk tubuh suaminya untuk menumpahkan semua air matanya. Ia sangat terpukul mendengar kenyataan yang terjadi pada Indah. Kehilangan buah hati pertama yang sangat diidamkan tentu Ratih sangat mengerti bagaimana rasanya. Pasalnya, dulu ia juga sempat mengalami keguguran sebelum memiliki Indah. Maka dari itu ia sangat mengerti bagaimana rasanya kehilangan.


"Betapa malangnya nasib putri kita, Yah. Kenapa semua ini harus terjadi padanya? Ya Allah," keluh Ratih sambil memeluk erat tubuh Doni. Sudut mata Doni juga menetes setitik air mata. Secepat mungkin ia menghapusnya agar sang istri tidak mengetahuinya. Ia tidak boleh terlihat rapuh meski dalam hati ia juga merasa sangat kehilangan.


"Sabar, Bu. Jangan keras-keras, biarkan Indah istirahat dengan tenang. Kita harus doakan agar putri kita bisa melewati ini semua dengan baik, hm?" Ujar Doni pada Ratih. Tangis yang tadinya mengeluarkan suara, kini berubah. Hanya gerakan bahu Ratih yang naik turun serta gemetarnya seluruh tubuh memperlihatkan bagaimana sakitnya seorang ibu yang ikut merasakan kehancuran anaknya.


'Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku, Ibu.' ujar Galih dalam hati. Kini ia baru merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang pecundang sejati. Di hadapan kedua mertuanya, dia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan semua yang terjadi pada rumah tangganya dengan Indah.


Merekapun duduk seraya menunggu Indah sadar dari tidurnya. Tak bisa dipungkiri jika kedua orang tua Indah begitu sedih dan hancur karena peristiwa yang menimpa sang putri. Diam, tak ada suara yang keluar dari mulut keempat orang tersebut. Hingga sebuah ketukan yang berasal dari pintu kamar itu memecah keheningan di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Tok


Tok


Pintu terbuka menampilkan sosok dokter dan seorang suster yang ada di belakangnya. Keduanya masuk setelah mengucapkan permisi kepada semua orang.


"Mohon maaf, Pak, Bu. Saya akan memeriksa kondisi Pak Galih dulu pasca siuman. Oleh karena itu, mari kembali ke kamar Bapak." Ucap dokter laki-laki itu kepada Galih.


"Apa tidak bisa dilakukan di sini, Dok?" Tanya Galih. Ia begitu enggan meninggalkan wanita yang dicintainya itu. Jangankan satu menit, sedetikpun Galih merasa amat sangat berharga jika berkaitan dengan sang istri.


"Maaf, Pak tidak bisa. Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada anda. Dan jika kita melakukan itu di sini, nanti bisa menganggu istirahat pasien." Ujar sang dokter. Meski sebenarnya sesi itu bisa di lakukan di sana, tapi dewa kehidupan berwujud manusia itu tidak mau ambil risiko. Maka dari itu, ia meminta Galih untuk menurut dan kembali ke kamarnya.


"Baiklah, kalau begitu. Maaf ya Yah, Bu. Setelah pengecekan nya selesai, aku akan secepatnya kembali ke sini." Setelah mengatakan itu, Galih pun berjalan mengikuti langkah dokter itu yang mulai meninggalkan kamar inap milik Indah. Ayah dan Ibu Indah pun mengiyakan perkataan dari sang menantu.


Eugh,


Namun, langkah Galih yang sudah mencapai ambang pintu terhenti saat dirinya mendengar suara merdu milik sang istri.


Begitu pula dengan kedua orangtuanya. Doni dan Ratih tanpa pikir panjang langsung berdiri dan menghampiri ranjang Indah. Detak jantung Galih seakan bertalu-talu bersamaan dengan itu, ia berbalik. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat kedua orang mertuanya tengah berdiri di samping tubuh sang istri.


"Indah? Sayang? Bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Ratih. Ia sangat lega akhirnya bisa melihat sang putri siuman. Namun perasaan lega itu tak bertahan lama ketika ia mendengar ucapan dari keluar dari mulut Indah.


"Apa yang dilakukan laki-laki itu kesini, Bu? Usir dia,"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2