
AAI 21- Konspirasi Besar
"Kau yakin dengan rencanamu itu, Tika?" Tanya Hesti kepada adiknya.
Jujur ia sedikit takut dengan rencana yang diucapkan oleh Kartika. Hesti takut jika rencana itu gagal, justru membuat Galih membenci dirinya. Apalagi ia dan Galih berulangkali sudah terlibat cekcok.
"Sudahlah, Mbak. Percaya sama aku, semua akan aman dan berjalan lancar selama Mbak bisa membawa Galih dari kantornya." Dengan memberikan kedipan mata nya, Kartika meyakinkan kakaknya itu untuk menjalankan rencana yang telah ia ucapkan tadi.
Meski perasaanya masih campur aduk, tapi Hesti hanya bisa mengangguk. Berhadapan dengan laki-laki seperti Galih, Hesti harus bisa menjalankan rencananya dengan lancar tanpa disadari oleh putranya.
"Yah, semoga saja. Tapi kapan kita akan menjalankan rencana itu?" Tanya Hesti. Kartika terdiam sejenak sebelum menjawabnya.
"Mbak kasih tahu Melinda dulu. Beritahu dia tentang rencana dan tanyakan dimana hotelnya. Setelah itu, kita tunggu bagaimana reaksi Galih setelah itu." Hesti hanya bisa mengangguk mendengar perkataan dari Kartika. Kemudian ia mengambil ponselnya.
"Kalau begitu, aku hubungi Melinda terlebih dahulu." Ucap Hesti seraya mencari kontak Melinda di sana menghubunginya. Kartika tampak mengangguk lalu kembali menikmati jus serta buah-buahan yang tersedia di sana.
Suara sering ponsel terdengar di telinga Indah. Ia yang tengah menyetrika pakaian milik dirinya, suaminya, serta ibu mertuanya seketika terhenti. Indah meletakkan setrikanya dan meraih ponsel yang ia letakkan di meja sampingnya.
'Irsyad?' batin Indah saat melihat nama adiknya yang tengah mengirimi ia pesan. Tanpa pikir panjang, indah membuka pesan tersebut.
'Aku bertemu Mas Galih di resto. Tapi dia sedang bersama seorang wanita. Apa kakak mengenalnya?' tulis Irsyad pada Indah.
Kening Indah berkerut lalu sedetik kemudian masuklah sebuah foto yang dikirimkan oleh adiknya.
Seketika detak jantung Indah serasa berhenti saat melihat sebuah foto yang berisi Galih bersama seorang wanita yang ia kenal.
'Melinda? Mas Galih bertemu dengan Melinda? Untuk apa?' tanya Indah dalam hati. Ia begitu penasaran dengan keduanya mengingat bagaimana ibu mertuanya yang pernah menyebut nama wanita itu untuk menjadi istri Galih.
'Tidak mungkinkan Mas Galih berkhianat?' Indah merasa sangat takut jika suaminya itu benar-benar menghianati cintanya. Galih begitu mencintainya, dan Indah bisa merasakan cintanya yang begitu besar itu.
__ADS_1
'Dimana kamu bertemu dengannya, Syad?' tulis Indah.
'Di resto Dewa, Mbak. Aku barusan dari sana bersama teman-teman ku,' balas Irsyad.
"Itu kan restoran milik keluarga nya Melinda." Gumam Indah.
'Mungkin mereka tidak sengaja bertemu, Syad." Tulis Indah.
'Oh, baiklah kalau begitu, Mbak. Aku sekarang lagi di jalan mau berangkat ke kampus. Bye,' balas Irsyad.
Indah terdiam setelah melihat balasan dari adiknya. Bukti sudah ada di tangan, jadi adiknya tidak mungkin berbohong. Apa yang harus Indah lakukan? Apakah ia akan diam saja? Atau akan menanyakan nya kepada Galih? Entahlah. Saat ini pikiran Indah sedang menumpuk. Dalam otaknya berisi berbagai spekulasi tentang suaminya dengan Melinda. Banyak sekali pertanyaan yang memenuhi pikirannya hingga membuat indah merasa tak punya lagi semangat untuk melanjutkan pekerjaannya yang tinggal menyetrika saja.
Indah terus menerus menatap ke arah ponselnya. Layar ponselnya yang kini sudah berubah hitam, menandakan jika ponsel itu telah terkunci kembali. Wanita itu terus menimbang-nimbang langkah apa yang akan ia lakukan saat ini.
Satu sisi ia tidak berani menanyakan itu padanya. Di sisi lain Indah takut jika kebenarannya sesuai dengan yang ada dan foto itu.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Indah memberanikan diri untuk mengirim pesan pada suaminya.
'Iya, Sayang?' balas Galih.
'Lagi dimana Mas? Sudah makan?' tanya Indah.
'Lagi di kantor, Yang. Sudah, Yang. Tadi makan di cafetaria kantor. Kamu sudah makan?' balas Galih.
Setitik air mata jatuh dari pelupuk mata Indah. Pikirannya mulai berkecamuk. Memikirkan apa yang dilakukan oleh suaminya di luaran sana. Apalagi mengingat ucapan ibunya yang terang-terangan menyuruh suaminya untuk menikahi wanita itu.
'Kenapa kamu berbohong, Mas? Apakah pada akhirnya kamu akan memilih ibumu daripada aku? Bukankah kamu sangat mencintai ku, Mas? Tapi kenapa kamu berbuat seperti ini padaku,' batin Indah yang meratapi kesedihannya.
Tubuhnya luruh, ia terduduk di lantai bawah. Berbagai bayangan akan kenangan mereka berdua seakan menari-nari di pikirannya. Bersamaan dengan hadirnya wajah baru seorang wanita yang tak lain adalah Melinda membuat Indah menangis dalam diam. Ia tak mungkin menyuarakan tangisnya atau ia akan menjadi bahan tertawaan ibu mertua dan juga adiknya. Kedua tangan Indah membungkam mulutnya sendiri agar suaranya tak terdengar oleh siapapun.
__ADS_1
Saat Indah tengah menangis tersedu-sedu lain halnya dengan Melinda. Wanita itu tengah berbinar-binar kala dirinya mendapatkan telepon dari Hesti.
"Tante serius?" Tanya Melinda dengan senyumannya yang tak lepas dari bibirnya.
"Serius. Kamu mau gak jadi menantu Tante?" Suara Hesti yang seakan menekan Melinda. Tentu saja itu tidak akan disia-siakan oleh wanita itu.
Melinda merasa mendapatkan jakpot besar hari ini. Tadi ia bertemu dengan Galih, kini ibunya justru memintanya untuk menjadi istri dari laki-laki penuh pesona tersebut.
"Tentu saja aku mau, Tante. Tapi nanti bagaimana jika Mas Galih ngamuk padaku, Tante?" Tanya Melinda.
Meski ia bahagia bisa menjadi istri dari Galih, tapi ia cukup punya rasa takut kala melihat tatapan mata mematikan dari laki-laki itu.
"Kamu tenang saja. Tante yang akan menjadi pelindungmu," ucap Hesti. Melinda begitu antusias dengan rencana yang ia dengar dari mulut calon mertuanya. Jalannya untuk mendapatkan Galih semakin terbuka lebar. Apalagi mendapatkan dukungan penuh dari Hesti, ia yakin bisa menyingkirkan Indah yang saat ini masih menjadi istri Galih.
'Akhirnya, aku bisa merasakan tubuh laki-laki idamanku itu. Tunggu saja, Indah. Aku akan membuat Galih menceraikan mu. Dan aku yang akan menjadi istri satu-satunya Galih.' senyum seringai tercipta di kedua sudut bibir Melinda.
"Baik, Tante. Lalu apa yang harus aku lakukan, Tante?" Tanya Melinda dengan wajahnya yang berbinar binar.
"Kamu cari hotel. Nanti aku akan membawa Galih kesana. Setelah itu, lakukan tugasmu yang nantinya bisa menjadikan Galih sebagai suamimu." Semakin lebar saja senyuman Melinda mendengar ucapan dari Hesti.
"Baik, Tante. Serahkan saja tugas itu padaku. Lalu, kapan kita akan melakukannya?" Tanya Melinda.
"Besok. Kita akan lakukan besok, saat jam kerja Galih selesai."
"Ok, Tante. Kalau begitu aku akan menghubungi Praja Hotel untuk memesan kamar disana," jawab Melinda.
"Ya, kalau begitu Tante tutup dulu teleponnya." Senyum sumringah langsung tercipta di kedua sudut bibir Melinda selepas panggilan tersebut berakhir.
'Ah, aku tak menyangka jalanku sangat lancar demi bisa bersamanya. Galih, kau akan menjadi milikku,' ucap Melinda dalam hati. Ia pun bergegas meninggalkan restoran milik papanya untuk pulang ke apartemen miliknya sendiri.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...