
AAI 31 - Titik terberat Galih
"Tidak, itu tidak mungkin Bu." Ujar Galih dengan menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin cepat percaya dengan apa yang didengarnya itu. Apalagi ia tak merasa jika dirinya meniduri wanita itu. Selepas ia meminum air botol itu, ia memang tertidur. Tapi saat ia bangun, ia tak merasa jika dirinya habis berhubungan dengan wanita itu. Hanya merasa pening di kepalanya.
"Apa kau lupa dengan malam itu? Kalian telah melakukannya, iya kan? Melinda sudah menceritakan semuanya pada Ibu," ucap Hesti memojokkan Galih. Namun Galih tetap bertahan dengan keyakinannya.
"Tapi aku tidak menidurinya, Bu." Ucap Galih dengan suara lantangnya. Ia tak mau dituduh melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan. Sebagai laki-laki tentu bisa merasakan dirinya telah melakukannya atau tidak. Dan Galih tidak merasakannya.
Hesti pun meradang. Ia mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto-foto yang dikirimkan Melinda kepadanya.
"Lalu apa ini, hah? Kau masih mau menyangkalnya?" Bentak Hesti seraya melihatkan layar ponselnya yang penuh dengan foto-foto tak senonoh mereka berdua. Apalagi foto bercak darah yang mengotori seprai putih itu. Tubuh kekar Galih terhuyung, ia tak menyangka jika ibunya memiliki bukti-bukti itu.
Detak jantung Galih berdetak sangat kencang. Pikirannya mulai berkecamuk, memikirkan bagaimana semua ini terjadi padanya. Kenapa ada begitu banyak foto-foto bukti kebersamaan antara dirinya dengan Melinda. Saking frustasinya, sampai ia tak mendengar suara sang ibu yang berbicara padanya.
"Galih," panggil Hesti dengan menggoyangkan kedua lengan Galih. Pandangan laki-laki itu tampak kosong, tak mampu berpikir jernih saat ini.
"Kau harus menikahi Melinda, Galih. Dia mengandung anakmu," ucap Hesti. Mendengar kata anak, membuat Galih melayangkan tatapan tajam kepada ibunya.
"Semua ini karena kalian. Ini kan yang ibu harapkan, hah? Ibu menghancurkan semuanya. Menghancurkan rumah tangga anak kandungmu sendiri. Kenapa, Bu? Kenapa Ibu melakukan semua ini padaku? Aku ini anakmu, Bu." Galih frustasi. Ia meremas rambutnya yang lebat dengan kedua tangannya sendiri. Ia merasa berada seperti di dalam mobil atas jurang yang sewaktu-waktu bisa terjun dan menghancurkannya. Entah apa yang harus diperbuatnya kali ini, Galih benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.
"Semua itu Ibu lakukan untuk mu, Galih. Lihatlah, hanya melakukannya sekali saja kau bisa menghamili Melinda. Lalu bagaimana dengan Indah? Itu berarti dia benar-benar mandul," ujar Hesti. Kedua mata Galih semakin berkobar. Lagi-lagi ibunya membawa-bawa nama Indah dan mengejeknya.
__ADS_1
"Indah tidak mandul, Bu. Dia tidak mandul. Jaga bicara Ibu," dengan menunjuk tepat ke wajah Hesti, Galih mengatakan itu. Ia tak terima jika ibunya kembali menjelekkan istri yang sangat ia cintai itu.
Kedua tangan Hesti mengepal, ia tidak terima jika anaknya lebih membela wanita itu dibanding dirinya yang ibunya sendiri. Tapi ia harus menahannya, ia tak ingin sampai Galih benar-benar menolak menikahi Melinda. Ia harus mencari cara agar bisa membuat anaknya itu bersedia untuk menikah dengan wanita pilihannya.
"Terserah apa katamu. Yang jelas kamu harus menikahi Melinda, titik." Ucap Hesti seraya menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang. Ia ingin bersiap untuk tidur karena besok ia ingin memberitahukan kabar itu pada adiknya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikahi wanita lain selain Indah." Desis Galih lalu ia berbalik meninggalkan ibunya. Namun baru dua langkah, ia berhenti setelah mendengar ucapan Hesti.
"Maka aku akan memberitahu Indah semuanya. Bagaimana menurutmu, Galih? Apa kau bisa bayangkan apa yang akan dia lakukan jika mengetahui suaminya menghamili wanita lain?" Ucap Hesti dengan melipat kedua tangannya. Ia benar mengancam Galih demi Melinda.
"IBU!" suara Galih menggelegar di dalam kamar Hesti. Tatapan matanya nyalang sembari napasnya yang kini kian memburu.
Hesti menyunggingkan senyumnya, ia tahu saat ini Galih berada di titik dimana ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti semua perkataan nya.
"Apa kau benar Ibuku? Bahkan iblis pun tak akan sekejam dirimu," desis Galih. Ia tak pernah menyangka jika ibunya mampu mengancamnya demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
Hesti yang mendengar ucapan tersebut hanya bisa memejamkan matanya sejenak. Ia mengatur napas agar tak terpancing emosi karena Galih.
"Pergilah, pikirkan baik-baik." Setelah mengatakan itu, Hesti membaringkan tubuhnya dan mematikan lampu kamar hingga kini tinggal lampu tidurnya.
Galih belum beranjak dari tempatnya. Ia masih berdiri kokoh sambil menatap kosong ke depan. Ia membutuhkan waktu untuk berkompromi dengan dirinya agar bisa menemukan jalan keluar yang terbaik.
__ADS_1
Perlahan laki-laki itu keluar dari kamar ibunya. Setibanya di luar pintu, Galih menyandarkan tubuhnya di pintu. Setetes air mata mengalir dari sudut mata Galih.
'Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Bagaimana ini bisa terjadi? Bantu aku, Tuhan. Aku tak ingin menyakiti hati istriku jika ia tahu semua ini. Tunjukkan jalan keluar dari semua masalah yang saat ini tengah terjadi padaku,' untuk pertama kalinya Galih menangis dengan takdir Tuhan yang seakan mempermainkannya. Bagaimana ia bisa menatap wajah istrinya sedang dirinya tengah dalam masalah besar?
Tubuh kekar Galih terasa berat saat ia ingin melangkahkan kakinya naik ke atas tangga. Kedua kakinya bagaikan tertanam dalam lantai keramik rumahnya hingga membuat Galih memilih untuk masuk ke dalam ruang kerjanya alih-alih berjumpa dengan sang istri.
Setibanya di dalam ruangan itu, Galih menjatuhkan dirinya diatas lantai. Tanpa bisa ia cegah, air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Isak tangis mulai terdengar bersamaan dengan raungan suara Galih yang menggema dikeheningan malam.
ARGGGGGHHHH
Galih berteriak sekencang-kencangnya. Beruntung ruangannya itu kedap suara, hingga membuat suaranya tak bisa didengar oleh orang lain.
Bugh
Bugh
Galih meninju-ninju kedua tangannya pada lantai marmer itu. Seakan tak merasa sakit sedikitpun, Galih terus melakukannya demi melampiaskan segala emosi yang kini menguasainya.
"Dosa apa yang telah kulakukan dimasa lalu, Tuhan? Hingga kau menghukumku dengan cobaan yang begitu besar seperti ini. Apa salahku, Tuhan?" Dengan berderai air mata Galih meluapkan semuanya kepada Tuhannya. Galih sangat berantakan, tatapannya kosong dengan jejak air mata yang masih terlihat di kedua pipinya.
"Maafkan aku, Indah. Maafkan aku," lirih Galih dengan tatapan kosong. Dadanya begitu sesak saat ingatan tentang wajah cantik Indah yang tengah tersenyum manis tiba-tiba melintas begitu saja.
__ADS_1
"Maafkan aku," karena tak sanggup melihat Indah, Galih memilih untuk tidur di sofa yang ada di dalam sana. Raganya lelah, pikirannya overload, membuat Galih benar-benar berada di titik terberak selama ia hidup. Pilihan sulit yang tidak menguntungkan bagi dirinya kini berada di tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...