Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 56 - Tak Sebanding


__ADS_3

AAI 56 - Tak Sebanding


"Bu? Ibu?" Teriak Gita seraya berlarian ke dalam rumah. Suara keras dari Gita seketika membuat Hesti langsung keluar dari kamarnya. Dengan muka yang masih mengenakan masker, ia mendatangi sang anak.


"Ada apa sih, Git? Teriak-teriak kayak di hutan saja," ketus Hesti yang kesal dengan perilaku Gita. Hesti yang ingin menikmati waktu santainya dengan memanjakan dirinya terusik oleh ulah anaknya sendiri.


"Ini, Bu. Ada surat buat Mas Galih," ucap Gita dengan wajahnya yang sudah khawatir. Hesti mengeryitkan dahi lalu melirik sekilas ke amplop coklat itu.


"Lalu? Ya sudah, kasih sama kakakmu itu." Seakan tak peduli, Hesti langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Gita. Tak ada yang tahu bahwa saat ini sudut bibirnya menyungging saag menyadari jika surat itu datang dari pihak pengadilan agama kota itu.


'Akhirnya aku bisa memberi identitas yang jelas untuk cucuku,' batin Hesti yang bahagia karena perpisahan Galih dan Indah akan segera terlaksana.


"Ini surat dari pengadilan, Bu. Mereka meminta Maaf Galih untuk datang. Jangan biarkan Mas Galih dan Mbak Indah bercerai, Bu. Mereka saling mencintai," ucap Gita. Ia ingin jika ibunya mau membujuk Galih atau Indah agar mengurungkan 3mereka ingin berpisah. Namun Hesti justru kesal saat mendengarnya.


"Jangan ikut campur dalam masalah ini, Gita. Ini urusan mereka berdua, kita tidak boleh ikut masuk kedalamnya. Lebih baik pikirkan kuliahmu agar kelak kau akan mendapatkan pekerjaan dan posisi yang baik," putus Hesti. Lalu wanita itu berjalan kembali menuju kamarnya dengan hati yang riang.


"Tapi ini demi Mas Galih, Bu. Kenapa Ibu selalu membela Mbak Melinda dan memisahkan Mas Galih dengan Mbak Indah? Entah mengapa aku memiliki firasat buruk sama Mbak Melinda. Tapi tidak tahu apa," gumam Gita seraya menuliskan sebuah pesan kepada Galih. Ia memberitahukan kepadanya jika ada surat yang datang dari kantor pengadilan.


Ting


'Mas sedang sibuk. Apa kau ada waktu? Antarkan ke sini,' tulis Galih. Meski berita tentang perpisahannya belum resmi, tapi ia tahu jika di kantor ada pihak yang membicarakan nya dan Indah. Tapi Galih tidak ambil pusing, ia lebih memilih menutup kedua telinganya sendiri dari pada harus membungkam mulut-mulut tajam mereka.


Gita melihat kearah jam dinding. Ia melihat saat ini pukul dua siang lebih, itu artinya Galih masih ada di kantor.


"Akan ku antar ke apartemennya saja," tukas Gita. Lalu ia segera kembali melanjutkan pekerjaannya agar lebih cepat selesai.


Sementara itu, di dalam kamar Hesti tertawa lebar meski tidak mengeluarkan suara. Ia sangat bahagia mendengar kabar itu dari Gita. Ia langsung mengambil ponsel dan menghubungi menantu kesayangannya.


Tring


Tringg

__ADS_1


Tringg


Satu kali, dua kali, sampai tiga kali Hesti memanggil nomor Melinda namun tak ada jawaban. Dahi Hesti berkerut, sudah tiga hari ini sedikit kesulitan dalam menghubungi Melinda.


"Kemana ini anak?" Gumam Hesti seraya kembali menghubungi nomor Melinda untuk keempat kalinya. Setelah beberapa saat menunggu, terdengar juga suara Melinda dari seberang sana.


"Ha-halo, Bu?" Sahut Melinda dengan suaranya yang aneh.


"Darimana saja kamu, Mel? Sudah tiga kali Ibu menghubungi nomormu," ujar Hesti.


"Ma-maaf, Bu. Ehm, ta-tadi aku masih ada dibawah jadi tidak mendengar suara ponsel." Sahut Melinda.


"Oh, lalu sekarang kamu ada dimana?" Tanya Hesti.


"Ih-ini a-aku ada di atas, Bu. Di atas, ehm." Jawab Melinda. Hesti sedikit terganggu dengan suara ngos-ngosan Melinda.


"Apa kamu habis berlari, Mel? Napasmu terdengar ngos-ngosan," tanya Hesti.


"Ih-iya Bu. Soalnya dari tadi capek banget," jawab Melinda.


"Ih-iya, Bu." Sedetik kemudian panggilan tersebut berakhir. Meski Hesti merasa sedikit aneh dengan sikap Melinda, tapi ia tak ambil pusing.


"Mungkin naik turun tangga membuatnya kelelahan," gumam Hesti seraya meletakkan kembali ponselnya dan kembali berfokus pada me time nya.


Sedangkan di tempat lain, dua manusia tengah berperang di atas sebuah ranjang dengan peluh yang sudah membasahi kedua tubuh mereka.


Ah


Ah


Ah

__ADS_1


"Terus, Mel. Kau sangat sempurna," ucap laki-laki itu yang memuji wanita diatasnya itu. Sang wanita tersenyum bangga dengan terus menambah irama kecepatannya. Teriakan, ucapan sayang, serta kemesraan tak luput dari mulut keduanya.


"Dengan senang hati, Sayang. Hanya Melinda yang mampu membuatmu puas, uh," ujar wanita itu. Ya, dia adalah Melinda. Wanita yang berstatus sebagai istri siri Galih. Saat ini ia tengah memadu kasih dengan Dimas Seloaji, sepupu suaminya sendiri, Galih.


Mendengar ucapan dari Melinda, Dimas tersenyum tipis. Tatapan matanya penuh semangat kepada Melinda. Saat dia merasa hampir sampai, ia langsung merubah posisi dan mempercepatnya. Tak butuh waktu lama kedua manusia itu akhirnya tumbang setelah menyelesaikan permainan mereka setelah hampir dua jam lamanya.


Melinda yang masih merasa lelah memilih berbaring sambil mengatur napasnya. Ia merasa lega setelah dua Minggu menahan ha srat dirinya yang memuncak tapi tak tersampaikan. Makanya saat mendapatkan pesan dari Dimas, ia pun langsung mengiyakan dan mengundang laki-laki itu ke rumahnya.


"Kau tak capek?" Tanya Melinda saat melihat Dimas langsung beranjak setelah keduanya selesai.


"Tidak, aku masih ada urusan." Jawab Dimas.


Dimas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah sepuluh menit kemudian, Dimas sudah kembali dan mulai memakai pakaiannya.


"Urusan apa? Apakah urusan itu dengan ja lang kecil itu, hah?" Tanya Melinda dengan senyumannya yang sumbang. Ia tahu jika Dimas tengah sibuk dengan mainan baru yang ia tahu beberapa waktu yang lalu. Gerakan Dimas terhenti saat mendengar ucapan dari Melinda. Kedua tangannya mengepal, ia tidak terima jika Melinda menyamakan dirinya dengan wanita yang dimaksud olehnya.


"Jangan bicara sembarangan, Mel. Dia bukan wanita sepertimu," desis Dimas seraya menatap tajam Melinda.


"Wah, hebat sekali dia sampai bisa membuatmu seperti ini. Siapa dia? Tentu saja dia tidak selevel denganku. Kalau memang dia tidak cukup bisa memuaskanmu, kau tidak mungkin datang padaku, Dimas." Sahut Melinda dengan kedua tangannya dilipat. Baginya wanita yang hanya bekerja sebagai pelayan bar tentu tidak bisa dibandingkan dengan dirinya yang memiliki usaha sendiri. Namanya juga cukup dikenal sebagai pengusaha muda di Surabaya. Sudut bibir Dimas terangkat saat mendengarnya. Tak mau ambil pusing, Dimas segera merapikan pakaiannya dan berjalan menuju pintu kamar.


Cklek


Saat ia membuka pintu, Dimas tak kunjung keluar. Ia berhenti sejenak di ambang pintu.


"Memang secara materi dia tidak sebanding denganmu. Tapi ada satu hal yang tidak kau miliki. Kau tahu itu?" Sambil membelakangi Melinda, Dimas melemparkan pertanyaan itu. Tak ada sahutan dari Melinda. Ia hanya diam namun tatapan matanya seakan ingin menghubus jantung Dimas.


"Dia tidak pernah membuka pa ha seperti dirimu yang dengan suka rela melemparkan tubuhmu diranjang banyak pria," setelah mengatakan itu, Dimas langsung meninggalkan kamar milik Melinda.


Prang


Melinda langsung mengambil lampu tidurnya dan melemparkannya ke pintu kamar. Ia merasa tak terima dengan ucapan dari Dimas yang menyamakan dirinya dengan Pela cur.

__ADS_1


"Baji ngan kau, Dimas. Breng sek," pekik Melinda dengan napasnya yang memburu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2