Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 61 - Minta Maaf


__ADS_3

AAI 61 - Minta Maaf


Saat ini Galih, Indah, dan kedua orang tua Indah sudah berada di salah satu restoran yang ada di kota itu. Menempati sebuah ruangan privat, Galih ingin pertemuan mereka tidak diganggu oleh pihak lain.


"Ada hal apa yang ingin kau ingin bicarakan dengan kami, Galih? Semua sudah selesai, kau dan Indah sudah berpisah." Ucap Doni ketus pada laki-laki yang dulu pernah ia nikahkan dengan sang anak. Ia sungguh menyesal karena telah menikahkan sang putri tercinta dengan laki-laki brengsek seperti Galih. Entah sudah berapa ribu kali ia mengumpati Galih karena sudah berani menyakiti hati Indah.


"Maafkan aku, Yah. Aku ingin minta maaf atas semua yang telah terjadi. Aku juga minta maaf atas nama ibuku yang sudah menyakiti hati kalian karena perbuatannya. Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan dosa. Oleh karena itu, aku ingin minta maaf dengan tulus pada Ayah, Ibu, dan juga Indah. Maaf karena ketidakberdayaan ku karena tidak bisa mencegah ibuku. Maafkan aku," Galih berdiri dan membungkukkan badannya ke arah ketiga orang itu. Ia dengan tulus ingin meminta maaf kepada semuanya karena peristiwa itu.


Sudah beberapa bulan ini, Galih merasa hidupnya sudah tidak berarti sama sekali. Ia ingin membuka lembaran hidup yang baru dengan awal ingin meminta maaf kepada keluarga Indah yang sudah ia sakiti. Oleh karena itu, setelah sidang Galih meminta waktu untuk mereka semua agar bisa bicara dari hati ke hati. Apalagi untuk ia bisa bertemu dengan Indah merupakan hal yang sangat sulit.


Doni yang mendengar permintaan maaf dari Galih langsung mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia memberi Bogeman menatap pada Galih karena telah menyakiti hati putrinya.


Namun Ratih yang tanggap langsung menenangkan hati Doni dengan memberi usapan pada punggung tangan Doni. Ia menatap suaminya dengan teduh, dan mengiba agar Doni bisa menahan amarahnya.


"Sabar, Yah. Semua sudah berakhir, tidak baik kalau kita masih memendam dendam pada orang lain. Hm?" Ucap Ratih yang berbisik di telinga Doni. Ia tidak ingin sang suami memendam perasaan dendam kepada Galih yang kini ada di hadapan mereka. Meski kesalahan Galih sangat fatal, tapi kita tidak dibenarkan dalam menghakimi orang dengan cara meluapkan amarah. Oleh karena itu, Ratih berusaha memendam amarah sang suami mengingat Doni bisa sangat temperamental kepada orang yang dibencinya.


"Minta maaf? Apa dengan permintaan maafmu, itu bisa menyembuhkan luka yang ada di hati putriku?" Desis Doni dengan tatapan matanya yang penuh amarah. Ratih dan Indah sampai menahan napas saat mendengarnya. Keduanya tidak mengira jika Doni akan semarah itu hanya dengan bertemu dengan Galih.


"Kau tahu, Galih. Sejak pertama aku melihatmu, aku sudah memperingatkan mu. Jangan pernah menyakiti putriku atau aku akan menghabisi mu." Imbuh Doni pada Galih. Laki-laki itu hanya menunduk mendengarkan semua perkataan dari mantan ayah mertuanya.

__ADS_1


"Aku tahu, Yah. Aku tidak mungkin lupa dengan semua yang pernah Ayah katakan padaku. Tapi apa dayaku, Yah? Aku tidak pernah menyangka sebelumnya jika ibuku adalah duri dalam rumah tanggaku. Jika saja aku tahu kalau akhirnya bisa menjadi seperti ini, mungkin aku akan mengikuti usul Ayah untuk mempunyai rumah sendiri dengan Indah." Terang Galih. Ia sendiri juga sangat menyesali karena lebih memilih hidup bersama sang ibu daripada tinggal terpisah dengan Indah. Dulu ia berpikir jika ingin menemani masa tua sang ibu, apalagi mengingat ibunya sudah ditinggal mati oleh ayahnya. Namun sayang, justru keputusannya itu membuahkan hasil seperti yang saat ini terjadi.


"Sudah, Yah. Indah mohon," ujar Indah kepada Doni. Ia tidak ingin membuat keributan di restoran itu.


Doni yang mendengar perkataan dari sang anak hanya bisa menghela napas panjang. Tak lama kemudian ia bangkit dari duduknya, membuat yang lain menatapnya heran.


"Ayo kita pergi, aku tidak ingin berlama-lama dengan laki-laki ini."ucap Doni seraya menggeser tubuhnya dari kursi. Indah dan Ratih mengikutinya, keduanya ikut beranjak dari sana.


Seakan tak rela karena kepergian Indah, Galih pun berusaha untuk menahannya meski sebentar.


"Tunggu, Yah. Tolong beri aku waktu untuk bicara empat mata dengan Indah. Aku mohon, Yang." Ucap Galih mengiba. Ia satukan kedua tangannya di depan dada sambil menatap ke arah Doni. Melihat anggukan kecil dari sang istri membuat Doni mau tak mau mengiyakannya.


Galih pun mempersilakan Indah untuk kembali duduk di tempat duduknya. Galih juga ikut duduk di sana. Sejenak keduanya saling diam, merasakan rindu yang setelah sekian lama kini sedikit terobati dengan pertemuan mereka. Dua insan yang saling mencintai tapi terpisahkan oleh keadaan. Dalam diri Indah, ia merasa sangat deg-degan saat ini. Rasanya seperti saat dirinya pertama kali bertemu dengan Galih semasa kuliah dulu.


"Aku sudah membaca suratmu, Indah." Ujar Galih membuka percakapan. Indah yang tadinya menundukengangkat wajahnya sekilas lalu menunduk lagi. Ia menghindari kontak mata dengan Galih, agar dirinya tidak jatuh cinta lagi kepada laki-laki yang hingga kini masih memenuhi relung hatinya.


"Ma-maaf, Mas." Cicit Indah.


"Tidak, Indah. Jangan minta maaf padaku, akulah yang seharusnya mengatakan itu padamu. Maafkan aku yang sudah menjadi pecundang karena ketidakberdayaan ku selama ini. Tanpa sadar aku kurang memperhatikan dirimu hingga aku tak menyadari jika kamu sangat tersiksa hidup dengan keluargaku." Ucap Galih.

__ADS_1


"Tidak, Mas. Jangan bicara seperti itu, walau bagaimanapun dia adalah ibumu. Tidak sepatutnya kamu mengatakan hal buruk atau tidak memperhatikannya karena itu adalah dosa. Selama beberapa bulan ini aku mulai belajar, Mas. Memperdalam ilmu agamaku, berusaha lebih legowo menerima takdir yang telah terjadi. Aku harap Mas juga bisa mengikhlaskan semuanya seperti apa yang aku lakukan." Sahut Indah. Saat ia sekilas menatap mata Galih, ia bisa melihat bagaimana hancurnya jiwa laki-laki itu lewat sorot matanya. Hati Indah tercubit, rasanya seperti ia juga ikut merasakan sakitnya itu.


"Maafkan aku jika selama aku menjadi suamimu, tanpa sadar aku telah melukai hatimu, Indah." Ucap Galih dengan suara yang mulai serak. Ia sampai menundukkan kepala, i tidak mau kalau sampai Indah melihatnya menitikkan air mata.


Tringg


Ponsel milik Indah berdering membuat kedua insan itu saling pandang. Meski tak rela, tapi Galih tidak bisa berbuat apa-apa. Ia harus merelakan saat Indah beranjak dari tempat duduknya.


"Maaf, Mas. Aku harus pergi," lirih Indah. Galih hanya bisa mengangguk kecil.


"Ya, pergilah. Aku berdoa semoga kamu bisa bahagia kedepannya meski bukan lagi denganku." Ucap Galih seraya menatap wajah cantik wanita yang kini menjadi mantan istrinya.


"Terimakasih. Semoga Mas Galih juga bisa bahagia lagi," setelah mengatakan itu, Indah berjalan meninggalkan Galih yang saat ini masih menatap lurus padanya.


'Semoga kamu selalu bahagia meski tak bersamaku, Indah. Biarkan aku yang merasakan sakit karena perbuatan ku padamu. Kujadikan ini sebagai karma yang harus ku terima dari Tuhan untukku. Aku masih sangat mencintaimu, Indah Permatasari.' ucap Galih dalam hati dengan tatapan mata terus menatap kepergian Indah sampai wanita itu benar-benar sudah menghilang dari pandangan.


'Bagaimana aku bisa bahagia, jika bahagiaku hanya bersamamu, Mas?' batin Indah menangis sedih seraya kakinya terus melangkah. Sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak berbalik. Karena jika sekali saja ia berbalik, ia tidak akan pernah bisa melangkah ke depan lagi.


Setibanya di mobil, Indah bergegas masuk bergabung dengan kedua orang tuanya. Tak lama kemudian mobil itu mulai berjalan meninggalkan tempat dan juga seseorang yang masih ada di sana.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2