Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 23 Menjalankan Rencana 2


__ADS_3

AAI 23 - Menjalankan Rencana 2


"Kemana Melinda ini? Dari tadi aku telepon tidak diangkat," gerutu Hesti seraya masuk ke dalam salah satu cafe yang ada di kota tersebut.


Saat Hesti tengah menikmati minumannya, ponselnya bergetar. Ia melihat nama adik perempuannya yang berusaha menghubunginya.


"Halo," ucap Hesti seraya mengangkat panggilan itu.


"Bagaimana Mbak? Apa kau jadi melakukannya hari ini?" Tanya Kartika.


"Ya, aku sedang menunggu Melinda. Dari tadi aku telepon tidak diangkat," jawab Hesti.


",Tunggu saja, Mbak. Mbak, kau sudah membeli obatnya?" Tanya Kartika lagi. Ia harus memastikan jika kakaknya itu menyiapkan semuanya dengan baik.


"Ya, aku beli sesuai yang kau katakan." Sahut Hesti yang seketika membuat Kartika bahagia bukan kepalang.


"Bagus, Mbak. Jadi tinggal Mbak nanti bagaimana bisa membawa Galih keluar dari kantornya," ucap Kartika.


"Iya, aku akan berakting dengan sebaik mungkin, supaya dia mau ikut denganku." Sahut Hesti. Wanita itu juga sudah tak sabar menunggu sang putra bisa menikahi wanita yang ia idamkan untuk menjadi menantunya itu.


Meski harus menggunakan cara licik sekalipun akan Hesti lakukan demi bisa mencapai apa yang ia inginkan. Ia begitu tak menyukai Indah karena ia dari keluarga miskin dan hidup di desa.


"Aku akan kembali ke kantor. Sore ini aku akan berangkat ke Gorontalo untuk pekerjaan terbaru ku di sana." Ucap Dimas seraya memakai kembali pakaiannya yang berserakan di lantai. Melinda yang masih berada di atas ranjang hanya bisa menatapnya.


"Pergilah, aku akan istirahat sebentar. Tubuhku sangat remuk," ujar Melinda dengan lemas. Ia tak memedulikan tubuhnya yang masih polos itu.


Setelah kepergian Dimas, ponsel milik Melinda kembali berdering. Ia tersentak lalu meraih ponsel itu dan menjawabnya.


"Halo?" Ucap Melinda dengan suara lemahnya. Ia begitu kehilangan tenaga setelah dihajar habis-habisan oleh Dimas hampir tiga jam lamanya di pagi ini. Padahal semalam keduanya sudah melakukan itu. Tapi nyatanya itu tak cukup bagi Dimas. Gairahnya yang teramat besar membuatnya kembali menerjang Melinda meski wanita itu mengeluhkan capek.

__ADS_1


"Kamu dimana, Mel? Tante sudah menunggumu," Melinda langsung terbangun dari tidurnya dan terbelalak. Ia begitu mengenal suara itu.


'Ah, sial. Bagaimana aku bisa lupa dengan rencana itu? Astaga. Semua gara-gara Dimas,' gerutu Melinda dalam hati. Ia menyalahkan Dimas yang tak memberikan jeda untuk dirinya sejak semalam.


"M-maaf, Tante. Melinda kecapekan, jadi ketiduran sampai sekarang. Tante dimana sekarang? Aku akan datang," ucap Melinda dengan nada halusnya.


"Aku sudah berada di cafe Solanda. Datanglah kemari," ucap Hesti.


"Baik, Tante. Tunggu ya, aku akan segera datang." Setelah mengatakan itu, Melinda mengakhiri panggilan tersebut.


Seharian ini Hesti menikmati hari dengan Melinda. Keduanya menghabiskan waktu bersama dengan belanja dan makan bersama. Hesti dan Melinda begitu kompak dalam berbelanja. Tak pernah sekalipun Hesti keluar uang selama jalan bersama Melinda. Wanita itu selalu menyakiti Hesti demi mendapatkan pengakuannya.


"Turunkan aku di sini saja, Pak. Tante, Tante cepat pergi ke tempat kerja Mas Galih. Nanti keburu dia pulang, loh. Aku akan masuk dulu," ucap Melinda kepada pada Hesti saat taksi yang mereka tumpangi telah berhenti di depan sebuah hotel mewah yang ada di kota Surabaya.


Setelah memastikan Melinda turun dan masuk ke dalam lobi hotel, taksi itu segera pergi menuju kantor dimana galih berada.


"Halo?" Hesti menyunggingkan senyumnya kala mendengar suara sang anak.


"Galih, kamu dimana? Sudah keluar kantor? Ibu sekarang berada di trotoar depan kantormu." Ucap Hesti.


Galih tentu terkejut mendengar semua yang ia dengar. Pasalnya ini pertama kalinya ibunya mendatangi kantor tempatnya bekerja mencari nafkah demi istri dan keluarganya tercinta.


"Ini aku masih di atas, Bu. Ini sudah mulai beres-beres berkas." Sahut Galih. Saat ini memang sudah jam lima sore, waktunya untuk pulang bagi para karyawan yang sudah selesai dengan pekerjaannya. Begitu pula dengan Galih, berkat kerjanya semalam, semua pekerjaannya selesai tepat waktu. Ia bisa pulang lebih awal dari biasanya. Ia ingin memiliki lebih banyak waktu dengan istri tercinta di rumah.


"Baiklah, Ibu tunggu di luar. Nanti ikut ibu," ucap Hesti.


Galih tentu mengeryitkan dahi mendengar ucapan dari ibunya. Tak mau menunggu waktu lama lagi, laki-laki itu mengakhiri panggilan tersebut dan segera membereskan meja kerjanya.


Galih berjalan cepat sepanjang lorong dan menuruni kantornya. Ia merasa aneh dengan sikap ibunya yang menghampirinya di kantor. Dengan napas yang masih memburu, Galih keluar dari area kantor. Pandangan matanya menoleh ke kanan dan ke kiri setibanya ia di pinggir jalan raya. Hingga suara sebuah klakson dari taksi yang terparkir di samping kanannya.

__ADS_1


"Galih," teriak Hesti dengan mengeluarkan kepalanya dari jendela taksi. Ia berteriak pada Galih yang berada di belakang taksinya. Laki-laki itu mengangguk seraya menghampiri taksi itu.


"Ada apa, Bu? Kenapa ibu datang kemari? Apa semua baik-baik saja?" Tanya Galih yang terlihat khawatir dengan keadaan ibu dan Istrinya.


"Masuklah dulu, Galih." Ujar Hesti. Tak mau menarik perhatian para karyawan lain, Galih bergegas masuk ke dalam taksi yang ditumpangi oleh ibunya itu. Bahkan ia sampai lupa dengan mobilnya sendiri.


"O iya, mobilku masih di kantor, Bu." Ucap Galih saat taksi itu sudah mulai berjalan meninggalkan area perkantoran tersebut.


Sedangkan Hesti? Meski dalam hati ia sangat deg-degan, tapi ia sudah bertekad agar bisa menjalankan rencananya demi mencapai tujuan nya.


"Biar saja. Ini, minumlah. Kamu pasti capek habis lari-lari tadi," ucap Hesti seraya menyodorkan sebotol air putih kepada Galih.


"Katakan dulu, Bu. Ada apa ibu datang kesini sendirian? Indah mana? Dia tidak apa-apa kan, Bu?" Tanya Galih yang kepikiran dengan sang istri saat ini. Hesti hanya bisa memutar bola matanya malas karena mendengar nama itu dari mulut putranya.


"Sudah, ini minum dulu. Nanti ibu akan menjelaskan semuanya padamu," ujar Hesti lagi. Tak ingin membantah, Galih mengangguk seraya mengambil botol itu dan meminumnya.


'Maafkan Ibu, Galih. Ini semua ibu lakukan demi kamu dan keturunanmu. Ibu tidak mau sampai kamu tidak memiliki anak,' ucap Hesti dalam hati sambil melihat ke arah Galih yang meneguk air putih itu dengan cepat.


Meski ada rasa bersalah di diri Hesti, tapi saat ia teringat dengan kekurangan sang menantu, membuatnya membutakan matanya demi memperoleh cucu demi kelangsungan keturunannya.


Galih merasa lega setelah ia menegak hampir setengah botol air mineral itu. Namun beberapa saat kemudian ia merasakan sakit di kepalanya. Ia merasa pening yang teramat sangat. Pikiran Galih berkecamuk hingga ia tersadar dengan air yang tadi diminumnya.


"Ibu? A-apa yang ibu berikan padaku, Ibu?" Bentak Galih pada Hesti. Hesti sampai terjingkat saat mendengar bentakan dari putranya itu.


Galih geram, namun sakit di kepalanya semakin bertambah besar. Ia sampai memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


"Apa yang coba ibu lakukan padaku, Ibu? Hah, KATAKAN!" sedetik kemudian tubuh Galih limbung hingga ia kehilangan kesadarannya. Hesti langsung menangkap tubuh kekar itu dan menyandarkannya pada sandaran kursi itu.


Beberapa menit kemudian taksi yang ditumpangi oleh keduanya telah sampai di depan sebuah lobi hotel ternama. Hesti langsung menelepon nomor Melinda dan memintanya untuk datang dengan membawa bantuan orang untuk mengangkat tubuh tak berdaya Galih.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2