
AAI 62 - Wine
Setelah persidangan baik Indah dan Galih kembali pada kehidupan masing-masing. Indah kembali menekuni dunia literasinya yang dulu sangat ia sukai. Sedangkan Galih? Ia pun kembali pada kehidupan workaholic nya. Ia bekerja tanpa kenal lelah, bahkan ia lebih suka menghabiskan harinya di belakang meja kerjanya. Ia juga tetap berada di apartemennya tanpa sekalipun menengok sang ibu. Semenjak perpisahannya dengan sang istri, Galih mendedikasikan dirinya untuk pekerjaannya.
Dua insan yang saling mencintai terpaksa hidup berpisah. Saling berjauhan, memendam perasaan, merindu satu sama lain, bahkan keduanya dipaksa untuk tidak boleh mengucapkan kata cinta meski jiwanya meronta ingin mengagungkannya.
Di sisi lain,
Pada pagi hari ini, seorang wanita dengan perutnya yang besar terlihat tengah menikmati waktu santainya dengan menonton serial televisi kesukaannya. Di hadapannya telah tersaji berbagai macam makanan, dari buah-buahan, makanan ringan, dan juga minuman dingin untuk dirinya.
Raut wajah wanita itu terlihat sangat kesal meski tayangan di layar besar itu adalah sebuah serial komedi. Mulut wanita itu tampak menggerutu, berbicara sendiri layaknya tengah berbincang dengan orang lain.
"Dasar, laki-laki bia dab. Lalu apa gunanya aku menikah dengan Galih kalau dia saja tidak peduli denganku? Huh," gumam wanita yang tak lain adalah Melinda. Ia merasa sangat kesal karena sudah berbulan-bulan lamanya Galih tidak pernah sekalipun datang ke rumahnya. Terakhir kali ia melihat Galih yakni saat Galih pulang dari rumah sakit karena pertengkaran hebatnya dengan Indah.
Ting tong
Disaat Melinda tengah menikmati kesendirian nya, ia mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Karena malas, wanita itu tampak dengan sengaja tidak menghiraukan bel itu. Namun, lagi-lagi bel rumahnya kembali berbunyi hingga membuat wanita itu bertambah kesal.
"CK, siapa sih yang datang? Gak tahu kalau aku lagi kesal apa? Huh," dengan masih menggerutu, Melinda beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu utama. Perutnya yang besar membuat wanita itu sedikit kesulitan dalam berjalan.
Cklek
Wajah Melinda yang tadinya kesal makin terlihat lebih parah. Apalagi melihat kedatangan tamu yang tak ia undang itu semakin mematik api amarah Melinda.
__ADS_1
"Oho, ada angin apa sehingga membuat Tuan Seloaji datang ke rumah ini, hm? Maaf sebelumnya, aku tidak sedang ingin menerima tamu." Ucap Melinda dengan sinis kepada mantan kekasihnya itu.
Dimas Seloaji. Laki-laki itu hanya menatap datar Melinda lalu ia langsung berjalan masuk meski sang pemilik rumah tidak mempersilakan dirinya.
Melinda yang melihat reaksi Dimas itu tersenyum tipis. Ia tahu ada yang tidak beres pada Dimas sehingga membuat laki-laki itu mendatanginya.
'Ck, sudah kubilang, bukan? Kau tak akan pernah bisa lepas dariku, Dimas. Hanya aku wanita yang bisa membuatmu bertekuk lutut karena apa yang aku miliki. Tidak ada wanita diluar sana yang bisa menyaingi diriku,' ujar Melinda dalam hati. Tak mau sampai ada orang yang melihat mereka, Melinda segera menutup kembali pintu rumah dan berjalan menghampiri Dimas yang saat ini tengah duduk bersandar di tempat duduknya tadi.
"Ada apa, Dimas? Apa mainan barumu itu tidak bisa memuaskanmu, sehingga membuat mu kembali padaku. Iya kah?" Tanya Melinda dengan suaranya yang terdengar sangat menggoda di rungu Dimas. Laki-laki itu memejamkan mata, ia memijat pelipisnya yang terasa sedikit pening dengan masalah yang tengah ia hadapi.
"Tutup mulutmu, Melinda. Kau membuatku semakin pusing karena ocehan mu," desis Dimas yang hanya direspon Melinda dengan mengendikkan bahu. Ia tahu pasti bagaimana sifat dan watak laki-laki itu. Dimas tidak akan betah dengan wanita yang tidak bisa ia sentuh.
Sudut bibir Melinda terangkat keatas, ia mempunyai rencana dadakan yang mampu membantunya dalam melampiaskan segala emosi yang menguasainya selama beberapa bulan ini.
'Ah, mumpung ada macan asia di sini. Lebih baik aku manfaatkan daripada dia menganggur tak terpakai,' batin Melinda.
"Mbok, ini ada uang untukmu. Sekarang pergilah, dan kembali nanti sore saat kau akan menyiapkan makan malam untukku." Ucap Melindas kepada Mbok Yani yang bekerja padanya. Semenjak kehamilannya itu membesar, sang ibu mertua - Hesti mencari seorang asisten rumah tangga yang bisa membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Karena ia ingin menghabiskan waktu bersama Dimas, maka dari itu ia menyuruh dia untuk keluar dari rumah sementara waktu.
"Baik, Nyonya. Terimakasih, kalau begitu saya permisi dulu." Ujar Simbok seraya membungkukkan badannya. Meski dalam hati ada berbagai pertanyaan yang muncul, tapi apa dayanya jika ia tidak bisa mengatakannya.
Sudut bibir Melinda terangkat saat ia melihat asisten rumah tangganya berjalan keluar dari pintu rumahnya. Setelah itu, Melinda berjalan menuju salah satu pintu lemari kaca yang ada di sudut dapur. Ia membuka dan mengambil salah satu botol kaca dari dalam sana. Dengan tangan kirinya Melinda yang membawa dua gelas kaca, ia membawa minuman keras itu menuju tempat dimana Dimas berada.
"Di minum dulu, aku yakin sakit yang ada di kepalamu akan segera hilang setelah meminumnya." Ucap Melinda seraya meletakkan salah satu gelas itu di hadapan Dimas. Tak lupa ia membuka tutup botol itu dan menuangkan minuman berwarna merah itu ke dalam gelas.
__ADS_1
Dimas yang tadinya memejamkan mata perlahan membukanya. Ia membenahi duduknya dan seketika senyuman tipis tercipta saat kedua matanya melihat minuman favoritnya sudah ada di depannya.
"Kau memang tahu apa yang aku inginkan, Mel." Sahut Dimas seraya meraih gelas kaca berisi wine tersebut. Melinda tersenyum tipis lalu mengikuti apa yang dilakukan oleh Dimas.
Tring
Keduanya bersulang, lalu sama-sama menyesap minumannya masing-masing. Sama-sama penyuka wine dari luar negeri membuat Dimas dan Melinda dekat hingga menjadi sepasang kekasih. Kilasan-kilasan balik tentang kehidupan asmara mereka tiba-tiba saja melintas di benak masing-masing. Melinda yang memang masih mengharapkan cinta Dimas tampak biasa. Sedangkan Dimas terlihat diam sambil pandangannya tertuju pada Melinda yang tengah menikmati minumannya.
"Kau masih menyukainya?" Tanya Dimas tiba-tiba. Kedua alis Melinda mengerut, ia tidak paham dengan arah perkataan dari Dimas.
"Yang ku maksud adalah minuman ini." Imbuh Dimas yang merasa Melinda tak mengerti apa maksud perkataannya.
"Tentu, ini adalah wine pertama yang mampu membuatku jatuh cinta. Apa kau sudah lupa, gara-gara minuman ini kita hampir berantem di club'malam itu?" Ucap Melinda seraya mengenang kembali pertemuan pertamanya dengan Dimas. Dimas ikut tersenyum tipis, mana mungkin ia bisa melupakan peristiwa itu.
"Tentu, mana mungkin aku bisa lupa. Kau wanita pertama yang berani menjambak rambutku," sahut Dimas. Melinda tertawa lepas, mengingat tingkah lakunya yang dulu sangat memalukan. Untuk sejenak Dimas kembali terpana melihat wajah cantik Melinda yang tertawa lepas. Suara seksinya, tingkahnya, bahkan goyangannya mempu membuat darah Dimas mendidih seketika.
'Si Al. Bisa-bisanya aku malah membayangkan hal itu,' runtuk Dimas dalam hati.
Melinda yang melihat Dimas mulai tak nyaman tersenyum tipis. Ia pun beranjak, lalu ia menuju buffet tv dan sedikit menunduk. Gerakannya itu semakin membuat Dimas tak tahan. Apalagi bongkahan bulat milik Melinda depan belakang seakan melambai-lambai padanya.
'Ah, sh it. Perse tan dengan janji,' batin Dimas. Laki-laki itu beranjak lalu menghampiri tubuh Melinda dari belakang dan langsung memeluknya.
"Aku sudah tidak tahan, Baby." Bisik Dimas dengan suara seraknya. Napas hangatnya mampu menggetarkan seluruh jiwa dan raga Melinda dalam sekejap.
__ADS_1
'I catch you,'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...