Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 11 Aku sangat mencintaimu


__ADS_3

AAI 11 -


Cklek


Perlahan Galih membuka pintu kamarnya. Ia berjalan masuk dan menatap sekitar. Pandangan matanya berhenti saat menatap tubuh sang istri yang tengah duduk di pinggiran ranjang dengan tatapannya yang menatap jendela.


Hati Galih begitu sakit saat melihat bagaimana membayangkan Indah hidup dibawah tekanan dari ibunya.


'Maafkan aku, Sayang. Maafkan suamimu ini yang tak pernah sekalipun mengerti dengan apa yang telah kau alami selama di rumah ini. Maafkan aku, Indah. Maafkan aku,' ujar Galih dalam hati. Ia kembali melangkahkan kakinya mendekati ranjang itu. Indah yang duduk membelakangi pintu kamar tidak mengetahui jika saat ini suaminya itu sudah berada di sana.


Setibanya Galih di hadapan Indah, ia baru menyadari jika sang istri tengah melamun. Hati Galih semakin sakit saat melihat jejak air mata yang mengalir di kedua pipi mulus sang istri.


Sejenak Galih menenangkan dirinya terlebih dahulu, lalu ia duduk berjongkok di hadapan sang istri.


"Sayang?" Panggil Galih. Tak ada sahutan.


"Sayang?" Lagi. Indah begitu fokus dengan lamunannya hingga tak mendengar suara dari laki-laki yang dicintainya itu.


"Indah?" Dengan sedikit memberikan remasan di kedua tangan Indah yang bertumpu di atas pahanya itu akhirnya bisa menyadarkannya.


Indah begitu terkejut saat melihat wajah sang suami sudah berada di depannya. Entah sudah sejak kapan Galih berada di sana, indah tidak menyadarinya.


"Ma-mas?" Cicit Indah seraya melepaskan tangannya dari genggaman tangan Galih.

__ADS_1


Melihat hal itu membuat Galih menghembuskan nafas kasar. Kini ia baru menyadari bahwa sang istri begitu sakit hati hingga tak ingin ia sentuh.


"Apa yang kau pikirkan, Sayang? Mas mohon, jangan masukkan perkataan ibu tadi ke dalam hatimu. Mas tidak ingin sampai membuatmu menjadi sakit apalagi tertekan dengan hal itu," ucap Galih pada Indah.


Indah menggelengkan kepalanya, ia tidak akan bisa melakukan itu. Bagaimana mungkin ia bisa mengabaikan wanita yang memang sejak dulu tidak pernah menyukainya tersebut. Namun Indah bisa apa? Wanita itu adalah ibu dari suaminya sendiri.


"Bagaimana bisa, Mas? Bagaimana bisa aku tidak memikirkan hal itu? Jelas-jelas ibu ingin Mas menikah lagi karena aku yang tidak bisa memberimu keturunan," setetes air mata indah lagi-lagi keluar dari kedua sudut matanya. Hatinya begitu sakit saat teringat bagaimana sang ibu mertua dengan teganya menyuruh suaminya untuk menikah lagi karena ingin memiliki seorang cucu.


Mendengar hal itu, membuat Galih beranjak lalu duduk di samping Indah.


"Sayang? Hei, lihat aku." Ujar Galih seraya menarik tubuh Indah agar menghadap ke arahnya. Kini keduanya sudah saling bertatapan. Galih bisa melihat bagaimana sakitnya hati Indah melalui kedua matanya yang sudah memerah dan berkaca-kaca.


"Dengarkan aku, Indah. Aku sangat mencintaimu. Sejak pertama aku melihatmu sampai saat ini, aku masih sangat mencintaimu. Bahkan semakin bertambah setiap harinya, Sayang." Ujar Galih seraya menghapus jejak air mata itu dengan kedua tangannya.


Segera Indah memeluk tubuh hangat suaminya. Ia tumpahkan semua air mata yang sudah sejak tadi ditahannya. Meluapkan segala emosi yang menguasai dirinya hingga membuatnya sesak tak bisa bernapas seperti biasanya.


"Aku mencintaimu, Indah. Aku sangat mencintaimu," bisik Galih dengan memberikan kecupan hangat di pucuk kepala sang istri. Tak lupa juga ia memberikan usapan lembut di punggung Indah dan memeluknya erat.


"Aku juga sangat mencintaimu, Mas. Sangat mencintaimu," balas Indah dengan kedua tangannya yang memeluk tubuh kekas Galih.


Keduanya larut dalam kesedihan dan juga cinta mereka. Saling menguatkan disaat cobaan yang kini tengah menghampiri keduanya.


'Jangan pernah menodai kesucian pernikahan ini, Mas. Atau aku tidak akan mampu menatap dunia ini. Karena aku benar-benar mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu,' ujar Indah dalam hati.

__ADS_1


"Apa kau ingin pindah dari sini? Aku akan membeli sebuah rumah untuk kita. Meski kecil, aku akan membelikannya untukmu." Ujar Galih tiba-tiba.


Indah yang mendengarnya seketika terkejut, ia cepat-cepat melepaskan pelukan itu.


"Jangan, Mas. Kasihan Ibu, nanti sendirian di rumah yang besar ini. Lagipula kenapa harus membeli rumah lagi? Itu pemborosan, Mas." Cegah Indah pada sang suami. Ia tak mau jika sampai Galih harus memisahkan diri dengan ibunya. Meski mulutnya setajam belati, tapi Hesti tetaplah orang tua dari suaminya. Apa kata orang diluaran sana jika sampai tahu tentang permasalahan mereka? Pasti akan ada banyak pihak yang menyalahkannya sebagai seorang istri.


"Tapi, Ndah. Aku tidak bisa melihatmu tersiksa dengan semua perkataan ibuku padamu," ujar Galih seraya mengelus rahang sang istri. Indah memejamkan mata merasakan kehangatan dari telapak tangan kekar sang suami.


Perlahan Indah membuka mata, ia mendongakkan kepalanya menatap rupa ketampanan milik suaminya. Berusaha memperlihatkan senyum manisnya, Indah menggeleng pelan seraya mengangkat tangan kanannya terulur membelai lembut wajah tegas itu.


"Aku tak apa, Mas. Asalkan Mas bisa memegang janji suci pernikahan kita, aku bisa menerima semua perlakuan ibumu. Yang terpenting dalam sebuah hubungan adalah kepercayaan dan kesetiaan antar pasangan. Begitu juga aku dan kamu, Mas. Selama kita bisa saling menjaga kesucian cinta kita, sebesar apapun permasalahan yang kita hadapi, kita bisa melaluinya." Ucap indah dengan kelembutan nya. Galih sampai tak bisa berkata-kata lagi.


'Betapa beruntungnya aku memiliki dirimu, Indah. Wanita yang sejak dulu selalu bisa mencuri hati dan pikiran ku dengan segala tutur katamu yang lembut,' ucap Galih dalam hati.


Perlahan Galih mendekatkan dirinya kepada sang istri. Ia memberikan sebuah kecupan mesra di bibir merah sang bidadari surganya itu.


"Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu, Indah? Tutur katamu yang lembut mampu menggetarkan seluruh jiwa dan ragaku. Entah sudah berapa kali aku mengatakannya padamu. Tapi aku benar-benar sangat mencintaimu, istriku. Aku sangat bersyukur karena memiliki seorang istri semulia dirimu. Entah kebaikan apa yang sudah aku perbuat di kehidupanku sebelumnya, hingga dalam kehidupan ini aku bisa mendapatkanmu. Aku sangat mencintaimu, Indah Permatasari Wibawa. Aku sangat mencintaimu," Indah sampai tersipu malu mendengarkan ungkapan cinta yang diucapkan oleh Galih padanya.


Galih yang melihat tingkah malu dari istrinya tersebut seketika dibuat gemas. Tanpa pikir panjang, Galih merengkuh tubuh ramping itu dan membawanya berbaring di atas peraduannya.


"Ijinkan aku membawamu ke dalam indahnya cinta kita, Indah. Aku sangat mencintaimu dan menginginkanmu malam ini," setelah mengatakan itu, Galih pun segera melaksanakan apa yang menjadi tugasnya sebagai suami dan pemilik sah dari tubuh sang istri. Keduanya meraup keindahan cinta mereka yang indah dan bergelora. Saling mengungkapkan perasaan, mengutarakan cinta, Galih dan Indah benar-benar menikmati malam ini layaknya malam-malam sebelumnya. Begitu panas, indah, dan memabukkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2