Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 08 Makan Malam


__ADS_3

AAI 08 - Makan Malam


Hesti pulang dengan tubuh yang seakan remuk redam. Laki-laki itu benar-benar membuatnya tak bisa beristirahat barang sejenak.


Dengan langkah lunglai, Hesti masuk ke dalam kamarnya. Hesti yang kebetulan tengah menuruni tangga dibuat heran.


"Tumben banget Ibu tidak mengomel. Biasanya aja baru sampai udah teriak-teriak. Tapi kelihatannya capek sekali," gumam Indah seraya meneruskan langkahnya menuju dapur untuk segera memulai ritual masak memasak nya. Apalagi sekarang sudah menunjukkan pukul lima sore.


Pukul enam lebih lima belas menit masakan yang dibuat oleh Indah akhirnya selesai. Ia segera menata semuanya diatas meja. Setelah itu, ia bergegas menuju ke kamarnya.


Disaat indah keluar dari kamar mandi, bertepatan dengan pulangnya sang suami tercinta. Indah tersenyum seraya berjalan menghampiri Galih.


Galih tersenyum melihat istrinya yang selalu sigap menyambut kedatangannya.


"Terimakasih, Sayang." Ucap Galih saat menyerahkan jasnya ke tangan sang istri. Indah tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Duduk dulu, Mas. Aku siapkan air panasnya," ujar indah seraya pergi meninggalkan Galih yang berjalan menuju ranjangnya. Ia mulai melepaskan dasi beserta kemejanya. Meninggalkan bekena panjangnya yang akan ia lepas nanti saat ia berada dalam kamar mandi.


Tak beberapa lama kemudian terlihat Indah keluar dari kamar mandi. Ia tertunduk malu saat menyadari sang suami tengah bertelanjang dada. Entah mengapa ia selalu tersipu melihat pahatan nyata tu lebih atletis milik suaminya itu.


"A-airnya sudah siap, Mas." Ucap Indah malu-malu seraya berbalik meninggalkan Galih. Namun sayang, dengan cepat Galih menarik tangan indah dan membuatnya berakhir dalam pelukan Galih.


Ah,


"Kenapa pipimu merah, Sayang? Hm?" Tanya Galih dengan suaranya yang terdengar berat di telinga Indah.

__ADS_1


Hembusan napas hangat Galih mampu menggetarkan seluruh jiwa raga Indah. Jika saja ia tak kuat, mungkin ia akan limbung disana. Ia begitu tergila-gila dengan sang suami begitu pula sebaliknya. Galih yang melihat wajah malu-malu Indah seketika membuat dirinya tak lagi merasa lelah akibat bekerja. Indah merupakan mood booster nya yang paling mujarab mampu membuat Galih melupakan bebannya.


Galih masih setia menatap wajah cantik indah yang tak terpoles oleh riasan. Wajah alami yang membuat jantung Galih berdebat untuk pertama kalinya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya hingga saat sudah berada tepat di depan wajah Indah, Galih membisikkan sesuatu.


"Mas belum bisa melayanimu sekarang, Sayang. Mas butuh makan untuk mengisi ulang tenaga yang seharian ini terkuras karena pekerjaan." Indah seketika membuka matanya dengan lebar saat mendengar bisikan itu. Ia begitu malu lalu dengan cepat ia melepaskan diri dari pelukan sang suami.


Buk


Indah menghadiahi Galih pukulan gemas di dadanya sebelum ia benar-benar berlari meninggalkan suaminya disana. Indah segera masuk ke dalam walking closetnya untuk berganti pakaian. Galih yang melihat tingkah laku Indah yang menggemaskan itu hanya bisa terkekeh. Ia begitu bahagia mendapatkan istri seperti Indah. Wanita yang mampu menghangatkan hati dan juga menggetarkan jiwanya. Wanita yang membuat Galih begitu betah jika berada di rumah.


"Betapa menggemaskannya istriku itu," gumam Galih lalu ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Sedangkan Indah yang ada di dalam walking closetnya hanya bisa meruntuki kebodohannya.


"Ah, betapa memalukan diriku ini." Gumam Indah sambil mulai memakai pakaiannya.


Tak lama kemudian terlihat Hesti datang dan bergabung dengan keduanya. Hesti hanya menatap datar saat melihat Indah yang begitu sigap dan telaten melayani Galih disana. Dalam hati ia mencibir menantunya itu dengan tatapan matanya yang sinis.


'Cih, dasar. Puas-puaskan saja kau bersama dengan Galih. Karena sebentar lagi kalian akan berpisah dan Melinda yang akan menjadi menantu satu-satunya di rumah ini,' ujar Hesti dalam hati.


Ketiganya menikmati makan malam mereka dengan tenang. Suasana yang selalu dirasakan selama Indah berada di dalam rumah itu.


"Kapan adikmu itu pulang, Galih? Ibu sudah rindu padanya," tanya Hesti ketika ia sudah selesai dengan makanannya. Galih dan Indah pun segera meletakkan alat makan mereka disana.


"Mungkin dua bulan lagi, Bu. Dia pasti sibuk dengan kuliahnya. " Jawab Galih dengan santai. Hesti hanya bisa menghela napasnya mendengar jawaban itu.

__ADS_1


Gita Mega Wibawa. Adik satu-satunya yang dimiliki oleh Galih. Gadis manis bertubuh mungil seperti ibunya itu saat ini tengah menempuh pendidikan nya di salah satu universitas bergengsi di kota Malang, Jawa timur.


Cita-citanya yang ingin menjadi seorang jaksa membuat dirinya menempuh pendidikan jauh disana. Dan karena kepintarannya, Gita berhasil memperoleh beasiswa selama kuliah disana. Gita tipe gadis yang sangat pekerja keras, sama seperti sang kakak.


Ia begitu suka dengan pelajaran sejak sekolah dasar dan membuat dirinya menjadi salah satu murid berbakat se-Jawa timur. Banyak sekali medali dan piala yang ia hasilkan dari mengikuti berbagai macam lomba dari tingkat kota, daerah, sampai taraf nasional.


Galih pun begitu sayang dan perhatian kepada sang adik. Ia selalu memantau sang adik dan mengiriminya uang saku setiap sebulan sekali. Posisinya yang menjadi manager di sebuah perusahaan besar di kota Ngawi membuat Galih memiliki gaji yang lumayan besar.


Di tangan sang istrinya-lah, Galih memberikan semua gajinya. Indah yang pintar mengatur keuangan menjadikan semua pengeluaran menjadi stabil.


"Padahal Ibu sudah sangat merindukan nya," ucap Hesti dengan raut wajahnya yang sendu. Ia begitu merindukan sosok putrinya yang ceria itu. Webeda jauh dengan Galih yang cenderung pendiam, sama seperti ayahnya.


Mendengar keluhan dari sang ibu membuat Galih menghembuskan napas kasarnya.


"Sabar, Bu. Atau kalau mau, Ibu saja yang mendatangi Gita di malang. Nanti biar Galih yang mencarikan tiket untuk Ibu," usul Galih yang seketika ditolak oleh Hesti.


"Tidak, tidak. Daripada harus perjalanan jauh, mending ibu menunggunya saja." Sahut Hesti yang terdengar pasrah. Lalu Hesti pun teringat dengan rencananya tadi, ia pun berniat mengatakan itu kepada putranya.


Indah yang mendengar percakapan antara ibu dan anak itu kemudian perlahan bangkit dan mulai mengambil piring kotor mereka dan membawanya ke arah dapur. Ia tak ingin ikut campur dalam percakapan keduanya. Oleh karena itu, Indah memilih untuk menghindar.


Namun belum sampai ia mencapai wastafel, Indah begitu terkejut kala mendengar ucapan dari sang ibu mertua.


"O ya, Galih. Tadi Ibu sudah bicara dengan Melinda, katanya dia mau menjadi istrimu. Kamu mau kan menikah dengan dia? Ibu sudah sangat menginginkan seorang cucu, Galih." Ujar Hesti dengan rasa tak bersalahnya. Sepersekian detik setelah Hesti mengatakan itu, terdengar suara pecahan dari arah dapur.


Prangg

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2