
AAI 74 - Kebenaran 2
Sepasang kakak beradik menatap nanar ibu mereka yang tengah bertengkar dengan laki-laki yang merupakan keluarga dari Melinda. Mereka tidak pernah menyangka jika ibunya sendirilah yang menjadi penyebab meninggalnya sang ayah tercinta.
'Ternyata. Tak kusangka ibu yang telah melahirkan ku adalah dalang dari kematian ayahku.' batin Galih. Sudut matanya mengalir setitik air mata kekecewaannya.
"Mas, apa semua yang dikatakan oleh ibu itu benar?" Tanya Gita seraya memeluk tubuh Galih dari samping. Ia tidak kuat melihat sang ibu yang terus berteriak menyalahkan Agus sedangkan dirinya juga terlibat di dalamnya.
"Kita diam dulu, Gita. Kita lihat sampai dimana mereka akan mengungkap semuanya," ujar Galih seraya mengelus punggung sang adik. Kedua matanya sendiri sudah memerah, berusaha menahan laju air matanya yang ingin keluar. Air mata kekecewaannya terhadap sang ibu yang ternyata lebih kejam dari seorang pembunuh berantai.
"Kau gila, Hesti. Kau benar-benar gila. Aku tidak menyangka jika wanita yang kusukai selama ini adalah seorang psikopat gila sepertimu," bentak Agus pada Hesti.
Ha ha ha
Tawa nyaring terdengar dari mulut Hesti bersamaan dengan air matanya yang juga mengalir deras dari tempatnya. Senyum seringainya muncul dan ia hadiahkan pada laki-laki yang masih memenuhi relung hatinya itu.
"Ya, aku memang gila, Agus. Kau yang membuatku menjadi segila ini. Aku gila karena mencintaimu dan menghianati suamiku sendiri. Tapi apa balasan yang ku terima?Kau lebih mementingkan istrimu dan tidak memedulikan perasaanku, Agus. Kau tidak mencintaiku," tuding Hesti dengan telunjuknya yang terarah pada wajah laki-laki itu. Kemarahan akan ketidakpedulian Agus terhadap nya membuat Hesti gila hingga tega menyakiti istri dan anak Agus. Dengan cepat Hesti meraih kerah baju Agus dan menariknya hingga wajah keduanya bertemu. Mereka saling pandang, menyelami mata masing-masing mencari keberadaan cinta yang selama ini mereka agungkan.
"Kau tahu, kita itu sama, Agus. Kalau tidak gila, mana mungkin aku sampai rela menampung benih mu di dalam rahimku. Apa kau lupa jika kau memiliki anak dari cinta kita, hah?" Desis Hesti. Tubuh Agus membeku. Mana mungkin ia lupa dengan semua itu. Darah dagingnya bukan hanya berasal dari rahim Santi, melainkan juga dari Hesti. Ia memiliki dua buah hati dari dua rahim wanita yang berbeda.
deg
Jantung Galih dan Gita seakan berhenti berdetak. Anak? Kenyataan apa lagi yang akan terungkap? Baik Galih dan Gita merasa seperti tengah melihat sinetron televisi yang penuh dengan drama kehidupan. Namun bedanya kali ini yang memainkan drama itu adalah ibu mereka sendiri.
"Tutup mulutmu, Hesti. Jangan ungkit masa lalu kita. Kau tahu sendiri, jika aku tidak menginginkan anak itu dilahirkan. Tapi apa? Kau tetap kekeh mempertahankannya meski aku menolak mengakuinya," balas Agus. Memang benar, ia sempat menolak kehadiran anak yang dikandung oleh Hesti. Ia bahkan bersedia mengantar Hesti ke klinik yang menyediakan jasa menggugurkan kandungan. Namun Hesti menolak, ia kekeh mempertahankan anak dari laki-laki itu. Hingga saat Hesti mengancam akan bunuh diri akhirnya membuat Agus mau tak mau mengalah.
"Kenapa, Agus? Apa kau tidak ingin mengakui jika Gita itu adalah darah daging mu, hah? Ingat, Agus. Meski kau menolak, tapi di dalam diri gadis itu mengalir deras darahmu. Dialah bukti cinta kita berdua." Pekik Hesti tepat di depan wajah tampan Agus. Agus terdiam mendengar ucapan tersebut. Galih yang sudah tidak tahan lagi langsung bergerak menuju ke arah pintu rumah.
Brak
__ADS_1
Suara pintu yang terbuka lebar membuat Hesti dan Agus terkejut. Keduanya menoleh ke arah sumber suara. Alangkah terkejutnya keduanya saat melihat kedatangan Gita dan Galih. Hesti dan Agus saling pandang lalu keduanya terlihat gugup apalagi tatapan mata Galih yang sangat tajam terarah pada Hesti dan Agus.
"Ga-galih? Gi-gita? Ka-kalian ...." Hesti tergagap karena saking terkejutnya melihat keberadaan kedua anaknya di sana. Ia tidak menyangka jika keduanya melihatnya bertengkar dengan Agus. Hesti merasa takut jika kedua anaknya akan mengetahui semua rahasia yang selama ini ia tutupi dengan rapat.
"Dengar, Galih dan Gita. Ka-kami bisa jelaskan," imbuh Agus. Meski sudah ketahuan, tapi ia masih ingin memberikan penjelasan kepada Galih dan juga Gita.
Hesti berusaha menahan dirinya agar tak terlihat gugup Tapi tidak bisa, tubuhnya terlihat gemetar saat ini. Wanita itu berjalan mendekati Galih dan Gita. Namun Gita yang merasa takut langsung mundur dan bersembunyi di belakang tubuh sang kakak.
"Cukup, berhenti disana." Tegas Galih membuat langkah Hesti terhenti. Kebencian yang ada di dalam mata Galih semakin besar pada Hesti kini besar.
Langkah wanita itu terhenti karena melihat tatapan mata kedua anaknya yang seakan jijik dengannya.
"Gi-gita, ibu bisa jelaskan." Ujar Hesti pada gadis itu. Namun Gita tidak ingin mendengarnya dan memilih tetap bersembunyi di balik punggung Galih.
Agus pun ikut bingung, lidahnya seakan kelu sekedar mengucapkan sepatah kata kepada kedua kakak beradik itu.
"Rasakan ini. Ini untuk ayahku," desis Galih seraya membogem rahang kiri Agus.
"Ini untuk berselingkuh dengan ibuku," imbuh Galih dengan Bogeman di rahang kanan Agus.
"Sudah, Mas. Sudah," ujar Gita seraya melerai sang kakak yang masih memukuli Agus meski laki-laki itu sudah babak belur berlumuran darah. Wajah Agus sudah tak berbentuk, darah segar membanjiri kedua hidung dan sekitar bibirnya.
"Lepaskan aku, Gita. Lepaskan," bentak Galih seraya melepaskan diri dari pelukan sang adik. Gita memeluk erat tubuh Galih agar berhenti mengha jar Agus.
"Tidak, Mas. Nanti Mas bisa masuk penjara," ujar Gita seraya memperkuat pelukannya.
"Biarkan saja, Gita. Asal akuu bisa membunuh laki-laki ini, aku ikhlas. Aku harus membalaskan dendam ayah padanya," sahut Galih. Napasnya naik turun serta tatapan matanya seakan hendak menghunus jantung Agus. Namun Gita tidak akan membiarkan sang kakak melakukan itu semua.
Sedangkan Hesti? Wanita itu masih berada di tempatnya. Ia hanya bisa menangisi semua yang telah terjadi di hadapannya. Ia tidak memiliki muka lagi hanya untuk menatap kedua anaknya itu. Semuanya sudah hancur, berantakan.
__ADS_1
"Tidak, Mas. Biar hukum yang akan menghukumnya," ujar Gita. Merasa sang kakak sudah lebih tenang, Gita memutar tubuh Galih agar menatap ke arahnya.
"Dengarkan aku, Mas. Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan cara kekerasan, Mas. Sadarlah, ucapkan istighfar," ucap Gita dengan menangkup wajah Galih. Perlahan laki-laki itu meneteskan air mata, Gita yang melihatnya langsung memeluknya. Keduanya saling menangis, menumpahkan semua rasa kesedihan mereka satu sama lain. Setelah keduanya lebih tenang, Galih melepaskan pelukannya. Ia beralih menatap ke arah ibunya. Perlahan Galih berjalan menghampiri Hesti dan berdiri di hadapannya.
"Aku tidak menyangka ternyata ibulah yang telah membunuh ayah. Apa ibu benar-benar ibuku? Apa ibu tidak punya hati? Kenapa ibu tega melakukan itu semua, hah? KENAPA?" teriak Galih pada Hesti. Wanita itu sampai tersentak karenanya.
"Ga-galih, to-tolong dengar penjelasan dari ibu, Nak.'' pinta Hesti dengan berderai air mata. Ia ingin meminta maaf kepada sang anak karena telah berdosa dan ingin menebus kesalahannya.
Galih menggeleng keras, ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi dengan sang ibu. Ia sudah lelah, ia merasa jijik dan menolak mengakui jika wanita yang berdiri di hadapannya itu adalah ibu kandungnya.
''Cukup, Bu. Aku tidak ingin berbicara ataupun mendengar ucapan darimu. Akui semua kesalahanmu di hadapan pihak berwajib, karena aku akan melaporkan semuanya kepada polisi." ucap Galih tegas.
''Tidak, Galih. Ibu mohon, jangan laporkan masalah ini pada pihak berwajib.'' Hesti berlutut, ia meminta ampun kepada Galih dan membujuknya agar masalah ini tidak sampai pada pihak berwajib. Gita yang mendengarnya juga terkejut, lalu ia segera menghampiri sang kakak dan berusaha untuk membujuknya.
"Jangan, Mas. Jangan libatkan polisi dalam masalah keluarga kita. Malu, Mas. Malu," ujar Gita. Selain malu, ia tidak ingin sampai keluarganya menjadi buah bibir masyarakat.
"Tapi perbuatan Ibu dan laki-laki itu sudah keterlaluan, Gita. Mereka sudah menghianati ayah dan membunuhnya. Apa kau tidak marah, hah? Rasanya aku ingin meledak mengetahui kenyataan ini," sahut Galih. Ia terlihat sangat frustasi, dan Gita tentu tahu itu. Ia sendiri juga merasakan hal yang sama, rasanya dunianya hancur seketika. Namun ia juga tidak bisa membuatkan sang kakak melakukan hal yang lebih, oleh karena itu ia ingin menahan Galih.
"Iya, Mas. Aku tahu. Aku juga tidak menyangka jika kita bukan sedarah," lirih Gita yang merasa jijik dengan dirinya sendiri. Ia berbeda dengan Galih, merasa jika dirinya tidak pantas berada di dunia ini.
''Apa yang kau katakan, Gita? Sampai kapanpun kau adalah adikku, tidak ada yang bisa menentang hal itu. Percaya padaku," ujar Galih seraya memeluk kembali tubuh ringkih adiknya. Ia tidak peduli meski kenyataan bahwa ia dan Gita beda ayah. Sampai kapanpun Gita tetap menjadi adik kesayangannya.
''Kumohon, Mas. Jangan laporkan ibu pada polisi, kasihan dia. Meski begitu dia tetap ibu kita,'' ujar Gita dalam dekapan sang kakak.
"Lihatlah, Bu. Hanya demi Gita, aku tidak akan melaporkan ibu pada polisi. Tapi ingat, Bu. Aku tidak akan pernah memaafkan semua kesalahan yang telah ibu perbuat. Aku benar-benar malu memiliki ibu sepertimu. Andaikan aku boleh memilih, aku ingin hidup sendiri daripada memiliki ibu bi adab seperti dirimu." desis Galih. Hesti hanya bisa menangis tersedu mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Galih. Tubuhnya melemas, ia akhirnya bisa menyadari seberapa jahat dan kejamnya dia selama ini. Ia tidak pantas menjadi seorang wanita, apalagi ibu.
'Ucapan Galih benar, aku tidak pantas sebagai ibu. Tidak ada ibu sekejam diriku. Maafkan aku, Mas Hendra. Maafkan aku, Galih. Maafkan aku, Gita. Aku sudah menyakiti kalian dan mengecewakan kalian,' batin Hesti. Pandangan matanya kosong, seakan jiwanya tercabut dari raganya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1