
AAI 06- Melinda dan laki-laki misterius
Setelah kepergian Melinda, Hesti bergegas menuju kamarnya. Dengan hati gembira wanita itu terus melangkah menapaki tangga disana. Saat ia melintasi kamar anak dan mantunya, Hesti menghentikan langkahnya.
'Tunggu sebentar lagi, wanita miskin. Aku akan membuat Galih berlutut di hadapanku dan akan menuruti semua keinginanku,' ucap Hesti dalam hati. Lalu ia bergegas menuju ke kamarnya.
Flashback
Setelah kepergian Galih dan Indah, Hesti masih lanjut mengobrol dengan Melinda.
"Sebenarnya ada yang ingin Tante bicarakan sama kamu, Mel. Tapi Tante takut kalau kamu akan membenci Tante jika Tante membicarakan ini denganmu," ucap Hesti dengan raut wajahnya yang terlihat sangat sedih. Ia begitu fasih dalam memerankan aktingnya. Melinda seketika mengeryitkan dahi saat mendengarnya.
"Memangnya apa yang ingin Tante bicarakan?" Tanya Melinda. Tampak Hesti yang begitu ragu dengan pikirannya. Namun berkat dorongan dari Melinda, Hesti pun memberanikan diri untuk menanyakan nya.
"Mel, kamu kan sudah mengenal baik dengan Galih. Jika andai kata Galih belum memiliki istri, apa kamu menyukainya?" Tanya Hesti dengan raut wajahnya yang menatap ke arah Melinda. Melinda begitu terkejut mendengar ucapan dari Hesti. Namun mendengar kata itu membuat Melinda tersenyum malu.
"Siapa sih Tan, wanita yang tidak menyukai laki-laki seperti Mas Galih? Ganteng, mapan, dan perhatian kepada istrinya. Beruntung sekali Indah memilikinya," ucap Melinda dengan nada getir di belakangnya. Bagaimana tidak iri, dibandingkan dengan kekasihnya, tentubsangat jauh. Galih tentu berada jauh di atas kekasihnya.
Hubungannya dengan sang kekasih yang masih diam-diam membuat Melinda tidak bisa mengakuinya di depan khalayak ramai. Oleh karena itu, ia berbohong tadi. Saat mengatakan jika ia tidak memiliki seorang kekasih. Padahal punya, laki-laki yang sudah menjalin hubungan selama hampir tiga tahunan ini.
"Tapi Tante sangat sedih sekali," keluh Hesti.
" Sedih kenapa, Tante? Tante bisa bicara denganku. Aku pasti akan membantu Tante jika bisa," ucap Melinda. Hesti yang mendengar ucapan tersebut seketika bersorak dalam hati.
"Kamu tahu kan, Mel kalau Galih dan Indah sudah menikah lama?" Tanya Hesti yang mendapatkan anggukan kepala dari Melinda.
__ADS_1
"Sampai sekarang mereka belum juga memiliki anak. Padahal Tante sudah sangat ingin memilikinya. Umur Tante sudah tak muda lagi, bagaimana jika Tante mati sebelum menimang seorang cucu? Tante takut kalau Tante tak bisa melihat wajah cucu Tante, Mel." Dengan mengeluarkan setetes dua tetes air matanya, semakin membuat Hesti terlihat sangat natural dalam aktingnya.
"Kenapa Tante bicara seperti itu? Jangan, Tante. Umur boleh tua tapi Tante masih sangat muda jika dilihat. Lagipula Tante kan seumuran dengan Mamaku." Ucap Melinda yang berusaha menenangkan hati Hesti. Lagi-lagi Hesti tersenyum salam hati karena peran yang dimainkan oleh nya itu mampu menarik simpati Melinda.
"Mel? Tante boleh bertanya satu hal padamu?" Tanya Hesti. Tentu tanpa pikir panjang Melinda menganggukkan kepalanya.
"Tentu, Tante. Tanyakan saja," jawab Melinda.
"Apa kau bersedia menjadi istri Galih? Menggantikan posisi Indah sebagai menantu di rumah ini," ucap Hesti yang seketika membuat kedua mata Melinda terbelalak. Ia tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh Hesti padanya.
"Tan? Tante jangan bercanda. Mana mungkin, Tante. Mereka begitu saling mencintai dan aku bisa melihat itu," sahut Melinda. Tentu ia ragu dengan ucapan Hesti mengingat ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Galih memperlakukan istrinya itu. Bahkan melihat kearahnya saja Galih tidak mau, apalagi menjadi suaminya.
"Apa Tante terlihat bercanda sekarang, Mel?" Tanya Hesti dengan kedua matanya yang menatap lekat ke arah mata Melinda. Melinda bingung dengan situasi saat ini. Disisi lain ia masih memiliki seorang kekasih meski hubungan mereka tak akan pernah disetujui oleh kedua orang tua mereka.
"Tapi, Tan..." Belum juga Melinda meneruskan ucapannya, Hesti lebih dulu menyela ucapannya.
'Apakah aku harus menerima tawaran ini? Tapi bagaimana dengan Papa dan Mama? Apa mereka akan menyetujui?' batin Melinda yang memikirkan semuanya. Hubungannya, kedua orang tuanya, status Galih, membuat Melinda tanpa sadar melamun.
"Mel?" Panggil Hesti. Melinda seketika gelagapan lalu mengalihkan pandangannya pada Hesti.
"Apa kau bersedia menjadi istri Galih dan menjadi menantuku menggantikan Indah?" Tanya Hesti sekali lagi. Melinda begitu ragu dengan keputusannya. Namun sekuat tenaga Hesti berusaha meyakinkannya.
"Kamu tenang saja. Tante pasti akan membantumu untuk mengambil hati Galih," ucap Hesti dengan menggenggam kedua tangan Melinda. Ia begitu yakin dengan pilihannya itu. Karena selain menyatukan Galih dengan Melinda, Hesti juga ingin menyatukan keluarganya dengan keluarga Melinda yang sudah sangat ia kenal.
"Baiklah, Tante. Aku bersedia," Hesti begitu tersenyum bahagia kala mengingat jawaban yang dilontarkan oleh Melinda padanya.
__ADS_1
Rencananya selangkah lebih maju. Ia begitu bahagia hingga suara dari ponselnya mengganggu kebahagiaan nya itu.
Kedua mata Hesti tampak mengeryit saat melihat nama kontak yang saat ini tengah berusaha untuk memanggilnya itu.
"Kenapa dia malam-malam begini menelepon? Apa tidak takut ketahuan?" Gumam Hesti namun jari telunjuknya menggeser tombol hijau itu untuk mengangkat panggilan darinya.
"Halo?" Suara Hesti yang terdengar lebih lembut dari biasanya. Kening Hesti berkerut saat mendengar sahutan dari sana.
"Kamu gila ya, Mas. Mana bisa aku keluar dari rumah malam-malam begini?" Ucap Hesti seraya melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Ayolah, Hes. Aku sangat merindukanmu," suara berat seorang laki-laki yang terdengar jelas di rungu Hesti.
"Aku juga rindu, Mas. Tapi bukan sekarang juga. Besok bagaimana, hm? Besok aku janji akan datang ke tempat biasa," sahut Hesti yang menjanjikan pertemuan mereka. Terdengar jelas helaan napas panjang dari seberang sana.
"Baiklah, kalau begitu. Sampai jumpa besok. Aku akan tiba di apartemen pukul sembilan pagi. Aku ingin kamu sudah ada disana saat aku datang. Oke?" Tanya laki-laki itu. Hesti tampak terdiam sejenak memikirkan bagaimana ia keluar di jam saat itu.
"Baiklah, aku akan mengusahakannya, Mas. Tapi Mas tidak lupa dengan janjimu kan?" Tanya Hesti dengan suaranya yang berubah manja. Terdengar kekehan dari sana.
"Tentu. Mana mungkin aku akan melupakan itu, hm? Baiklah, tidurlah karena hari sudah semakin malam. Siapkan tenagamu besok, karena aku akan lebih lama dari biasanya." Ucap laki-laki itu yang seketika membuat kedua pipi Hesti muncul semburat merahnya. Ia begitu tersipu membayangkan itu.
"Jangan membicarakan itu, Mas. Membuatku malu saja. Ingat umur, Mas, umur." sahut Hesti.
"Ha ha ha. Umur boleh tua, tapi rasa masih sama seperti saat muda." Semakin merah saja pipi Hesti mendengar ucapan dari lawan bicaranya itu. Maka dari itu ia langsung mematikan panggilan tersebut.
"Dasar. Sudah tua tapi masih saja nafsuan. Sangat berbeda dengan Hendra dulu,"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...