Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 77 - Pertolongan dari ketua BEM


__ADS_3

AAI 77 - Pertolongan dari ketua BEM


Lia yang berada di dalam kelas merasa khawatir, pasalnya Gita sudah hampir setengah jam ijin ke toilet tapi belum juga kembali. Apalagi dia tadi melihat tatapan mata Sonia sedikit sinis padanya saat masuk ke dalam kelas. Lia, Gita, dan Sonia berada dalam satu kelas. Bayangkan saja bagaimana terkenalnya mereka. Tiga orang mahasiswi paling cantik di kampus berada dalam satu kelas yang sama.


'Dimana sih kau, Gita? Kenapa lama sekali pergi ke toiletnya? Sepertinya ada yang tidak beres,' pikir Lia dalam hati. Ingin rasanya ia pergi mencari keberadaan sahabatnya, tapi ia tidak bisa. Saat ini pelajaran sudah akan berakhir, ia tidak mungkin meninggalkan mata pelajaran yang sangat ia sukai itu. Oleh karena itu, mau tak mau Lia akan menunggu waktu pelajaran selesai baru ia akan pergi mencari Gita.


Disisi lain, Gita merasa kepalanya mulai pusing. Berada di dalam ruang sempit membuat dirinya kesulitan untuk bernapas. Tenaganya juga sudah terkuras habis karena sejak tadi ia terus menggedor-gedor pintu bilik berharap ada orang yang datang membantunya. Namun sayang, karena letak toilet yang berada di paling belakang kampus membuat teriakannya tidak di dengar oleh orang. Ditambah lagi saat ini merupakan kelas terakhir hari ini, jadi semua mahasiswa berada di dalam kelas mereka masing-masing.


"To-tolong saya. Kumohon tolong saya. Adakah orang yang mendengar ku? To-lo-ng," suara Gita melemah. Perlahan tubuhnya ambruk dan terjatuh di dalam sana. Bersamaan dengan hal itu, pintu bilik toilet nya terbuka dari luar. Namun karena kesadarannya hilang, membuat Gita tidak mengetahui hal itu.


"Astaga, apa yang dilakukan gadis ini di sini. Aku harus cepat membawanya ke klinik," seorang laki-laki masuk dan membopong tubuh lemas Gita keluar dari ruangan sempit itu. Tubuh Gita yang kecil membuat laki-laki itu mudah membawanya.


Beruntung laki-laki itu berada di toilet laki-laki yang berada di sebelah toilet perempuan. Saat dirinya hendak pergi dari toilet laki-laki, ia mendengar suara seorang wanita yang berasal dari tempatnya Gita. Tak ada rasa takut dalam diri laki-laki itu sehingga membuatnya langsung masuk ke dalam toilet dan mencari sumber suara tersebut. Alangkah terkejutnya saat melihat Gita yang sudah tak sadarkan diri di dalam sana.


Setibanya di klinik, Gita langsung ditangani oleh tenaga kesehatan yang bertugas disana. Laki-laki itu menjelaskan kronologi kejadian bagaimana ia bisa menemukan Gita. Tenaga medis itu paham, lalu laki-laki yang mengantar Gita itu meminta ijin kembali ke kelas karena pelajarannya yang belum selesai. Perawat disana pun memperbolehkannya.


Eugh


Suara lenguhan berasal dari mulut Gita. Perawat yang sejak tadi berada di meja samping ranjang gadis itu tanggap dan langsung menghampirinya. Perawat itu melakukan pemeriksaan terhadap Gita setelah gadis itu tak sadarkan diri hampir satu jam lamanya.


"Kenapa saya bisa sampai disini, Bu?" Tanya Gita seraya berusaha bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Pelan-pelan, kau baru saja siuman. Kau tahu Irsyad, siswa dari fakultas teknologi? Dia yang membawamu kemari. Katanya kamu terkunci di dalam toilet. Memangnya bagaimana kamu bisa berada di dalam bilik dan terkunci dari luar?" Tanya perawat itu. Ia heran, bagaimana cara Gita terkunci sedangkan gadis itu sendirilah di dalam toilet saat Irsyad menemukannya.


Gita mengingat kembali kejadian tadi. Dari awal ia mendapatkan telepon dari sang kakak dan ijin menuju toilet untuk mengangkat panggilan itu. Ia ingat jika di dalam toilet tidak ada seorangpun yang berada disana. Oleh karena itu, Gita bisa bebas berbicara dengan kakaknya melalui telepon. Tapi entah mengapa saat dirinya ingin keluar, pintunya terkunci dari luar. Padahal sejak dirimu di dalam bilik, ia tidak mendengar adanya tapak kaki yang masuk ke dalam toilet. Lalu siapa yang tega menguncinya dari luar? Entahlah. Itulah yang kini menjadi pertanyaan besar di dalam benak Gita. Ia merasa jika dirinya tidak memiliki musuh di sini jadi ia heran, adakah orang yang membencinya hingga berbuat seperti itu padanya.


"Saya juga tidak tahu, Bu. Saat itu saya tengah mengangkat panggilan dari kakak saya. Setelah saya selesai berbicara, saya ingin kembali ke kelas. Namun pintunya ternyata terkunci dari luar. Saya sudah berulangkali menggedor pintu tapi tidak ada seorangpun yang datang dan membantu saya." Ucap Gita dengan pandangannya lurus kedepan. Meski ada satu nama 6mincul dibenak Gita, tapi gadis itu tidak mungkin mengatakannya. Karena ia bisa dihukum karena menuduh seseorang tanpa bukti yang kuat.


"Beruntung kamu tidak lebih lama berada di dalam sana. Karena itu bisa mengganggu sistem pernapasanmu. Kamu harus berterimakasih pada Irsyad, karena dialah yang menyelamatkanmu." Sahut perawat itu dengan seutas senyum. Mendengar nama Irsyad, Gita terdiam. Tentu ia tahu siapa laki-laki bernama Irsyad tersebut. Dialah adik dari kakak iparnya, Indah. Awalnya ia tidak tahu jika Irsyad juga kuliah disana. Tahunya Gita saat dirinya melihat Lia yang tengah berjalan berdampingan dengan Irsyad tersebut. Meski dirinya dan Irsyad masih saudara dari pihak Indah, tapi keduanya tidak pernah ketemu sebelumnya. Keduanya bertemu saat mereka sama-sama hadir dalam pernikahan kakak mereka yang sudah lama terjadi.


"Irsyad, Bu?" Tanya Gita seakan tak percaya. Laki-laki dingin seperti dirinya memiliki empati yang tinggi terhadap sesama. Sampai-sampai bersedia masuk ke dalam toilet perempuan dan membantunya keluar dari sana.


"Iya, Irsyad Yusuf Pratama. Ketua BEM fakultas teknologi." Jelas perawat itu kepada Gita. Tubuh Gita membeku, ia tidak menyangka jika laki-laki itu berkenan membantunya dan membawanya ke klinik ini.


"Oh, iya, Bu."


Suara familiar yang terdengar di telinga Gita membuat gadis itu tersenyum tipis. Sahabatnya datang dengan tergopoh-gopoh seraya membawa tas miliknya. Terlihat jelas raut khawatir Lia saat mengetahui sahabatnya masuk klinik kampus. Setibanya Lia di dalam sana, ia langsung memeluk tubuh Gita yang masih lemah. Pelukan erat yang diberikan Lia membuat Gita merasa sesak. Namun begitu ia sangat bahagia mempunyai sahabat yang sangat perhatian kepadanya.


"Sesak, Li." Keluh Gita dalam dekapan Lia. Lia yang sadar langsung melepaskan pelukannya.


"Ma-maaf, Gita. Aku sangat khawatir dengan keadaan mu. Kenapa kamu tadi tidak mengajakku sih? Beruntung aku bertemu dengan Irsyad dan dia mengatakan padaku jika kau ada di sini." Ucap Lia yang menjelaskan bagaimana ia bisa menemukan Gita. Padahal ia sudah bolak-balik dua toilet perempuan yang ada di kampusnya tapi nihil. Ia tidak melihat Gita dimana-mana.


"Aku tidak apa-apa, kok. Kamu ketemu dia dimana?" Tanya Gita.

__ADS_1


"Saat di kantin. Aku sampai mencarimu kesana juga," ujar Lia. Gita menganggukkan kepalanya kecil.


'Aku harus berterimakasih kepada nya lain kali. Dia sudah menolongku disaat yang tepat. Terimakasih, Irsyad.' batin Gita. Diam-diam ia tersenyum tipis saat mengingat wajah Irsyad. Lia yang melihat senyum kecil Gita seketika mengeryitkan dahi. Kedua matanya memicing, berusaha menelisik apa yang tengah dirasakan oleh Gita.


"Sepertinya ada yang tidak beres. Kenapa kamu senyum-senyum, Git? Hm?" Tanya Lia. Dengan cepat Gita menormalkan ekspresinya sebelum Lia semakin gencar menanyainya.


"Tidak ada, Li. Ayo kita pulang," ajak Gita mengalihkan perhatian sang sahabat. Mendengar ucapan Gita membuat Lia beralih menatap perawat.


"Memangnya dia sudah boleh pulang, Bu? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Lia. Dengan sebuah senyuman, perawat itu menganggukkan kepalanya.


"Sudah, dia akan baik-baik saja dan segera pulih. Ibu kasih obat dan vitamin, jangan lupa diminum ya,"


"Iya, Bu. Terimakasih,"


Setelah dari klinik, Gita dan Lia pergi menuju gerbang kampus. Awalnya Lia bersikeras ingin mengantar Gita, tapi gadis itu menolak. Apalagi Lia dan dirinya berbeda arah tujuan. Karena Gita termasuk gadis yang keras kepala, membuat Lia tidak berhasil membujuknya.


"Ya sudah, hati-hati dijalan. Kalau ada apa-apa hubungi aku cepat. Ok?" Ujar Lia saat mengantar Gita sampai masuk kedalam sebuah taksi. Hari ini Gita sengaja naik taksi karena nanti dirinya akan diantar pulang oleh Galih.


"Iya-iya, bawel. Bye, sampai jumpa besok." Bala Gita seraya menutup pintu taksi. Perlahan taksinya mulai berjalan, saat dirinya menoleh kebelakang, Gita melihat Lia disamperin oleh laki-laki yang familiar.


"Irsyad? Apa jangan-jangan mereka ada hubungan khusus?" Gumam Gita saat melihat kedua insan itu tengah saling bicara satu sama lain.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2