
AAI 37 - Menahan Galih
Dua bulan berlalu. Setelah mengantar kepergian sang suami, Indah langsung mengerjakan pekerjaannya hingga selesai.
Karena baterai ponselnya yang sejak tadi sudah berkedip-kedip karena habis, mau tak mau membuat Indah bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengisinya. Saat dirinya meletakkan ponsel itu di atas nakas, sudut matanya menangkap sesuatu di sofa. Indah berjalan mendekatinya.
"Ini kan, dompetnya Mas Galih. Astaga, Mas. Bagaimana kamu bisa lupa?" Sambil geleng-geleng kepala, Indah membolak-balikkan dompet hitam itu. Tanpa Ingin membukanya, Indah meletakkan kembali dompet itu di atas meja sofa.
"Aku harus segera menyelesaikan jemuranku. Setelah itu, aku akan mengantarnya ke kantor Mas Galih." Ujar Indah. Ia berencana memberi surprise dengan datang tiba-tiba ke kantor sambil mengantarkan dompet sang suami. Indah berharap bisa menyenangkan hati Galih karena kedatangannya yang tiba-tiba. Tak mau menunggu waktu lama lagi, indah bergegas meninggalkan kamar dan kembali ke lantai bawah.
Sementara itu, disisi lain saat ini Galih sudah sampai di depan rumah yang ia belikan untuk istri keduanya. Dengan menenteng satu kresek berwarna hitam, Galih melangkahkan kakinya keluar mobil dan memasuki pekarangan rumah.
Ting
Tong
Tak butuh waktu lama untuk pintu itu terbuka. Tampak Melinda sangat bahagia melihat kedatangan sang suami. Apalagi melihat kantong kresek permintaannya, membuat Melinda merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.
__ADS_1
"Sudah datang, Mas? Ayo masuk. Aku sudah tidak sabar untuk mencicipinya," ujar Melinda seraya membuka pintu lebar-lebar mempersilakan Galih masuk ke dalam rumah itu.
Meski enggan, tapi mau tak mau Galih hanya bisa menghela napas lalu berjalan memasuki rumah. Ia meletakkan kantong kresek berisi rujak buah permintaan dari Melinda itu diatas meja makan.
Melinda langsung mengambil kantong kresek itu dan membukanya. Kedua matanya berbinar saat melihat buah-buahan yang tampak segar dan menggoda lidah itu. Air liur nya seakan ingin menetes saat melihat sambal cair yang berwarna kecoklatan yang kini Melinda tuangkan diatas buah-buah itu semua.
"Sudah kan? Kalau begitu aku mau ke kantor." Ujar Galih ketus. Laki-laki itu sudah tidak tahan lagi untuk segera pergi dari tempat itu. Ia tak ingin sampai ada orang yang melihatnya menemui wanita itu meski dirinya merupakan seorang istri sirinya.
Melinda yang mendengar itu seketika langsung mendongak. Wanita itu seakan tidak rela melepas pergi suaminya. Dengan cepat Melinda memikirkan cara agar bisa menahan Galih lebih lama lagi untuk dirinya dan juga sang jabang bayi.
"Tapi, Mas. Bayi kita ingin kamu di sini menemaniku hari ini."ucap Melinda memelas. Wanita itu bahkan menggerakkan tangannya mengelus perutnya yang mulai terlihat sedikit membuncit. Kedua alis Galih terangkat, ia menatap wajah cantik Melinda dengan datar.
'Si alan. Aku harus mencari cara agar Galih mau tinggal di sini. Apa gunanya aku menjadi istri jika dia tidak mau bersama denganku? Ah, iya. Masih ada ibunya yang bisa aku mintai pertolongan. Aku yakin Galih tidak akan menolak.' pikir Melinda dalam hati. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia harus bisa menahan kepergian Galih dengan cara apapun, meski menggunakan ibunya sekalipun.
"Kalau begitu, aku akan memberi tahu ibumu, Mas." Ancam Melinda yang seketika mendapatkan tatapan tajam dari Galih. Kedua matanya sekaan berkobar mendengar ancaman yang dilontarkan oleh Melinda padanya.
"Kau mengancamku, hah?" Suara keras Galih menggema di sana. Melinda sampai terjingkat mendengarnya. Namun sedetik kemudian ia bisa menguasai diri dan menenangkan dirinya. Ia memberanikan diri menatap laki-laki yang kini telah sah menjadi suaminya meski hanya nikah agama saja.
__ADS_1
"Kau yang membuatku mengatakan itu, Mas. Aku ini istrimu, Mas. Aku berhak untuk mendapatkan hakku sebagai seorang istri, sama seperti Indah." Ujar Melinda tanpa rasa takut. Kedua tangan Galih mengepal. Ia tidak terima jika Melinda menyamakan dirinya dengan sang istri yang sangat ia cintai itu. Bagi dirinya tidak ada wanita lain selain Indah. Meski sekarang Melinda mengandung bayinya, itu tidak akan merubah apapun.
"Jangan kau samakan dirimu itu dengan istriku. Bagiku kau bukan siapa-siapa ku. Asal kau tahu, semua ini aku lakukan hanya karena tekanan dari ibuku dan juga keluargamu. Camkan itu,'' Galih sampai mengangkat telunjuknya dan menodongkannya tepat di depan mata Melinda. Ia benar-benar serius dengan perkataannya. Ia ingin Melinda sadar akan posisinya saat ini. Ia bukanlah istri yang dianggap oleh Galih. Galih hanya mencintai Indah dan akan seperti itu selamanya.
Melinda yang mendengar ucapan tersebut seketika langsung terbakar api cemburu. Ia sangat iri dengan Indah karena bisa dicintai sedemikian besarnya oleh Galih. Padahal saat ini dirinya tengah mengandung, tapi nyatanya tidak bisa menggeser tempat Indah di hati Galih. Yang ada Galih semakin membenci Melinda karena memanfaatkan waktunya demi untuk menuruti semua acara nyidamnya.
"Kau tak adil terhadap ku, Mas. Saat ini aku tengah mengandung anakmu, tapi kamu tidak memberikan sedikitpun perhatianmu padaku. Aku membutuhkan dukungan mu sebagai seorang suami, Mas." Balas Melinda tak kalah tinggi. Ia tak ingin menyerah untuk mendapatkan perhatian Galih. Galih sampai mengacak rambutnya sendiri karena mendengar perkataan Melinda.
"Tapi aku tidak menganggap kalau bayi itu adalah milikku." Desis Galih seraya berbalik meninggalkan Melinda. Ia sudah tidak tahan berada di sana. Ia ingin cepat-cepat pergi sebelum kesabarannya habis tak bersisa. Laki-laki itu tidak ingin sampai menggila dan menyakiti wanita itu karena kemarahannya.
"Jika Mas berani melangkah pergi, maka aku akan menelepon Indah dan memberitahu semua padanya. Bagaimana?" Ucapan Melinda langsung membuat Galih tak berkutik. Laki-laki itu berhenti seketika dan berbalik menatapnya.
"Kau benar-benar iblis. Bisa-bisanya aku terjebak dalam permainan yang kau atur dengan ibuku. Jika kau berani mengucapkan sepatah kata pada Indah, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu dengan kedua tanganku ini. Aku tidak main-main dengan ucapanku, Mel. Kau bisa membuktikannya kalau tidak percaya,"ujar Galih dengan rahangnya yang kini sudah mengeras hingga menimbulkan bunyi gemeletuk. Tak pernah sekalipun ia bermimpi bisa terjebak dalam situasi sulit seperti saat ini. Ingin rasanya ia keluar dari keadaan ibu, tapi tidak bisa. Ada ibu yang selalu mendukung Melinda dan Galih tidak mungkin bisa menang melawannya. Biar bagaimanapun, dia adalah ibu kandungnya sendiri.
Galih melonggarkan tali dasi yang sejak tadi terasa mencekiknya. Lalu laki-laki itu pun berjalan gontai menuju sofa ruang tamu dan menghempaskan tubuhnya di sana. Melihat hal itu, kedua sudut bibir Melinda terangkat ke atas. Rencananya untuk menahan Galih berhasil.
"Hari ini kau milikku, Galih. Hanya milikku," gumam Melinda seraya mulai menikmati rujak buah pesanannya. Ia sangat lahap menikmati masamnya buah-buahan itu sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...