Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 58 - Perubahan Galih


__ADS_3

AAI 58 - Perubahan Galih


Cklek


Gita bisa melihat wajah tampan sang kakak saat pintu itu terbuka. Ia menyunggingkan senyum karena keterlambatan nya.


"Assalamualaikum Masku," ucap Gita seraya berjalan masuk ke dalam apartemen. Meski Galih tetap dengan ekspresi dinginnya, tapi Gita tidak mau ambil pusing. ia tetap memperlihatkan senyum manisnya.


"Walaikumsalam. Kemana saja kamu, Git? Memangnya jarak rumah kesini butuh waktu satu jam ya?" Tanya Galih padanya. Ia merasa heran karena sang adik yang tak kunjung datang. Padahal jarak antara rumah ke apartemennya tidak butuh waktu lama.


"Maaf, Mas. Aku tadi masih mampir ke cafe depan gang beli ini, buat aku dan Mas." Ujar Gita seraya memperlihatkan bawaannya.


Galih akhirnya mengangguk lalu ikut duduk di sofa yang ada di sana. Gita juga memberikan minuman yang ia beli untuk sang kakak. Keduanya menikmati minuman itu dengan sambil menonton sebuah acara realita show di televisi.


"Ini, Mas." Ucap Gita sambil menyodorkan amplop coklat ke arah Galih. Laki-laki itu menghela napas, lalu ia segera mengambil amplop itu. Ia tak pernah berpikir jika ia akan mendapat surat tersebut. Jangankan memikirkan, berangan-angan pun ia tak pernah.


'Inikah akhir dari kisah kita, Indah? Apakah cinta kita hanya bertahan sampai di sini saja? Tidak adakah kesempatan kedua untuk diriku ini? Apa kau tahu jika aku tidak bisa hidup tanpamu, Indah? Aku mencintaimu, Indah. Sangat mencintaimu,' batin Galih yang merasa tercekik saat melihat namanya terpampang jelas di atas kertas putih itu.


Tes


Setetes air mata mengalir dari mata Galih. Tangannya bergetar saat kedua matanya membaca kalimat demi kalimat disana.


"Mas?" Panggil Gita. Gadis itu tahu jika saat ini sang kakak sangat bersedih karena pernikahan yang sangat ia impikan kini berada diambang kehancuran.

__ADS_1


Galih segera menghapus jejak air mata itu. Lalu ia beralih menatap ke arah sang adik.


"Apa Mas yakin akan berpisah dengan Mbak Indah? Apa Mas tidak ingin memperjuangkan Mbak Indah lagi, Mas? Bukankah Mas dan Mbak Indah saling mencintai?" Tanya Gita. Ia tahu segalanya tentang kakak dan kakak iparnya. Ia sendiri begitu sedih, membayangkan harus kehilangan kakak perempuan yang sangat ia sayangi itu.


Hati Galih semakin hancur kala mendengar kata-kata itu. Sekuat tenaga Galih menahan diri agar tidak terlihat rapuh dihadapan sang adik.


"Aku harus apa, Git? Kamu tahu sendiri bagaimana perjuangan ku. Berapa kali aku datangi rumah nya tapi yang ku dapatkan hanya amukan Ayah dan juga adiknya. Jangankan bicara dengan Indah, melihat seujung rambutnya pun aku tak diijinkan." Ujar Galih dengan kedua mata sudah berkaca-kaca. Gita sangat terenyuh melihat kondisi kakaknya saat ini.


"Jangan menyerah, Mas. Aku yakin Mbak Indah masih mencintaimu." kekeh Gita meyakinkan Galih. Ia tidak mau sampai Galih menyesal dikemudian hari ketika semua telah berakhir. Kepala Galih menggeleng, ia tidak setuju dengan ucapan sang adik.


"Jika memang Indah masih mencintaiku, dia tidak mungkin mengirim surat ini kepadaku Gita. Lihatlah, dia jelas ingin berpisah denganku." Sahut Galih seraya menyodorkan surat panggilan itu kepada Gita.


Sang adik tetap menggeleng. Gita sangat mengenal Indah, jadi tidak mungkin kakak iparnya itu sudah tidak mencintai Galih secepat ini.


"Penyesalan terbesarku adalah tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ayah mertuaku, Git. Ucapan beliau saat aku barusaja menikahi Indah," ucap Galih. Ia kembali teringat saat sang ayah mertua menginginkan jika Galih harus tinggal bersama Indah di rumah mereka sendiri. Dan pada saat itu pekerjaan Galih belum seperti sekarang, sehingga membuatnya merasa berat karena tidak memiliki uang cukup banyak jika harus membeli sebuah rumah.


Gita mengeryitkan dahi saat mendengar ucapan Galih. Ia tidak tahu apa yang dimaksud oleh laki-laki itu.


"Ya, dulu Ayah Indah sempat bicara padaku Git. Dia memintaku agar aku dan Indah hidup terpisah dengan Ibu. Tapi kamu tahu sendiri kan kerjaan Mas saat itu? Maka dari itu aku hanya bisa menjanjikan itu jika aku sudah memiliki tabungan lebih dan mampir membeli rumah sendiri. Tapi sayang, aku terlalu menggampangkan ucapan ayah mertuaku hingga kini menyebabkan rumah tanggaku diambang kehancuran," jawab Galih. Ini pertama kalinya ia mengungkapkan kebenaran itu pada orang lain. Bahkan Indah tidak mengetahui hal itu karena memang saat bicara dengan sang ayah, Indah tengah bersama dengan keluarga besarnya.


Mendengar hal itu sontak membuat Gita terhenyak. Ia tak menyangka jika ayah kakak iparnya mempunyai keinginan seperti itu. Dan kini apa yang ditakutkan olehnya menjadi kenyataan.


"Astaga, sepertinya memang firasat seorang ayah sangat dalam pada anaknya." Ucap Gita.

__ADS_1


Keduanya saling diam. Gita dan Galih tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit.


"Kapan sidang akan mulai berjalan, Mas?" Tanya Gita saat dirinya melihat sang kakak kembali membaca lembar demi lembar kertas itu.


"Minggu depan," ucap Galih lesu.


"Bolehkan aku menemui Mbak Indah, Mas? Aku akan berusaha membujuknya," tawar Gita. ia ingin mempertahankan pernikahan sang kakak karena ia tidak ingin kehilangan kakak perempuan sebaik indah.


"Tidak, jangan ikut campur dalam masalah ini Gita. Ini masalah orang dewasa,'' ujar Galih. Gita mendengus kesal. Sang kakak masih menganggapnya seperti anak kecil padahal umurnya sudah tidak remaja lagi.


"Astaga, Mas. Mas masih menganggapku seperti anak kecil ya? Umurku sudah dua puluh satu tahun, Kak. Oh my God,'' keluh Gita. Ia melipat kedua tangannya karena merasa kesal kepada sang kakak.


"Hahaha, sudah sudah. Sebaiknya kamu pulang, sebelum Ibu mencarimu," ucap Galih saat ia sudah menyadari jika hari sudah semakin larut.


"Baiklah, kalau begitu. Aku pulang dulu ya, Mas? Kabari aku kalau Mas butuh apa-apa,"ujar Gita seraya bangkit dari tempat duduknya. Galih mengikutinya, hendak mengantar kepergian sang adik tercinta.


"Iya, bawel. Sudah sana, hati-hati dijalan."


"Iya, Assalamualaikum."


"Walaikumsalam,"


Setelah kepergian Gita, Galih kembali masuk ke dalam apartemennya. Keheningan malam kembali menjadi teman di malam-malam setelah kepergian sang istri. Ranjangnya terasa sangat dingin, meski sudah ada selimut tebal yang mampu menghangatkan tubuh Galih. Ia merasa kehilangan, sangat kehilangan.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, Indah. Sangat merindukanmu,'' gumam Galih seraya membaringkan tubuhnya di atas sana. Tubuh kekar yang dulu menjadi idaman para wanita kini berangsur angsur menyusut. Tak ada lagi semangat dalam hidup Galih membuat dirinya menjadi tidak memperhatikan penampilannya. Tubuhnya lebih kurus ditambah jambang yang mulai tumbuh di sekitar wajahnya membuat ia terlihat lebih tua dari usianya.


__ADS_2