
AAI 19-
Di tempat lain
Waktu makan siang telah tiba. Galih beserta kedua teman kerjanya - Aldo dan Sakti pergi keluar.
Ketiganya berada dalam satu mobil menggunakan milik Aldo.
"Kita makan di sini saja, ya? Makanan disini sangat enak," ucap Aldo seraya membelokkan mobilnya ke area parkir restoran Dewa.
'Kenapa harus di sini? Ah, terserahlah.' ucap Galih dalam hati. Ia ingin bersikap cuek meski dalam hati ia sedikit malas untuk datang ke restoran milik keluarga Melinda ini.
Ketiga laki-laki tampan itu segera masuk ke dalam restoran yang saat ini sudah banyak sekali pengunjung yang datang. Restoran ini sangat disukai dan menjadi salah satu tempat makan yang paling diminati di kota tersebut.
Seorang pramusaji mendatangi meja Galih untuk menanyakan pesanan. Setelah ketiganya memesan, pramusaji itu pun segera meninggalkan mereka.
"Eh, itu bukannya anaknya pilih restoran ini ya?" Ucap Aldo yang melihat ke arah pintu masuk restoran. Sakti langsung mengangkat wajahnya dan mengikuti arah pandang Aldo. Sedangkan Galih tampak sibuk dengan gadgetnya tanpa menyadari jika mejanya di datangi oleh seorang wanita.
"Mas Galih?" Suara lembut seorang wanita mengusik pendengaran Galih. Aldo sampai menyenggol lengan Galih disaat laki-laki itu tak segera menyahuti panggilan dari wanita cantik itu.
Galih yang familiar dengan suara itu hanya bisa menghela napasnya. Perlahan ia mengangkat wajahnya hingga ia bisa melihat bagaimana penampilan dari wanita yang tak lain adalah Melinda.
Dengan menggunakan pakaian yang melekat sempurna di tubuhnya, membuat lekuk tubuhnya terlihat. Seksi, kesan pertama yang terlintas di benak para laki-laki saat melihat penampilan paripurna Melinda. Namun tidak dengan Galih. Ia tampak datar dan menatap ke arah Melinda tanpa membalas sapaan darinya.
Melinda tersenyum tipis melihat Galih yang menatap padanya. Sebisa mungkin ia akan menarik perhatian Galih.
"Ternyata benar. Maaf Galih mau makan siang ya?" Suara lembut Malinda mampu menghipnotis Aldo dan juga Sakti. Kedua laki-laki itu tampak terbengong melihat kecantikannya.
__ADS_1
"Ya," balas Galih singkat. Pandangannya kembali terarah pada ponselnya yang kembali berbunyi.
Sejak tadi ia tengah berbalas pesan dengan sang pujaan hati. Tanpa ia sadari, seutas senyuman terlihat jelas di kedua sudut bibirnya.
'Sialan. Beraninya dia mengabaikan aku yang sudah sangat cantik ini. Padahal kedua temannya sudah sampai meneteskan air liur nya melihatku. Kenapa dia tidak tergoda melihatku, sih? Menyebalkan,' ucap Melinda dalam hati. Ia sangat kesal dengan sikap Galih yang cuek padanya. Namun sebisa mungkin Melinda tidak memperlihatkan ketidaksukaan nya itu.
Aldo menyikut lengan Galih. Tapi Galih tampak cuek dan tak menghiraukannya. Aldo begitu kesal karena Galih dan Melinda sudah saling kenal. Bahkan Melinda sampai menghampiri meja mereka demi menyapanya.
"Hai, kenalkan. Aku Aldo, teman kerja Galih." Ucap Aldo seraya bangkit dan mengulurkan tangan kanannya pada Melinda. Wanita itu tersenyum tipis sambil menyambut uluran tangan itu.
"Hai, aku Melinda." Dengan senyumannya yang menggoda mampu merontokkan iman Aldo seketika. Laki-laki itu sampai tertegun melihat Melinda bak seperti seorang Dewi yang turun dari khayangan. Sakti yang melihat sahabat nya melongo seketika langsung menepuk tautan tangan mereka hingga membuat Aldo tersadar dan melepaskan tangannya. Aldo hanya cengengesan saat melihat tatapan tak suka dari Sakti.
Melinda hanya bisa tersenyum tipis melihat kedua laki-laki yang sama seperti laki-laki diluaran sana. Selalu menatapnya dengan tatapan mata penuh puja.
Namun sayang, Melinda justru mengharapkan perhatian dari laki-laki dingin seperti Galih. Laki-laki yang tak akan pernah melihatnya dengan tatapan yang sama dengan laki-laki lain.
"Halo, namaku Sakti. Sakti Willian." Ucap Sakti dengan mengulurkan tangan kanannya. Melinda menyambutnya dengan yang sama ia lakukan seperti Aldo.
"Ya, kami sedang menunggu pesanan kami datang." Ucap Aldo kepada Melinda.
"Boleh aku bergabung dengan kalian?" Tanya Melinda. Galih masih acuh dan memilih fokus dengan ponselnya daripada wanita cantik yang tengah berdiri di sampingnya. Aldo dan Sakti seketika berbinar mendengar ucapan dari Melinda itu. Melihat Galih yang fokus dengan ponselnya membuat Aldo berpikir jika laki-laki itu menginginkannya.
"Boleh, boleh. Silakan duduk," dengan sigap Aldo menarik kursi yang ada di samping Galih dan mempersilakan Melinda untuk duduk.
"Terimakasih," balas Melinda. Ia begitu bahagia bisa bergabung satu meja dengan Galih. Apalagi duduk disampingnya, membuat raut wajahnya semakin terlihat berbinar.
'Selangkah lebih baik. Aku akan perlahan mendekatinya,' batin Melinda senang.
__ADS_1
Melinda terlihat tersenyum dan menanggapi semua perkataan dari Aldo dan juga Sakti. Meski sudut matanya sesekali melirik ke arah Galih, tapi sebisa mungkin ia tak memperlihatkan wajah kesalnya. Bagaimana tidak kesal, beberapa kali dirinya mengajak Galih bicara tapi laki-laki itu selalu saja acuh.
'Awas saja kalau kau sudah berada di tanganku, aku tidak akan pernah melepaskanmu.' geram Melinda dalam hati.
Disaat Melinda serta dua teman Galih mengobrol sambil menunggu pesanan mereka datang, terdengar suara nyaring dari salah satu ponsel yang ada di atas meja mereka.
"Maaf, aku angkat telepon dulu. Permisi," setelah mengatakan itu, Sakti bergegas bangkit dan menjauh dari meja.
"Sebentar ya, Mel. Aku ke toilet dulu, mumpung makanannya belum datang." Ujar Aldo yang merasa ingin buang air. Melinda pun hanya mengangguk lalu melihat kepergian Aldo dengan tatapan penuh semangat. Kini ia bisa memiliki waktu berdua untuk dirinya dan Galih.
"Mas Galih, kenapa sih Mas Galih tak menghiraukan aku disini? Tadi aku mengajakmu bicara, tapi Mas selalu acuh." Ucap Melinda dengan wajahnya yang terlihat cemberut.
Galih yang tadinya tengah menunduk kemudian mendongakkan kepalanya menatap wajah Melinda. Tentu Melinda senang, akhirnya laki-laki itu memandang dirinya.
"Kalau kau tak suka, kau boleh pergi dari sini." Jawab Galih dengan nada bicaranya yang sarat ketidaksukaannya melihat kehadiran Melinda disana. Galih memang tak menyukai Melinda sejak kedatangan wanita itu ke rumahnya beberapa waktu yang lalu. Apalagi mengingat ucapan ibunya yang terus menerus merongrong dirinya agar mau menikah dengan Melinda. Galih muak, hingga membuat nafsu makannya hilang seketika.
"Apa Mas Galih tidak menyukaiku?" Tanya Melinda.
"Sangat. Dan aku berharap kau bisa menjauh dari kehidupanku dan juga keluargaku," desis Galih dengan tatapan matanya yang tajam pada Melinda.
''Tapi aku menyukaimu, Mas. Aku mencintaimu," ucap Melinda tanpa ada rasa malu karena telah mengungkapkan cinta kepada laki-laki beristri.
Galih sudah tidak tahan lagi, ia bangkit dan berusaha pergi dari sana. Ia ingin pergi dari tempat yang tak membuatnya nyaman tersebut.
"Tunggu, Mas." Cegah Melinda yang ikut beranjak dan memegang tangan kiri Galih. Galih seketika geram, melihat keberanian Melinda yang menyentuh tubuhnya meski hanya sebatas tangan saja.
"Beraninya kau," desis Galih seraya menarik tangannya dari genggaman tangan Melinda. Galih sangat menjaga dirinya agar tak sampai bersentuhan dengan wanita lain selain Indah - istrinya. Melinda sedikit tersentak saat melihat raut kemarahan dari Galih. Ia tak menyangka jika reaksi Galih yang berlebihan karena ia memegang tangannya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang telah mendapatkan foto keduanya saat ini. Terlihat jelas keduanya tengah bertatapan mata di dalam foto yang diambil dari kamera ponsel itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...