
AAI 71 - Rumah Sakit
'Maafkan aku, Agus. Aku tidak ingin istrimu merusak hubunganku dengan kedua anakku. Oleh karena itu, aku tidak punya pilihan lain selain ini.' ujar Hesti dalam hati.
Sesaat setelah kepergian Santi, Agus pun ikut pergi meninggalkan dirinya seorang diri. Ia pun langsung menghubungi orang suruhannya untuk mencelakakan Santi. Namun ia tak tahu, jika yang menjadi korbannya bukan hanya Santi, melainkan Melinda juga ikut terseret dalam peristiwa itu.
Tringg
Bunyi ponsel milik Agus mengganggu dirinya yang tengah memikirkan nasib pernikahannya. Ia tahu, kali ini istrinya tidak akan main-main dengan ucapannya. Apalagi ia mengingat sorot kebencian yang terpancar di mata Santi sat menatap dirinya tadi.
'Maafkan aku, Santi. Nyatanya aku tidak bisa melupakan wanita yang dulu pernah menempati hatiku, meski aku tahu saat ini dirimulah pemilik jiwa dan ragaku. Maafkan aku,' gumam Agus seraya menatap keluar jendela kantornya. Berulang kali ponselnya berbunyi membuat Agus mau tak mau harus mengangkat panggilan tersebut.
Dahi Agus tampak berkerut saat melihat nomor asing yang masuk. Ia terlihat mengingat beberspa digit nomor tersebut namun nihil.
"Halo?" Ujar Agus saat menerima panggilan itu.
"Iya, benar. Ini saya sendiri," balas Agus saat mendengar namanya diucapkan oleh seseorang dari seberang sana.
"APA? KECELAKAAN? LALU BAGAIMANA KEADAAN MEREKA?" Pekik Agus saat mendapatkan kabar mengenai kecelakaan yang menimpa istri dan anak perempuannya. Rasanya dunianya berhenti seketika bersamaan dengan detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Ba-baik. Saya akan segera kesana," setelah mengatakan itu, Agus segera pergi meninggalkan restoran miliknya. Raut wajahnya terlihat sangat tegang berbarengan dengan langkah kakinya yang tergesa. Semua anak buah serta pengunjung yang masih memadati restoran tampak heran. Pasalnya ini pertama kalinya mereka melihat wajah gugup sang pemilik restoran.
"Ada apa dengan Pak Agus?"
"Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres,"
"Kenapa aku jadi deg-degan ya?"
Terdengar desas-desus dari beberapa pelayan restoran yang tanpa sengaja melihat kepergian Agus. Mereka menerka-nerka tentang apa yang tengah terjadi saat ini. Apalagi telah terjadi pertengkaran hebat sebelumnya antara Agus, Santi, dan juga Hesti.
"Sudah, sudah. Pergi kembali ke pekerjaan kalian," seorang laki-laki menginterupsi beberapa pelayan yang masih bergerombol sambil menatap ke arah luar jendela restoran.
__ADS_1
"Baik, Pak Ramon." Para pelayan itu menuruti apa kata kepala koki restoran yang bernama Ramon Toha tersebut. Mereka pun membubarkan diri dan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
'Ini saatku untuk menjalankan perintah Bu Santi,' batik Ramon. Kemudian laki-laki itu berjalan menuju ke arah ruangan kerja milik Agus. Setelah memastikan tidak ada seorangpun yang melihatnya, Ramon langsung masuk dan menutup kembali pintu ruang kerja Agus.
Mobil yang dikendarai oleh Agus melaju dengan kencangnya. Ia tak menghiraukan meski banyak sekali pengguna jalan raya yang membunyikan klakson kepadanya karena cara mengemudi Agus yang ugal-ugalan. Laki-laki itu bahkan tidak menghiraukan nyawanya sendiri. Yang ada dipikirannya hanyalah istri dan anaknya.
"Semoga mereka baik-baik saja. Semoga," gumam Agus seraya menembah lagi kecepatan laju mobilnya. Matanya yang fokus membuat dirinya begitu lancar hingga sampai di lobi rumah sakit Serayu Farma. Setelah memarkirkan mobilnya dengan baik, Agus langsung berlarian menuju unit gawat darurat yang ada di bagian terdepan rumah sakit.
Wajahnya sangat tegang sambil menuju ke arah meja resepsionis disana. Ia melihat ada beberapa orang yang menyapa dirinya dan menanyakan apa yang diperlukan oleh Agus.
"Dimana pasien kecelakaan tadi? Dua orang wanita dan salah satunya sedang hamil besar." Ucap Agus. Salah seorang dari pegawai itu segera mengecek catatannya.
"Anda siapanya, Pak?" Tanyanya.
"Saya Ayah dan suami wanita tadi."
"Saat ini mereka masih berada di dalam ruangan penanganan, Pak. Mohon di tunggu saja disana," ucap Petugas itu seraya menunjuk ke arah sederet kursi yang ada di depan ruangan tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan lesu Agus mengangguk paham dan mengikuti arahan petugas tersebut.
Agus menunggu dengan perasaan gelisah nya. Kilasan balik tentang semua perjalanan hidupnya dengan istri dan anaknya membuat dirinya tidak bisa menghentikan laju air matanya. Begitu banyak cinta, pengorbanan, dan kesetiaan sang istri padanya. Namun justru ia balas dengan sebuah penghianatan besar serta kejahatan yang pernah dilakukannya.
Tak ada namanya penyesalan diawal, pasti akan terjadi di akhir. Dan saat inilah Agus bisa merasakan apa arti penyesalan itu. Selama ini matanya dibutakan oleh cinta masalalu yang masih menghantuinya hingga sekarang. Dia bukan laki-laki tegas yang bisa menolak rayuan wanita lain seperti Hesti.
Agus tidak memiliki jiwa pemimpin, hingga ia tidak memiliki sifat yang dimiliki seorang pengusaha sukses. Oleh karena itu, sang istri yang selalu berada di sampingnya selama ini. Namun Agus seakan menutup mata, ia lebih memilih egois dengan menggenggam dua tangan sekaligus. Meski ia tahu, seorang nakhoda tidak bisa mengendalikan dua kapal sekaligus atau dia akan kehilangan salah satu diantaranya atau bahkan dua-duanya.
"Maafkan aku, Ma. Maafkan aku, Nak. Aku tidak bisa menjadi suami atau ayah yang baik untuk kalian," gumam Agus seraya menundukkan tubuhnya dan menangis sesenggukan. Hati dan jiwanya merasakan sakit karena harus melihat kedua wanita yang telah menemaninya itu tengah berjuang di dalam sana. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya berdoa pada sang Khaliq untuk kesembuhan mereka.
"Permisi, Pak Agus?" Suara berat seorang laki-laki terdengar di telinga Agus. Laki-laki itu mendongak, ia terkejut melihat dua orang polisi yang datang menghampirinya. Perlahan Agus bangkit, ia menatap ke arah dua laki-laki tersebut.
"Ada apa, Pak?" Tanya Agus.
"Maaf, Pak. Kami ingin menanyakan sesuatu kepada anda," ujar salah seorang dari oknum negara berbaju cokelat itu.
__ADS_1
"Ya, silakan."
"Jadi begini, Pak. Maaf sebelumnya jika kami harus menanyakan ini disaat Bapak tengah bersedih, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami ingin menanyakan apakah Pak Agus memiliki musuh akhir-akhir ini?" Tanya polisi itu tiba-tiba. Dahi Agus berkerut, ia tidak menyangka mendapatkan pertanyaan seperti itu dari polisi.
"Tidak, Pak. Saya tidak pernah terlibat apapun dengan siapapun. Memangnya ada apa ya, Pak?" Tanya balik Agus kepada keduanya. Polisi itu saling pandang lalu adalah satu darinya mengangguk kecil membuat temannya mengerti.
"Jadi begini, Pak. Setelah kami memeriksa cctv jalan serta menurut saksi mata yang ada di lokasi kejadian, kami mendapatkan informasi jika ada mobil lain yang mengaja menabrak bamper mobil milik istri bapak hingga membuat kecelakaan maut itu terjadi. Dan untuk membuktikannya, kami juga memiliki bukti-bukti. Namun kami tidak berhasil menemukan pemilik mobil misterius itu dikarenakan tidak ada plat mobilnya.
Deg
Jantung Agus seakan diremas seketika. Ia tidak menyangka jika Santi dan Melinda terlibat kecelakaan maut. Dipikiran Agus, Santi dan Melinda mengalami kecelakaan murni. Agus tampak bengong, pikirannya kosong mendadak setelah mengetahui kenyataan pahit mengenai mereka berdua.
"Ti-tidak, Pak polisi. Saya tidak pernah memiliki musuh ataupun menyinggung orang lain." Cicit Agus dengan pandangan matanya kosong. Kedua polisi itu mengerti tentang apa yang dirasakan oleh Agus. Itu sebabnya keduanya mengakhiri sesi interview nya dengan laki-laki itu.
"Em, kalau begitu kami permisi dulu, Pak. Kami akan berusaha semampu kami untuk mengusut tuntas kejadian ini," ucap polisi itu. Agus hanya mengangguk kecil dengan air mata yang kembali membanjiri kedua pipinya.
'Siapapun kalian yang telah mencelakai istri dan anakku, aku bersumpah akan membalasnya seribu kali lipat dari perbuatan kalian. Tunggu kedatanganku,' ujar Agus dalam hati. Ia bersumpah atas nama Tuhan untuk melenyapkan orang yang telah melukai keluarganya. Tak alam kemudian Agus merogoh saku dan mengambil ponselnya.
"Selidiki kecelakaan ini. Sekarang, aku ingin mendengar hasilnya kurang dari dua puluh jam. Mengerti?" Setelah mengatakan itu, Agus menutup langsung koneksi panggilan tersebut. Kedua matanya memancarkan sinar api penuh dendam pada orang yang telah menyentuh keluarganya.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka. Dengan cepat Agus mengusap jejak air matanya dan secepat kilat menghampiri seorang dokter yang keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, dok?" Tanya Agus dengan gemetar. Pikirannya sudah berkecamuk memikirkan nasib keluarganya saat ini.
"Kondisi Bu Santi sudah jauh lebih baik, tidak ada luka serius padanya." Ujar sang dokter. Ada kelegaan yang dirasakan oleh Agus. Laki-laki itu mengagungkan kalimat terimakasih nya kepada sang Tuhan karena telah mengabulkan doanya.
"Lalu bagaimana dengan anak saya, dok? Bagaimana dengan cucu saya?" Tanya agus pada sang dokter. Namun raut wajah dokter itu berubah sendu. Agus yang melihatnya seakan merasakan sesuatu yang menghantam keras jantungnya.
"Saya mohon maaf, Pak .... "
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...