Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 67 - Kebenaran dan Ancaman


__ADS_3

AAI 67 - Kebenaran dan Ancaman


Keesokan harinya,


Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, Hesti sudah rapi menggunakan pakaian kesayangannya dress warna biru selutut. Tak lupa ia membawa tas kecil tepat ponsel dan dompetnya.


"Bu, mau kemana?" Tanya Gita. Gadis itu tengah bersiap untuk pergi ke kampusnya. Hesti menoleh, ia berjalan menuju meja makan dan mengambil segelas air putih.


"Mau ke rumah Bibimu," jawab Hesti lalu menenggak minuman nya. Gita mengangguk paham, ia tidak ingin bertanya-tanya lagi. Apalagi melihat wajah muram sang ibu membuat Gita takut.


Gita dan Hesti pun keluar rumah bersamaan. Gita mengendarai motornya ke arah kanan, sedangkan Hesti ke kiri dengan menggunakan taksi. Dalam taksi Hesti dengan wajahnya yang terlihat marah, apalagi mulutnya yang tak berhenti menggerutu.


"Berhenti, Pak." Ucap Hesti saat mobil taksi itu sudah sampai di depan rumah adiknya. Setelah memberikan uang dua lembar dua puluh ribuan, Hesti turun dari mobil tersebut. Tak perlu menunggu waktu lama lagi, wanita itu berjalan cepat menuju pintu rumah sang adik.


Dok


Dok


Dok


Suara gedoran pintu yang berasal dari kepalan tangan Hesti. Berulang kali wanita itu menggedor pintu rumah sang adik. Ia tahu jika adiknya itu berada di rumah, karena ia melihat motor miliknya.


"KARTIKA! KELUAR KAU," teriak Hesti.


"KARTIKA!"


Cklek

__ADS_1


Wajah baru bangun terlihat jelas pada diri Kartika. Bahkan wanita itu masih menggunakan baju tidur satinnya yang berwarna merah menyala.


"Ada apa sih, Mbak? Pagi-pagi udah teriak-teriak di rumah orang, malu di lihat tetangga. Ayo masuk," ucap Kartika lalu ia berjalan masuk ke dalam rumahnya. Hesti merasa geram karena kedatangannya tidak disambut sopan oleh adiknya. Dengan tergesa-gesa Hesti berjalan mengikuti langkah sang adik masuk ke dalam sana.


"Dimana Dimas, hah?" Tanya Hesti dengan suaranya yang mulai meninggi. Kartika yang lagi minum air putih langsung meletakkan kembali gelas itu dengan kesal. Pagi hari yang biasanya sangat tenang hari ini terasa mengganggunya.


"Sebenarnya ada apa sih, Mbak? Bicara baik-baik, kenapa." Ketus Kartika.


"Anakmu itu, Tika. Berani-beraninya dia tidur dengan Melinda. Dimana dia, hah? Aku akan menghajarnya," bentak Hesti dengan kedua matanya yang sudah melotot. Kemarahan yang sudah ia pendam selama tiga hari belakangan ini akan ia lupakan saat ini juga.


Deg


Jantung Kartika seakan berhenti berdetak saat mendengar ucapan dari sang kakak. Anak laki-laki yang sudah ia pisahkan dengan wanita itu ternyata malah kembali dan bermain gila dengannya. Kartika menjadi takut, ia takut jika akal bulus yang selama ini ia lakukan pada Hesti akan diketahui olehnya.


'Dasar, anak kurang a jar. Bisa-bisanya dia kembali sama wanita iblis itu. Semoga saja Mbak Hesti tidak menyadari perlakuanku selama ini,' batin Kartika. Memang selama ini ialah yang selalu meracuni otak Hesti agar membenci Indah. Ia yang telah membujuk sang kakak untuk memisahkan Galih dari Indah dan mencarikan istri baru untuk keponakannya itu.


"Tidak, Kartika. Aku melihat dengan kedua mataku sendiri mereka tengah berada di dalam kamar milik Melinda tanpa menggunakan sehelai benang pun. Dasar, anak tak tahu diri. Sudah tahu istri kakaknya tapi masih saja di embat. Bagaimana kau mendidik anakmu itu, Tika?" Geram Hesti pada sang adik. Ia merasa hilang kendali atas dirinya mengingat penghianatan yang dilakukan oleh Melinda dan Dimas. Wanita yang selama ini ia sayang dan banggakan telah mempermalukannya. Lebih tepatnya melempar kotoran ke mukanya.


Kartika yang mendengar ucapan dari Hesti merasa terpancing. Sejak dulu ia sangat tidak menyukai jika ada orang yang meragukan atau menyalahkan didikan yang ia terapkan kepada anaknya. Kedua tangannya mengepal kuat, merasa tubuhnya memanas karena hinaan yang keluar dari mulut kakaknya sendiri.


"Cukup, Mbak Hesti. Jangan pernah meragukan didikanku pada Dimas. Ya, aku akan akui memang aku sengaja memprovokasi mu untuk memisahkan Galih dari istrinya itu. Tapi, bukankah itu karena kau ingin memiliki cucu kan, Mbak? Apa Mbak lupa, kalau mbak ingin sekali memiliki seorang cucu meski bukan dari rahim Indah, hah? Aku masih ingat sekali kata-kata mu itu Mbak." Ucap Kartika tegas. Ia mengaku salah, tapi ini bukan seratus persen kesalahannya seorang. Ada andil Hesti dalam semua kejadian ini dan Kartika tentu tahu itu.


"Iya, tapi kenapa anakmu itu menjalin hubungan dengan Melindas, Kartika? Dan aku mendengar dengan jelas jika Dimas sangat memuja Melinda seakan keduanya telah lama saling kenal. Aku yakin kamu pasti tahu tentang hubungan mereka berdua, iya kan Kartika?" Desis Hesti tepat di depan wajah Kartika yang kini mulai memucat.


'Bagaimana ini? Bagaimana kalau Mbak Hesti sampai tahu kalau mereka berdua adalah mantan sepasang kekasih? Tidak, dia tidak boleh tahu.' batin Kartika. Ia tidak ingin kalau semua rahasia besar yang selama ini ia pendam akan diketahui oleh Hesti.


"Ti-tidak, Mbak..."

__ADS_1


"Karena Melinda adalah mantan kekasihku, Bibi." Suara berat milik Dimas menginterupsi kedua wanita itu. Hesti dan Kartika sontak melihat ke arah sumber suara. Keduanya bisa melihat dengan jelas sosok Dimas yang tengah berdiri di ambang pintu.


"A-apa, Dimas? Mantan kekasih? Apa kau tahu jika mantan kekasih mu itu adalah istri dari kakakmu, hah?" Bentak Hesti pada Dimas. Wanita itu berjalan ke arah Dimas dan langsung mencengkeram kerahnya ketika ia berdiri tepat di hadapannya.


"JAWAB, DIMAS. KENAPA KAU LAKUKAN INI PADA KAKAKMU, HAH? KENAPA?" Pekik Hesti pada Dimas. Ia memukul-mukul dada bidang laki-laki itu demi melampiaskan segala kemarahannya.


"Karena aku masih mencintainya, Bi." Ucap Dimas jujur.


"TUTUP MULUTMU, ANAK SI ALAN." teriak Kartika sekencang-kencangnya. Rasa kesal, marah, benci bercampur menjadi satu dalam dirinya. Ia merasa kesal karena sang anak yang tidak bisa lepas dari Melinda meski ia sudah melakukan segala cara demi bisa memisahkan mereka.


"KARTIKA!" bentak Hesti. Ia menunjuk ke arah adiknya, ia paling tidak suka jika ada orang yang suaranya lebih tinggi dari suaranya. Tangan Kartika mengepal kuat, menahan diri agar tidak kelepasan saat ini meski dalam hati ia ingin sekali menghajar Dimas dengan kedua tangannya sendiri.


Hesti terdiam sejenak, memikirkan semua yang telah terjadi. Tak lama kemudian ia teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Tawa menggema sontak keluar dari mulut Hesti yang membuat Kartika dan Dimas merasa keheranan.


"Aku tahu sekarang, Kartika. Apa wanita yang pernah kau jebak di hotel Samudera beberapa tahun yang lalu itu adalah Melinda? Iya kah?" Tanya Hesti pada Kartika. Ia ingat jika sang adik berkata ingin melakukan sesuatu pada seorang wanita yang menganggu kehidupan keluarganya. Tapi Hesti tidak berpikir jika wanita itu adalah kekasih Dimas yang tak lain adalah Melinda. Hesti berpikir jika wanita yang dimaksud adalah wanita yang mendekati suami Kartika.


Deg


Jantung Dimas seakan berhenti. Ia terkejut saat mendengar semua pengakuan yang keluar dari mulut Hesti. Bagaimana mungkin ia lupa tentang kejadian beberapa tahun lalu di sebuah hotel berbintang yang ada di kotanya.


"A-apa itu semua benar, Bu?" Tanya Dimas pada Kartika. Kartika kebingungan mencari jawaban. Ia tidak mungkin mengatakan semua yang ia pendam selama ini. Menghindari sang anak, Kartika berjalan menghampiri kakaknya.


"Jangan sembarangan bicara, Mbak. Atau aku akan membongkar semua kebusukan Mbak pada Galih dan juga Gita. Apa Mbak pernah berpikir bagaimana reaksi mereka berdua jika mengetahui bagaimana kelakuan wanita yang mereka anggap sebagai ibunya ini, hm?" Desis Kartika dengan kedua matanya yang seperti api membara. Tubuh Hesti gemetaran, ketakutan kini merajainya. Mana mungkin ia tidak takut jika semua itu akan terjadi.


"Kau mengancamku, Kartika?" Bentak Hesti.


"Ya, aku mengancammu, Mbak. Kalau Mbak Hesti berani buka mulut, maka jangan salahkan aku jika aku akan membongkar semuanya pada anak-anakmu."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2