
AAI 44 - Titik terendah Galih
Dengan berderai air mata, Indah berlarian masuk ke dalam rumah mertuanya. Ia sampai tak menyadari jika ada sang ibu mertua di sana. Hesti yang tengah menonton televisi sampai terkejut mendengar suara tangis indah. Wanita itu beranjak dan melihat kepergian menantunya itu dengan tatapan bingungnya.
"Tuh anak kenapa menangis? Darimana pula dia? Tadi katanya ke atas sebentar, tak tahunya malah pergi. Dasar," gerutu Hesti lalu ia kembali duduk di sofanya dan melihat lagi tayangan gosip yang ada di salah satu saluran televisi swasta.
Setibanya indah di dalam kamar, wanita itu langsung mengunci pintu. Tubuh indah merosot hingga terduduk di lantai yang beralaskan karpet bulu berwarna abu-abu kesukaannya. Pandangannya kosong menatap lurus kedepan.
"Kenapa, Ya Allah? Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Kenapa?" Indah menangis, meraung, meluapkan segala emosi yang menguasai dirinya kepada Tuhan sang pencipta alam semesta. Dadanya terasa sangat sesak hingga membuatnya menjadi sulit untuk bernapas. Pandangan mata Indah tertuju pada bingkai foto yang berisikan dirinya dan Galih saat pernikahan mereka. Hati Indah kembali hancur berkeping-keping saat teringat kembali akan penghianatan sang suami padanya. Penghianatan yang membuat pernikahan yang mereka bina selama empat tahun ini hancur tak bersisa.
Galih yang tadi mengejar Indah akhirnya kini telah sampai di pelataran rumah. Ia langsung berlarian masuk ke dalam rumah demi mengejar sang istri. Hesti kembali terkejut saat melihat kedatangan sang putra dengan napasnya yang naik turun itu.
"Ada apa, Galih? Kenapa kau berlarian seperti itu, hah?" Tanya Hesti penasaran.
Galih yang akan menginjakkan kakinya naik ke tangga seketika berhenti. Ia menoleh menatap sang ibu dengan tatapan mata penuh amarah.
"Ini semua karena Ibu. Dimana Indah sekarang?" Masih dengan napasnya yang tersengal, Galih menanyakan keberadaan sang istri setelah menyalahkan ibunya. Hesti yang mendengarnya seketika mengeryitkan dahi. Ia yang tidak tahu apa-apa merasa aneh dengan tuduhan sang putra.
"Apa maksud mu, Galih? Kenapa kamu menyalahkan ibu? Apa salah ibu?" Tanya Hesti dengan nadanya yang mulai meninggi. Namun belum sempat Galih menjawab pertanyaan itu, terdengar suara pecahan yang keras berasal dari kamarnya dengan Indah.
Prangg
__ADS_1
Prangg
Galih dan Hesti sama-sama tersentak dan saling pandang. Hingga saat melihat Galih berlarian menaiki tangga membuat Hesti mau tak mau mengikuti langkahnya.
"Indah? Indah? Buka pintunya, Sayang." Teriak Galih seraya menggedor-gedor pintu kamar tersebut.
Argh
Prangg
Argh
Baik Galih dan Hesti semakin membuat khawatir saat keduanya kembali mendengar suara teriakan bersamaan dengan suara pecahan kaca yang berasal dari kamar itu.
"Apa Ibu sudah puas, hah? Apa Ibu sudah puas menghancurkan rumah tangga ku dengan Indah? Indah tahu segalanya, Bu. Indah sudah tahu pernikahanku dengan Melinda. Dia juga sudah tahu tentang kehamilan wanita itu," ucap Galih. Ia sampai mengacak rambutnya sendiri karena frustasi dengan semua kejadian hari ini.
Hesti yang mendengar ucapan tersebut seketika senyum seringainya tercipta. Ia sangat bahagia karena mendengar kenyataan yang sudah lama ingin ia sampaikan kepada indah.
'Bagus. Ini awal dimana Melinda bisa unjuk gigi dan aku tidak usah sembunyi-sembunyi untuk sekadar menemui menantu dan cucuku,' pikir Hesti dalam hati.
"Oh, begitu. Ibu kira apa," setelah mengatakan hal itu, Hesti pun segera menyingkir dan menuruni tangga. Ia tak mau ikut campur dalam urusan anak dan menantunya yang saat ini tengah dalam keadaan tidak baik-baik saja itu.
__ADS_1
"Baji Ngan," geram Galih saat melihat kepergian sang ibu dengan tatapan mautnya. Ia tak menyangka jika ibunya akan sesantai itu melihat dirinya yang tengah berusaha membujuk sang istri yang saat ini tengah mengamuk di dalam sana.
"Indah? Buka pintunya dulu, Sayang. Aku mohon, kita bicarakan baik-baik. Indah? Buka, Indah." Tanpa jeda, Galih terus menggedor-gedor pintu kamar tersebut guna berharap jika sang istri bersedia untuk membukakan pintu itu untuknya.
Namun sia-sia, usahanya tak berhasil sama sekali meski dirinya sudah memohon sedemikian rupa pada Indah. Sepertinya hati wanita itu sudah mengeras karena luka yang ditorehkan oleh sang suami padanya.
Tubuh Galih merosot, ia terduduk sambil keningnya menempel sempurna pada daun pintu kamarnya. Air matanya sudah membanjiri kedua pipinya karena rasa bersalah serta ketakutannya terhadap sang istri yang saat ini tengah kecewa padanya.
"Maafkan aku, Indah. Maafkan aku yang tidak bisa jujur padamu. Maafkan aku," ujar Galih dengan suaranya yang kini berubah serak. Meski ia tahu akan konsekuensi yang akan diterimanya dari Indah, tapi ia masih tidak menyangka jika semua itu akan ia terima secepat ini. Pernikahan keduanya baru berjalan tiga bulan ini, tapi semuanya sudah terbongkar dan diketahui oleh Indah. Padahal ia akan berencana untuk mengetes DNA anak yang dikandung Melinda demi mengetahui kebenarannya. Namuns ayang, semua rencana itu harus sirna saat kini sang istri mengetahui semuanya.
"Maafkan aku, Indah. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga cinta dan kepercayaan mu. Namun, meski begitu aku tidak pernah mencintai wanita itu, Sayang. Aku hanya mencintaimu," imbuh Galih seraya menepuk-nepuk dadanya sendiri yang kini terasa sesak akibat kenyataan pahit ini.
Ingatannya mendadak kembali pada perjalanan liku cintanya dengan Indah yang seringkali menemui ujiannya. Namun karena kekuatan mereka berdua yang mampu membuat keduanya bisa bertahan hingga sampai saat ini.
Ungkapan cinta, sayang, serta kemesraan mereka kini mulai menari-nari di dalam pikiran Galih. Ia merasa gagal menjadi seorang lelaki sejati karena telah membohongi dan menyakiti hati sang istri.
Rasa takut mulai muncul. Rasa takut akan sikap sang istri yang nantinya bisa saja meninggalkan dirinya karena penghianatan besar yang dilakukan olehnya. Tentu Galih tidak mau sampai hal itu terjadi. Sebisa mungkin ia akan berusaha mempertahankan cinta dan pernikahan nya.
"Jangan tinggalkan aku, Indah. Apa artinya aku hidup tanpamu? Jantung ini hanya berdetak karena mu dan akan berhenti karenamu. Maafkan aku, Indah. Jangan tinggalkan aku," Galih meluapkan semuanya seraya terus menggedor pintu kamar itu hingga membuat tangannya memerah. Tapi Galih tak peduli, ia harus bisa membujuk sang istri agar tidak berbuat salah karena peristiwa ini.
Tidak hanya Indah, saat ini juga titik terendah bagi Galih. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana dirinya hidup tanpa sang istri di sampingnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Indah. Maafkan aku,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...