Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 39 Siapa dia?


__ADS_3

AAI 39 - Siapa dia?


'Maafkan aku, Indah. Maafkan aku yang belum bisa mengatakan semuanya padamu. Andaikan kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini, Indah. Aku merasa jika aku menjadi laki-laki pengecut karena tidak bisa mengakui semuanya padamu. Tapi aku berjanji, aku tidak akan membagi cintaku pada yang lain. Aku sangat mencintaimu, Indah. Aku sangat mencintaimu,' ujar Galih dalam hati.


Setelah menerima telepon dari Indah, ia menjadi sangat bersalah karena telah berbohong pada istrinya. Sebenarnya ia tidak ingin berbohong, tapi keadaanlah yang memaksanya untuk berbohong atau Indah akan mengetahui semaunya. Yang saat ini ada di pikiran Galih adalah jangan sampai indah mengetahui kebohongan yang diciptakan oleh nya.


"Telepon dari siapa, Mas?" Tanya Melinda seraya membawa sebuah nampan berisi minuman. Galih yang tadinya tengah melamun seketika tersadar. Ia menatap wajah cantik Melinda dengan tatapan matanya yang datar. Jika dibandingkan dengan istrinya, tentu indah kalah jauh dengan Melinda. Melinda memiliki wajah blesteran Belanda yang berasal dari pihak ayahnya. Sedangkan Indah, dia asli cantik wanita Indonesia dengan kulitnya yang berwarna kuning langsat.


Namun kecantikan hati dan tutur katanya lah yang membuat Galih jatuh hati padanya. Sejak pertama bertemu, Galih tidak bisa mengalihkan pandangannya barang sedetikpun dari Indah. Ia begitu terpesona dan berusaha mengejarnya. Dan kini impiannya telah menjadi nyata. Wanita yang dikejarnya dulu telah menjadi belahan jiwanya. Dan Galih tidak ingin sampai Indah lepas darinya atau meninggalkannya.


"Mas? Mas Galih?" Panggil Melinda lagi. Galih tersadar, lalu ia beranjak dari tempat duduknya.


"Bukan urusanmu," desis Galih seraya pergi menuju kamar mandi yang terletak di sudut ruangan disana.


Melinda menatap kepergian Galih dengan kesal. Ia merasa tak dianggap oleh Galih meski saat ini dirinya tengah mengandung.

__ADS_1


'Si Al. Lagi-lagi dia tidak menganggap ku ada,' keluh Melinda dalam hati. Kedua tangannya mengepal kuat lalu dengan sedikit menghentakkan kakinya, perempuan hamil itu pergi meninggalkan tempat itu.


Dering ponsel miliknya membuat Melinda urung melangkah. Ia mengambil ponsel itu dan melihat apapun nama yang saat ini tengah berusaha menghubunginya.


'Ibu mertua? Ada apa wanita tua itu meneleponku? Ah, aku akan pamer padanya. Dia pasti akan senang,' sebuah ide terlintas di benak Melinda. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia pun mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Ibu mertua?" Sapa Melinda dengan ruang. Terdengar kekehan dari seberang sana. Melinda bisa menebak jika mertuanya itu sangat bahagia mendengar sapaannya itu.


"Halo, Sayang. Bagaimana keadaanmu dan bayimu hari ini? Sudah makan? Vitaminmu sudah kamu minum?" Tanya Hesti. Ia sangat perhatian dengan kondisi menantu kedua serta bayinya. Ia menjadi orang nomor satu yang selalu siap sedia jika di butuhkan oleh Melinda.


"Baik, Bu. Tentu sangat baik, apalagi ayahnya saat ini sedang berada di dekatnya." Ucap Melinda sengaja menyebutkan Galih sebagai ayah dari jabang bayi yang sedang dikandungnya itu.


"Tadi pagi aku meminta Maaf Galih untuk membelikan ku rujak, Bu. Karena kalau tidak, aku akan menghubungi Ibu atau istri pertamanya. Maka dari itu, Mas Galih bersedia dan kini ia berada di sini." Jawab Melinda. Senyum merekah tercipta di bibir Hesti. Ia tidak menyangka jika menantu kesayangan nya itu mampu membuat putranya tidak berkutik selain menuruti permintaan nya.


"Bagus, Sayang. Kamu harus bisa sering-sering membuat Galih datang. Dengan begitu itu akan menguntungkan bagimu dan bayimu. Dia juga harus mendapatkan perhatian dari ayahnya meski masih berada di dalam kandungannya." Ucap Hesti. Saat ini dirinya tengah berada di ruang tamu sambil menonton tayangan televisi. Bersamaan dengan itu, tibalah Indah dari kantor Galih. Ia berjalan begitu saja meski tahu sang ibu mertua tengah berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Baik, Bu. Hari ini Mas Galih mengambil cuti setengah hari. Setelah makan siang nanti dia akan kembali bekerja." Sahut Melinda. Hesti hanya menganggukkan kepala mendengar hal itu.


"Ya, dia harus bekerja lebih keras agar bisa membahagiakan kamu dan bayi yang ada di perutmu. Tak terasa beberapa bulan lagi kita bisa bertemu dengan anak kalian. Ibu sangat bahagia sekali," ucap Hesti. Ia sudah tidak sabar lagi menunggu hari dimana kelahiran sang jabang bayi di dunia. Ia pasti akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini karena akhirnya bisa menimang cucu.


"Iya, Bu. Yasudah kalau begitu, aku akan menemani Mas Galih dulu sebelum dia berangkat kerja lagi." Pamit Melinda. Hesti sangat bahagia mendengarnya. Ia sangat beruntung bisa mempunyai menantu pengertian seperti Melinda. Meski Galih belum bisa menerimanya, tapi Melinda tidak patah semangat untuk bisa mendapatkan pengakuan darinya.


"Tentu, tentu. Ajak bicara, Galih itu. Meski dia terlihat sangat keras, tapi sebenarnya ia sangat perhatian dan sayang pada keluarganya. Aku yakin kamu pasti bisa mengambil hatinya," ucap Hesti. Tanpa wanita itu sadari, ucapannya itu terdengar sampai di telinga Indah yang tadinya hendak pergi menuju dapur.


'Mas Galih? Dengan siapa Ibu bicara? Kenapa membawa-bawa nama suamiku? Apa Ibu tahu dimana Mas Galih sekarang?' rentetan pertanyaan terlintas di pikiran Indah setelah ia mendengar ucapan dari ibu mertuanya. Ia menjadi penasaran dengan sosok lawan bicara ibu mertuanya itu. Tapi apa daya, ia tidak mungkin berani bertanya kepada nya.


"Baiklah, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Jaga diri dan bayimu baik-baik, makan makanan yang bergizi agar bayi yang ada di dalam kandunganku itu tetap sehat. Bye, Sayang." Setelah mengatakan itu, Hesti pun mematikan sambungan telepon tersebut. Senyumnya tak lagi pudar meski dirinya sudah tidak berbicara dengan menantu kesayangan nya.


'Bayi? Siapa yang mengandung? Kenapa aku tidak tahu apa-apa? Apa Ibu belakangan ini menemui wanita itu? Kelihatannya Ibu sangat senang sekali berbicara dengannya. Tapi siapa dia?' pertanyaan demi pertanyaan digaungkan Indah pada sang pencipta dari dalam hatinya. Ia begitu penasaran dengan orang yang berbincang dengan ibu mertuanya tadi.


Tak mau ketahuan oleh Hesti, Indah segera pergi dengan berbagai pertanyaan yang bermunculan di pikirannya. Ia mulai melanjutkan pekerjaan yang masih belum kelar seraya terus memikirkan potongan-potongan puzzle yang saat ini berada di kepalanya.

__ADS_1


'Kenapa hatiku merasa tidak nyaman? Aku merasa khawatir sekali. Tetapi apa yang sedang aku khawatirkan? Apa yang tengah terjadi padaku, Ya Allah? Tenangkan lah aku, Ya Rabb. Tenangkan hatiku,'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2