Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 54 - Sandi Nagara


__ADS_3

AAI 54 - Sandi Nagara


Cklek


Indah melangkahkan kakinya memasuki kamarnya. Kedua matanya melihat setiap sisi kamar yang ia tinggalkan beberapa tahun lalu. Sudut bibirnya tersenyum saat melihat foto-foto yang terpampang jelas di dinding ruangan. Foto masa kecil, sekolah, dan ada juga fotonya dengan sang suami. Senyum yang tadinya menghiasi wajah kini menghilang kala pandangannya tertuju pada sebuah pigura berisi pernikahannya dengan Galih.


"Akhirnya aku yang kalah, Mas. Aku kalah bertarung dengan ibumu. Dia merasa berhak atas dirimu meski aku adalah istrimu. Hiks," ucap Indah lalu ia menjatuhkan dirinya di karpet bulu kamarnya. Ia menangis tersedu mengingat bagaimana cintanya dengan sang suami yang kini menjadi tinggal kenangan saja.


Tanpa Indah sadari, sang ibunda tercinta ternyata bersandar di dinding depan kamarnya. Ia dapat mendengar dengan jelas bagaimana suara Indah yang tengah menangisi takdir Tuhan.


'Kenapa semua ini terjadi pada anakku, Ya Allah? Apa salah kami? Apa ibadah kami kurang hingga kau berikan cobaan sebesar ini? Aku sangat sedih melihat putriku, Ya Allah.' teriak Ratih dalam hati. Ia sama sedihnya dengan Indah. Meski ia tidak di posisi Indah, tapi sebagai seorang ibu Ratih tentu tahu bagaimana perasaan Indah. Hancur lebur tak tersisa hingga membuat Indah merasa tak memiliki lagi alasan untuk dirinya hidup di dunia ini.


"Bu?"


Saat Ratih tengah berada dalam lamunannya, tiba-tiba tersadar saat sebuah tepukan halus mendarat di pundak kirinya. Ia menoleh, mendapati sang suami sudah berdiri di depannya. Air matanya lurus membasahi kedua pipinya. Doni yang melihat itu hanya bisa menghela napas panjang.

__ADS_1


"Yah? Putri kita, Yah. Putri kita," ujar Ratih seraya memeluk tubuh Doni. Ia menumpahkan tangis kesedihannya didada itu. Doni menenangkan sang istri dengan menepuk-nepuk punggung Ratih dan mengucapkan kata-kata yang bisa membuat istrinya bisa lebih lega.


"Yang tabah, Bu. Jangan perlihatkan kesedihan kita dihadapan Indah atau dia akan semakin terpuruk. Kita harus bisa menghibur putri kita dan mendukung keputusan yang ia ambil." Ucap sang suami. Ratih hanya bisa terisak sambil mendengarkan semua perkataannya. Perlahan Doni mengajak Ratih untuk pergi dar sana. Ratih pun mengikuti langkah Doni sambil menghapus jejak air matanya.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Bu. Ini mengenai permintaan Indah waktu itu," ucap Doni ketika keduanya telah sampai di serambi belakang rumahnya. Ia ingin membicarakan hal penting menyangkut sang putri tercinta yang saat ini tengah terluka.


"Permintaan Indah yang mana, Yah? Jangan bilang saat Indah ingin berpisah dengan Galih," sahut Ratih. Meski ia membenci menantu yang selama ini ia anggap baik itu, tapi ada sisi lain dalam dirinya yang sangat menyayangkan jika anak menantunya sampai benar-benar berpisah. Pasalnya tidak ada perpisahan di dalam sejarah keluarga besarnya.


"Memang itu yang Ayah maksud, Bu. Ibu tahu sendiri kan, kalau Ayah sangat tidak menyukai ibunya Galih dari dulu. Aku tahu jika Bu Hesti tidak menyukai putri kita, namun karena keyakinan Galih waktu dulu itulah yang membuatku akhirnya merestui mereka berdua. Aku yakin jika laki-laki itu mampu membuat putri kita bahagia, tapi apa sekarang? Justru dialah yang menjadi penyebab luka yang dirasakan oleh Indah." Ucap Doni panjang lebar.


'Tidak, Indah. Ayah tidak setuju. Ayah tidak rela kamu tinggal bersama mertua jahat seperti dia,' tukas Doni kepada Indah. Saat itu Indah mengutarakan keinginannya kepada sang Ayah setelah Galih melamarnya kemarin malam.


'Tapi, Yah. Aku tidak tega jika harus meninggalkan ibu Mas Galih di rumah sendirian. Adik Mas Galih juga tengah kuliah di Malang.' ujar Indah. Ia membujuk sang Ayah agar merestui hubungannya dengan Galih.. Doni yang tak kunjung memberi restu membuat Indah beralih kepada sang Ibu.


'Bu, indah mohon Bu. Indah dan Mas Galih saling mencintai, Bu. Kami ingin menikah,' ucap Indah kepada Ibunya. Kedua matanya memancarkan harapan yang begitu besar pada Ratih. Ratih yang memiliki hati seluas samudra tidak sanggup melihat putrinya. Iapun ikut membujuk Doni agar mau merestui keduanya.

__ADS_1


Ratih meneteskan air matanya saat teringat masa-masa itu. Ia merasa menyesal karena telah mendukung keputusan sang putri hingga kini mereka menuai hasilnya. Sang putri yang mereka cintai telah dikhianati oleh Galih dan menikah dengan wanita lain.


"Lalu, apa yang akan Ayah lakukan? Jujur saja, Ibu juga merasa menyesal dengan semua ini." keluh Ratih kepada sang suami.


Doni terdiam sejenak sebelum menjawabnya. Ia masih menimbang-nimbang langkah apa yang akan ia lakukan saat ini. Saat ia sudah yakin, barulah ia menatap wajah sang istri.


"Ayah akan menghubungi Pak Sandi, bertanya apakah beliau bisa membantu putri kita. Bagaimana menurut Ibu?" ujar Doni. Ia teringat dengan teman semasa kuliahnya dulu yang saat ini sudah menjadi pengacara besar di kotanya.


"Pak Sandi pengacara itu, Yah? Apa Ayah sudah yakin? Ayah sudah bicara dengan Indah?" tanya Ratih. Ia sangat khawatir dengan ucapan suami. Tapi melihat raut wajah Doni yang tegas, membuat Ratih tidak mampu berbuat apa-apa lagi.


"Aku akan menghubungi Pak Sandi dulu, baru setelah itu aku akan mempertemukannya dengan Indah. Kalau Pak Sandi sibuk, kita bisa minta bantuan anaknya. Ayah dengar-dengar anaknya Pak Sandi juga seorang pengacara hebat," jawab Doni. Meski ia tidak tahu nomor telepon pengacara itu, tapi ia tahu kantornya. Dan ia akan berencana mendatanginya.


"Jika memang itu yang terbaik menurut Ayah, Ibu nurut saja. Yang penting adalah kebahagiaan putri kita, Yah." ucap Ratih. Sang suami hanya mengangguk paham mendengar ucapan dari Ratih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2