Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 17 Wanita miskin


__ADS_3

AAI 17- Wanita miskin


"Bu?" Panggil Galih kepada Hesti yang tengah berada di dapur. Wanita itu berbalik dan menatap wajah putranya. Mengingat bagaimana Galih memperlakukannya di hadapan banyak orang, membuat Hesti kembali kesal. Ia membuang muka tanpa menjawab panggilan dari nya.


"Bu? Maafkan Galih jika perlakuan galih tadi membuat ibu malu. Tapi apa ibu tidak merasa jika semuanya itu karena kesalahan ibu sendiri?" Ucap Galih pada Hesti.


Hesti yang tengah duduk di kursi bar itu seketika bangkit dan menatap ke arah Galih. Ia begitu kesal karena Galih masih saja menyalahkan dirinya. Sedangkan dirinya tidak pernah merasa bersalah barang seujung kuku pun.


"Kesalahan ibu kau bilang, hah? Kesalahan ibu yang mana, Galih? Apa yang sudah ibu katakan?" Dengan napasnya yang memburu, Hesti meninggikan suaranya pada Galih.


Galih semakin tak mengerti dengan sikap ibunya. Wanita yang selama ini baik di depannya nyatanya kini mulai terlihat watak aslinya. Padahal dulu Hesti merupakan seorang ibu yang baik dan selalu lembut padanya. Tapi semenjak setahun belakangan ini sikapnya berubah. Selalu menampakkan raut wajah tak sukanya pada Indah setiap keduanya bertemu.


"Aku yakin pasti ibu kan yang merencanakan semuanya? Menyuruh Tante Kartika untuk bicara seperti tadi? Apa ibu tidak memikirkan bagaimana perasaan Indah? Indah pasti malu, Bu. Ada banyak orang yang hadir di acara itu dan mendengar semua perkataannya," ujar Galih. Hesti tersenyum sinis mendengar perkataan dari Galih.


"Kalau memang kau tak percaya pada ibumu, kau bisa tanyakan langsung sama Tante mu itu. Lagipula toh yang dikatakan oleh Tantemu itu fakta, bukannya kebohongan," sahut Hesti dengan nada sinisnya. Galih hanya bisa geleng-geleng kepala dan menghela napas terhadap kelakuan sang ibu.


Galih berbalik. Ia hendak melangkahkan kakinya namun tak jadi, kala mendengar ucapan dari ibunya.


"Kalau tau dia mandul, aku pasti tidak akan membiarkan pernikahan kalian dulu itu sampai terjadi. Aku menjadi menyesal karena itu. Dasar, wanita tak berguna," Ujar Hesti dengan santainya seraya berjalan melewati tubuh Galih yang membeku di tempatnya.

__ADS_1


"IBU!" Suara Galih seketika menggelegar di lantai bawah sana. Bahkan teriakan dari mulut Galih itu terdengar sampai di dalam kamar Indah.


Ternyata sejak awal Indah tidak menutup rapat pintu kamarnya agar bisa mendengarkan semua percakapan antara suami dan ibunya. Di atas ranjang Indah memukul-mukul dadanya yang kian terasa sesak. Sebegitu bencinya Hesti hingga ingin menggagalkan pernikahan mereka jika saja sejak awal Hesti tahu akan keadaan Indah.


"Ternyata begitu. Ibu merasa menyesal karena sudah membiarkan aku menikah dengan Mas Galih. Bagaimana aku bisa bertahan disini, Mas? Hatiku begitu sakit. Bahkan rasa sakit ini lebih terasa menyakitkan dari pada ucapan orang-orang diluaran sana. Dapatkah aku bertahan, Mas? Bisakah pernikahan kita ini bertahan? Sedangkan ibumu sendiri tak kunjung bisa menerima keadaanku meski kita sudah bersama sekian lama." Lirih Indah dengan deraian air mata. Pikirannya melayang jauh membayangkan bagaimana perlakuan ibu mertuanya kepada dirinya.


Sesak yang ada di dalam dadanya membuat Indah merasa seperti dicekik dan tak bisa bernapas lega. Ingin rasanya Indah bisa meluapkan segala emosi yang tertanam di dalam tubuhnya selama beberapa tahun ini. Tapi tak bisa ia lakukan karena keadaan yang memaksa nya untuk tetap diam. Bagaikan sebuah patung yang tidak bisa berbicara meski ia berada di samping suaminya.


Perlahan Indah bangkit, ia berjalan gontai menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri sebelum suaminya datang. Selain itu ia juga ingin mendinginkan pikirannya barang sejenak, sebelum suaminya itu mendatangi kamarnya.


Hesti yang mendengar bentakan dari Galih seketika terjingkat. Jantungnya berdetak lebih cepat karena ini pertama kalinya Galih meninggikan suaranya. Jika sebelumnya Galih masih bisa menahannya, kini tidak lagi. Ia sudah sangat geram dengan semua tingkah ibunya yang terus memojokkan istrinya sedangkan sang istri tidak bersalah apapun. Bahkan Hesti dengan berani mempermalukan Indah dihadapan banyak orang. Suami mana yang tidak marah, bukan? Meski itu kelakuan ibunya, tapi Galih tidak bisa membiarkannya. Ia memiliki tanggung jawab penuh untuk bisa melindungi Indah dari tangan siapapun termasuk itu dari ibunya sendiri.


"Ibu sudah keterlaluan. Selama ini ibu selalu mengajarkan ku agar bisa menjadi seorang yang baik. Tapi apa yang ibu perbuat saat ini? Kemana ibuku yang dulu selalu bersikap baik kepada semua orang? Kemana ibuku yang selalu menegurku disaat aku berbuat salah? Kemana, Bu? Kemana?" Cecar Galih pada Hesti. Hilang sudah kendali Galih pada sang ibu. Ia melupakan segala emosi yang menguasai dirinya saat ini.


Hesti tak bisa menjawab. Ia hanya terdiam di tempatnya sambil terus menatap lekat mata Galih.


"Bu, asal Ibu tahu. Aku menikahi Indah bukan semata-mata karena ingin memiliki anak. Tapi aku menikahinya karena aku benar-benar mencintainya dan ingin hidup bahagia bersamanya, Bu. Dan soal anak? Itu biar menjadi rahasia Tuhan untuk kami berdua." Ucap Galih dengan nada tegas. Kali ini ia sungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Lalu bagaimana dengan Ibu? Ibu sudah tua dan ingin menimang cucu, Galih. Ibu hanya ingin cucu," ucap Hesti.

__ADS_1


"Kalau memang Ibu sudah sangat ingin punya cucu, Ibu bisa menyuruh Gita untuk menikah. Atau nggak, Ibu bisa mengunjungi sebuah panti asuhan dan bermain bersama mereka," ucap Galih memberi saran. Namun bukannya luluh, Hesti semakin dibuat meradang mendengar hal itu. Segitu gampangnya Galih menyuruh ibunya itu untuk menyuruh Gita menikah.


"Mana bisa? Gita itu masih belum bisa menikah. Dia harus menjadi wanita karir terlebih dulu, baru setelah itu ia bisa menikah dengan laki-laki yang memiliki bebet, bobot yang terbaik." Ucap Hesti yang sudah merancang masa depan putrinya.


Galih geleng-geleng kepala mendengar semua perkataan dari ibunya. Ia tak menyangka jika ibunya mampunyai pikiran seperti itu. Padahal selama ini ayah dan ibunya selalu mengajarkan kebaikan pada Galih agar dirinya bisa berpikiran jauh kedepan.


"Aku baru tahu jika ibu memiliki watak yang seperti itu. Ibu tega menjual putri Ibu demi kemewahan." Ujar Galih seraya menatap wajah ibunya sampai sekarang masih tetap cantik.


Disaat Hesti ingin menyahut, Galih lebih dulu memberikan kode untuk Hesti agar tidak membuka mulutnya dengan cara menunjukkan jari telunjuknya.


"Aku mohon, Bu. Perlakukan Indah dengan baik karena aku sangat mencintainya, Bu. Sama seperti ayah yang mencintai ibu dan tak melihat kondisi keluarga ibu yang dulu kekurangan. Ingat, Bu. Atau aku akan pergi meninggalkan ibu dan membawa Indah pergi dari rumah ini," setelah mengatakan itu, Galih pun berjalan menaiki tangga rumahnya.


Hesti mengepalkan kedua tangannya mendengar semua ucapan dari mulut putranya.


"Sepertinya Galih tidak main-main dengan ucapannya. Aku harus segera merencanakan sesuatu agar mereka bisa cepat berpisah. Iya, aku harus meminta pendapat Kartika. Dia pasti memiliki rencana yang bagus," gumam Hesti. Lalu ia segera membuka tasnya dan mengambil ponsel pintarnya dari dalam sana.


'Aku akan benar-benar membuat kalian berpisah. Aku tidak ingin memiliki cucu dari wanita miskin seperti dirinya,'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2