
AAI 81 - Perkumpulan Ibu-ibu
Santi dan Agus menunggu di luar ruang pemeriksaan dengan perasaan yang gelisah. Sudah hampir satu jam lamanya mereka menunggu, tapi belum ada tanda-tanda pintu ruangan itu akan dibuka.
'Selamatkan putriku, Ya Allah. Aku rela menukarnya dengan nyawaku sekalipun,' batin Santi seraya berjalan kesana-kemari memikirkan sang putri yang ada di dalam.
"Duduklah, jangan mondar-mandir di situ. Di lihatin banyak orang," tegur Agus kepada Santi yang sejak tadi sibuk berjalan kesana-kemari. Ia begitu gelisah, berharap cemas dengan kondisi sang anak. Santi yang mendengar ucapan Agus seketika menoleh.
"Kenapa memangnya, hah? Aku menghawatirkan keadaan Melinda. Hanya dia yang kumiliki. Bagaimana aku bisa tenang melihat putriku terbaring lemah di dalam sana, hah. Jangan samakan aku denganmu, jika memang kau tidak peduli dengan Melinda terserahmu. Karena kau masih punya anak lain diluar rumah," ucap Santi dengan tatapan mata sinisnya. Agus menghela napas, meski ia sudah terbiasa dengan ucapan kasar Santi, tapi ia tetap manusia biasa yang bisa merasakan jenuh.
"Cukup, Santi. Kenapa kau selalu memojokkan aku dalam semua masalah," ujar Agus muak. Ia muak selalu mendengar hinaan yang keluar dari mulut mungil Santi padanya. Tepat disaat yang sama, pintu ruangan intensif itu terbuka. Agus dan Santi langsung berlarian menghampiri seorang dokter yang keluar dari dalam sana.
"Dokter, bagaimana dengan kondisi anak saya, dok?" Tanya Santi lebih dulu kepada dokter muda itu.
"Bapak dan Ibu tenang saja, pasien sudah melewati masa kritisnya. Untuk sementara pasien akan tetap di dalam ruangan ini. Jika keadaannya kian membaik, maka bisa dipindah ke kamar inap." Ucap dokter. Santi dan Agus akhirnya bisa bernapas lega. Kekhawatiran yang mereka rasakan kini telah sirna, digantikan dengan rasa bersyukur yang dipanjatkan kepada Tuhan karena berkat rahmatnya Melinda mampu melewati masa-masa kritisnya.
"Alhamdulillah,"
Baik Agus dan Santi melafalkan ucap syukur karena keadaan Melinda yang sudah membaik. Dokter pun ikut tersenyum, karena ia telah berhasil mengembalikan senyum dari orang tua pasiennya itu.
"Apa saya bisa menengoknya, dokter?" Tanya Santi. Ingin sekali rasanya ia berlari masuk ke dalam sana dan memberikan pelukan hangat untuk Melinda, atas perjuangannya untuk bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.
"Nanti ya, Bu. Untuk sekarang, biarkan pasien istirahat dulu. Karena saya juga memberikan obat penenang agar pasien bisa tidur lebih lama."terang dokter.
"Baik, dok. Terimakasih banyak," ujar Agus seraya mengulurkan tangannya pada dokter itu. Dengan senang hati dokter itu menyambut uluran tangan Agus dan membalasnya.
Keesokan harinya,
__ADS_1
Hesti yang tidak naf su makan memilih untuk membeli bubur hangat yang dijual di samping perempatan jalan masuk gang. Dengan hanya berjalan kaki, Hesti sampai disana sekitar lima menit saja.
"Ramainya," gumam Hesti saat melihat beberapa orang yang mengerumuni pedagang bubur itu. Sebagian besar yang membeli merupakan ibu-ibu kompleks yang masuk ke dalam acara arisannya.
"Eh, ada jeng Hesti." Ucap seorang ibu-ibu berbaju hijau. Seketika beberapa yang lain ikut menoleh ke arah Hesti. Dengan senyum yang sedikit dipaksakan, Hesti menghampiri mereka.
"Iya, Jeng Rini. Beli bubur juga?" Tanya Hesti basa-basi. Dua diantara mereka terlihat saling berbisik, dan itu menyedot perhatian Hesti.
"Iya, Jeng." Balas ibu bernama Rini itu.
"Bungkus dua ya, Bang." Ucap Hesti kepada penjual bubur.
"Siap, Bu." Jawab si mas penjual bubur.
Saat sedang menunggu pesanannya dibuat, tiba-tiba Hesti mendengar suara bisikan dua dari mereka yang membicarakan tentang dirinya.
"Benar, keduanya saling cekcok. Apa kau tahu, ternyata dia selingkuh dengan besan laki-laki nya." Jawab yang satunya.
"Yang benar kamu? Jangan main asal bicara, nanti jadinya fitnah." Sahut satunya.
"Ih, benar tau. Aku melihatnya sendiri, apalagi ternyata anaknya yang perempuan itu bukan anak suaminya." Ujar satunya.
"Astagfirullah, murahan sekali ya." Sahut yang lain.
Hesti yang merasa berusaha menahan dirinya. Kedua tangannya sudah mengepal kuat, menahan emosi yang menguasainya. Bagaimana tidak merasa, pandangan mereka sesekali melirik ke arahnya yang duduk tak jauh dari mereka.
"Jangan keras-keras, nanti kedengaran dia." Sahut lainnya.
__ADS_1
"Biarkan saja, lagipula apa dia tidak malu keluar rumah? Kalau aku jadi dia, pasti aku tidak berani menampakkan diri di depan banyak orang."
"Iya, ya. Dasar, tidak tahu malu."
Hesti yang sudah tidak tahan lagi langsung bangkit dari duduknya. Kursi yang didudukinya sampai terjungkal ke belakang karenanya.
"Kalian membicarakanku, iya? Kalau berani jangan bisik-bisik," tuding Hesti dengan telunjuknya terarah kepada mereka. Para ibu-ibu itu langsung kicep mendengar suara Hesti yang terlihat marah.
"Ini Bu, pesanannya." Ucap penjual bubur seraya memberikan sekantong plastik hitam kepada Hesti.
"Terimakasih, Bang. Ini uangnya," sahut Hesti lalu memberikan selembar uang dua puluh ribuan kepadanya.
"Terimakasih juga, Bu." Balas penjual itu. Setelah itu Hesti bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Namun baru beberapa langkah, ia kembali berhenti saat telinganya mendengar suara dari salah satu ibu-ibu tadi.
"Tidak semua yang terlihat bagus itu berharga, ya. Ada kalanya ternyata hanya barang murah yang luarnya dibalut dengan kain mahal." Ucap ibu itu. Telinga Hesti seakan terasa panas saat mendengarnya. Ia tahu jika ada ibu-ibu yang berkumpul pasti mereka akan membicarakan semua hal, tapi tidak menyangka akan seberani itu dengan membicarakannya di depan orang yang mereka bicarakan.
Seketika Hesti berbalik, menatap tajam wajah-wajah mereka yang sedang membicarakannya.
"Kau, Laras. Mulutmu setajam pisau. Tak ingatkah kau pernah bersujud di kakiku saat kau ingin meminjam uang padaku, hah?" Tanya Hesti pada salah seorang yang bernama Laras. Saat itu Laras mendatanginya untuk meminjam uang, lalu ia berikan meski saat itu ia sendiri juga membutuhkan uang itu. Tapi karena Laras temannya di arisan, Hesti meminjaminya.
Wanita bernama Laras itu langsung menunduk malu. Ia malu karena ketahuan yang lain telah meminjam uang kepada Hesti. Padahal uang itu ia gunakan untuk membayar tunggakan motor yang ia gunakan.
"Dan kau, Hikmah. Jangan bersembunyi di belakang jilbabmu. Kau kira aku tidak tahu kalau kau punya hubungan dengan menantumu, hah? Aku Hesti, aku mengetahui semua rahasia kalian semua. Kenapa aku diam, karena aku menganggap kalian adalah temanku dan tak elok aku membicarakan aib kalian. Tapi karena kalian semua membicarakan aku sekarang, maka aku akan mengungkap kebusukan kalian juga." Bentak Hesti pada mereka. Seketika mereka langsung ketakutan, tak ada satupun dari mereka yang suci. Maka dari itu mereka hanya bisa menundukkan kepala. Terlebih lagi Hikmah dan Laras, keduanya sampai gemetar karena aib yang selama ini mereka tutupi terbongkar.
"Ma-maafkan saya, Jeng. Sa-saya tidak bermaksud membicarakanmu," ucap salah satu dari mereka.
"Awas saja kalian. Jika aku mendengar lagi kalian membicarakanku, maka jangan salahkan aku akan membongkar aib kalian semua pada suami kalian," ancam Hesti pada mereka. Ia tidak main-main dengan ucapannya. Setelah mengatakan itu, Hesti segera pergi meninggalkan mereka semua. Dengan perasaan kesal, wanita itu kembali ke rumahnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...