Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 51 - Saling Menyalahkan


__ADS_3

AAI 51 - Saling Menyalahkan


Meski berat, tapi nyatanya Galih berjalan meninggalkan ruangan Indah dengan di bantu oleh dokter dan perawat nya. Sang ibu hanya bisa menyeka air matanya karena melihat keadaan Galih.


Meski dokter mengobati luka-lukanya, tapi Galih hanya diam. Ia jadi linglung saat kembali mengingat perkataan Ayah mertuanya.


'Jangan pernah temui Indah lagi,'


'Jangan temui Indah lagi,'


'Dia bukan istrimu lagi,'


'Aku sendiri yang akan membantu putriku untuk berpisah darimu,'


"Sudah, Pak, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu," ujar dokter itu setelah ia menyelesaikan pekerjaannya. Begitu pula dengan perawatnya, gadis itu mulai merapikan lagi alat medis milik dokternya itu.


"Terimakasih, Dok. Terimakasih," ucap Hesti seraya mengantar dokter itu sampai diambang pintu kamar. Setelah memastikan dokter itu menjauh dari kamar, Hesti segera kembali masuk dan menutup pintu kamar tersebut dengan rapat.


"Sudah puas, Ma?" Suara Galih memecah keheningan disana. Hesti yang ingin mendudukkan dirinya langsung berdiri tegak. Ia menatap Galih dengan tatapan mata penuh pertanyaan.

__ADS_1


"Apa maksud mu, Galih?" Tanya Hesti.


Galih tersenyum tipis saat melihat akting sang ibu yang begitu apik. Pantasnya ibunya itu mendapatkan piala penghargaan atas aktingnya.


"Apa Ibu sudah puas karena sudah menghancurkan rumah tanggaku? HAH? Aku sangat mencintai Indah, Bu. Semua ini karena Ibu," bentak Galih pada sang ibu. Ia begitu frustasi hingga menjambak rambutnya sendiri.


"Jadi kau menyalahkan Ibu, iya? Kau sudah menghamili Melinda, Galih." Kilah Hesti. Ia tidak terima jika dirinya disalahkan. Toh semua yang dilakukannya itu untuk masa depan keluarga nya.


"Karena semua ini adalah rencanamu, Bu. Ibu yang sudah bersekongkol dengan wanita itu untuk menjebakku. Jika bukan Ibu siapa lagi, HAH? Dan karena itu aku harus kehilangan bayiku," jatuh lagi air mata Galih. Ia sama hancurnya dengan Indah. Kehilangan istri dan buah hati secara bersamaan rasanya seperti kiamat yang hanya terjadi pada dirinya.


"Anak yang ada di kandungan Melinda itu juga anakmu, Galih. Jangan lupa akan hal itu," kecam Hesti. Ia tidak menyukai Galih yang saat ini di depan matanya. Baginya Indah bukanlah wanita yang cocok untuk Galih. Selain dari latar belakangnya, kariernya pun tak luput dari pandangan Hesti. Hanya menjadi seorang guru honorer tak sebanding dengan Melinda yang merupakan putri semata wayangnya seorang pengusaha.


"Itu menurutmu, Bu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakui anak itu sebagai darah dagingku. Dan ingat, Bu. Kalau sampai Indah benar-benar akan menggugat cerai aku, aku tidak akan pernah memaafkan Ibu." Desis Galih lalu mengalihkan pandangannya dari sang ibu. Hatinya tengah rapuh, layaknya seperti sebuah kaca yang terjatuh dari atas ketinggian. Hancur tak berbentuk lagi.


'Sabar, Hesti. Biarkan dia sendiri, jika kau meladeni anakmu itu, sama saja kau akan menggali kuburan mu sendiri.' batin Hesti. Ia harus lebih bersabar lagi kali ini karena Galih tengah berada dalam kesedihannya. Tapi disisi lai ia bahagia karena telah berhasil memisahkan keduanya.


Sepeninggal Galih, tinggallah Indah bersama kedua orang tuanya. Saking lelahnya menangis, sampai membuat Indah tertidur. Doni dan Ratih yang melihatnya hanya bisa ikut bersedih dalam diam mereka. Mereka seakan bermimpi disiang hari, tapi kenyataannya tidak. Semua bukanlah mimpi yang akan hilang disaat mereka mengedipkan mata.


"Apa yang harus kita lakukan, Yah? Bagaimana dengan Indah selanjutnya? Akankah kita mengiyakan permintaannya?" Tanya Ratih. Ia masih ingat bagaimana Indah yang meminta dirinya dan Doni segera memulai proses perceraiannya dengan Galih. Meski ia berusaha meyakinkan keduanya, tapi mereka tahu apa yang dirasakan oleh putrinya. Mengambil keputusan dalam keadaan marah bukanlah suatu hal yang baik. Keduanya tidak mau ada penyesalan di belakang.

__ADS_1


"Seperti yang diinginkan oleh Indah, maka kita harus mengabulkannya, Bu. Sebagai orang tua kita harus mendukung apa yang membuat putri kita bahagia sekalipun itu harus berpisah dari suaminya," ucap Doni. Meski sebenarnya ia berat tapi ia tidak akan membiarkan Indah terluka lagi. Sudah cukup baginya melihat Indah menumpahkan air matanya hari ini.


"Apa yang kalian bicarakan? Siapa yang akan berpisah?" Sebuah suara membuat kedua orang itu menoleh. Keduanya terkejut namun sedetik kemudian mereka mengalihkan pandangan kepada Indah yang tengah berbaring diatas ranjangnya.


"Kakakmu, Syad. Dia memutuskan untuk berpisah dari suaminya," perkataan dari Ratih tentu membuat terkejut anak bungsunya. Irsyad sampai terbelalak mendengar hal itu. Rumah tangga yang selama ini ia jadikan contoh nyatanya tidak seperti yang ia bayangkan. Meski Ayahnya adalah role modelnya sebagai seorang laki-laki, tapi kakak iparnya itu juga masuk ke dalam hitungannya.


"A-apa, Bu? Apa Ibu bercanda? Mana mungkin mereka akan berpisah? Mereka saling mencintai, Bu." Kilah Irsyad. Ia masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya itu.


"Tapi itu kenyataannya, Syad. Kakakmu akan kembali tinggal bersama kita setelah sudah diperbolehkan keluar dari sini." Ujar Doni tegas. Di hadapan anak-anaknya Doni harus bisa mencontohkan bagaimana ketegasan seorang pemimpin.


"Ta-tapi apa permasalahannya, Yah? Apa tidak bisa diperbaiki lagi hingga sampai harus berpisah?" Tanya Irsyad.


"Galih menduakan kakakmu. Dia menikah lagi karena sudah mengandung anaknya. Mungkin karena sampai sekarang Indah belum bisa hamil makanya dia mendua," ketus Doni. Sebenarnya ia enggan menyebut nama laki-laki itu, tapi apa daya. Dia harus menjelaskan semuanya kepada Irsyad agar anaknya itu bisa memahami apa yang dialami oleh Indah.


"Kurang a jar. Beraninya dia menyakiti Kakakku. Akan kuberi pelajaran dia," desis Irsyad yang merasa geram kepada kakak iparnya. Ratih yang mendengar hal itu segera menghampiri Irsyad.


"Sabar, tenangkan dirimu Irsyad. Ini bukan saatnya kita emosi. kita harus utamakan kesehatan dan juga kebahagiaan kakakmu dulu. Kamu mengerti, Irsyad?" ujar Ratih menenangkan hati putra bungsunya. Meski berat tapi Irsyad akhirnya menganggukkan kepala. Ia menatap sedih kakaknya yang saat ini tengah tertidur di ranjangnya. Kehidupan rumah tangganya yang pelik hingga sampai harus kehilangan buah hatinya.


'Meski di larang, tapi aku janji padamu Kak. Aku akan melindungi mu dari laki-laki biadab seperti dia. Aku tidak akan membiarkan air matanya menetes lagi hanya karena menangisi laki-laki seperti dirinya. Aku menyayangimu, Kak.'

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2