
AAI 45 - Pertengkaran
Di dalam kamar,
Pemandangan pertama kali yang terlihat di dalam kamar itu kini layaknya kapal pecah. Kaca pigura, foto, guci, semuanya hancur berserakan di bawah sana. Ranjang yang selama bertahun-tahun itu biasanya tertata rapi tak luput dari amukan sang pemiliknya. Bahkan sampai bulu-bulu bantalnya pun berterbangan di sana sini. Semuanya hancur, layaknya suasana hati yang saat ini dirasakan oleh Indah.
"Dan pada akhirnya kau memilih Ibumu dengan menikahi wanita lain, Mas." Gumam Indah sambil pandangannya kosong kedepan. Sinar matahari yang menyengat masuk melalui jendela kamarnya tak ia hiraukan. Hari ini ia berduka, bersedih karena nasib per ikatan pernikahannya telah hancur karena keserakahan ibu mertuanya. Demi mendapatkan seorang anak, sang ibu rela menghancurkan rumah tangga Galih bersama Indah yang sudah terjalin selama beberapa tahun ini.
"Kurang apa aku padamu, Mas? Kurang apa, HAH? Semua sudah kulakukan. Cinta, perhatian, kesetiaanku sudah kuberikan kepada mu. Tapi apa balasanmu? Kau tega menyakiti hatiku dengan menduakan cintaku. Kau sangat kejam, Mas. Kau jahat," imbuh Indah seraya menangis tersedu-sedu. Wanita cantik yang selama ini sangat pendiam kini berubah kayaknya seperti orang dengan gangguan jiwa. Tatapannya kosong, tak ada gairah hidup sama sekali.
Satu jam, dua jam, hingga tiga jam lamanya Indah masih betah mengunci diri di dalam kamar. Gedoran dari luar pintu kamar tak ia hiraukan. Wanita itu asyik dengan dunianya sendiri karena ingatan demi ingatan tentang dirinya dengan Galih tiba-tiba melintas. Dari yang tadinya tersenyum perlahan-lahan berubah menjadi tangis kesedihan saat dirinya tersadar akan kenyataan hari ini yang ia ketahui.
"Ku mohon, Indah. Buka pintunya," entah sudah berapa ribu kali Galih memohon di luar sana untuk dibukakan pintu oleh Indah. Namun Indah tidak tergoyahkan. Wanita itu enggan untuk sekedar melihat wajah tampan suaminya.
"Apa lagi yang harus kulakukan di sini? Tidak mungkin bisa ada dua ratu di dalam rumah tangga kita, Mas. Lebih baik akulah yang mundur. Aku tidak mungkin membiarkan anakmu hidup terpisah dari dirimu. Aku tidak akan sanggup jika harus hidup bersama dengan maduku," ujar Indah. Wanita itu memejamkan matanya sejenak lalu perlahan-lahan ia bangkit dari duduknya yang sejak tadi bersandar pada pinggir ranjang. Indah bisa merasakan sedikit pusing serta lemas pada tubuhnya. Namun wanita itu tampak acuh dan tetap melangkahkan kakinya menuju walking closetnya.
Dengan berderai air mata, Indah mengambil sebuah koper berukuran sedang dan mulai memasukkan beberapa potong bajunya. Sesekali ia menghapus jejak air matanya yang mengalir di pipinya seraya terus memasukan barang-barang pribadinya.
Tak ada barang berharga yang dibawa oleh Indah. Bahkan wanita itu telah melepas cincin pernikahannya dan meletakkan cincin itu di atas meja riasnya. Setelah dirasa sudah selesai, Indah menggeret koper dan tas kecil miliknya menuju keluar.
Cklek
__ADS_1
Belum sempat Indah melangkahkan kakinya, Galih terlebih dulu menjatuhkan dirinya di hadapan Indah. Galih bersimpuh di kaki wanita itu dengan derai air mata yang sudah menganak sungai.
"Ma-maafkan aku, Indah. Maafkan aku. Aku sudah salah karena tidak memberitahu mu tentang semaunya. Tapi percayalah, aku tidak mencintai wanita itu, Indah. Aku hanya mengikuti kemauan ibu karena dia telah hamil. Tapi aku yakin kalau itu bukan anakku, Indah. Aku yakin," ujar Galih pada Indah. Sepertinya laki-laki itu masih belum sadar jika aang istri ingin pergi, nyatanya ia tidak melihat keberadaan koper yang dibawa oleh Indah.
Indah yang mendengar ucapan tersebut seketika langsung menatap ke arah wajah suaminya. Hatinya kembali nyeri saat dirinya kembali mengingat kebersamaan sang suami dengan wanita lain. Perlahan Indah menarik napas, ia tidak boleh terlihat lemah dihadapan laki-laki itu.
"Kau yakin, Mas? Kau yakin seratus persen, HAH?" Bentak Indah untuk pertama kalinya pada Galih. Laki-laki itu hanya membisu, tak mampu lagi untuk menjawabnya.
"Sekarang aku tanya, bagaimana bisa wanita itu mengandung anakmu kalau kalian tidak pernah melakukan hubungan intim? Itu artinya kalian sudah bersama, bukan? JAWAB!" Gertak Indah dengan kedua matanya yang sudah berapi-api. Emosinya kembali mencuat, seakan kobaran api yang siap melahap siapa saja yang ada di hadapannya.
"A-aku.." Galih terbata. Lidahnya terasa Kelu hingga suara tawa keras terdengar dari mulut mungil Indah. Wa Ita itu tertawa, menertawakan dirinya yang telah dihianati sedemikian rupa dan ia tidak menyadari hal itu.
"Maafkan aku, Indah. Ku mohon, Maafkan aku. Beri aku waktu sampai anak itu lahir. Setelah itu, aku akan menceraikannya," ujar Galih yang seketika membuat Indah semakin meradang. Ia tidak menyangka jika Galih mampu berbicara seperti itu perihal anak kandungnya.
"Apa kau sudah tidak waras, HAH? DIA ITU ANAKMU, DARAH DAGINGMU. DIA JUGA CUCU KANDUNG IBUMU," suara Indah begitu menggelegar di lantai atas rumah itu. Ia begitu geram karena Galih ingin meninggalkan anak dan istri keduanya demi dirinya. Indah bukan wanita serakah hingga bisa menyakiti perasaan wanita lain. Ia memilih mundur daripada tetap di sana.
"Tapi aku tidak mencintainya, Indah. Aku hanya mencintaimu," balas Galih. Ia mendongak, memberanikan diri untuk menatap wajah sang istri. Hatu Galih begitu hancur saat melihat tatapan jijik yang dilayangkan Indah padanya. Saat Galih ingin menunduk, sudut matanya menangkap sebuah koper yang berada di belakang tubuh Indah.
Detak jantungnya seakan berhenti, ia menyadari satu hal. Istrinya itu ingin pergi meninggalkan dirinya. Tentu Galih tidak ingin sampai itu terjadi.
"Ka-kamu mau kemana, Indah? Please, jangan tinggalkan aku. Aku mohon," ujar Galih seraya memegang kedua kaki Indah. Wanita itu menggoyangkan kakinya, menolak di sentuh oleh laki-laki yang hingga saat ini masih saja menjadi suaminya.
__ADS_1
"Aku tidak sudi tinggal disini lagi. Aku akan kembali ke rumah orang tuaku. Lepaskan, biarkan aku pergi." Titah Indah seraya melepaskan kakinya dari genggaman tangan Galih.
"Tidak, aku mohon Indah. Jangan tinggalkan aku,"
"Lepaskan aku, Galih. Aku akan menggugat cerai kamu,"
Bagai disambar petir disiang bolong, tubuh Galih membeku. Ia sangat terkejut akan satu kalimat yang baru saja keluar dari mulut istrinya. Hingga tanpa sadar genggaman tangannya itu terlepas, membuat Indah segera menyeret kopernya melewati sang suami.
Namun siapa sangka, saat Indah sudah berada di luar kamar, tangan kanannya diraih Galih dan ditarik. Indah yang tidak siap terhuyung kesamping hingga membuat tubuhnya menabrak pinggiran meja yang ada di samping pintu kamarnya.
Brak
"Aw, sa-sakit." Runtuh Indah saat dirinya sudah terjatuh di lantai. Galih segera menghampiri Indah dengan perasaannya yang kian bersalah.
"Maafkan aku, Indah. Aku tidak sengaja. Katakan, dimana yang sakit? Katakan," ucap Galih sambil menyandarkan tubuh indah padanya.
Indah masih meringis kesakitan seraya memegang perutnya hingga beberapa saat kemudian kedua matanya terbelalak saat menyadari akan satu hal.
"Da-darah?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1