
AAI 94 - menuju END - Kehidupan Indah
5 tahun kemudian,
Seorang wanita tengah berkutat dengan masakannya. Sedari pagi ia sudah berperang dengan pisau dan spatula dapur. Dengan trampil dan cekatan, wanita itu membuat beberapa menu sarapan untuk tiga orang di rumahnya.
"Hm, enak. Pasti semua pada suka," gumam wanita itu saat ia merasakan setetes kuah gulai buatannya.
Kemarin malam sang suami mempunyai permintaan untuk dibuatkan gulai ayam. Karena itu, wanita tersebut membuat sepanci gulai ayam serta lontong yang sudah ia rebus. Wajah lelah tak terlihat meski wanita itu sudah beberapa kali bolak-balik kamar mandi dalam sepagi ini.
"Rasanya ada yang tidak beres denganku," gumam wanita itu lagi. Tak mau kepikiran, ia mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding. Seketika kedua matanya terbelalak saat melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul enam pagi. Itu artinya sudah saatnya bagi semua penghuni rumah untuk bersiap diri untuk melakukan rutinitas sehari-hari mereka. Ia mulai menyajikan menu-menu itu ke atas meja makan
Tak lupa juga ia membuat dua gelas coklat panas dan secangkir kopi hitam sebagai pelengkap.
"Sudah waktunya mandi. Aku akan membangunkan mereka," imbuhnya seraya melepaskan celemek yang sejak tiga jam lalu menempel di tubuhnya. Wanita itu berjalan menaiki tangga menuju ke kamar yang memiliki pintu berwarna putih dan bergambarkan tokoh Upin dan Ipin di sana.
Cklek
Wanita itu menghela napas panjang saat melihat dua laki-laki tengah tertidur pulas di atas ranjang miliknya.
"Vano? Bangun, Nak." Ucap wanita itu seraya menggoyangkan tubuh putra sulungnya.
"Nino? Ayo, bangun. Sudah waktunya sekolah," lanjutnya seraya berganti membangunkan putra keduanya yang berada di sebelah si sulung.
Tak ada pergerakan dari keduanya, terlihat sekali mereka masih betah dengan mimpi indahnya. Wanita itu menghela napas, lalu ia melipat kedua tangannya seraya menatap tajam kedua jagoannya.
"Bunda hitung sampai tiga. Kalau kalian tidak bangun, bunda akan menjewer telinga kalian." Ujarnya.
"Satu,"
"Dua,"
"Ti,"
Belum juga ia mengucapkan angka itu, kedua jagoannya langsung bangun dan duduk seketika. Keduanya sama-sama meregangkan tubuhnya, merasa pegal-pegal akibat tidurnya yang tak cukup.
__ADS_1
"Kan Bunda sudah bilang, jangan tidur malam-malam. Kan jadinya begini, kalian telat bangun pagi." Omel wanita itu yang memarahi kedua putranya akibat tidur lewat tengah malam. Itu juga karena suaminya yang terlalu memanjakan keduanya.
"Iya-iya, Bunda." Sahut si kecil Nino. Sedangkan Vano langsung beranjak dan pergi menuju kamar mandi tanpa menunggu waktu lama lagi.
"Ya sudah, Bunda mau bangunin Ayah dulu. Kamu lekas siap-siap, Ok?" Ujar wanita itu yang hanya dibalas anggukan kepala dari putranya.
Cklek
Wanita itu kembali menghela napas panjang. Lagi-lagi ia harus bisa menahan dirinya agar tidak kehabisan kesabaran karena melihat tubuh suaminya yang masih tidur tengkurap di atas ranjang miliknya.
"Astagfirullah, perbanyak kesabaran hambamu ini Ya Allah." Gumam wanita itu seraya berjalan menuju ranjang.
Setibanya di sana ia bisa mendengar jelas dengkuran halus dari mulut sang suami. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Mas? Mas Galih. Bangun, Mas." Ucap wanita itu yang tak lain adalah Indah. Setiap hari ia harus berperang dengan ketiga jagoan yang selalu menguji kesabarannya.
Dari pernikahannya dengan Galih, keduanya sudah dikaruniai anak laki-laki kembar yang kini sudah berusia empat tahun. Kehidupan Indah kini sangat bahagia meski ia kadang harus bisa menahan diri agar tidak kesal karena suami dan anak-anaknya selalu menggodanya.
GIOVANO PUTRA WIBAWA
Kedua anaknya tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan meski keduanya masih kecil. Mana lagi nikmat yang harus Indah dustakan setelah semua kejadian cobaan hidupnya terlalui. Kini tinggallah kebahagiaan yang selalu melingkupi hidupnya beserta sang suami.
"Mas? Bangun, Mas. Hari Senin, kerja." Ucap Indah seraya menggoyang-goyangkan tubuh sang suami. Galih perlahan membuka mata, senyumnya mengembang saat ia melihat wajah kesal sang istri.
"Bangun, Mas." Ujar Indah lagi. Ia memberikan sedikit cubitan di pinggang Galih hingga membuat laki-laki itu mengaduh.
"Aduh, jangan dicubit, Dik. Sakit," keluh Galih seraya berbalik dan mendudukkan tubuhnya bersandar pada headboard ranjang. Berulangkali Galih mengedipkan mata, berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat untuk dibuka.
"Awas ya kalau Mas sampai tidur malam lagi. Ku jual itu tv biar Mas dan kedua anak Mas itu baru tau rasa." Seloroh Indah seraya melipat kedua tangannya yang kesal karena kelakuan suami dan anaknya.
Galih tersenyum tipis lalu menarik tangan Indah hingga membuat tubuh wanita itu terhuyung dan berakhir duduk di pangkuan sang suami.
"Ih, sudah sana. Mandilah," ucap Indah seraya berusaha melepaskan diri dari Galih yang ingin menciumnya. Laki-laki itu menghela napas, lagi-lagi ia tidak bisa mendapatkan ciuman selamat pagi dari sang istri. Namun tidak, ia tidak akan membiarkan kesempatan berlalu begitu saja.
"Yang, Mas ingin nih." Bisik Galih tepat di telinga Indah yang membuat wanita itu meremang seketika. Ia tahu betul bagaimana perangai sang suami dalam hal itu. Galih akan terus memintanya sampai ia benar-benar mendapatkan apa yang diinginkannya.
__ADS_1
"Jangan macam-macam, Mas. Kamu bisa telat masuk kerja." Tegus Indah yang membuat Galih terkekeh geli.
"Aku bisa datang lebih lambat," elak Galih seraya mulai melancarkan aksinya. Indah sampai harus menahan napas kala jari jemari Galih mulai melepas jilbabnya.
"Ih, Mas Galih. Anak-anak sudah menungguku, nanti terlambat ke sekolah." Ucap Indah berusaha menolak Galih meski dalam hati ia juga menginginkannya.
"Ssstttt... Mas yang akan mengantar mereka ke sekolah."
Hingga pada akhirnya Indah pun hanya bisa pasrah menerima setiap cinta yang diberikan oleh sang suami. Tidak pernah sekalipun dalam lima tahun kebersamaan mereka, Galih tidak meminta jatah kepada Indah. Setiap hari, keduanya selalu mengukir cinta mereka dalam indahnya gelora asmara yang memabukkan.
Seolah tak bosan bagi Galih. Ia selalu memuja sang istri disetiap kesempatan. Seperti pagi ini, ia kembali menggagahi nya meski semalam ia juga sudah mendapatkannya. Alhasil, kini Indah hanya bisa pasrah dan tertidur setelah peperangan mereka yang begitu singkat namun melelahkan itu. Dalam setengah jam Galih mampu membuat Indah terkapar tak berdaya. Wanita itu tertidur pulas tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Galih tersenyum tipis melihatnya, ia mendekati ranjang dan memberikan kecupan hangat di pucuk kepala belakang Indah.
"Terimakasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu," setelah mengatakan itu, Galih pun bergegas keluar kamar karena ia sudah berpakaian rapi dengan setelan formalnya.
"Bunda mana, Yah?" Tanya Nino.
"Good morning, guys." Sapa Galih seraya mengelus rambut lebat kedua putranya.
"Morning too, Yah."
"Good Morning,"
"Bunda sedang tidur. Nanti Ayah yang akan mengantar kalian," ucap Galih seraya duduk dan meminum kopi buatan sang istri yang sudah dingin. Kedua anaknya hanya bisa mengangguk paham. Setelah ketiganya sarapan, akhirnya mereka pergi meninggalkan rumah bersama menaiki mobil.
Selang beberapa jam kemudian, terlihat kelopak mata Indah bergerak-gerak. Ia merasakan sensasi mual di perutnya hingga membuat wanita itu langsung beranjak dan berlarian menuju kamar mandi.
Oek
Oek
Di dalam kamar Indah merasakan pusing yang menderanya. Ia sampai terduduk diatas kloset yang tertutup untuk menopang tubuhnya agar tidak terjatuh di dalam sana.
"Ada apa denganku? Rasanya pusing sekali." Gumam Indah. Sepersekian detik kemudian kedua matanya terbelalak saat mengingat sesuatu.
"Jangan-jangan..."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...