Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 36 Makan Malam sendiri


__ADS_3

AAI 36 - Makan Malam sendiri


Ting


Sebuah pesan baru masuk ke dalam ponsel milik Indah. Wanita itu yang tengah sibuk memasak di dapur spai tidak mendengarnya. Ia terlalu fokus dengan tumis udang kesukaan sang suami dan juga sayur lodeh milik ibu mertuanya.


Tepat pukul enam sore, semua masakannya telah jadi dan ia mulai menyiapkannya di atas meja makan. Dengan wajah sumringahnya Indah menata piring dan juga lauk pauk disana. Setelah selesai ia segera mencuci tangan dan menghampiri ponselnya yang berada di meja makan.


"Ada pesan masuk," gumam Indah seraya membuka pesan tersebut.


"Maaf, Sayang. Malam ini Mas lembur sama teman-teman yang lain. Pekerjaan ini tidak bisa ditunda dan harus selesai besok. Maafkan aku ya, Sayang? Maafkan aku,"


Helaan napas terdengar dari mulut mungil Indah saat membaca penggalan kata yang tertulis di layar pipih tersebut. Pesan dari sang suami membuat indah merasa sedih. Sudah seminggu ini indah merasa Galih berubah. Pekerjaannya begitu banyak hingga membuat keduanya kehilangan waktu bersama.


"Haih, malam ini aku sendiri. Jika sebelumnya Mas Galih pulang malam, kini ia harus menginap di kantor karena pekerjaannya. Semoga Tuhan selalu melindungi dan menjagamu, Mas." Ucap Indah seraya berdoa kepada sang pencipta. Ia merasa kasihan dengan Galih yang banting tulang setiap hari tanpa lelah demi menghidupi dirinya dan juga keluarganya.


"Andai saja kamu memperbolehkan aku menggeluti duniaku, Mas. Mungkin kamu tidak harus sekeras ini bekerja. Aku akan bisa membantu perekonomian keluarga kita," Indah sangat menyayangkan sikap Galih yang melarangnya menggeluti dunia mudanya.

__ADS_1


Namun karena abdinya sebagai istri, Indah mau tak mau harus menerima semuanya. Ia hanya bisa berdoa untuk kesehatan sang suami pada sang Khaliq.


Karena sang ibu mertua belum juga kembali dari kegiatan arisannya hari ini, Indah memilih pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Di dalam kamar, Indah menikmati waktu luang nya dengan memanjakan diri dari mulai berendam air hangat sambil menscroll ponselnya.


"Astaga, amit-amit deh. Jangan sampai itu terjadi di dalam rumah tanggaku," ujar Indah saat dirinya melihat sebuah postingan dimana terdapat sebuah kasus perselingkuhan yang terkuak. Bagiku marak kejadian asusila yang kini menjadi seakan sudah hal lumprah dan menjadi konsumsi publik. Bahkan banyak wanita di luaran sana yang berbangga hati karena sudah menjadi selingkuhan pria beristri.


"Lindungi rumah tanggaku, Ya Allah. Jauhkan aku dan suamiku dari hal-hal yang Engkau benci," sambil mengadahkan wajahnya ke atas, Indah memanjatkan doanya kepada sang Khaliq untuk keutuhan rumah tangganya.


Setelah selesai bersolek sedikit, wanita itu lalu berjalan keluar kamar. Tepat di anak tangga terakhir, dari arah pintu terlihat jelas sang ibu mertua barusaja datang dengan menggunakan pakaian batik lengkap dengan riasannya yang sedikit tebal. Indah mengeryitkan dahi saat menyadarinya. Pasalnya tadi sebelum berangkat, indah sangat ingat jika ibu mertuanya tadi tidak menggunakan pakaian itu.


'Bukannya tadi ibu pakai baju biasa ya? Kenapa sekarang pakai batik? Seperti habis dari kondangan saja.' pikir Indah dalam hati.


"Baru pulang, Bu?" Sapa indah dengan senyuman. Hesti yang mendengar ucapan tersebut seketika berhenti di tempatnya. Jaraknya hanya beberapa langkah dari Indah. Raut wajah bahagia terlihat jelas di wajah Hesti yang sudah tua tapi masih terlihat muda.


"Ya," balas Hesti. Indah tersenyum tipis saat mendengar jawaban Hesti.

__ADS_1


"Kalau begitu, Indah tunggu di meja makan ya, Bu. Kita makan sama-sama, hari ini Mas Galih tidak bisa 0ulang karena banyak kerjaan di kantor." Ujar Indah pada Hesti. Salah satu sudut bibir Hesti terangkat saat mendengar ucapan dari Indah. Ia tak menyangka jika putranya mampu berbohong pada istrinya itu.


'Lembur dikantor? Ha ha ha, ternyata dia bisa bohong juga. Andai kau tahu, Indah. Saat ini suamimu tengah bermalam bersama istri keduanya. Ah, andaikan aku bisa mengatakan itu pasti aku tidak akan segan-segan untuk mengatakannya padamu. Semoga kebohonganmu bisa bertahan lama, Galih. Ha ha ha,' ujar Hesti dalam hati. Ia begitu bahagia hari ini karena telah berhasil menikahkan Galih dengan Melinda. Tak ada rasa bersalah sedikitpun di hati Hesti karena sudah memporak-porandakan pernikahan Galih dan Indah. Yang ada hanya wajah bahagia karena sebentar lagi dirinya akan menimang seorang cucu dari wanita pilihannya.


"Tidak. Kau makanlah sendiri, tadi aku sudah makan diluar." Setelah mengatakan itu, Hesti bergegas pergi menuju kamarnya karena merasakan lelah yang mulai ia rasa. Seharian ia sangat sibuk karena menghadiri pernikahan kedua Galih dengan Melinda. Oleh karena itu, Hesti ingin segera mengistirahatkan tubuh dan otaknya.


"Haih, aku sendiri lagi." Keluh Indah seraya menarik napas panjang. Ia menatap kepergian sang ibu mertua dengan tatapan sendu.


Perut rata Indah mulai terasa melilit. Wanita itu bergegas menuju meja makan dan memulai makan malamnya sendiri. Demi menghilangkan rasa sepi, Indah menikmati makan malamnya dengan menonton serial drama yang berasal dari negeri ginseng. Kebetulan di ruang makan terdapat televisi berukuran besar, membuat Indah begitu nyaman menikmati waktunya sambil menonton drama kesukaannya itu.


"Ah, tampan sekali wajahnya. Ingin rasanya aku bertemu dan meminta foto bersama dengannya. Tapi kapan? Semoga akan ada rezeki lebih dan aku bisa mengajak Mas Galih pergi ke sana untuk bertemu dengan Lee Min Ho, aktor kesukaan ku." Ucap Indah seraya menonton akting laki-laki tampan itu. Ketampanan hakiki yang dimiliki oleh aktor berusia tiga puluh lima tahun itu mampu membius semua pasang mata hawa yang melihat. Begitu pula dengan Indah, wanita itu sangat suka dengan laki-laki tampan apalagi dirinya merupakan mantan penulis buku, jadi membuatnya tak bisa berhenti berhalu membayangkan wajah-wajah tampan. Namun, semua hanya kenangan semata, karena yang ada di hatinya hanyalah Galih. Galih Surya Wibawa.


Karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Indah segera membereskan piring dan gelas kotornya. Merapikan lagi meja makan dan menyimpan sisa makanan yang masih layak konsumsi untuk dirinya atau siapa saja yang mau. Setelah selesai, wanita itu segera mematikan lampu disana dan kembali menuju kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, Indah menghampiri ranjangnya. Ia mulai berbaring dan memejamkan mata setelah berbalas pesan dengan sang pujaan hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2