
AAI 78 - Naik Jabatan
Setelah menempuh perjalanan empat puluh menit, akhirnya Gita sampai di apartemen milik Galih. Galih berkata jika ia mendapat cuti setengah hari, itu ia gunakan untuk family time bersama Gita. Sesampainya di dalam apartemen milik sang kakak, Gita dibuat terkejut melihat banyaknya makanan di meja sana.
"Wah ... Banyak sekali makanannya, Mas. Hm, perutku jadi lapar." Ucap Gita dengan wajahnya yang berbinar melihat berbagai macam jenis makanan disana. Galih yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala lalu ia segera mengajak sang adik duduk.
"Alhamdulillah," ujar Gita seraya menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa. Ia merasakan perutnya yang sangat kenyang akibat kalapnya ia makan. Gadis itu sampai bersendawa berkali-kali karenanya.
"Sudah, kenyang?" Tanya Galih seraya mengelus rambut lebat milik adiknya. Ia sangat gemas karena tingkah Gita yang seperti anak kecil. Padahal gadis itu sudah mulai beranjak dewasa.
"Haih, sangat kenyang, Mas. Rasanya aku tak kuat untuk kemana-mana saat ini," keluh Gita seraya matanya yang mulai terpejam. Galih terkekeh melihatnya.
"Pindahlah ke kamar sebelah, ini masih jam dua siang. Nanti sore Mas antar pulang," ujar Galih yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Gita. Gadis itu sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berpindah dari tempatnya. Ia merasa sudah sangat nyaman dengan posisi duduk nya saat ini.
"Jangan tidur di sini, Git. Sana, di kamar saja." Galih memperingati Gita saat dirinya melihat sang adik sudah tidak kuat membuka matanya.
"Disini saja, Mas. Aku tidak kuat lagi berjalan, huh." Ucap Gita. Tak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus dari mulut gadis manis itu. Galih sampai tepuk jidat melihat kelakuan adiknya. Mau tak mau Galih harus memindahkan sang adik agar bisa tidur lebih nyaman.
"Dasar, anak bandel." Gerutu Galih. Namun ia tetap saja mengangkat tubuh kecil sang adik ke dalam kamar. Tak lupa juga Galih menyelimuti tubuh Gita agar tidak kedinginan karena ia menyalakan pendingin ruangan.
"Saatnya beberes," gumam Galih saat dirinya sudah keluar dari kamar tidur Gita. Laki-laki itu mulai membersihkan meja yang tadinya penuh dengan makanan.
Semenjak ia hidup sendiri, Galih menjadi pribadi yang sangat rajin. Ia membersihkan apartemennya sendiri tanpa adanya bantuan dari tukang bersih-bersih. Apalagi karena ia merupakan seorang yang suka dengan kebersihan, membuatnya harus bisa membersihkan seluruh sudut apartemennya.
Dua jam lamanya Galih membersihkan semuanya. Ia juga sudah terlihat lebih segar setelah membersihkan tubuhnya Dati keringat dan kotoran. Sambil menunggu adiknya bangun, Galih menonton film dengan ditemani secangkir kopi yang tadi dibuatnya.
__ADS_1
Awalnya ia biasa melihat tontonan itu, namun lama kelamaan ia ikut terhanyut ke dalam jalan cerita film yang disajikan. Penghianatan yang diterima oleh pemeran wanita mengingatkan dirinya akan mantan istrinya, yakni Indah. Tanpa bisa ia cegah setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya.
"Seperti itukah yang kau rasakan saat aku menyakitimu, Indah? Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu apalagi menghianatimu. Andai saja aku bisa memutar waktu, aku akan membawamu pergi dari ibuku agar kita bisa hidup bahagia berdua." Gumam Galih. Ia terbayang kembali dengan wajah cantik Indah yang tidak bisa ia hapuskan dari pikiran dan hatinya. Jangankan memudar, justru wajah cantik nya kian membuat Galih merasa cintanya semakin besar.
"Masihkah kau mencintaiku, Indah? Disini aku selalu merindukanmu dan mengharapkan kedatanganmu. Aku masih sangat mencintaimu, Indah. Dan akan selalu mencintaimu," imbuh Galih.
Cklek
Galih buru-buru menghapus jejak air matanya saat mendengar suara kenop pintu yang terbuka. Ia yakin jika adiknya lah yang membuka pintu itu. Dan benar saja, tak lama kemudian terdengar langkah kaki yang berjalan menghampirinya.
"Mas? Hoam," panggil Gita seraya menguap. Kedua matanya belum terbuka lebar, sesekali ia memejamkan mata. Saat dirinya tiba di samping Galih, ia langsung duduk dan menyenderkan tubuhnya pada sang kakak tercinta.
"Hm? Kalau masih ngantuk kenapa bangun, hm? Tidur lagi saja," ucap Galih seraya mengelus rambut Gita dengan sayangnya. Meski ia tahu kenyataan bahwa Gita bukan sedarah dengannya, tapi Galih tidak peduli. Ia akan tetap sayang dan menjadi perisai bagi sang adik. Ia juga sudah mengatakan kepada Gita agar tidak memikirkan tentang asal usul mereka. Bagi Galih, Gita adalah adik satu-satunya yang ia miliki.
"Tapi sudah sore, Mas. Aku harus pulang," gumam Gita seraya memeluk tubuh Galih. Ia merasakan nyaman saat ia memeluk sang kakak. Bagi Gita, Galih adalah tempatnya ia berpulang saat seluruh dunia menghakiminya sebagai seorang anak haram. Tentunya ia juga merahasiakan semua itu dari Galih. Ia tidak ingin menambah pikiran Galih dengan kerjadian yang diterimanya. Galih geleng-geleng kepala, lalu ia melepaskan pelukan Gita.
"Biar ngangukmu hilang, minumlah." Titah Galih. Dengan malas Gita menerima kopi itu dan menyeruputnya. Namun baru saja kopi itu menyentuh lidahnya, tiba-tiba Gita menyemburkannya.
Brusshhh
Kopi hitam itu berhamburan kemana-mana. Gita yang tidak suka dengan pahit langsung bangkit dan berlarian menuju dapur. Galih yang melihat hal itu langsung tertawa terbahak-bahak.
Ha ha ha
"Mas, jahat amat sih sama adek sendiri." Gerutu Gita. Gadis itu sampai berkumur berulangkali karena merasakan pahit yang teramat sangat di lindahnya. Galih hanya bisa tersenyum puas karena sudah berhasil menyadarkan Gita dari kantuknya.
__ADS_1
"Sudah, sini. Mas mau ngomong sama kamu," ucap Galih seraya menepuk sisi sampingnya. Gita menurut, gadis itu bergegas duduk di samping Galih.
"Ada apa, Mas?" Tanya Gita.
"Mas dapat promosi naik jabatan, Git. Tapi syaratnya Mas harus pindah ke Bank pusat yang ada di Jakarta. Bagaimana menurutmu?" Tanya Galih. Ia meminta pendapat sang adik sebelum menerima pencapaiannya itu. Gita yang mendengarnya langsung bersorak kegirangan, ia sampai bertepuk tangan karena ikut bahagia mendengar kabar itu.
"Wah, congratulations Mas. Akhirnya Mas bisa naik jabatan setelah sekian lama bekerja di sana. Jadi, Mas bakal pindah kesana, dong? Aku jadi iri," ucap Gita yang bahagia namun cemberut di akhir kalimatnya. Ia bahagia sekaligus sedih mendengar hal itu. Ia bahagia karena sang kakak berhasil dalam kariernya, tapi ia bersedih karena harus berpisah dari Galih.
"Cih, makanya nanti setelah lulus kuliah, kau coba mendaftarkan diri ke bank tempat Mas. Bekerja dengan giat dan jujur, insyaallah kamu akan mendapatkan hasil yang memuaskan dari kerja keras mu." Ucap Galih memberi nasehat pada Gita. Gita yang mendengarnya langsung memicing, dirinya dan sang kakak berbeda arah tujuan. Galih bekerja pada sebuah perusahaan swasta, sedangkan Gita menyukai hal berbau fashion.
"Halo, Mas Galih ku tersayang. Kita ini beda aliran, mana mungkin aku bisa bekerja di kantormu? Astaga," keluh Gita seraya melipat kedua tangannya. Galih terkekeh mendengarnya.
''Mas akan berangkat awal bulan depan, Git. Jaga diri, jangan lupa makan tepat waktu. perhatikan juga Ibu, dia akan mudah sakit diusianya yang sudah menua. O iya, jangan keluyuran yang tidak jelas. Karena Mas tidak bisa menjagamu dari dekat,'' ujar Galih pada Gita. Ia menasehati sang adik yang mulai beranjak dewasa. Galih tidak ingin Gita salah pergaulan hingga membuatnya menjadi buruk.
''Tenang saja, Mas. Aku bisa jaga diri, kok. Ngomong-ngomong, Mas tidak ingin berpamitan kepada Ibu? Apa Mas masih belum bisa memaafkan Ibu?'' tanya Gita. Ia merasa sedih berada diantara kakak dan ibunya. Galih yang keras kepala, ia begitu sulit memaafkan seseorang yang sudah melukai hati dan perasaan nya.
"Tidak perlu. Kau saja yang memberitahunya. Aku tidak ingin kembali berteriak padanya jika aku sampai melihatnya. Aku belum bisa melupakan segalanya, Git. Mas harap, kamu bisa mengerti itu.'' ucap Galih. Gita hanya bisa mengangguk paham, berusaha memahami hati sang kakak.
"Hm, Git? Besok Mas akan ke rumah Melinda. Aku akan menceraikannya. Aku tidak bisa meneruskan hubungan palsu ini, maka dari itu aku akan memutuskannya." Ujar Galih. Gita menghela napas, ia tahu benar apa yang dirasakan oleh sang kakak.
"Semua terserah padamu, Mas. Aku hanya ingin kamu bahagia," sahut Gita. Galih tersenyum lalu memeluk tubuh sang adik dengan sayangnya.
"Terimakasih, Gita. Kau adalah adikku yang paling manis," ucap Galih lalu menarik hidung mancung Gita hingga membuat gadis itu mengaduh.
Aduh
__ADS_1
"Ih, Mas Galih!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...