Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 33 Tidak Fokus Bekerja


__ADS_3

AAI 33 - Tidak Fokus Bekerja


Keesokan harinya,


Seperti biasa, setiap pagi Indah berkutat dengan dapur dan semua peralatan disana. Kedua tangannya begitu lihai dalam mengolah berbagai macam bahan makanan.


"Sayang?" Suara berat Galih memecah konsentrasi Indah yang tengah membuat sup ikan. Ia menoleh pada sosok Galih yang terlihat sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


Indah terkejut lalu melihat ke arah jam dinding. Tadinya ia mengira jika ia terlalu lambat membuat sarapan hingga saat Galih turun belum siap semuanya. Tapi tidak, suaminya lah yang terlalu pagi turun dari kamar.


"Lho, Mas. Kok sudah turun? Baru jam enam kan," ucap Indah seraya mencicipi kuahnya. Lalu ia menambahkan sedikit kaldu untuk memperkuat rasanya.


"Pekerjaanku lagi banyak, Sayang. Jadi aku memilih berangkat lebih pagi untuk menyelesaikannya. Kalau tidak, aku bisa pulang malam lagi nanti." Ucap Galih beralasan. Padahal, sebenarnya ia ingin menghindar bertemu dengan sang ibu. Ia takut jika bertemu dengan ibunya, ia akan di desak untuk memberikan jawaban atas pertanyaan dari sang ibu.


Mendengar ucapan dari Galih, buru-buru Indah mematikan api kompor. Ia mencuci kedua tangannya sebelum menghampiri sang suami.


"Tapi sarapanmu Mas?" Tanya Indah. Ia khawatir karena Galih melewatkan sarapannya pagi ini.


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku nanti bisa pesan di cafetaria kantor," jawab Galih dengan sedikit senyumnya. Ia bahagia melihat sang istri yang begitu menghawatirkan dirinya. Namun ketika sekelebat bayangan kejadian itu lewat, membuatnya kembali merasa sangat bersalah.


'Bagaimana aku sanggup melihat senyum di wajah cantik itu hilang karena kesalahanku, Tuhan? Rasanya begitu sakit hati ini saat aku membayangkannya,' ujar Galih dalam hati.


"Bagaimana kalau nanti aku mengantarkan sarapanmu, Mas? Aku takut nanti sarapan di cafetaria tidak seperti yang biasa Mas makan. Ya? Aku antar sarapan, hm?" Ujar Indah menawarkan diri. Wanita itu tak ingin jika perut sang suami tidak terisi dengan makanan yang baik. Maka dari itu ia rela jika harus datang ke kantor hanya demi bisa mengantarkan sarapan untuknya.


"Tidak, Sayang. Kamu sudah terlalu lelah dengan segala pekerjaan rumah dan aku tak ingin menambahi bebanmu. Tenang saja, aku akan sarapan dengan nasi dan lauk yang baik." Sahut Galih dengan mengelus puncak kepala Indah. Ia begitu mencintai istrinya hingga membuatnya tidak pernah terbesit keinginan untuk menghianati kepercayaan nya.

__ADS_1


"Tapi, Mas,"


"Sudah, aku berangkat dulu ya. Jaga diri baik-baik di rumah. Jangan terlalu lelah, ingat pesan dokter. Aku mencintaimu," Galih memotong ucapan sang istri saat Indah ingin menyahut. Tak lupa galih memberikan kecupan hangat di kening Indah sebelum ia benar-benar berangkat ke kantor.


"Semangat bekerjanya, Mas. Aku juga mencintaimu," dengan penuh senyuman, Indah membalas ucapan dari sang suami. Ia juga mengantarkan Galih sampai di depan rumah. Setelah memastikan mobil Galih keluar dari gerbang rumahnya, barulah Indah kembali masuk dan melanjutkan pekerjaannya.


"Pagi, Bu." Sapa Indah saat ia melihat kedatangan sang ibu mertua. Indah mulai menata piring demi piring serta lauk-pauk di atas meja. Karena hanya dirinya dan Hesti, membuat Indah menyiapkan dua piring saja.


Saat ini keduanya sudah berada di meja makan karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Hm," balas Hesti ketus. Kemudian Hesti duduk di kursi yang biasa ia tempati.


"Dimana Galih? Biasanya sudah ada di sini? Apa dia belum bangun?" Tanya Hesti saat tidak melihat batang hidung sang putra.


"Mas Galih sudah berangkat, Bu. Dia berangkat lebih pagi hari ini," jawab Indah yang seketika membuat Hesti mengeryitkan dahi.


'Apa jangan-jangan anak itu mau menghindari ku? Makanya dia memilih berangkat pagi. Awas saja kamu, Galih.' gerutu Hesti dalam hati. Ia tahu jika putranya itu sengaja berangkat kerja pagi-pagi demi menghindarinya.


Hesti dan Indah pun memulai sarapan mereka. Keduanya saling diam seperti biasa. Hesti lebih memilih berkutat dengan ponselnya daripada melihat ke arah menantunya.


Di tempat kerja, Galih tidak bisa berkonsentrasi seperti biasa. Ia kerap kali salah memasukkan angka hingga membuatnya mendapat teguran dari atasannya.


"Kau kenapa, Galih? Aku lihat dari tadi kau tidak fokus," tanya teman laki-laki Galih yang bernama Aldo. Dia lah teman terdekat Galih.


Keduanya pagi ini menghadiri rapat bulanan yang diadakan di kantor mereka. Selama rapat berlangsung Galih tidak bisa fokus pada apa yang diucapkan oleh atasan mereka hingga membuatnya mendapat teguran. Aldo sampai heran, pasalnya ini pertama kalinya ia melihat temannya seperti itu.

__ADS_1


"Entah dosa apa yang telah kulakukan dikehidupanku dulu, Aldo. Sampai-sampai Tuhan memberi cobaan yang sangat berat dalam rumah tanggaku," ucap Galih dengan pandangan mata yang kosong. Setelah rapat selesai, Aldo mengikuti Galih ke dalam ruangannya. Disinilah mereka, di ruangan kerja milik Galih.


"Apa yang kau bicarakan, Galih? Aku tidak mengerti sama sekali," ujar Aldo yang tidak mengerti arah perkataan dari temannya itu. Aldo semakin terkejut saat melihat setetes air mata mengalir dari sudut mata Galih.


"Lih, kau menangis?" Ucap Aldo seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Perlahan Galih mendongak, kedua matanya kini sudah tampak berkaca-kaca serta memerah karena menahan sesak yang ada di dadanya. Sesak yang teramat sangat hingga membuatnya kesulitan untuk menarik napas.


"Aku harus apa, Do? Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku sangat mencintai istriku, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan ibuku. Tapi jika semuanya terbongkar, istriku lah yang akan meninggalkanku. Lalu, apa yang bisa kulakukan saat ini? Aku tidak bisa hidup tanpa istriku, Aldo. Aku sangat mencintainya," ucap Galih dengan suaranya yang terdengar bergetar. Ketakutan, keputusasaan, kekecewaan tergambar jelas di raut wajah tampan Galih saat ini.


Aldo sampai bisa ikut merasakan bagaimana sakit yang diderita oleh Galih meski ia belum tahu apa yang tengah terjadi padanya.


"Hei, Dude. Apa yang kau bicarakan, hah? Aku tidak mengerti sama sekali. Coba kau ceritakan padaku apa yang telah terjadi? Dengan begitu aku bisa memahami dan kita bisa mencari jalan keluarnya," sahut Aldo yang berusaha menenangkan diri Galih.


Meski dirinya masih sendiri dan belum pernah menjalani hidup berumah tangga seperti Galih, tapi ia akan berusaha membantu Galih untuk mencari jalan keluar untuk masalah yang tengah dihadapi nya.


"Jalan keluar? Terlalu sulit untuk mencari jalan keluar dari masalah ini, Aldo. Aku tidak akan bisa memilih diantara keduanya. Walau bagaimanapun dia adalah ibuku. Seburuk-buruknya dia, tapi surgaku berada di bawah kakinya. Sedangkan Indah? Aku sangat mencintainya hingga aku tak bisa melihat wanita lain selain dirinya. Tapi kenapa? Kenapa ibu terlalu rakus hingga membuat kami menjadi seperti ini? Semua orang di dunia ini bahkan tahu jika aku sangat mencintai istriku. Tapi kenapa? Kenapa begitu sulit untuk menyadarkan ibu akan cintaku pada istriku?" Ujar Galih dengan air mata yang kini sudah mengalir deras di kedua pipinya. Laki-laki dingin yang tak pernah menampakkan senyumnya selain pada istrinya, kini terlihat menangis karena permasalahan yang tengah dihadapinya.


Aldo yang mendengar ucapan Galih bukannya mengerti, ia menjadi semakin bingung.


"Tolong katakan dengan jelas, Galih. Biar aku bisa mengerti," ucap Aldo yang kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Melinda hamil. Dan dia mengaku jika itu adalah anakku, Aldo." Sahut Galih. Aldo yang mendengarnya seketika terkejut dan beranjak dari duduknya.


"APA?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2