Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 69 - Semakin Rumit


__ADS_3

AAI 69 - Semakin Rumit


Seorang wanita berjalan memasuki restoran. Di tangannya ada paperbag berwarna cokelat dan juga ponsel miliknya. Wajah wanita itu terlihat cemberut sambil kedua matanya menatap sekitarnya.


"Selamat datang, Bu." Sapa seorang pelayan wanita kepada wanita itu.


"Terimakasih, dimana Bapak?" Tanya wanita itu.


"Di kantor, Bu." Jawab pelayan tersebut dengan seutas senyum. Bersamaan dengan itu, datanglah kepala pelayan bernama Ramon menghampiri keduanya.


"E-eh, ada Bu Santi. Baru datang, Bu?" Sapa laki-laki berseragam putih itu. Raut wajahnya terlihat khawatir melihat kedatangan istri dari majikannya.


Santi Dewanto. Siang ini dia sengaja datang tanpa memberitahu sang suami karena kerinduannya. Ia sudah memasak untuk Agus dan ingin menikmati makan siang bersama.


"Iya, Ramon. Mau makan siang sama Bapak. Dimana dia?" Tanya Santi.


"Em, Pak Agus lagi ada tamu, Bu. Beliau sedang ada di ruang VVIP," ujar Ramon dengan detak jantungnya seakan sedang berlarian.


Alis mata Santi berkerut, setahu dia hari ini suaminya itu tidak memiliki janji temu dengan siapa-siapa.


'Ah, mungkin teman lama Mas Agus yang kebetulan datang kemari.' batin Santi.


"Baiklah, kalau begitu aku tunggu di kantornya saja." Ucap Santi seraya berjalan menuju ke arah lorong tempat kantor milik Agus berada. Ramon dan temannya pergi kembali pada tempatnya bekerja.


Saat Santi melintasi ruangan-ruangan VVIP, tak sengaja ekor matanya melirik ke dalam sebuah ruangan yang tak tertutup rapat. Kalinya berhenti seketika, tubuhnya bergetar saat ia mengenali postur tubuh seseorang yang berada dalam ruangan tersebut.


Deg

__ADS_1


Santi berbalik, ia berjalan pelan menuju pintu kayu ruangan tersebut. Kedua matanya terbelalak saat melihat suaminya yang berada di dalam ruangan itu dengan seorang wanita. Tanpa pikir panjang, Santi langsung membuka pintu itu dengan kerasnya.


"MAS AGUS! MBAK HESTI!"


Teriakan Santi yang menggema membuat kedua insan itu langsung saling melepaskan diri. Keduanya terkejut saat menyadari ada orang yang menyaksikan perbuatan keduanya.


"Sa-Santi?" Cicit Agus. Ia tidak berpikir jika istrinya itu akan mendatanginya hari ini. Apalagi kebersamaannya dengan Hesti seketika mematik kemarahan wanita itu.


"KALIAN BENAR-BENAR SUDAH GILA YA? KAMU ITU MASIH PUNYA ISTRI DAN ANAK, MAS. DAN KAU, MBAK. KAU ITU PEREMPUAN, TAPI KENAPA KAU TEGA MENYAKITI HATU SESAMA PEREMPUAN? HATIMU DIMANA, MBAK HESTI?" Pekik Santi tanpa menghiraukan sudah banyak orang yang berada di luar ruangan yang memperhatikan ia, Agus dan juga Hesti.


"Jangan teriak-teriak, Santi. Malu dilihat banyak orang," ucap Agus. Mana mungkin ia tidak malu, pemilik dari restoran ternama dipergoki oleh sang istri sedang bercumbu dengan wanita lain di restorannya sendiri. Sedangkan Hesti berdiri di belakang tubuh Agus, menghindari kamera milik para pengunjung yang terarah kepadanya.


"MALU? KALIAN MASIH PUNYA MALU TERNYATA, HAH? BIAR SAJA SEMUA ORANG TAHU KELAKUAN BEJAT KALIAN, AKU TIDAK PEDULI." desis Santi dengan napasnya yang memburu. Amarah dalam hatinya seakan ingin menghanguskan dua orang yang ada di hadapannya itu.


Penghianatan yang dilakukan oleh sang suami membuat Santi tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia begitu sakit hati melihat bagaimana intimnya sang suami dengan wanita lain yang tak lain adalah mantan kekasihnya dahulu. Santi merasa jika cintanya dibalas dengan sebuah penghianatan besar.


Santi sampai melongo saat mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Hesti. Ucapannya seakan tak merasa bersalah sedikitpun meski sudah melukai hatinya Santi karena telah menjalin kasih dengan suaminya.


"Baik-baik katamu, Mbak? Apa kau tahu apa yang saat ini kurasakan, Mbak?" Bentak Santi seraya memukul-mukul dadanya sendiri dengan keras. Dari sudut matanya pun kini mulai berlinangan air mata.


"Maafkan aku, Santi. Aku khilaf," kini giliran Agus yang bicara. Ia menundukkan kepalanya merasa bersalah karena telah menghianati cinta sang istri meski dalam hati memang ia masih memiliki rasa pada Hesti. Agus merasa jika ia sama-sama mencintai Hesti dan Santi.


Ha ha ha


Santi tertawa lepas ketika mendengar ucapan dari Agus. Ia sampai bertepuk tangan, tidak menyangka jika laki-laki yang selama ini ia cintai ternyata masih belum bisa move on dari cinta lamanya.


"Khilaf, Mas? Kau bilang khilaf? Astaga, aku tidak menyangka jika ternyata tingkah laku anakku adalah cerminan dari papanya. Tanpa kusadari genmu lah yang paling menonjol di diri Melinda. Penghianatan yang dilakukan oleh anakku ternyata aku juga mengalaminya. Kumaki Melinda, kubentak dia, tapi ternyata kamulah sumber dari semuanya, Mas. Aku kira cinta lamamu telah berakhir semenjak kau menjadikan aku sebagai istrimu. Tapi ternyata? Kau hanya menjadikan aku pendamping hidupmu tapi yang ada di hatimu masihlah dia, wanita yang pernah menjadi cinta pertamamu." Pekik Santi dengan menunjuk ke arah Hesti. Kilatan cahaya lampu kamera terus terlihat menyorot ke arah ketiganya. Semua orang yang menyaksikan langsung seketika terkejut. Mereka saling berbisik hingga suaranya seperti lebah yang tengah bersama dengan sekelompok nya.

__ADS_1


"Kumohon, Santi. Jangan begini, maafkan aku ya? Aku benar-benar khilaf," ujar Agus seraya melangkah mendekat ke arah Santi. Namun dengan cepat Santi menghentikan langkah Agus dengan kode tangannya.


"Stop, Mas. Jangan mendekatiku, aku jijik denganmu." Desis Santi. Ia bukanlah wanita penyabar seperti wanita pada umumnya. Pasalnya ia tentu mengetahui perjalanan cinta Hesti dan Agus karena memang ia adalah adik tingkat Agus dan Hesti semasa sekolah. Kisah cinta keduanya begitu populer hingga membuat semua siswa siswi iri.


Agus pun menghentikan langkahnya. Ini pertama kalinya Santi semarah itu. Padahal dulu ia juga pernah berselingkuh dengan wanita lain tapi istrinya tidak semenakutkan ini. Nyali Agus kian menciut kala mendengar ucapan dari sang istri.


"Dengar, kalian berdua. Aku tidak akan membiarkan ini begitu saja. Aku akan menyelesaikan semuanya di hadapan anak-anak nanti," ujar Santi dengan menunjuk ke arah Agus dan juga Hesti. Santi bukanlah seorang bidadari yang memiliki kesabaran hati seluas samudera. Oleh karena itu ia sudah tidak kuat lagi jika harus melanjutkan hidup bersama sang suami.


Hesti yang mendengar itu langsung membeku di tempatnya. Ia begitu ketakutan mendengar kata anak-anak. Itu artinya Galih dan Gita akan mengetahui semuanya. Dan Hesti tidak ingin hubungannya dengan anaknya semakin renggang.


"Kumohon, Santi. Jangan libatkan anak-anak dalam masalah ini. Aku janji, aku akan menjauhi Agus dan tidak akan berhubungan lagi dengannya." Bujuk Hesti. Karena Santi yang tak kunjung memberi jawaban membuat Hesti berlutut di kaki Santi. Namun bukannya mereda, justru itu semakin memantik amarah sang istri pemilik restoran.


"Meski kau mencium kaki ku sekalipun, aku tidak akan mengabulkannya. Kau tahu kenapa, Mbak? Karena kau adalah orang yang paling kubenci sejak dulu." Desis Santi dengan tatapan matanya penuh amarah pada Hesti. Baik Agus dan Hesti terkejut, keduanya tidak menyangka jika Santi memiliki kebencian yang begitu besar pada Hesti.


"Bersiaplah, kalian. Aku akan menghubungi semuanya dan berkumpul di rumahmu, Mbak. Kita akan selesaikan suanya di sana." Setelah mengatakan itu, Santi langsung pergi meninggalkan tempat itu. Ia merasa terkecil jika berlama-lama dengan kedua manusia tidak punya malu itu.


"Bagaimana ini, Gus? Maaalahku dengan Kartika belum selesai malah ketambahan dengan masalah ini. Kita harus bagaimana, hah? Jawab, Agus." Tanya Hesti seraya menggoyangkan tubuh Agus yang masih terlihat seperti patung.


'Apa yang telah aku lakukan? Bagaimana kalau Santi sungguh-sungguh dengan ucapannya? Bagaimana jika ia melayangkan gugatan cerai padaku? Bisa-bisa aku keluar dari rumah tanpa membawa apapun,' batin Agus. Bukannya khawatir dengan hubungannya dengan sang istri, laki-laki itu justru takut dengan semua harta yang dimilikinya. Ia takut jika ia akan berakhir menjadi gelandangan di luaran sana. Takkan ada tempat untuk seorang penghianat selain di kolong jembatan.


"AGUS? KAU MENDENGARKU, HAH?" teriak Hesti tepat di telinga Agus.


"Ya, aku mendengarmu." Sahut Agus masih dengan pandangan matanya yang kosong. Hesti yang menyadari itu langsung mencengkeram kuat kedua bahu Agus. Untung dia menggunakan high heels nya, sehingga membuatnya bisa setinggi Agus.


"Dengarkan aku, Agus. Kita harus mencari cara agar Santi tidak akan bisa membuka mulut dihadapan anak-anak. Kau tidak ingin sampai semuanya terbongkar, kan? Maka kita harus melakukan sesuatu, oke?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2