Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 28 Itu anakku?


__ADS_3

AAI 28 - Itu anakku?


Tangan Melinda terlihat bergetar saat memegang alat tes kehamilan pertamanya. Pandangannya terlihat kosong meski kedua matanya tertuju pada benda kecil nan panjang itu.


"A-aku hamil?" Gumam Melinda.


Ia begitu tak menyangka jika ia benar-benar hamil saat ini. Padahal ia sudah mengkonsumsi obat pencegah kehamilan setiap ia berhubungan dengan Dimas. Melinda berusaha mengingat-ingat, kapan ia pernah lupa tidak mengkonsumsi obat itu. Hingga saat ingatannya kembali pada saat pesta ulang tahun pernikahan kedua orang tua Dimas, ia kembali melakukan itu saat berada di gudang.


"Sial, setelah sampai apartemen aku lupa tidak meminum obat itu. An Jing, bagaimana ini? Apa aku langsung meminta Dimas untuk tanggung jawab? Tapi bagaimana dengan tanggapan kedua orang tuanya? Ibunya terlihat sangat membenciku." Ucap Melinda dengan dirinya sendiri. Ia bergulat dengan pikirannya, mencari solusi terbaik untuk jalan keluar yang akan ia ambil.


Kartika sejak awal kedekatan Dimas dan Melinda sudah melemparkan ultimatum kepada putranya. Ia sangat tahu bagaimana kehidupan malam yang dijalani oleh Melinda, oleh karena itu wanita itu menentang keras jika Dimas ingin menjalin hubungan serius dengan Melinda. Melinda sendiri juga bingung, bagaimana ibu Dimas tahu segalanya tentangnya? Bahkan kedua orang tuanya saja tidak mengetahui sebanyak itu. Kedua orang tua Melinda hanya tahu putrinya itu sibuk membantu di cabang restoran yang mereka miliki, tanpa tahu bagaimana liarnya Melinda jika malam sudah menampakkan dirinya.


"Apa aku bilang ke Tante Hesti kalau anak ini anak Galih? Tapi bagaimana kalau Galih menolak? Lalu bagaimana dengan Dimas? Aku masih belum bisa untuk lepas darinya," Melinda begitu bimbang memikirkan beberapa pertanyaan yang kini memenuhi otaknya.


"Tidak-tidak. Ini anak Dimas, walau bagaimanapun ia juga harus tahu kalau ini darah dagingnya." Perempuan itupun mantap untuk memberitahukan perihal kehamilannya itu kepada Dimas, ayah dari jabang bayi yang kini menempel di dinding rahimnya.


"Halo?" Suara Dimas langsung terdengar setelah beberapa saat Melinda menelepon nomornya.


"Kamu dimana, Dim?" Tanya Melinda.


"Lagi di jalan, mau ke kantor. Ada apa?" Jawab Dimas.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu sekarang. Bisa kau mampir sebentar ke apartemenku?" Tanya Melinda. Ia sangat berharap agar laki-laki itu bersedia untuk datang pagi ini demi dirinya.


"Baiklah, tapi aku tak bisa lama-lama. Clien sudah menungguku di kantor," jawab Dimas yang seketika membuat Melinda merasa lega. Ia tersenyum tipis mendengar suara itu.


"Ya, aku mengerti."

__ADS_1


Seperti yang dikatakan oleh Dimas di sambungan telepon tadi, ia pun saat ini sudah tiba di apartemen milik Melinda dan duduk di sofa ruang tamu. Ditangannya ada ponsel dan ia terlihat sangat sibuk membalas beberapa pesan yang masuk ke dalamnya.


"Dim?" Panggil Melinda seraya mendekat ke arah laki-laki itu.


"Hm?" sahut Dimas tanpa melihat ke arah Melinda. Kedua matanya begitu fokus pada layar ponselnya.


Melinda menghela napas lalu meletakkan benda pipih tersebut di atas meja yang ada di depan duduknya Dimas.


"Ini, lihatlah." Ucap Melinda saat ia meletakkan hasil testpack miliknya. Dimas yang tadinya hanya melirik, kini berubah terbelalak saat melihat dua garis merah yang terpampang nyata di benda pipih tersebut.


Dimas cukup terkejut lalu melemparkan tatapan matanya kepada Melinda yang masih berdiri diseberang meja. Melinda mengeryitkan dahi saat melihat tatapan datar dari Dimas.


"Apa maksudnya ini?" Tanya Dimas yang kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap ke arah Melinda yang berdiri.


"Apa kau tidak bisa melihatnya? Aku hamil, Dim. Aku hamil sekarang dan aku ingin kamu tanggung jawab padaku," ucap Melinda dengan nada bicaranya yang berubah serius. Namun tanggapan dari Dimas justru berbeda. Laki-laki itu langsung terbahak-bahak seraya bangun dari tempat duduknya.


"Apa kau bilang, Mel? Kau ingin aku tanggung jawab padamu? Tanggung jawab apa maksud mu? Kau ingin aku menikahi mu, hah?" Tanya Dimas dengan diakhiri oleh gelengan kepalanya.


Tubuh Melinda berubah membeku. Ia tak menyangka mendapat reaksi seperti ini dari Dimas mengenai kehamilannya.


"Tentu saja, Dim. Ini anak kamu, darah dagingmu." Ucap Melinda meyakinkan Dimas. Namun lagi-lagi pria itu tertawa. Melinda semakin tidak mengerti akan perlakuan yang ditunjukkan oleh Dimas padanya.


"Kenapa kamu tertawa, Dim? Kamu pikir aku bercanda, hah? Aku serius, Dimas. Aku serius kalau aku hamil," ucap Melinda dengan nadanya yang naik satu oktaf dari yang tadi.


Dimas berjalan menghampiri Melinda dan berdiri tepat di depannya. Tatapan matanya tertuju pada bola mata indah milik wanita cantik itu.


"Apa kau yakin, kalau itu anakku?" Desis Dimas tepat di depan wajah Melinda.

__ADS_1


Deg


Jantung Melinda seakan berhenti berdetak saat mendengar kalimat yang barusan keluar dari mulut laki-laki itu. Kedua mata terbelalak, tak menyangka jika Dimas meragukan darah dagingnya sendiri tersebut.


"Apa maksud mu, Dimas? Kalau bukan kau siapa lagi, hah? Aku hanya tidur denganmu, dan kau tahu itu." Ucap Melinda dengan napasnya yang kian memburu. Ia merasa tidak punya harga diri lagi saat mendengar keraguan Dimas akan jabang bayi yang tengah di kandungnya itu.


"Ingat, Mel. Aku bukanlah yang pertama bagimu. Bisa saja kamu melakukannya dengan orang lain saat kau masih menjalin hubungan denganku, iya kan?" Darah Melinda semakin mendidih kala mendengar ucapan dari Dimas. Kedua tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya. Ia tidak mengira jika Dimas akan sebe rengsek itu padanya.


"Jangan menuduhku, Dim." Ancam Melinda dengan menatap tajam laki-laki yang telah menjalin hubungan dengannya selama beberapa tahun ini. Tapi Dimas tidak bergeming, ia masih setia dengan pandangannya yang tak lepas dari Melinda.


"Bukannya sebulan yang lalu kau bermalam dengan sepupuku di hotel Praja?" Senyum seringai Dimas muncul bersamaan dengan wajah pias Melinda.


'Bagaimana dia bisa tahu?" Batin Melinda bertanya-tanya bagaimana Dimas mengetahui hal itu. Padahal saat itu Dimas tengah pergi keluar kota untuk pekerjaannya.


"Apa kau pikir aku tidak tahu, hah? Jangan kau pikir aku laki-laki bodoh yang bisa kau tipu, Melinda. Ah iya, aku sampai lupa. Bukankah seminggu setelah itu kau juga berpesta dengan teman-teman malammu itu di tempat Gita? Disana juga ada laki-laki nya kan? Dan siapa itu Soni Rajasa? Apa kau kenal?" Rentetan tembakan pertanyaan dari mulut Dimas mampu membuat tenggorokan Melinda terasa seperti tercekat. Ia tak menyangka jika semua yang dilakukannya di ketahui oleh Dimas.


'Bagaimana? Bagaimana dia bisa tahu segalanya? Tapi aku yakin kalau ini anak Dimas. Apa yang harus aku lakukan agar bisa meyakinkan dirinya jika ini benar-benar benihnya?' tanya Melinda dalam hati.


Kini ia mulai gelisah, menjadi istri dari Dimas seperti akan hanya menjadi impiannya saja. Dimas jelas-jelas meragukan darah dagingnya sendiri. Tapi dia tidak mau menyerah begitu saja, ia akan berusaha sebisa mungkin untuk menjelaskan kepada Dimas jika ini benar-benar anaknya.


"Aku tidak melakukannya dengan Galih maupun Soni, Dim. Aku hanya melakukannya denganmu saja. Apa kau tak percaya padaku?" Melinda berusaha untuk meyakinkan Dimas. Namun sepertinya Dimas tidak bergeming. Tak ada sedikitpun pancaran kebahagiaan di matanya mengenai kabar kehamilan itu. Yang ada justru tatapan dingin, tak tersentuh seperti saat sebelum mengenalnya.


"Siapa yang akan percaya mengenai semua ucapanmu itu, Mel? Apalagi kamu dulu yang pertama kali mendekatiku dan melemparkan tubuhmu sendiri padaku,"


Plak


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2