Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 68 - Kenyataan yang terbongkar


__ADS_3

AAI 68 - Kenyataan yang terbongkar


Karena kepalang malu dan ketakutan akan ancaman sang adik, akhirnya Hesti memutuskan untuk pergi dari rumah tersebut. Ia pergi menggunakan taksi dengan wajahnya yang ditekuk.


Sedangkan Dimas masih bersama sang ibu di dalam rumah. Laki-laki itu terus mendesak sang ibu agar mengatakan semua yang telah terjadi pada dirinya dan Melinda.


"Jangan bohong, Bu. A


Katakan atau aku akan meminta Ayah untuk menyelidiki semuanya. Ibu tahu sendiri kan bagaimana Ayah?" Tanya Dimas mendesak. Kartika semakin bingung, pasalnya ia tahu bagaimana watak sang suami. Laki-laki itu tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban yang jelas.


"Tidak, Dimas. Ibu tidak tahu apa yang sedang kau katakan saat ini." Kilah Kartika. Ia masih belum mengakui kesalahannya kepada putranya. Lagipula ia juga tidak ingin sampai Dimas kembali bersama Melinda, wanita yang sangat dibencinya.


"Jangan salahkan aku jika aku akan kembali menyelidiki kejadian itu, Bu." Ujar Dimas. Laki-laki itu berbalik hendak pergi meninggalkan rumah untuk mencari keberadaan sang ayah.


Kartika mengeratkan genggaman tangannya hingga buku-buku jarinya berubah memutih. Ia tidak tahan jika berada di kondisi terpojok seperti ini.


'Kurang a jar. Aku tidak punya pilihan lain selain mengatakan semuanya,' batin Kartika. Wanita itu menarik napasnya dalam-dalam sebelum mengungkapkan semuanya.


"YA, MEMANG AKU YANG TELAH MERENCANAKAN SEMUANYA, DIMAS. AKU YANG MENJEBAK MELINDA LIMA TAHUN LALU BERSAMA SALAH SATU CLIEN AYAHMU." teriak Kartika. Pada akhirnya ia mengungkap sendiri semua perbuatannya kepada sang anak. Dimas yang mendengarnya seketika terkejut dan hampir limbung kalau tidak berpegangan pada dinding rumah. Ia tidak percaya dengan ucapan yang baru saja ia dengar dari mulut ibu kandungnya itu. Laki-laki itu berbalik, lalu perlahan menghampiri sang ibu dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


"A-apa yang ibu katakan? Hah?" Dengan pandangan kosong Dimas menanyakan hal tersebut. Kilasan balik tentang peristiwa menyakitkan yang pernah ia lalui kembali melintas di benaknya.


''Tidak, Dimas. A-aku tidak tahu kenapa aku bisa berada di sini. Ku mohon, percayalah padaku, Dimas. Aku di jebak,'' ucap Melinda dengan berderai air mata. Saat itu dirinya tengah berada di bawah selimut tebal hotel dengan tubuhnya yang tak mengenakan pakaian sama sekali.


''Ternyata apa yang dikatakan ibuku benar tentangmu, Mel. Kamu bukan wanita baik-baik,'' tuding Dimas pada Melinda. Gadis itu semakin tergugu karena mendengar ucapan Dimas.


''Tidak, Dimas. Kumohon, percayalah padaku. Aku tidak tahu kenapa aku bisa berada di sini. Percayalah padaku, hu hu hu,'' ujar Melinda dengan suara yang sangat menggetarkan hati. Ia adalah korban dari keserakahan ibu Dimas yang ingin memisahkan dirinya dari anaknya sendiri.


''Mulai hari ini kita putus, Mel. Kau bukan pacarku lagi." setelah mengatakan itu Dimas pergi meninggalkan kamar dengan hati yang hancur. Begitupun Melinda, gadis itu meraung meluapkan segala kesedihan hatinya karena hubungannya telah berakhir dengan sang kekasih.


"APA DAYAKU, DIMAS. AKU SANGAT MEMBENCI MELINDA DAN JUGA KELUARGANYA. DAN AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU MENJADIKAN WANITA ITU SEBAGAI ISTRIMU," Bentak Kartika pada Dimas. Dan suara keras dari Kartika menyadarkan Dimas dari lamunannya.


Dimas dan Melinda sepasang kekasih. Keduanya saling mencintai hingga sebuah tragedi dimana Dimas memergoki Melinda bersama seorang pria tak dikenal di dalam sebuah kamar hotel. Itulah penyebab kenapa Dimas menjadi laki-laki breng sek seperti saat ini. Ia melampiaskan semua pada wanita-wanita diluar sana. Rasa benci terhadap Melinda ia lupakan dengan mengencani banyak wanita malam. Namun meski ia benci pada Melinda, tapi ia masih memiliki rasa yang tertinggal di dalam lubuk hatinya. Ia tidak bisa melupakan Melinda, oleh karena itu ia selalu kembali padanya.


"Bukankah saat pertama aku mengenalkan Melinda pada ibu, ibu sangat menyukainya kan? Kenapa ibu berubah? Ibu tahu sendiri jika aku sangat mencintainya," ujar Dimas. Tubuh Laki-laki itu merosot terduduk di lantai. Ia sangat terpukul dengan semua yang telah terjadi.


"Ya, sebelum ibu tahu jika dia anak dari Agus Dewanto, Dimas. Dan aku tidak ingin memiliki besan laki-laki yang pernah melukai hatiku. Aku tidak Sudi,'' pekik Kartika pada Dimas. Ingatan penolakan dari Agus saat mereka masih masa sekolah membuat Kartika merasakan sakit hati kembali.


''I-ibu kenal sama ayahnya Melinda?'' tanya Dimas. Ia terkejut ketika mendengar sang ibu kenal dengan ayahnya Melinda.

__ADS_1


''Ya, karena ayah Melinda adalah mantan kekasih Bibimu." semakin terkejut saja Dimas saat mendengar kenyataan itu. Ia tidak mengira jika kehidupan orang tuanya sangat kompleks dan saling berkaitan.


Disaat Dimas masih adu mulut dengan Kartika, lain halnya dengan Hesti. Wanita itu pergi menuju restoran milik keluarga Melinda. Ia sudah menelepon Agus dan memintanya untuk bertemu di sana.


''Ada apa sebenarnya, Hes?'' tanya Agus saat ia tiba di ruang VVIP tempat keduanya bertemu. Apalagi saat mendengar suara Hesti yang bergetar di telepon membuat Agus khawatir.


"Bagaimana ini, Agus? Bagaimana kalau Kartika akan mengungkap semuanya?'' tanya Hesti dengan berderai air mata. Ia takut jika semua terbongkar, baik Galih dan Gita pasti tidak akan bisa memaafkan dirinya. Apalagi saat ini hubungannya dengan Galih masih renggang.


"Ssttt, jangan menangis, Hesti. Tenanglah, semua akan baik-baik saja.'' Laki-laki itu langsung memeluk tubuh Hesti untuk menenangkan wanitanya itu. Perasaannya yang begitu dalam terhadap Hesti membuatnya tak bisa melupakan Hesti meski wanita itu telah menikah setelah keduanya berpisah. Dan karena suatu hal, keduanya kembali merajut cinta meski sama-sama sudah memiliki keluarga.


''Aku takut, Gus. Aku takut kalau anak-anak ku akan meninggalkanku sendirian. Bagaimana aku bisa hidup kalau anak-anak ku membenciku?'' adu Hesti seraya memeluk tubuh kekar Agus. Ia meluapkan tangis yang selama ini ia tahan. Dan dalam dekapan laki-laki itulah hesti bisa menjadi dirinya sendiri.


''Jangan takut, Hesti. Ada aku yang akan menjadi tameng untukmu. Kamu tahu kan, bagaimana aku mencintaimu, hm?'' dengan kecupan hangat di pucuk kepala Hesti, Agus kembali mengucapkan kata-kata yang bisa membuat Hesti merasa lebih tenang. Kedua insan itu hanyut dalam pelukan itu hingga keduanya menginginkan yang lebih. Agus menuntun Hesti untuk duduk di pangkuannya. Lalu keduanya mulai bercumbu, menyalurkan rasa cinta yang mereka rasakan selama ini. Semakin dekat, semakin intim, hingga tanpa keduanya sadari ada sepasang mata yang menatap tajam kearah keduanya.


brak


Seorang wanita masuk ke dalam ruang VVIP itu dan menatap nyalang ke arah Hesti dan Agus yang terkejut mendengar suara pintu yang dibanting.


''MAS AGUS! MBAK HESTI!''

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2