Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 59 - Sidang


__ADS_3

AAI 59 - Sidang


Hari terus berlalu. Panggilan pertama dari pengadilan agama untuk Galih tiba. Tanpa ditemani oleh siapapun Galih mendatangi kantor pengadilan. Kedua matanya melihat sekitar, mencari keberadaan sang pujaan hati. Ia sangat berharap bisa bertemu dengan Indah setelah sekian lama ia tidak bisa bertemu.


'Dimana kamu, Indah? Kenapa aku tidak bisa menemukanmu,' batin Galih seraya melihat setiap orang yang ada di sana.


"Pak Galih?" Suara seorang laki-laki menganggu rungu Galih. Laki-laki itu menoleh, ia hanya mengangguk kecil saat pengacara yang ia sewa itu meminta dirinya untuk segera masuk ke dalam ruang sidang.


Sidang berlangsung selama beberapa jam, hingga saat semua orang keluar tak ada raut kebahagiaan di wajah mereka. Begitupun Galih, laki-laki itu terlihat semakin murung saat ia menyadari jika tak ada satupun yang hadir dari pihak Indah selain pengacaranya.


Harapan Galih semakin menipis saat sang pengacara Indah mengatakan dengan jelas jika kliennya tidak ingin lagi melanjutkan rumah tangga dengan Galih. Bahkan Indah tidak mengharapkan apapun selain perpisahannya dengan Galih. Hati Galih terasa sangat terluka mendengarnya. Sakitnya melebihi rasanya diambang Kematian.


"Maaf, Pak Galih."


Saat Galih dan pengacaranya hendak meninggalkan area pengadilan, pengacara dari pihak Indah menghampiri mereka.


"Ya?"


"Ini ada titipan dari Bu Indah," ucap pengacara itu seraya menyodorkan sebuah amplop putih pada Galih. Setelah menyerahkan surat tersebut, pengacara itu langsung pergi dari sana.


"Kalau begitu, saya permisi dulu Pak. Sampai jumpa di persidangan selanjutnya," ujar pengacara Galih kepadanya. Kini tinggallah Galih seorang yang masih berada di area parkir itu. Kedua matanya masih fokus menatap amplop putih yang kini berada dalam genggamannya.

__ADS_1


Kemudian Galih meninggalkan tempat itu. Ia memilih pulang ke apartemennya meski sebenarnya tadi pagi ia akan pulang ke rumah ibunya. Alasan yang membuatnya ingin pulang ke rumah sang ibu dikarenakan Hesti tengah sakit dan berkata merindukan Galih. Namun karena mendapatkan surat cinta dari Indah membuatnya urung pergi ke rumah ibunya.


Tanpa melepas pakaian formalnya terlebih dahulu, Galih langsung membuka surat dari Indah. Dengan jantung yang seakan ingin melompat dari tempatnya, Galih merasa jiwanya bergejolak saat melihat kembali tulisan tangan dari wanita yang dicintainya itu.


...Dear : Mas Galih,...


Assalamualaikum, Mas.


Bagaimana kabarmu? Aku berharap kamu baik-baik saja, karena aku pun juga merasa begitu. Sebelumnya aku minta maaf karena hanya dengan ini aku bisa berbicara denganmu tanpa diketahui oleh ayah dan juga adikku. Dan aku minta maaf padamu atas perlakuan ayah dan Irsyad selama ini. Mereka begitu marah dan kecewa dengan semua yang terjadi kepada kita. Aku harap Mas bisa memakluminya.


Lewat surat ini, aku akan mengatakan semua yang ada di dalam hatiku, Mas. Yang pertama, Maaf. Aku minta maaf karena selama menjadi istrimu aku tidak pernah jujur dengan semua yang terjadi di rumahmu selama kamu tidak ada. Memang benar, selama ini ibumu selalu menyakiti ku dengan ucapannya. Tapi bagiku itu tidak apa-apa, karena aku percaya padamu. Aku hanya ingin mempercayai suamiku dan selalu begitu.


Setetes air mata mengalir dari sudut mata Galih. Ia tidak menyangka jika pengorbanan Indah selama ini tak ia ketahui. Yang ia ketahui istrinya itu hanya berdiam di rumah, membantu ibunya membersihkan rumah. Tak ada gelagat dari Indah yang menunjukkan wanita itu tersiksa berada di rumahnya.


Mengenai ibu, akhirnya aku bisa memahaminya setelah sekian lama aku menenangkan diri. Aku paham akan ketakutan ibumu yang tak kunjung memiliki seorang cucu, meski cara yang dilakukan olehnya kepada kita itu salah. Aku tahu, tapi ketidakjujuran mu itu membuat semuanya menjadi memburuk, Mas. Jikalau memang benar kamu dijebak ibumu, seharusnya kamu jujur padaku agar kita bisa mencari jalan keluar sama-sama. Tapi kamu memilih bungkam dan mengikuti semua permainan yang diciptakan oleh ibumu.


"Maafkan aku, Indah. Maafkan aku," menangis. Lagi-lagi Galih menangisi wanita yang hingga saat ini masih merajai hatinya. Cinta pertama dan terakhir baginya. Tak ada satupun wanita yang bisa menggeser nama indah di hati dan jiwanya. Semua rasa masih sama, bahkan semakin besar dengan peristiwa semua ini.


Yang kedua, aku ingin mengucapkan terimakasih. Terimakasih karena selama beberapa tahun ini kamu sudah menjadikan aku sebagai seorang wanita yang sangat beruntung karena bisa memiliki cinta dan ragamu. Terimakasih karena sudah mencintaiku sebesar aku mencintaimu, bahkan mungkin bisa lebih. Terimakasih, Mas. Aku ingin meminta satu hal darimu, Mas. Jangan tinggalkan ibumu. Gita sudah menceritakan semuanya padaku. Pahami dia, semua yang dia lakukan semata-mata karena dirimu juga. Kamu ingat kan, mas? Bagaimana awal kita meminta restu pada ibumu? Bagaimana kerasnya perjuangan kita demi mendapatkannya? Ibumu sosok wanita yang keras, sama seperti dirimu. Setelah tinggal bersama dengannya hampir empat tahun ini, membuatku bisa mengetahui segala sifat dan kelakuannya. Sifat ibu yang ambisius dan keras kepala mengantarkan kita berada di titik ini. Aku mohon jangan membenci ibu, dan pulanglah. Aku yakin dia pasti merindukanmu.


Sudut bibir Galih terangkat. Inilah salah satu yang ia sukai dari Indah. Wanita itu sangat penyabar dan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Namun senyum tipis itu tidak bertahan lama ketika ia kembali teringat dengan nasib pernikahannya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan kita, Indah? Apakah sudah tidak bisa kita perbaiki? Apa kamu bisa hidup tanpa ku? Aku masih mencintaimu," gumam Galih seraya mengelus kertas bertinta hitam itu. Karena tulisan Indah masih belum selesai, membuatnya kembali memfokuskan diri pada surat tersebut.


*Yang terakhir, aku mohon penuhi kewajiban mu, Mas. Kau sudah menikahinya, itu artinya kau juga harus memperhatikan dan menjaganya. Penuhi kewajiban mu layaknya seperti seorang suami. Meski merasa berat, tapi aku harus ikhlas melepasmu menjadi milik orang lain. Walau awalnya itu bukan keinginanmu, tapi pada akhirnya kamu menjadikannya sebagai istrimu, Mas. Cintai dia, Mas. Seperti apa yang diinginkan oleh ibumu.


Jalan kita sekarang sudah berbeda, Mas. Jangan mempersulit semuanya. Relakan dan terima semua takdir yang telah terjadi kepada kita. Aku hanya berharap kita bisa melupakan semua dan saling memaafkan. Jaga dirimu baik-baik, semoga kita bisa bertemu lagi sebagai seorang teman.


...from : Indah* ...


tes


tes


Tubuh kekar Galih luruh di lantai. Ia menangis, menyesali semua yang terjadi kepadanya. Takdir begitu tega mempermainkan dia dan juga istrinya. Seakan tak ada hari esok, Galih meluapkan emosi yang menguasai dirinya hingga membuatnya seperti orang gila. Menangis, meraung, menyalahkan takdir Tuhan yang tak berpihak kepadanya. Pernikahan yang selalu ia jaga nyatanya hancur di tangan ibunya sendiri.


"Untuk apa kau jadikan aku manusia seperti ini, Tuhan? Ambillah nyawaku. Tak ada lagi gunanya aku hidup jika tak bisa bersanding dengan istriku. Kenapa, Tuhan? KENAPA?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


*Ikuti terus kisah ini ya gaes... Nanti di akhir cerita aku akan mengadakan giveaway buat kalian yang beruntung*..


*Dukung terus author dengan like, comment, dan subscribe ya* 😘 *aku akan memantau terus..

__ADS_1


Jadi tinggalkan jejak ya, kali aja kamu yang nanti akan beruntung mendapat giveaway dariku* 😉


__ADS_2