
AAI 95 - Rumah Sakit
Di dalam ruangan, Galih membolak-balik tumpukan berkas-berkas yang ada di rak bukunya. Ia begitu kebingungan mencari keberadaan laporan yang diinginkannya.
"Dimana aku menaruhnya? Bukankah kemarin lusa aku taruh di laci ini?" Gumam Galih seraya melihat kearah laci dimana ia menyimpan laporan penting.
Beberapa waktu kemudian ia menepuk jidatnya kala ingatannya kembali. Ia pun melihat jarum jam yang saat ini menunjukkan pukul sebelas siang. Senyuman tipis tercipta ketika ia bisa mendapatkan keuntungan ganda saat mengambil laporan itu dari rumah.
"Ya Allah, kan aku membawanya pulang kemarin. Pasti ketinggalan di meja kamar. Huh, baiklah. Aku akan pulang sekalian makan siang di rumah sama anak istri." Gumam Galih seraya mengambil dompet serta kunci mobilnya. Setelah itu, Galih bergegas meninggalkan tempat dimana ia bekerja saat ini. Tak lupa juga ia memberi tahu asistennya kalau ia akan datang setelah istirahat siang nanti.
Sedangkan Indah yang di rumah hanya bisa menahan pusing yang melandanya. Ia baru saja selesai mengetes urinnya untuk bisa mengetahui apakah yang dipikirkan olehmya tadi benar atau tidak.
"Berikan aku kekuatan, Ya Allah." Gumam Indah seraya terus berpegangan pada pinggiran meja wastafel yang ada di sebelahnya. Ia teringat saat hamil Vano dan Nino dulu. Tubuhnya cenderung kuat dan bisa bergerak bebas meski ia mengandung anak kembar.
"Apa jangan-jangan ini penyakit anemia ku kambuh? Haih, entahlah. Hanya Tuhan yang tahu," gumam Indah. Setelah menunggu hampir lima menit, Indah mengambil alat tes itu. Dengan tangan gemetar, Indah melihat dengan seksama hasil dari apa yang ia lakukan tadi.
"I-ini? Benarkah? Alhamdulillah, Ya Allah. Engkau kabulkan keinginan hambamu ini," ucap Indah seraya mengadahkan kedua tangannya kepada yang maha kuasa. Ia sangat bahagia dengan kabar ini. Kebahagiaan nya bertambah lagi, dan itu mampu membuat Indah menitikkan air mata.
"Kalau begitu, aku akan periksa ke dokter sekarang. Tapi bagaimana dengan Mas Galih? Apa aku harus memintanya untuk menemani ke rumah sakit? Jangan-jangan. Aku akan memberinya kejutan nanti saat dia pulang kerja." Ucap Indah dengan senyum merekah nya. Namun saat ia hendak berdiri, kepalanya kembali terasa sangat berat dan berputar-putar. Indah tidak menyerah, wanita itu berpegangan pada dinding dan berjalan pelan keluar dari kamar mandi. Tapi, alat tes kehamilan itu justru terjatuh hingga membuat Indah tidak bisa mengambilnya. Karena jika ia menunduk sedikit saja, kepalanya akan bertambah pusing.
"Pusing sekali," keluh Indah yang tidak tahan dengan kepalanya. Belum juga ia sampai pada ranjang, tubuh Indah terjatuh dan kehilangan kesadarannya. Tubuh Indah tergeletak diatas karpet bulu yang ada di sana.
Bruk
Galih memarkirkan mobil nya di halaman rumah. Ia membuka pintu dan menatap sekitar. Tak ada tanda-tanda kehidupan disana. Laki-laki itu mengeryitkan dahi ketika merasa kalau rumahnya sangat sepi. Padahal biasanya sang istri akan duduk di sofa dengan laptop serta bukunya. Ya, Galih membebaskan Indah untuk meneruskan hobinya. Hingga kini Indah masih aktif di dunia kepenulisan dan buku solo-nya kian bertambah.
"Yang? Sayang?" Panggil Galih. Tak ada sahutan dari sembarang arah.
__ADS_1
"Indah? Indah?"
"Dimana Indah? Apa jangan-jangan menjemput Vano dan Nino? Tapi kan masih jam sebelas. Bukannya hari ini mereka pulang siang ya karena ada les privat? Coba ku lihat di atas," gumam Galih seraya mulai berjalan menuju ke kamarnya. Perlahan laki-laki itu melangkah seraya memasang telinganya lebar-lebar kali saja ia mendengar suara sang istri.
Cklek
Galih melangkah masu. Ia menatap sekitar, kemudian pandangannya terkunci pada tubuh sang istri yang tengah tak sadarkan diri di atas karpet.
"INDAH!"
Galih berlarian menghampiri istrinya. Ia sangat terkejut melihat wajah pucat Indah saat ini. Berulangkali Galih manggil dan menepuk-nepuk kedua pipi Indah namun wanita itu tak kunjung membuka matanya. Galih kebingungan hingga ia tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Beberapa saat kemudian ia pun teringat dengan rumah sakit.
"Bertahanlah, Sayang. Aku akan membawamu ke rumah sakit." Ucap Galih. Kemudian laki-laki itu langsung membopong tubuh sang istri keluar dari kamar. Dengan hati-hati , Galih memasukkan tubuh Indah ke dalam bangku penumpang. Setelah itu, Galih kembali mengunci pintu rumah baru kemudian ia langsung tancap gas meninggalkan rumahnya. Galih yang teringat dengan kedua jagoannya memilih untuk menelepon sang adik untuk menjemput mereka.
"Halo?" Terdengar suara Gita yang menjawab panggilan dari Galih. Pandangan Galih lurus kedepan seraya terus menambah kecepatan.
Tin
Tin
"Ada di butik, Mas." Jawab Gita.
"Jemput adikmu dan bawa ke rumah sakit. Saat ini Mas dalam perjalanan menuju rumah sakit membawa Mbakmu." Ujar Galih. Gita tentu sangat terkejut saat mendengar kabar itu. Gadis itu sampai menghentikan pekerjaannya.
"Apa? Mbak Indah? Ba-bagaimana bisa Mbak Indah dibawa ke rumah sakit, Mas?" Tanya Gita.
"Mas menemukannya sudah pingsan di dalam kamar saat Mas pulang untuk mengambil berkas. Sudah, kamu cepat jemput keponakanmu dan datanglah kemari. Mas ini sudah sampai di rumah sakit." Sahut Galih. Tanpa menunggu jawaban dari sang adik, Galih buru-buru mematikan panggilan tersebut karena keduanya telah sampai di lobi rumah sakit.
__ADS_1
Dengan dibantu oleh dua orang perawat, Galih dan mereka mendorong ranjang Indah menuju bagian pemeriksaan. Seorang bidan datang dengan langkahnya yang tergesa. Galih diminta untuk mnunggu dibluar ruangan karena mereka akan melakukan pemeriksaan terhadap Indah. Galih yang mengerti akan prosedur rumah sakit hanya bisa mengangguk pasrah seraya terus berdoa kepada Allah untuk sang istri.
"Semoga Indah tidak apa-apa, amin."
Galih yang tringat dengan kantor segera menghubungi asistennya karena dirinya tidak akan berangkat ke kantor sebelum keadaan Indah membaik seperti sedia kala.
Galih menunggu di luar ruangan dengan perasaannya yang campur aduk. Tak beberapa lama kemudian datanglah seorang dokter wanita dan diikuti oleh seorang perawat yang tengah mendorong sebuah alat ke dalam ruangan Indah. Jantung Galih seakan berhenti berdetak, ia membayangkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
"Aku mohon padamu, Ya Allah. Jangan sampai terjadi apa-apa dengan istriku." ucap Galih kepada Tuhan. Tak selang beberapa waktu kemudian datanglah adik dan dua jagoannya. Ketiganya berlarian menuju ke arah Galih yang tengah duduk sambil menundukkan kepala.
"Mas Galih?''
"AYAH?"
Galih menoleh, wajahnya terlihat murung meski ketiganya sudah datang. Gita pun juga terlihat sangat khawatir melihat sang kakak duduk termenung disana.
"Bunda dimana, Yah?" tanya Vino.
"Bunda tidak apa-apa kan, Yah?" tanya Nino.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi, Mas? Bagaimana Mbak Indah pingsan?" tanya Gita khawatir. Galih menghela napas, ia bingung bagaimana harus menjelaskan. Pasalnya ia menemukan Indah sudah dalam keadaan tak sadarkan diri. Namun, ketika Galih hendak menjawab pertanyaan Gita, pintu ruangan terbuka. Seorang dokter wanita datang menghampiri mereka.
"Dengan keluarga Bu Indah?" tanya dokter itu. Galih berdiri seketika.
"Saya suaminya, dok. Bagaimana dengan istri saya?" tanya Galih. Dokter itu menghela napas.
"Jadi begini, Pak...."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...