Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 40 Air mata Galih


__ADS_3

AAI 40 -


Senyum seringai tercipta di kedua sudut bibir Melinda setelah panggilan itu terputus. Ia begitu bahagia karena bisa dicintai oleh ibu mertuanya dikarenakan hamil meski itu bukanlah darah daging Galih.


'Tidak sia-sia aku mengandung anak ini. Aku bisa menggunakannya untuk menjerat Galih dan menjadikannya milikku. Kau sangat baik padaku, Tuhan. Entah kebaikan apa yang telah ku perbuat di kehidupanku sebelumnya hingga kau memberikan aku kebahagiaan ini.' ujar Melinda dalam hati. Tidak ada kebahagiaan yang lebih hakiki dibanding bisa menjadi istri Galih yang selama ini menjadi impiannya. Meski dengan cara yang kotor, tapi itu tak mengapa bagi Melinda.


Ceklek


Galih berjalan keluar dari kamar mandi. Melinda yang melihat itu segera berjalan mendekatinya. Melihat Galih berada di dekatnya seakan laki-laki itu benar-benar menjadi suami seutuhnya.


"Sudah, Mas? Itu jusnya diminum dulu. Kamu pasti sangat haus sejak tadi," ujar Melinda penuh perhatian. Namun bukannya luluh, justru mendapat penolakan darinya.


"Aku lebih memilih kehausan daripada meminum minuman yang kau buat. Aku tidak akan pernah tertipu oleh mu untuk kedua kalinya. Cukup sekali aku lengah, dan aku tidak akan lengah lagi." Desis Galih tepat di depan wajah Melinda. Setelah mengatakan itu, Galih bergegas menuju sofa dan kembali memakai jas yang tadi ia tanggalkan.


'Si alan. Dia sangat menjaga dirinya dariku,' geram Melinda. Padahal ia tidak mencampuri apa-apa di minuman Galih, tapi laki-laki itu justru mencurigainya. Melinda merasa dirinya buruk karena tidak disukai oleh Galih. Bahkan Galih menatap dirinya dengan tatapan jijiknya, dan Melinda sangat membenci itu.


'Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh kehilangan Galih, aku harus bisa mendapatkan nya.' ucap Melinda pada dirinya. Ia menyemangati dirinya sendiri agar tidak putus asa mengejar hati laki-laki itu. Dia rela melakukan apa saja demi bisa menggenggam Galih.

__ADS_1


"Kamu mau kemana, Mas? Ini belum jam makan siang. Kan tadi kamu bilang akan kembali bekerja setelah jam makan siang berlalu," tanya Melinda. Ia mengingatkan kembali akan ucapan Galih pagi tadi saat dirinya meminta cuti pada pihak kantornya.


Mendengar hal itu membuat Galih menghembuskan napas kasarnya. Ia tidak menyangka jika ada wanita yang tidak tahu diri seperti Melinda. Jangankan bersimpati, melirik saja Galih enggan. Tapi wanita itu terus saja berusaha menahan dirinya agar tetap berada di sana menemaninya.


"Dengar, wanita. Kamu tidak berhak mencampuri urusanku. Ingat, aku tidak menganggap mu dan bayimu ada. Jika kau berani melawanku, maka aku akan menghancurkanmu." Tegas Galih. Ia memperingati Melinda agar wanita itu tidak berulah yang nantinya akan membuat hubungan dirinya dengan Indah hancur.


Tak mau berlama-lama di sana, dengan tergesa Galih pergi dari rumah itu. Dengan mengendarai mobilnya, Galih memukul-mukul setir mobilnya demi bisa meluapkan emosinya.


"Awas kau, Galih. Cepat atau lambat kau akan segera berpisah dengan istrimu itu. Dan aku pastikan wanita itulah yang akan menggugat cerai kamu," ujar Melinda seraya melihat kepergian Galih dari rumahnya. Meski begitu, nyatanya Galih masih mau datang memenuhi acara nyidamnya meski dengan mengancamnya terlebih dahulu.


Ckitt


Galih mengerem laju mobilnya secara mendadak hingga membuat tubuhnya terhuyung ke depan. Ia meminggirkan mobilnya di tepi jalan raya. Pikirannya kacau, memikirkan bagaimana nasib pernikahannya dengan Indah.


"Ikatan suci pernikahan kita telah ternoda, Indah. Dan akulah orang yang telah menodainya," jerit Galih di dalam mobil. Beruntung mobilnya kedap suara, sehingga membuat suaranya tidak bisa di dengar oleh orang luar.


Galih meluapkan segala emosi yang menguasai dirinya dengan meraung serta memukul-mukul setir mobilnya. Air matanya menetes tanpa henti membasahi kedua pipinya. Ia merasa bersalah karena telah menghianati cinta dan kepercayaan sang istri dengan menikahi wanita lain.

__ADS_1


Karena tidak membawa dompet, akhirnya membuat Galih harus menuju ke kantor. Ia berencana mengambil dompet yang sudah dititipkan Indah di resepsionis. Kemudian ia akan makan siang di cafetaria kantor daripada harus keluar lagi.


"Ini dompetnya, Pak." Ucap resepsionis itu seraya memberikan dompet hitam milik Galih. Laki-laki itu segera menghampiri meja resepsionis terlebih dahulu setelah ia kembali ke kantor.


"Terimakasih," balas Galih. Lalu ia pun segera meninggalkan tempat itu setelah mendapatkan dompetnya. Seperti biasa, tak ada senyuman di bibir Galih. Ia terkenal dingin terhadap siapa saja terlebih lagi karyawan wanita di kantornya. Galih hanya akan ramah pada teman serta atasannya saja. Selain itu, Galih selalu terlihat dingin tak tersentuh. Namun justru itulah yang menjadi daya tarik tersendiri. Banyak sekali karyawan wanita yang mengidolakan dirinya.


"Di sini rupanya," suara seorang laki-laki menginterupsi Galih yang tengah menyendokkan nasi Padang ke mulutnya. Laki-laki itu menoleh, lalu ia kembali menikmati makanannya.


"Darimana saja, Galih? Tumben ambil cuti pagi ini," tanya teman Galih bernama Roni Wijaya.


"Ada urusan," ketus Galih. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada mereka.


"Dih, baru masuk udah ketus saja kau ni. O iya, siang nanti ada rapat bulanan kan? Tadi aku lihat para petinggi datang," sahut Aldo. Ia memberitahu kepada teman-temannya tentang apa yang dilihatnya tadi.


Keempat laki-laki itu pun menikmati waktu istirahat siang mereka dengan bercengkerama sambil menyantap menu makan siang mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2