
AAI 14- Kartika dan Hesti
"Bagaimana, Indah? Sudah ada tanda-tanda belum? Kalian sudah lama loh menikahnya," ucap Kartika yang menanyakan perihal kehamilan pada Indah.
Indah tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. Ia sudah menduga jika mereka akan menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Kedua tangan Indah sudah mengepal kuat di bawah meja. Namun sebisa mungkin ia memperlihatkan senyuman manisnya kepada semua orang.
"Belum, Tante. Mungkin Tuhan masih memberikan aku dan Mas Galih untuk menikmati waktu berdua kami lebih lama," jawab Indah dengan senyumannya yang dipaksakan. Sudut matanya melirik ke arah sang suami.
Indah bisa melihat wajah tampan Galih yang mulai mengeras karena lagi-lagi dihadapkan oleh situasi dimana yang tidak ia sukai. Indah memegang lengan Galih dan tersenyum manis padanya. Galih menghela napas lalu mengangguk kecil.
"Tapi jangan lama-lama, Indah. Kasihan suami dan ibumu. Apa kalian sudah memeriksakan kesehatan kalian?" Tanya Kartika yang kemudian mendapatkan tatapan tajam dari suaminya - Sudarman. Tapi Kartika tak ambil pusing, ia tengah melancarkan aksinya untuk mempermalukan indah di hadapan para tamu. Sesuai apa yang telah ia dan Hesti rencanakan.
Galih yang sudah geram langsung berkata, "Sudah, Tante. Kami sudah mengecek kesehatan kami kepada dokter dan hasilnya bagus. Saya harap Tante bisa menghargai istri saya dengan tidak menanyakan hal-hal yang bisa melukai perasaannya."
Indah hanya bisa menundukkan kepalanya dan berusaha menahan air matanya yang sudah ingin keluar. Sedangkan Kartika hanya bisa diam seraya melihat ke arah Hesti. Hesti membalas tatapan adiknya itu dengan satu kedipan mata. Mendadak meja besar itu dilanda keheningan setelah perkataan dari Galih.
"Sudah, sudah. Jaga emosimu, Galih. Malu kalau sampai dilihat para tamu," Ucap Hesti kepada anaknya. Galih yang mendengarnya seketika menoleh dan menatap ibunya tak kalah tajam. Ia bisa menduga jika semua merupakan rencana darinya.
"Yang sabar ya, Indah. Tante dulu juga sama seperti mu. Tante dulu memiliki Melinda saat sudah menikah selama enam tahun. Bisa jadi dalam waktu dekat kamu akan memilikinya," ucap ibu dari Melinda kepada Indah yang kebetulan duduk disampingnya.
__ADS_1
Indah menghela napas lalu mengangkat wajahnya dan melihat kearahnya. Ia mengangguk kecil seraya tersenyum tipis menanggapi ucapan itu.
Meski ia tak suka dengan Melinda, bukan berarti ia harus membenci kedua orang tuanya juga, bukan? Apalagi Indah begitu menghormati orang yang lebih tua darinya.
"O iya, Mel. Apa kamu tidak ingin menikah di waktu dekat ini?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Hesti seketika membuat semua orang yang ada di meja itu tersentak dan menatap ke arah Hesti dan juga Melinda secara bergantian.
Melinda pun juga terkejut karena Hesti menanyakan hal itu dihadapan semua orang terlebih lagi kedua orang tuanya.
"Me-menikah, Tante? Te-tentu saja. Sayangnya saya belum menemukan yang cocok di hati saya," ucap Melinda dengan sedikit gelagapan. Apalagi ia menyadari sepasang mata tajam yang menatap ke arahnya.
'Sia lan, nenek lampir ini. Dia membuatku menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada disini. Apalagi dia, rasanya seakan ingin melahapmu hidup-hidup. Astaga,' runtuk Melinda dalam hati.
"Maaf, Om, Tante. Ada hal yang harus saya urus. Kami akan pulang lebih dulu. Ayo, Bu, Sayang, kita pulang sekarang juga." Titah Galih yang seketika mendapat penolakan dari sang ibu. Sedangkan Indah hanya bisa diam saja.
"Apa? Kenapa mendadak sekali, Galih? Ibu masih ingin di sini," ucap Hesti dengan raut wajahnya yang terlihat tak suka dengan ucapan sang putra. Namun bukan Galih namanya jika tidak bisa memaksa ibunya untuk menuruti kemauan nya.
"Baiklah, kalau begitu. Indah, ayo bangun. Kita pulang sekarang. Biarkan Ibu nanti pulang sendirian," ajak galih seraya mengulurkan tangannya pada Indah. Indah yang tak bisa menolak hanya bisa mengangguk kecil seraya menggapai tangan itu dan ikut beranjak.
Hesti tampak melotot saat melihat menantunya justru ikut dengan Galih. Padahal ia sudah melotot ke arah Indah, tapi Indah tak menghiraukannya.
__ADS_1
"Kami permisi dulu, semuanya. Selamat malam," dengan sedikit membungkukkan badan, Galih yang diikuti oleh Indah berpamitan kepada semua orang. Kedua insan itupun segera berjalan meninggalkan meja itu.
'Kurang a jar. Mereka berani meninggalkan ku,' geram Hesti dalam hati. Mau tak mau wanita itupun segera bangkit dan berjalan menyusul sang putra tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada semua orang yang berada di sana.
"Lihatlah, kelakuanmu. Gara-gara mulutmu, Galih dan Indah tersinggung dan pergi begitu saja. Kau dan kakakmu itu sama saja," desis Sudarman kepada sang istri.
Kartika yang mendengarnya hanya bisa melirik sekilas lalu bertingkah seperti tak terjadi apa-apa dengannya.
"Maaf ya, membuat suasana menjadi seperti ini." Ucap Sudarman yang tidak enak hati dengan kedua orang tua Melinda.
Sementara itu, Galih dan Indah yang sudah berada di dalam mobil tampak terkejut saat melihat kedatangan Hesti yang berjalan menuju ke arahnya.
Tok
Tok
"Buka," ucap Hesti seraya mengetuk jendela pintu samping kemudi. Setelah memastikan Hesti masuk kedalam mobil, barulah Galih menjalankannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1