Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 15 Melinda dan Dimas


__ADS_3

AAI 15-


"Permisi, saya mau ke kamar mandi sebentar," ucap Melinda seraya beranjak dari tempat duduknya. Kemudian wanita itu berjalan meninggalkan meja.


"Pa, Ma, aku kesana dulu ya. Mari Om, Tante," ucap Dimas dengan santun. Ia pun bergegas meninggalkan tempat duduknya menuju arah yang sama.


"Ah, leganya." Ujar Melinda saat sudah selesai dengan hajatnya. Ia pun segera membenahi penampilannya di hadapan kaca yang ada di dalam kamar mandi tersebut. Saat sudah selesai, Melinda bergegas keluar dari sana.


Namun sebuah tangan meraih tangan kirinya dan menariknya.


"Eh,"


"Ikut aku," ucap laki-laki itu dengan tatapan matanya yang tajam kepada Melinda. Detak jantung Melinda seakan ingin keluar dari tempatnya saat ini.


"Ma-Mas, mau kemana kita? Nanti kalau sampai ketahuan sama orang tua kita bagaimana?" Tanya Melinda dengan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan kekar Dimas.


Melinda seketika tak berkutik ketika melihat tatapan mata elang Dimas yang menatapnya. Melinda melirik kesana-kemari sambil terus mengikuti langkah laki-laki didepannya tersebut.


Cklek


Dimas mengajak Melinda memasuki sebuah ruangan yang tak terpakai. Ruangan yang berada di bawah tangga rumahnya.


"Mau ngapain kita di sini? Bagaimana kalau nanti semua orang tahu?" Ucap Melinda yang merasa takut jika sampai keduanya kepergok oleh semua orang yang hadir dalam acara tersebut.


"Dengan siapa kau akan menikah, Mel?" Pertanyaan dari Dimas sukses membuat tubuh wanita itu membeku.


'Mati aku.'


"Ti-tidak kok, Dimas. A-aku tadi asal jawab saja," ucap Melinda dengan memperlihatkan senyum anehnya. Ia melangkah mundur ketika melihat Dimas yang melangkahkan kakinya maju kearahnya. Semakin lama semakin maju hingga Melinda bisa merasakan punggungnya yang menabrak di dinding ruangan.

__ADS_1


"Dim," lirih Melinda.


Dimas mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Melinda. Napas hangatnya menyapu permukaaan kulit Melinda hingga membuat seluruh tubuhnya meremang seketika. Perlahan napas Melinda naik turun disertai keringat yang mulai membasahi keningnya ketika tangan kekar Dimas mulai menari di kulit pahanya.


"Kau hanya milikku, Meli. Semua ini hanya milikku." Ucap Dimas seraya membalik tubuh Melinda menjadi membelakanginya.


"Mas, jangan, Dimas. Nanti ketahuan,"


"Ssstt ... Pelankan suaramu atau semua orang akan kemari, baby."


Tangan kekar milik Dimas mulai merangkak naik hingga mencapai titik yang menjadi kesukaannya. Usapan lembut, menari di dalam gaun itu hingga membuat Melinda memejamkan matanya.


Ah,


Dimas begitu piawai memainkan perannya dalam membangkitkan gairah panas Melinda. Wanita itu belingsatan saat merasakan miliknya penuh dengan jemari milik Dimas.


Kedua tangan Melinda bertumpu pada dinding bercat putih itu. Napasnya kian memburu kala merasakan Dimas dengan sengaja menambah jarinya dan menggerakkannya dengan lebih cepat.


"Dim, please." Di belakang tubuhnya, Dimas tersenyum menyeringai. Ia tidak pernah gagal dalam menjalankan permainan itu. Bahkan tak ada satupun wanita yang bisa menolaknya.


"Please apa, Mel?" Goda Dimas dengan mempercepat gerakan tangannya di bawah sana. Saking cepatnya, menimbulkan suara kecipak yang sangat keras dan nyaring dalam ruangan itu.


"Please, Fu** me, Mas." Kata itu akhirnya terucap dari bibir seksi Melinda disertai dengan suara desahannya.


Dimas tersenyum menyeringai seketika. Tanpa menunggu waktu lama lagi, ia membalik tubuh Melinda dan mengangkatnya. Ia membawa tubuh lemas Melinda menuju ke salah satu meja yang ada di dalam ruangan itu.


"With pleasure, my dear."


Dimas pun menjalankan tugas nya sebagai seorang laki-laki sejati. Ia memimpin permainan panas itu hingga membuat Melinda menutup mulutnya sendiri. Ingin rasanya berteriak tapi tak mungkin keduanya lakukan. Tempat yang tak seharusnya mereka tempati itu menjadi salah satu alasannya.

__ADS_1


Melinda dan Dimas bersama-sama menikmati permainan mereka disaat semua orang yang berada diluar sana berpesta. Suara musik yang terdengar keras menyamarkan suara ******* yang berasal dari ruangan yang ada di bawah lantai rumah milik Dimas.


Semakin lama permainan itu semakin panas. Secara bergantian Melinda dan Dimas memimpin permainan hingga beberapa kali keduanya mencapai pelepasan.


Deru napas yang saling memburu, detak jantung yang seakan ingin keluar dari tempatnya, tak membuat kedua insan itu menyesali perbuatannya. Bahkan keduanya Saling melemparkan tatapan mata serta senyuman setelah mereka menyelesaikan permainannya.


"Ah, kau membuat riasanku berantakan, Dimas." Ucap Melinda seraya menatap kearah kaca dan membenahi penampilannya.


Dimas yang masih duduk di atas meja hanya bisa terkekeh mendengar nya. Ia pun ikut bangkit dan membenahi celana dan pakaiannya yang berantakan.


"Itu karena kau yang membuatku marah, Baby. Lagipula bagaimana aku bisa melewatkan makanan yang sangat lezat ini, hm?" Bisik Dimas tepat di telinga Melinda. Tak lupa ia memberikan remasan di salah satu bongkahan milik Melinda.


Ah,


"Lepaskan tanganmu dari bo kongku, Dimas. Huh," gerutu Melinda seraya mengerucutkan bibirnya yang semakin membuat gemas Dimas kala melihatnya.


Kedua insan itu pun segera keluar dari persembunyian mereka sebelum para orang tua sadar akan hinganya mereka dan mencarinya.


Melinda tampak lelah saat dirinya kembali ke meja tempat kedua orang tuanya berada. Sedangkan Dimas tampak berbinar-binar wajahnya.


"Kamu kenapa lama sekali, Mel?" Tanya ibunya.


"Ma-maaf, Ma. Perutku tiba-tiba mulas," jawab Melinda seraya menundukkan wajahnya.


"Kamu darimana saja, Dim? Kenapa wajahmu senyum-senyum begitu?" Giliran Kartika yang menanyai sang putra setibanya Dimas disana.


Dimas hanya tersenyum tipis kepada sang ibu lalu menyesap minumannya. Mereka semua menikmati acara malam itu hingga hampir tengah malam. Kartika dan Sudarman Seloaji selalu tuan rumah begitu bahagia karena acara ulang tahun pernikahan mereka begitu meriah dan lancar, meski ada drama dari keluarga Galih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2