
AAI 92 - Halalkan aku,
Keesokan harinya,
Tepat pukul enam pagi, Galih sudah siap dengan pakaian formalnya. Rencananya, setelah ia mengantar Indah di bandara, ia akan langsung berangkat ke kantor.
Ting Tong
Bel kamar milik Indah berbunyi. Wanita itu mengerutkan keningnya saat melihat jam dinding masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
"Siapa pagi-pagi datang? Masa Mas Galih? Kan berangkat ku masih jam sepuluh," gumam Indah seraya membenarkan kerudungnya. Beruntung ia sudah mandi terlebih dahulu tadi sehingga saat ini ia sudah terlihat cantik meski tanpa riasan wajah yang tebal. Hanya menggunakan lipglos tipis, kecantikan wanita itu sudah terpancar.
Cklek
Kedua mata Indah terbelalak saat melihat kedatangan Galih. Ia tidak menyangka jika laki-laki itu datang sepagi ini. Apalagi di tangannya sudah menenteng sebuah paperbag dengan bertuliskan nama sebuah restoran yang kemarin keduanya datangi.
"Mas Galih?" Gumam Indah.
"Assalamualaikum, Indah?" Sapa Galih dengan senyumannya. Ia sangat bahagia bisa melihat wajah cantik alami Indah. Jantungnya selalu berdetak kencang selama berada di dekat wanita itu. Layaknya seperti remaja lagi, Galih merasa hatinya tengah dikelilingi bunga cinta yang bermekaran. Rasanya menggelitik, membuat Galih tanpa sadar tersenyum-senyum sendiri.
"Wa-walaikumsalam, Mas. Mas Galih sudah datang? Mari masuk, Mas." Balas Indah seraya mempersilakan Galih masuk. Ia sengaja membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar agar tidak mengundang fitnah bagi orang yang melihat.
"Terimakasih," ujar Galih seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar hotel Indah. Sesampainya di sana Galih meletakkan paperbag yang dibawanya ke atas meja.
"Ini, aku beli sarapan untuk kita. Kamu belum sarapan, kan?" Tanya Galih. Perlahan Indah menggelengkan kepala. Karena biasanya sarapan akan datang nanti mendekati pukul tujuh atau setengah delapan.
"Belum, Mas." Sahut Indah. Galih tersenyum, ia pun segera membuka paperbag itu dan mulai mengeluarkan apa yang ada di dalamnya.
"Ya sudah. Kalau begitu ayo kita sarapan dulu," ujar Galih seraya memberi Indah sekotak taperware dan sebotol minuman.
"Terimakasih, Mas. Wah, bubur ayam." Ucap Indah saat membuka kotak makan itu. Sedari dulu indah menyukai bubur ayam untuk sarapan, dan Galih masih mengingatnya. Indah tersenyum malu saat menyadarinya. Sedangkan Galih merasa bahagia melihat Indah yang menyukai bubur yang dibawanya.
Galih dan Indah pun mulai menikmati sarapan mereka bersama-sama. Tak ada perbincangan yang berarti, keduanya sudah bisa membiasakan diri layaknya seperti seorang teman yang kembali bertemu.
'Perhatianmu masih sama seperti dulu, Mas.' batin Indah seraya diam-diam memperhatikan Galih yang sibuk dengan bubur dan televisi. Indah pun teringat dengan percakapannya dengan orang tuanya semalam.
"Yah? Mas Galih masih menungguku, dia mengatakan jika ingin kembali padaku. Bagaimana menurut Ayah?" Tanya Indah pada Doni. Lama Indah tidakemdemgar sahutan dari seberang. Dalam hati ia merasa was-was pasalnya ia tahu bagaimana kecewanya Doni terhadap mantan suaminya itu. Karena pertengkaran mereka, Doni kehilangan calon cucunya.
"Yah?" Panggil Indah lagi.
"Apa kau tidak sakit hati atas perbuatan laki-laki itu padamu dulu, Indah? Dia sudah menyakitimu, Indah. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali." Ujar Doni dengan sekali tarikan napas. Tenggorokan Indah tercekat, meski ia tahu reaksi yang akan ditunjukkan oleh sang ayah tapi ia tidak percaya akan seperti itu. Doni mengingatkan kembali luka hati yang diberikan oleh Galih padanya. Setetes air mata Indah mengalir, membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
"Indah?" Suara ibunya yang terdengar.
"I-iya, Bu?" Sahut Indah.
"Apa yang kau katakan itu benar, Nak? Galih memintamu untuk kembali padanya?" Tanya Ratih memastikan kebenarannya.
"Iya," jawab Indah lirih.
"Lalu, bagaimana denganmu Indah? Apa kau masih memikirkannya? Masih mengharapkannya? Apa kau masih mencintainya?" Tanya Ratih bertubi-tubi. Doni yang mendengar perkataan dari sang istri merasa kesal bukan main.
"RATIH!" Suara bentakan keras dari Doni terdengar nyaring di telinga Indah. Wanita itu sampai tersengat, ini pertama kalinya Indah mendengar Ayahnya membentak Ibunya.
"Ada apa, Mas? Apa aku berkata salah, hah?" Tanya Ratih kepada suaminya. Isak tangis mulai terdengar lirih. Indah menangis. Ia begitu bersalah kepada kedua orang tuanya. Karena dirinya, Ayah dan Ibunya bertengkar.
"Sangat salah, Ratih. Galih sudah menyakiti putri kita. Dan aku yakin dia akan menyakiti Indah lagi untuk kesekian kalinya. Jadi jangan pernah kau membiarkan laki-laki itu mendekati Indah. Aku tidak rela," ucap Doni. Indah semakin terisak karena mendengar ucapan sang ayah yang menolak mentah-mentah Galih.
"Kau egois, Mas. Kau egois," seloroh Ratih.
"Aku? Egois? Dibagian mana aku egois, Ratih?" Tanya Doni tidak terima. Ia merasa jika ucapannya benar.
"Kau terlalu dibutakan oleh kebencianmu, hingga kau tidak melihat isi hati putrimu." Tegur Ratih.
"Apa maksud mu, Ratih?" Tanya Doni.
"Jangan asal bicara, Ratih. Indah lebih bahagia setelah berpisah dengannya," elak Doni.
"Astagfirullah, berarti kedua mata Mas memang sudah dibutakan oleh kebencianmu." Ucap Ratih.
"Cukup, Ratih. Kau salah, Bagaimana kau bisa tahu ..." Ucapan Doni terhenti saat mendengar perkataan dari sang istri.
"Karena aku adalah ibunya. Aku yang melahirkannya, Mas. Ikatan batinku dengan anak-anak sangat kuat. Jadi, meski Indah tidak mengatakannya aku bisa merasakannya." Putus Ratih.
"Jangan menutup kedua mata dan telingamu dengan kebencian, Mas. Karena itulah yang membuatmu tidak bisa melihat apa yang diinginkan oleh putrimu." Isak tangis Indah Lian terdengar. Indah tidak menyangka jika Ibunya mampu merasakan apa yang dirasakan oleh nya. Kini ia menyadari sekuat apakah tali kasih seorang ibu kepada anaknya.
"Apa kau mau melihat putrimu tidak bahagia seumur hidupnya?" Tanya Ratih pada Doni.
"Mana mungkin. Aku sangat menyayangi putriku," jawab Doni. Kedua matanya kian terbuka. Semua saat-saat bersama dengan Indah melintas di benaknya. Perbandingannya terlalu jelas, saat sebelum dan sesudah Indah bercerai. Ratih benar, ia lupa jika putrinya itu bisa berkorban demi dirinya dan istrinya.
"Maka dari itu, lepaskan kebencianmu dan pikirkan kebahagiaan putrimu." Ucap Ratih yang membuat Indah semakin terisak. Namun tangisnya ini bercampur senyum kebahagiaannya. Ia tidak menyangka jika ibunya akan membantunya untuk menyadarkan ayahnya.
Keheningan melanda. Doni, Ratih, dan Indah sama-sama saling diam. Hanya Isak tangis lirih Indah yang masih terdengar.
__ADS_1
"Suruh dia datang, Ayah menunggu. Dia harus bicara denganku terlebih dahulu sebelum kalian bersama. Sudah malam, tidurlah. Besok hati-hati dijalan, Assalamualaikum." Setelah mengatakan itu sambungan telepon terputus.
Tangis Indah Lian terdengar nyaring. Ada kelegaan dihati Indah setelah mendengar ucapan sang ayah. Ia tidak menyangka ayahnya pada akhirnya bisa memahami dirinya.
"Terimakasih, Ayah." Lirih Indah. Galih yang tengah mengemudi di samping Indah mengeryitkan dahi.
"Kau berkata sesuatu?"tanya Galih. Indah tersentak, ia tersadar dari lamunannya.
"Eh, ti-tidak." Ucap Indah berbohong. Perjalanan keduanya sudah sampai setelah mengendarai mobil hampir satu jam lamanya. Galih dan Indah sama-sama diam sampai keduanya tiba di dalam bandara.
"Indah?" Panggil Galih. Indah menoleh, jantungnya seakan ingin keluar dari tempatnya saat melihat tatapan mata Galih.
"Bagaimana dengan jawabanmu? Aku sangat menantikan nya. Bukankah kemarin kau akan menjawabnya hari ini?" Tanya Galih. Tak ingin mengulur waktu, Galih menanyakannya sekarang.
Indah menundukkan kepala, ia memikirkan kata demi kata yang akan ia ucapkan kepada laki-laki itu.
"Apakah sudah tidak ada kesempatan kedua untukku?" Terka Galih saat melihat wajah Indah yang menunduk.
(Selamat pagi. Boarding untuk Maskapai ABC dengan nomor penerbangan 56K76 tujuan Surabaya akan segera dimulai. Para penumpang dimohon untuk menuju gerbang C2 dan persiapkan pas naik dan identifikasi Anda. Terima kasih)
Galih semakin gelisah kala mendengar suara pengeras dari pihak bandara yang mengatakan penerbangan Indah akan segera dimulai. Galih menghela napas, ia pun harus mengubur impiannya dalam-dalam untuk bisa menjadi pendamping Indah.
"Baiklah, tak apa. Masuklah sekarang, nanti ketinggalan. Em, aku juga mau ke kantor." Ucap Galih seraya melihat ke arah jam tangannya. Tak ingin semakin merasa sakit karena tidak bisa bersama dengan Indah, galih memilih untuk segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Indah.
"Loh, Mas. Katanya ingin mendengar jawaban dariku?" Tanya Indah.
"Tidak apa, Indah. Aku tahu kau sudah tak ingin lagi bersamaku. Tak apa, aku bisa memahamimu." Jawab Galih dengan senyum terpaksa nya. Ia hanya menoleh sedikit kepada Indah kemudian berjalan kembali. Melihat Galih yang terlihat putus asa membuat Indah cekikikan. Ia puas bisa mengerjai laki-laki itu.
"Benarkah itu, Mas? Padahal Ayah ingin Mas datang langsung ke rumah untuk membicarakan tentang keinginan Mas itu." Ucap Indah dengan sedikit kencang karena jarak Galih yang sudah kian menjauh.
"Tidak, Indah. Titip saja salamku pada Ayah dan Ibu." Sahut Galih. Namun baru beberapa detik kemudian ia baru tersadar. Tubuh Galih membeku kala ia mengartikan ucapan dari Indah. Laki-laki itu berbalik lalu menghampiri Indah yang kini sudah senyum-senyum sendiri.
"A-apa? Co-coba katakan sekali lagi." Pinta Galih tak percaya. Indah tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.
"Iya, Mas. Ayah memintamu untuk datang kerumah dan mengatakan niatmu itu," ucap Indah yang seketika membuat Galih berlutut sambil mengucap syukur kepada Allah karena telah mengabulkan doanya.
"Terimakasih..." Ujar Galih seraya merentangkan kedua tangannya kepada Indah. Namun wanita itu menolak, ia menghindari Galih yang hendak memeluknya.
"Jangan, Mas. Halalkan aku dulu," ucap Indah seraya menundukkan kepala, menyembunyikan semburat merah yang kini sudah mulai terlihat di kedua pipinya. Galih yang tersadar langsung memundurkan tubuhnya.
"Baik, Indah. Minggu ini Mas akan mendatangi rumahmu untuk melamarmu."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...