
AAI 75 - Rasa Kemanusiaan
"Mas, Mas mau kemana, Mas?" Tanya Gita saat melihat sang kakak berjalan menuju pintu keluar. Galih berhenti, lalu ia menatap wajah cantik Gita yang masih berlinangan air mata.
"Aku sudah tidak sudi berada di sini lagi, Gita. Aku sudah tidak tahan dengan semua ini," ujar Galih. Semakin lama ia berada di rumah itu, ia merasakan sesak. Sesak kala ia mengingat kembali peristiwa demi peristiwa menyakitkan yang terjadi di dalam rumah itu. Ia ingin menyembuhkan lukanya dengan pergi jauh dari sana.
"Lalu bagaimana dengan dia, Mas? Kasihan," tanya Gita seraya melirik ke arah Agus yang berusaha bangkit dari tempatnya. Ingin rasanya Gita membantu laki-laki itu, tapi apa daya. Ia lebih takut kepada sang kakak jika ia bertindak tanpa persetujuan dari nya.
"Biarkan saja, Gita. Jangan sekali-kali kau bantu laki-laki itu. Biar saja dia berusaha bangkit sendiri. Jika bukan karena mu, aku sudah menjebloskan dia dan juga wanitanya itu ke dalam penjara." tegas Galih yang hanya bisa diangguki oleh Gita. Rasa simpatinya terhadap Hesti sudah menghilang. Jangankan untuk bicara, sekedar menatap pun Galih sudah tak sudi.
"Ka-kamu mau kemana, Galih? To-tolong maafkan ibu," pinta dengan bersujud di kaki sang anak. Dunianya terasa hancur, bahkan rasanya lebih hancur ketika melihat suaminya meninggal. Ingin rasanya ia memeluk tubuh Galih dan meminta ampun padanya. Tapi ia tidak memiliki keberanian kuat untuk melakukannya.
"Bukan urusanmu. Ayo, Gita. Kita pergi dari sini," ucap Galih seraya menarik tangan sang adik. Tidak mungkin ia tega meninggalkan Gita sendirian dengan ibunya. Apalagi mengingat bekas luka yang dimiliki Gita, membuat Galih seakan ingin mencabik-cabik wanita itu. Tapi ia masih bisa menahan diri, hanya karena dialah yang membawanya lahir di dunia ini.
"Ma-mas? Tunggu, dulu. Kita mau kemana, Mas? Ibu gimana?" Tanya Gita.
"Menurutlah, Gita. Biarkan dia hidup sendiri, sekalian merenungi semua kesalahannya. Kamu tidak usah mengurusi orang yang tidak menyayangimu. Aku tidak akan membiarkanmu hidup berdua dengannya. Aku tidak ingin kau menjadi korban selanjutnya. Ayo," sahut Galih seraya menarik tangan Gita. Namun Gita bersih keras, ia tetap tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Dengarkan aku dulu, Mas. Jangan begini, bagaimana aku bisa meninggalkan ibu sendirian disaat seperti ini? Aku tidak tega, Mas. Biarkan aku tetap berada di sini, ya?" Pinta Gita.
Meski dalam dirinya ia merasa kecewa dengan sang ibu, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima semuanya sebagai suratan takdir yang Tuhan tuliskan untuknya. Galih tidak habis pikir dengan Gita. Setelah semua kejahatan ibu terungkap, tapi gadis itu masih saja tetap ingin menemani sang ibu meski ia juga mendapatkan perlakuan buruk darinya.
__ADS_1
"Lihatlah, anakmu itu. Meski ia sudah kau sakiti jiwa dan raga, nyatanya dia tetap ingin berada di sini menemanimu. Buka matamu itu, Bu. Masih inginkan kau sakiti dia, hah?" Desis Galih pada Hesti yang masih sesenggukan. Hesti hanya bisa menangis mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Galih padanya. Ia merasa seperti dibukakan mata hatinya sehingga membuat wanita itu merasa sangat bersalah.
'Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan selama ini? Inikah karma yang harus kuterima? Dibenci oleh anak-anak dan diasingkan dari dunia?' batin Hesti. Ia merasa sudah tidak memiliki muka untuk menatap dunia luar. Ia merasa hina akan dirinya sendiri.
"Ma-maafkan ibu, Gita. Maafkan Ibu," Hesti beralih memeluk kaki Gita. Gita yang melihat itu langsung berjongkok dan menarik tubuh Hesti dari kakinya. Ia memeluk tubuh ibunya dan menumpahkan air matanya.
"Sudah, Bu. Jangan menangis lagi, Gita sudah memaafkan Ibu." Keduanya saling memeluk erat. Ini pertama kalinya Gita merasakan pelukan Hesti yang begitu nyata padanya. Selama ini ia terlalu takut dengan Hesti dan hanya bersalaman jika hendak kemana-mana.
Galih menitikkan air mata melihat kedua wanita beda usia yang tengah berpelukan itu. Ia berbalik, tidak ingin melihat lebih lama keduanya. Ia tidak sanggup, disisi lain ia ingin bergabung dan saling memeluk, disisi lain ia masih merasa dikhianati dan dikecewakan oleh ibunya dengan semua yang telah terjadi.
"Baiklah, kalau memang itu sudah keputusan mu, maka aku tidak bisa mencegahnya. Urusi dia, aku akan pergi." Setelah mengatakan itu, Galih bergegas meninggalkan rumah.
Setelah kepergian Galih, Gita beralih mengajak sang ibu untuk bangkit dari sana. Ia mengantar Hesti menuju kamarnya. Setelah selesai mengurus sang ibu, giliran Gita menemui kembali laki-laki yang merupakan ayah kandungnya. Ia melihat Agus yang masih berusaha bangkit dari lantai. Tubuhnya terlihat lemas dan berpegangan pada dinding rumah.
'Dia benar-benar putriku. Ya Tuhan, kenapa baru sekarang aku menyadari betapa miripnya gadis ini denganku? Maafkan aku, Nak. Maafkan ayahmu ini,' batin Agus yang menangisi takdirnya.
Lidah Agus seakan kelu, ia hanya bisa menurut saat Gita membantunya berjalan menuju sofa yang ada di sana. Setelah membantu Agus duduk, Gita mengambil ponselnya. Ia menelepon dokter untuk datang memeriksa keadaan Agus yang terlihat parah.
"Baik, saya tunggu kedatangannya, dok. Terimakasih," panggilan itupun berakhir. Sambil menunggu kedatangan dokter, Gita menuju ke dapur. Namun belum juga langkahnya menjauh, suara dari Agus menghentikannya.
"Terimakasih, Nak. Kamu sangat baik. Maafkan aku, yang..." Belum juga Agus menyelesaikan ucapannya, suara Gita menghentikannya.
__ADS_1
"Saya hanya memenuhi rasa kemanusiaan saya melihat keadaan orang lain yang membutuhkan bantuan saya," ucap Gita menyela perkataan Agus. Lalu gadis itu pergi meninggalkan laki-laki itu disana. Agus menatap nanar kepergian sang putri yang tidak menganggapnya ada.
'Maafkan ayahmu ini, Gita. Ayah akan menebus kesalahan ayah yang selama ini telah menelantarkan dirimu.' batin Agus menangis.
Lima belas menit kemudian datanglah seorang dokter laki-laki dan memeriksa keadaan Agus. Darah yang tadinya menghiasi wajah Agus kini telah menghilang. Terlihat ada beberapa plester yang menutupi luka akibat bogeman dari Galih. Gita mengamatinya dari jauh, ia juga sudah membuatkan segelas teh hangat untuk Agus. Meski sang kakak mencegahnya untuk membantu Agus, tapi rasa ibanya lebih kuat hingga membuatnya memutuskan untuk memanggil seorang dokter untuk membantu membersihkan lukanya.
"Sudah selesai. Ini obatnya, jangan lupa diminum dan dolioleskan salepnya." Ujar sang dokter seraya memasukkan kembali peralatannya.
"Terimakasih, dokter." Tanpa sengaja baik Agus dan Gita mengucapkan terimakasih pada dokter itu secara bersamaan. Keduanya saling pandang, lalu Gita segera memutus pandangannya. Ia beranjak dan mengantar kepergian dokter itu dari rumahnya.
"Sekali lagi, terimakasih dokter karena sudah bersedia datang malam-malam begini." Ujar Gita saat keduanya berada di luar rumah.
"Sama-sama, Nak. Masuklah, saya pergi dulu."
Setelah memastikan sang dokter benar-benar pergi, Gita kembali masuk ke dalam rumahnya. Sesampainya di dalam, ia melihat Agus yang berusaha bangkit meski tubuhnya masih lemas. Gita menghela napas, ia tidak mungkin membiarkan laki-laki itu pergi dalam keadaan yang kurang fit.
"Beristirahatlah dulu, Pak. Kalau sudah mendingan baru anda bisa pergi dari sini." Ucap Gita.
"Selamat malam,"
Belum juga Agus mengucapkan terimakasih, gadis itu langsung meninggalkannya sendirian di ruang tamu. Meski begitu, ia merasa beruntung karena memiliki putri berhati mulia seperti Gita. Putri yang dulunya tidak ia harapkan nyatanya hatinya seputih salju.
__ADS_1
'Begitu mulianya hatimu, Nak. Beruntungnya Hendra memiliki putri seperti dirimu. Meski sebenarnya kau adalah putri kandungku, tapi aku tidak pantas menyandang status itu. Aku tidak pantas,'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...