Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 70 - Kecelakaan Maut


__ADS_3

AAI 70 - Kecelakaan Maut


Sekeluarnya dari tempat laknat itu, Santi bergegas menuju mobilnya. Ia pun mengambil ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang.


"Halo, Pak Yosi? Ini saya Santi Raharja. Ada yang ingin saya sampaikan, Pak." Ucap Santi to the point ketika panggilannya terangkat. Ia menghapus jejak air matanya yang menetes ke pipinya. Ia tidak ingin terlihat lemah, dia bukanlah wanita yang suka menikmati penderitanya. Ia memilih untuk langsung bertindak tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Bahkan ia seketika menghubungi pengacara keluarganya yang merupakan salah satu pengacara kondang di Nusantara.


"Aku ingin menggugat cerai Agus, Pak. Dia telah menghianati saya," ujar Santi sambil memasuki mobil. Ia ingin segera kembali ke rumah untuk menjalankan rencananya. Ia tidak akan membiarkan Agus hidup enak setelah penghianatan yang dilakukannya.


"Ya, aku yakin Pak Yosi. Untuk buktinya, aku akan meminta orang untuk mengambilnya. Anda tenang saja, lusa bukti itu akan sampai di hadapan anda." Ucap Santi tegas. Tak ada kata maaf lagi untuk Agus. Kali ini ia akan benar-benar menggugat cerai laki-laki yang telah menikahinya seperempat abad itu.


"Baik, terimakasih Pak Yosi. Saya tutup dulu teleponnya, bye." Setelah panggilannya dengan pengacaranya berakhir, Santi kembali menghubungi nomor seseorang.


Sambil menunggu panggilannya diangkat, Santi mulai menjalankan mobil hitam kesayangannya itu keluar dari area restoran. Tatapan matanya yang tegas mengisyaratkan bahwa ia bukanlah wanita sembarangan. Ia lah pemilik asli semua yang saat ini dinikmati oleh Agus.


Keluarga Raharja merupakan keturunan darah biru. Oleh karena itu Santi sangat menjunjung tinggi adat istiadat setempat dan juga perilakunya. Namun entah kenapa ia bisa gagal mendidik anaknya hingga Melinda mampu berbuat curang seperti itu.


"Halo, Ramon?" Panggil Santi. Saat ini ia menelepon bawahan Agus untuk ia mintai tolong.


"Aku ingin bertanya padamu. Kau bekerja pada siapa? Aku atau Agus?" Tanya Santi lagi. Beberapa saat kemudian terbitlah seutas senyuman yang berasal dari kedua sudut bibir Santi.


"Bagus, kau ternyata pintar memilih orang. Aku punya pekerjaan untukmu, Ram. Ambil cctv yang ada di ruangan VVIP tadi, lalu di mobilnya Bapak, setelah itu berikan padaku." Ucap Santi padanya. Setelah mendengar jawaban dari seberang sana, wanita itu segera mengakhiri panggilan tersebut. Saat mobilnya berhenti di lampu merah, ponsel milik Santi kembali berdering. Ia melihat nama sang anak yang saat ini tengah menghubunginya.


'Melinda? Ada apa lagi anak itu menghubungiku? Tidak cukupkah dia mempermalukan seluruh keluarga karena skandal yang dibuatnya? Astaga, kepalaku hampir pecah rasanya.' batin Santi.


"Halo, Ma? Mama dimana sekarang?" Suara Melinda yang terdengar khawatir. Alis Santi berkerut, lalu ia melihat ke arah luar jendela mobil.


"Ini lagi di lampu merah Serayu. Kenapa, Mel? Suaramu terdengar gugup," ujar Santi.

__ADS_1


"Tolong mampir di Mall Serayu, Ma. Aku merasakan sakit di perutku. Aku ada di lobi sekarang," ucap Melinda.


"Sakit? Kok bisa? Tunggu sebentar lagi, Mama akan segera sampai."


Tak lama kemudian mobil hitam milik Santi tiba di lobi Mall. Ia melihat Melinda yang tengah duduk di sudut Mall dengan memegang perutnya yang besar. Dengan cepat Santi memarkirkan mobilnya dan keluar dari sana.


"Apa yang terjadi, Mel? Dimana yang sakit?" Tanya Santi seraya berjongkok di depan sang anak. Ia bisa melihat wajah pucat Melinda serta keringatnya yang berkucuran di keningnya.


"Sa-sakit, Ma." Cicit Melinda. Santi menelisik ke seluruh tubuh Melinda, hingga kedua matanya terbelalak saat melihat noda darah yang mengalir dari sela-sela kaki Melinda.


"Astaga, Ya Tuhan." Pekik Santi. Ia segera berdiri dan melihat sekitarnya.


"TOLONG, TOLONG KAMI," teriak Santi.


Beberapa orang mulai berdatangan ke arah Santi dan Melinda. Santi meminta beberapa orang agar membantunya untuk memasukkan Melinda ke dalam mobilnya. Setelah itu, ia segera membawa tubuh lemah Melinda menuju rumah sakit terdekat.


"Cepat, Ma. Rasanya sakit sekali," keluh Melinda dengan berderai air mata. Rasanya tubuhnya seakan akan terbelah menjadi dua saat ini.


Disisi lain ada sebuah mobil hitam besar yang melaju kencang dari arah belakang Santi. Di dalamnya ada dua orang laki-laki bertubuh besar dengan pakaian serba hitam dan penutup wajah hingga hanya terlihat sepasang matanya saja.


Drrrttt


Drrrttt


"Halo, Bos." Ujar salah satu dari mereka yang mengangkat panggilan itu. Bola matanya yang tajam seakan ingin melahap siapa saja yang ada di hadapannya.


"Sudah ditemukan, Bos. Nomor platnya B 3234 TAC, kan? Kami sudah ada di belakangnya," sahut laki-laki itu.

__ADS_1


"Baik, Bos." Seringaian muncul dibalik masker wajah laki-laki itu. Mendengar kata imbalan besar membuatnya semakin bersemangat dalam menjalankan tugasnya.


Setelah menutup telepon, mobil hitam itu mulai menjalankan rencananya. Perlahan mobil itu mendekat dan berhenti di belakang mobil Santi saat mereka berada di sebuah perempatan besar samping rumah sakit.


Dari arah kanan terlihat ada sebuah truk tronton bermuatan berat yang melaju kencang. Saat truk itu hampir tiba di perempatan jalan, mobil hitam itu langsung tancap gas dan membuat mobil milik Santi terdorong ke jalan depan. Semua orang terkejut dan tabrakan maut itu tak terelakkan lagi.


Brak


Brak


Mobil milik Santi terseret hingga beberapa meter dan berakhir berguling di pinggir jalan. Sedangkan mobil hitam misterius tadi langsung melarikan diri setelah menyelesaikan tugas. Dalam sekejap terdapat banyak sekali orang yang mengerumuni mobil milik Santi.


"Cepat panggil ambulans,"


"Cepat panggil polisi,"


"Astaga, yang satu lagi hamil besar."


"Cepat tolong bantu, Pak."


Beberapa orang saling berteriak meminta pertolongan kepada yang lain. Kemacetan pun tak bisa di hindari. Ada orang yang membantu mengatasi lalu lintas, ada juga orang yang berusaha untuk membuka pintu mobil Santi yang terkunci dari dalam.


"Me-mel?" Panggil Santi. Ia merasa kepalanya sangat pusing sekarang ini. Ia berusaha membuka matanya, ia melirik ke arah kursi yang ditempati oleh sang anak.


Dalam samar penglihatan Santi bisa melihat jika keadaan Melinda begitu memprihatinkan. Kepalanya sudah berlumuran darah dan terlihat tak sadarkan diri. Dan itu membuat Santi semakin merasakan pusing hingga tak lama kemudian ia kehilangan kesadarannya.


"Maafkan Mama, Mel. Maafkan Mama,"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2