
AAI 88 - Penulis best seller
Keesokan harinya, Indah dan Fatimah menuju ke aula hotel tempat dimana acara ulang tahun Kilomedia diadakan. Dengan menggunakan baju gamis berwarna peach, Indah terlihat sangat anggun dan menawan. Sedangkan Fatimah menggunakan baju gamis berwarna biru. Keduanya begitu antusias dan bersemangat dalam mengikuti acara tersebut.
Di sisi lain, Galih saat ini tengah berada di restoran yang kebetulan juga berada di hotel yang sama dengan Indah. Ia bersama rekannya tengah mengadakan meeting bersama salah satu clien yang bekerja sama dengan baik mereka. Dan sudah menjadi langganan mereka mengadakan meeting di hotel itu dikarenakan jaraknya yang lumayan dekat dengan perusahaan mereka.
"Terimakasih atas kerjasamanya, Tuan. Kami akan berusaha sebisa mungkin agar tidak mengecewakan anda beserta rombongan," ucap Galih seraya mengulurkan tangannya pada salah satu petinggi partai politik A. Perusahaannya saat ini bekerja sama dengan partai politik yang kebetulan menjadi kandidat capres paling kuat nanti.
"Sama-sama, Pak Galih. Kami juga senang bisa bekerja sama dengan anda. Ketegasan serta keprofesionalan anda membuat kami terkesan. Apalagi kinerja rekan-rekan anda yang tidak kami temukan di perusahan lain." Ujar laki-laki sedikit tambun itu. Kedua rekan Galih yang turut serta meeting merasa bangga karena bisa bertemu dan berbicara langsung dengan clien penting mereka.
"Terimakasih banyak, Tuan. Semoga kerjasama kita ini terjalin kuat dan bertahan seterusnya," balas Galih. Keenam orang yang berada di meja itupun perlahan bangkit. Saling bersalaman sebelum akhirnya pihak partai politik itu berpamitan kepada Galih dan rekannya.
"Wah, Pak Galih. Terimakasih sudah mengajak saya dan Feri kesini. Akhirnya saya bisa ikut meeting di luar kantor." Ucap laki-laki bernama Hari yang merupakan bawahan Galih. Galih hanya tersenyum tipis mendengar ucapan tersebut.
"Iya, Pak Galih. Mana pernah Pak Sudrajat mengajak kami, beliau selalu mengajak pegawai wanita jika ada meeting di luar. Padahal kami sebagai karyawan laki-laki juga pingin ikut." Sahut Feri dengan sedikit kesal dengan salah satu atasannya yang bernama Sudrajat. Posisinya setara dengan Galih.
"Ya sudah, kalau begitu. Nanti jika ada meeting lagi di luar, aku akan mengajak kalian." Ujar Galih seraya mulai mengemasi laptop serta laporannya. Hari dan Feri bersuka cita mendengar hal itu. Keduanya sampai bertepuk tangan menyambut kabar bahagia itu.
"Wah, Pak Galih memang yang paling top. Iya gak, Fer?"
"Yoi, Hari. Terimakasih ya, Pak."
__ADS_1
"Sama-sama. Sudah, belum? Ayo kita kembali ke kantor, mumpung belum jam istirahat." Ujar Galih yang seketika mendapatkan keluhan dari kedua laki-laki itu.
"Alah, Pak. Kenapa tidak menunggu sampai habis istirahat?" Tanya Hari.
"Betul itu, Pak. O iya, tadi di lobi saya melihat ada acara seperti seminar di aula hotel. Sambil menunggu waktu jam istirahat, mari lihat-lihat kesana dulu Pak. Ya, Pak?" Ucap feri dengan wajahnya yang memohon. Galih mengeryitkan dahi mendengarnya.
"Bukannya itu acara hanya untuk tamu undangan?" Tanya Galih.
"Tidak kok, Pak. Soalnya disana nanti juga acara jumpa fans penulis terkenal tahun ini. Kabarnya bukunya yang terjual tembus di angka sepuluh ribu eksemplar." Jawab Feri. Galih yang mendengarnya merasa sedikit penasaran dengan hal itu. Akhirnya setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Galih menuruti permintaan dari bawahannya itu.
"Baiklah, Ayo kita lihat kesana." Ujar Galih. Hari dan Feri tentu sangat bahagia mendengarnya. Apalagi Feri, dia yang notabene pecinta novel tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bisa meminta tandatangan sang penulis. Oleh karena itu, tadi pagi ia merasa ketiban rejeki nomplok pasalnya Galih memilihnya untuk menemani meeting. Padahal sebelumnya Feri akan ijin siang nanti untuk bisa hadir dan bertemu dengan penulis buku itu.
'Indah?' batin Galih yang terkejut melihat foto Indah yang berada di banner acara. Tanpa bisa ia cegah, air matanya lurus karena kerinduannya akhirnya bisa terobati dengan senyum Indah yang terlihat menawan di foto itu.
Hari dan Feri yang melihat atasannya mendadak berhenti ikut terkejut. Apalagi melihat Galih yang menitikkan air mata membuat keduanya bingung.
"Pak? Pak Galih?" Panggil Feri. Dengan cepat Galih mengusap jejak air matanya demi menyembunyikan perasaan campur aduk nya.
"I-iya," jawab Galih terbata. Ia berusaha menghindar dari tatapan keduanya agar tidak terlihat kesedihannya.
"Anda tidak apa-apa, Pak?" Tanya Heri khawatir. Galih tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Tentu. Em, kalian tahu siapa dia?" Tanya Galih seraya menunjuk ke arah foto Indah. Ia begitu penasaran melihat sosok mantan istrinya yang saat ini tengah berada di kota yang sama dengannya.
"Oh, dia. Dialah penulis buku yang bukunya best seller itu, Pak. Dia jugalah penulis novel terkenal yang berjudul (yang Terlihat Indah). Sebenarnya saya kesini juga mau bertemu dan meminta tandatangan nya Pak. Hehe," ujar Feri. Galih yang terkejut lalu memicingkan matanya kepada bawahannya itu. Di satu sisi ia merasa bangga dengan pencapaian mantan istrinya itu hingga bisa berada di posisi nya saat ini. Tapi di sisi lain ia merasa kesal karena mantan istrinya itu menjadi pusat perhatian orang-orang serta laki-laki.
'Selamat kepadamu, Sayang. Aku merasa bangga pernah menjadi bagian dari hidupmu. Kau semakin cantik dengan balutan baju tertutup seperti itu. Engkaulah bidadari yang Tuhan ciptakan dalam wujud manusia, dan aku orang yang terlalu bodoh karena sudah menyia-nyiakan wanita Sholeha seperti mu.' ujar Galih dalam hati. Ia dan kedua rekannya berjalan memasuki tempat acara. Dari tempatnya berdiri, galih bisa melihat wanita yang dicintainya itu tengah tersenyum manis diatas podium bersama teman-temannya yang lain. Karena posisi Galih yang berada di belakang, ia tidak terlihat oleh mata Indah.
"Ada pertanyaan yang masuk untuk Mbak Permata Indah. Boleh saya bacakan?" Ucap pembawa acara kepada semua orang yang ada di atas podium, salah satunya yakni Indah.
Indah yang mendengar hal itu melihat ke arah kanan kirinya. Ia pun menganggukkan kepala setelah mendapat persetujuan dari yang lain.
"Silakan," setelah mendapat persetujuan dari Indah, pembawa acara itupun mulai membacakan pertanyaan itu.
"Dari @ambara67. Mbak Indah, siapa sosok yang paling berperan penting dalam novel anda? Apakah dia, sosok Gala di novel yang berjudul (yang Terlihat Indah) itu? Kan katanya based on true story. Silakan untuk Mbak Indah menjawabnya," ujar sang pembawa acara. Terdengar suara riuh para tamu yang menginginkan jawaban dari Indah. Indah menghela napas, perlahan senyuman manisnya terbit seraya mulai mengambil gagang mic.
"Ya, memang benar. Karena dialah novel ini saya buat. Beliaulah yang mencintai saya sedemikian besarnya. Sosok laki-laki yang tegas namun begitu lembut di dalamnya. Saya bersyukur karena pernah menjadi bagian dari hidupnya. Dialah Gala dalam kehidupan saya," ucap Indah yang mengundang banyak tepuk tangan serta riuh para tamu.
"Dia siapa, Mbak?" Suara seorang tamu begitu keras kepada Indah. Semua orang yang ada disana ikut terkejut sekaligus penasaran dengan laki-laki yang dimaksud oleh Indah.
Indah tersenyum tipis lalu berkata, "Mantan suami saya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1