
AAI 32 - Kesabaran Indah
Perlahan kelopak mata Indah bergoyang-goyang hingga beberapa saat kemudian terbuka. Indah memalingkan wajahnya menatap ke arah kirinya, tapi kosong. Tak ada sosok Galih yang biasanya tidur di sebelahnya.
"Kemana Mas Galih?" Tanya Indah dengan suara seraknya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding.
"Jam dua pagi? Tidak mungkin kan mereka belum selesai bicara?" Indah bergumam memikirkan suami dan ibu mertuanya yang tadi berbicara empat mata selepas makan malam.
Setelah tadi ia membersihkan dapur, Indah bergegas ke kamar dan berbaring seraya bermain dengan sosial media miliknya. Namun siapa sangka ia justru tertidur padahal ia ingin sekali menunggu Galih dan memintanya untuk tidur sambil memeluk tubuhnya.
Perlahan Indah turun dari ranjang dan memakai kimono tidurnya. Ia berjalan keluar kamar mencari keberadaan sang suami. Ruang tamu, ruang makan, dan ruang keluarga pun tak terlihat Galih berada di sana. Pikiran Indah lalu tertuju pada ruangan kerja milik Galih.
"Apa jangan-jangan Mas Galih ada di dalam sana ya? Sebaiknya aku cek saja," Indah melangkahkan kakinya menuju ruangan tersebut. Dengan sangat perlahan Indah membuka pintu itu.
"Kan, bener. Ternyata dia ada di sini," ucap indah lirih saat melihat tubuh Galih tertidur di atas sofa. Wanita itu mendekat hingga kelua matanya membulat saat melihat buku-buku jari milik Galih terluka.
"Astaga," dengan cepat Indah menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar suara nya tak di dengar oleh Galih. Ia begitu terkejut saat melihat bekas kemerahan yang Indah yakini merupakan bekas Galih yang menyakiti dirinya sendiri.
'Apa yang sudah terjadi? Kenapa Mas Galih menyakiti dirinya sendiri?' berbagai pertanyaan muncul di benak Indah. Ia cukup terkejut kala melihat ada bekas lelehan air mata di kedua pipi Galih.
'Kenapa Mas Galih menangis? Apa jangan-jangan mereka habis berantem lagi? Haih, entahlah. Mereka yang ibu dan anak saja selalu berantem apalagi aku yang hanya sebatas menantu di rumah ini.' ucap Indah dalam hati.
__ADS_1
Tak mau menunggu lebih lama, Indah bergegas mengambil kotak obat yang ada di ruang keluarga. Setelah itu perlahan Indah mengoleskan anti septik di luka kemerahan yang ada pada tangan Galih. Meski perlahan nyatanya mampu mengusik tidur laki-laki itu.
"Sayang?" Suara serak Galih membuat Indah terkejut. Ia menghentikan aktivitas nya sejenak lalu tersenyum tipis pada Galih.
"Maaf ya, Mas. Kalau gara-gara aku, Mas jadi kebangun." Ucap Indah seraya mundur karena Galih beranjak duduk dari tidurnya.
'Entah apa yang akan terjadi jika kau mengetahui semuanya, Indah. Apa kau akan percaya padaku atau justru memilih meninggalkanku? Meski aku sangat mencintaimu.' ujar Galih dalam hati. Dadanya kembali sesak saat melihat wajah cantik sang istri yang saat ini tengah berada tepat di depan matanya.
"Hm, ayo kita ke kamar." Ajak Galih seraya beranjak dari duduknya. Indah hanya bisa mengangguk sambil membereskan kotak obat dan meletakkannya kembali pada tempatnya.
Sebenarnya ia ingin menanyakan tentang luka di tangan Galih, tapi urung ia tanyakan Kaka melihat wajah kelelahan Galih.
"Hm?"
"Apa tadi Mas berantem sama ibu lagi?" Tanya Indah hati-hati.
'Lebih dari itu, Indah. Semuanya telah hancur karena keserakahan ibu dan aku tidak tidak bisa memberitahumu. Aku tidak akan pernah bisa melihat kesedihan di wajahmu, Sayang. Tapi aku janji, aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi.' ucap Galih dalam hati. Ia tidak akan meninggalkan Indah yang telah lama menemaninya disaat dirinya bukan siapa-siapa hingga menjadi seperti sekarang. Indah adalah sosok istri yang begitu baik dan penyabar. Sosok wanita idaman yang diinginkan oleh para laki-laki diluaran sana. Menjadi pendukung disetiap langkah Galih dan senantiasa mendoakannya.
"Hanya pertengkaran kecil saja kok," ucap Galih berbohong. Ia lebih memilih berbohong pada Indah daripada melihat wanitanya itu kecewa. Indah adalah segalanya bagi Galih. Oleh sebab itu, Galih tidak pernah mau melihat Indah menitikkan air matanya karena dirinya.
"Seharusnya Mas harus lebih sabar, Mas. Biar begitu dia ibumu." Ucap Indah menasehati Galih.
__ADS_1
Hati Galih semakin tak karuan, betapa baiknya Indah pada ibunya. Galih tahu jika selama ini perlakuan ibunya tidak baik pada Indah, tapi istrinya itu selalu bersabar menghadapinya.
Galih menghadap ke arah Indah lalu memeluknya. Merasakan energi positif yang keluar dari tubuh sang istri agar bisa menenangkan hati dan jiwanya. Namun bukannya tenang, justru membuat Galih teringat dengan kejadian yang menimpanya dulu. Kejadian dimana yang seharusnya tidak boleh terjadi dalam hidupnya.
'Maafkan aku, Indah. Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan pernah membagi dirimu dengan orang lain meski itu pada anak yang dikandung oleh Melinda. Aku tidak menginginkannya, Indah. Aku rela jika harus hidup tanpa memiliki seorang anak. Tapi aku tidak sanggup hidup jika aku kehilanganmu,' ucap Galih dalam hati. Ia memeluk erat tubuh sang istri hingga membuat Indah merasa heran. Tidak biasanya suaminya itu bersikap seperti itu.
"Mas?" Panggil Indah.
"Maafkan aku, Indah. Maafkan aku," ucap Galih semakin membuat Indah tak mengerti. Ia bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada suaminya. Ia merasa Galih berubah tidak seperti biasanya.
"Kenapa Mas minta maaf? Mas tidak berbuat salah apapun padaku, lalu kenapa minta maaf?" Tanya Indah seraya melepaskan diri dari pelukan Galih. Ia melihat raut wajah suaminya seperti tengah muram. Seperti orang yang tertimpa banyak musibah.
"Selama ini ibu pasti sangat menyakitimu, Indah. Maafkan aku karena tak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa diam. Meski aku sudah memberitahu ibu, tapi percuma saja. Dia tidak akan pernah mendengar perkataanku," jawab Galih seraya menunduk. Selama ini ia berusaha menjadi suami yang baik, yang bisa mencintai dan membahagiakan sang istri. Tapi kini semuanya lenyap. Ibunya telah dibutakan oleh gemerlap dunia hingga membuat Galih menghianati istrinya.
"Jangan bicara begitu, Mas. Aku bersedia menikahm denganmu, tentu saja aku harus bisa menerima ibumu baik dan buruknya. Kita tidak bisa merubah seseorang jika orang itu tidak ada keinginan untuk berubah. Dan untuk ibu, beliau hanya merasa takut karena sampai sekarang kita belum memiliki momongan. Kita sebagai yang lebih muda seharusnya bisa lebih mengerti dan legowo, Mas. Itu sudah menjadi watak ibu dan itu tidak mungkin bisa berubah jika ibu tidak ada keinginan untuk berubah. Kita serahkan semuanya kepada Tuhan dan meminta lebih banyak kesabaran demi menghadapi semuanya. Yang penting kita selalu berpegangan tangan dan saling mencintai. Tuhan pasti akan membantu umatnya yang tengah kesusahan," ujar Indah panjang lebar pada Galih.
"Terimakasih karena telah memahami ibu dan bersabar dalam menghadapinya, Sayang. Aku sangat mencintaimu," ucap Galih dengan menatap kedua manik mata Indah.
"Aku juga mencintaimu, Mas."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1