Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 35 SAH


__ADS_3

AAI 35 - SAH


"Saya terima nikah dan kawinnya Melinda Dewanto binti Agus Dewanto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Galih pada penghulu yang saat ini tengah menjabat tangan kanannya.


San penghulu menatap ke arah dua orang saksi yang ada di kanan dan kiri lalu terdengar suara SAH menjadikan ijab kabul antara Galih dan Melinda akhirnya terwujud.


Hesti dan Kartika menjadi orang yang paling bahagia saat melihat dan menjadi saksi pernikahan mereka. Sedangkan raut wajah kedua orang tua Melinda tampak bersedih karena putrinya hanya bisa menjadi istri siri Galih. Dan itu adalah syarat yang diajukan oleh Galih jika ingin dirinya bersedia menikahi Melinda.


Karena sudah kepalang malu karena kehamilan Melinda, akhirnya kedua orang tuanya hanya bisa pasrah dan merelakannya. Toh Melinda sendiri juga sudah menyetujuinya.


"Akhirnya Galih menikah dengan Melinda, Tika. Akhirnya aku punya cucu," ucap Hesti seraya memeluk adik kandungnya itu. Ia sangat bahagia menyaksikan putranya yang menikah lagi dengan wanita pilihannya.


"Iya, Mbak. Aku turut bahagia untukmu," sahut Kartika seraya membalas pelukan itu. Tentu sebagai ibu dari Dimas ia sangat bahagia karena bisa menjadi bagian dari kejadian hari ini.


'Aku yang lebih bahagia Mbak Hesti. Akhirnya aku bisa menyingkirkan wanita si alan ini dari putra kebanggaan ku. Aku sangat bersyukur saat kau mengatakan ingin menjadikan dia menjadi menantumu. Maka dari itu, aku dengan rela membantumu untuk mendapatkannya. Dan kini, ambilah wanita malam bekas berbagai pria ini untuk menjadi menantumu.' ujar Kartika dalam hati.


Dialah pendukung utama semua rencana Hesti selama ini. Ia dengan sengaja mengompori sang kakak untuk terus mengolok-olok Indah dan mendekatkan Melinda padanya. Beberapa tahun ini Kartika cukup kewalahan karena Dimas yang tak bisa melepaskan Melinda meski tahu sepak terjangnya di dunia malam. Dengan liciknya Kartika membayar banyak pria untuk mendekati Melinda. Beruntung Melinda tipe wanita yang sangat welcome dengan semuanya maka dari itu, Kartika dengan gampangnya membuat Melinda menjalin one night stand dengan beberapa pria. Tentu saja Kartika mengambil banyak sekali potret mereka lalu mengirimkannya kepada sang anak.


Awalnya Dimas tak percaya, tapi setelah dia melihat sendiri dengan kedua matanya ia baru menyadarinya. Saat itu ia memergoki Melinda tengah bercinta dengan salah satu rekan kerja Dimas di salah satu toilet di club' malam. Dimas yang pada dasarnya seorang playboy hanya bisa tersenyum tipis lalu ia memilih untuk pergi dari pada menegur Melinda dan sang pria. Dan sejak itulah, Dimas mulai mencari wanita lain meski statusnya masih bersama dengan Melinda.


Setelah akad nikah mereka selesai, penghulu dan dua orang saksi itu pergi meninggalkan rumah orang tua Melinda yang hari ini menjadi tempat dilaksanakannya pernikahan siri mereka. Begitu juga dengan Kartika, wanita itu turut pulang karena sudah merasa capek karena mengikuti ritual akad nikah Galih dan Melinda.


"Mulai hari ini aku serahkan tanggung jawab Melinda padamu, Galih. Papa harap kamu jangan menyakitinya," ucap Agus pada Galih.

__ADS_1


"Baik," jawab singkat Galih. Ia kehilangan gairah hidupnya setelah ia mengucapkan kalimat akad tadi. Meski berat, tapi ia tak punya pilihan lain. Daripada ibunya memberitahukan semuanya kepada Indah, lebih baik ia menurutinya.


"Bagaimana dengan istrimu, Galih?" Tanya Santi Dewanto, ibu Melinda.


"Saya belum siap untuk memberitahukan semuanya padanya. Mohon dimengerti," jawab Galih dengan nada suaranya yang terdengar ketus. Mana mungkin ia sanggup mengatakannya, setetes air mata Indah saja sangat berharga bagi Galih. Dan ia tak ingin itu semua terjadi, maka dari itu ia berusaha sebisa mungkin agar tidak sampai diketahui oleh Indah.


Santi yang ingin bertanya lagi kepada Galih seketika urung saat melihat gelengan kepala dari sang suami.


"Biarkan saja, Ma. Apalagi Melinda juga sudah bersedia menjadi istri keduanya Galih." Bisik Agus pada sang istri. Santi Hanya bisa menunduk sedih karena status putrinya yang disembunyikan dari khalayak ramai.


"Kalian tidak perlu khawatir, aku akan selalu menyayangi Melinda seperti putriku sendiri. Aku akan selalu memperhatikan dirinya," ujar Hesti agar kedua besannya itu tidak bersedih karena ini. Senyum kemenangan tercipta di bibir wanita licik itu. Ia bahagia bisa mewujudkan keinginannya untuk bisa menjadikan Melinda sebagai menantunya dan berbesan dengan pemilik dari resto terkenal di kota tersebut.


"Iya, Mbak. Aku percayakan putrimu padamu dan putramu. Kita sudah berteman lama layaknya seperti saudara. Iya kan, Pa?" Ucap Santi seraya meminta pendapat dari suaminya.


"I-iya, Ma." Sahut Agus dengan kedua matanya menatap lurus kedepan.


Mereka semua pun beranjak dari sana dan menaiki mobil mereka. Agus dan Santi satu mobil, sedangkan Hesti, Galih, dan Melinda berada dalam satu mobil menggunakan milik Galih. Karena rumah orang tua Melinda berada di sebelah selatan kota Surabaya, membuat mereka sedikit lebih lama dalam perjalanan. Itu karena rumah yang akan mereka tempati berada tak jauh dari kawasan rumah milik Hesti.


Setelah mengendarai mobil selama hampir satu jam lamanya, mereka kini tiba di depan sebuah rumah minimalis kecil yang bercat warna putih dengan nuansa biru di bagian dindingnya. Seorang satpam membukakan pintu gerbang setelah klakson dari Galih berbunyi.


"Mari masuk," ajak Hesti pada besan dan menantu barunya.


Setelah mendapatkan kabar kehamilan Melinda, Hesti mulai mencari hunian baru untuk ditempati oleh Melinda nanti setelah menikah dengan Galih. Lagi-lagi Galih hanya bisa menurut dengan semua yang diperintahkan oleh Hesti jika tidak ingin Indah mengetahui semuanya.

__ADS_1


"Bagaimana, besan? Nyaman kan?" Tanya Hesti saat mereka mulai masuk ke dalam rumah itu.


Agus dan Santi hanya bisa mengangguk kecil mengiyakan perkataan dari Hesti. Seorang ART datang menghampiri mereka semua.


"Ini, Surti. Pembantu yang akan membantu semua kebutuhan Melinda." Ucap Hesti yang memperkenalkan asisten rumah tangga itu kepada Agus dan Santi.


"Selamat e, Tuan, Nyonya." Sapa wanita berumur lima puluh tahunan itu.


Setelah itu mereka pun bersantai di rumah baru itu menemani dua orang yang hari ini berganti status menjadi halal. Raut wajah kebahagiaan terpancar jelas di wajah Melinda dan juga Hesti. Hingga senja mulai menyapa, para orang tua pun memutuskan untuk segera pergi dari sana.


"Jaga dirimu baik-baik, Nak. Galih, Papa dan Mama titip Melinda." Ucap Agus pada sang menantu. Galih hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Ibu pulang dulu ya, Sayang. Selamat menempuh hidup baru, nikmatilah masa-masa kehamilanmu ini. Ibu akan sering-sering mengunjungimu," ucap Hesti pada Melinda setelah kedua besannya pergi.


"Iya, Bu. Terimakasih sudah menyiapkan ini semua untukku," sahut Melinda seraya memeluk tubuh ibu mertuanya. Sedangkan Galih memilih masuk ke dalam rumah daripada melihat kedua wanita itu berpelukan.


"Ya sudah, Ibu pulang dulu. Bye," ucap Hesti seraya beranjak dari sana. Namun langkah kakinya terhenti saat melihat kedatangan Galih dari dalam rumah sambil membawa tasnya.


"Mau kemana kau, Galih?" Tanya Hesti.


"Mau pergi. Aku tidak Sudi tinggal disini bersama wanita ini. Kalau ibu mau, ibu saja yang tinggal disini bersamanya. Aku akan tinggal dengan Indah," jawab Galih santai.


"GALIH,"

__ADS_1


"Tinggal di rumah ini atau ibu akan memberitahukan kepada Indah mengenai pernikahanmu ini,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2