Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 60 - Pelampiasan dan Hasil Sidang


__ADS_3

AAI 60 - Pelampiasan dan Hasil Sidang


Tiga bulan berlalu. Setelah mendapatkan surat dari Indah, Galih pun mengabulkan keinginannya. Ia mengikuti semua kemauan Indah yang ingin berpisah darinya. Tapi untuk ibu dan Melinda, ia tetap pada pendiriannya. Galih tidak pernah pulang ke rumah dan itu membuat Hesti marah besar. Ia melampiaskan semua kepada putrinya. Gita, gadis itu menjadi bulan-bulanan sang ibu karena Galih yang tak kunjung pulang.


"Ampun, Bu. Ampun," jerit Gita kepada sang ibu yang masih memukuli punggungnya dengan gagang sapu. Hesti kembali menggila karena Gita yang pulang telat satu jam dari jadwal yang seharusnya. Hesti mematok waktu pada Gita jika gadis itu keluar rumah. Biasanya Gita pulang tepat waktu pukul sembilan malam, tapi malam ini ia sedikit terlambat dan sampai rumah pukul sepuluh malam.


"Gak kamu gak kakakmu, udah gak peduli sama ibu, ya? Ini hukuman buatmu karena pulang terlambat. Ampun gak? Hah?" Pekik Hesti seraya menyabet gagang kayu itu ke punggung putri bungsunya. Ia sangat marah karena seharian tidak bisa berbuat apa-apa selain di rumah.


Galih yang sudah tak lagi pulang. Kekasihnya yang sudah tiga hari ini tak kunjung memberi kabar. Di tambah hari ini sang putri pulang terlambat. Kepala Hesti seakan ingin pecah, oleh karena itu ia meluapkan semuanya dengan menyakiti fisik Gita.


Plak


Plak


Plak


Sabetan demi sabetan di terima Gita. Tubuh ringkihnya tengkurap di lantai dengan satu kaki Hesti yang menginjak di atas pinggangnya. Wanita itu membabi buta memukuli punggung Gita sampai membuat bajunya robek dan kulitnya terluka mengeluarkan darah.


"Sakit, Bu. Sakit," tangisan seorang Gita nyatanya tak mampu membuat Hesti sadar. Ia masih belum puas memberi pelajaran kepada sang anak. Ia ingin memberi efek jera pada Gita agar dia tidak mengulangi kesalahannya lagi.


Gita Mega Wibawa yang dulunya memiliki tubuh berisi kini berubah menjadi kurus kering. Ia merasa tertekan hidup bersama sang ibu. Setiap Hesti memiliki masalah, selalu dirinyalah yang menjadi tempat pelampiasannya.

__ADS_1


Tak ada tempat Gita mengadu. Ia menutup diri, bahkan dengan sang kakak pun ia tidak pernah cerita meski ia sering kali bertemu dengannya. Baginya, biar saja ia yang menjadi bulan-bulanan sang ibu, asalkan Galih tidak melupakan dirinya dan ibunya.


"Kalau kamu masih gak nurut dan pulang terlambat lagi, Ibu akan memberi hukuman yang lebih berat lagi. Kamu paham?" Teriak Hesti tepat di depan wajah Gita. Ia sampai harus menjambak rambut Gita agar gadis itu mendongak menatap ke arahnya. Wajah cantik Gita yang berlinangan air mata tak mampu membuat Hesti iba.


"I-iya, Bu. Maafkan Gita," lirih Gita. Ia tak punya tenaga lagi, tubuhnya terasa sangat sakit akibat pukulan dari sang ibu.


Setelah mendengar jawaban dari Gita, Hesti langsung membuang sapu di tangannya dan berjalan meninggalkan sang putri di sana.


"Hiks, hiks. Maafkan aku, Bu. Maafkan aku," lirih Gita sambil memejamkan mata. Entah sudah berapa kali ia harus mendapatkan cambukan dari sang ibu. Ia hanya bisa diam dan menerima semuanya. Meski tersiksa, tak terbesit keinginan di dalam diri Gita untuk meninggalkan sang ibu. Ia merasa iba jika harus membiarkan ibunya hidup sendirian. Oleh karena itu, ia rela menjadi tempat pelampiasan Hesti asalkan ibunya tidak menganggu sang kakak.


Saking lelah dan tak mempunyai tenaga lebih untuk Gita bisa bangkit, akhirnya Gita tertidur di atas karpet ruang tamu masih dengan posisi tengkurap. Dari sudut matanya mengalir air mata kepedihan atas semua yang diterimanya dari sang ibu.


Keesokan harinya,


Suara ketuk palu yang berasal dari hakim membuat Galih dan Indah sah menjadi duda dan janda. Di persidangan terakhir ini, Indah tampak datang di temani oleh kedua orang tuanya. Sedangkan Galih tetap seperti biasanya datang seorang diri.


Dari sudut mata Galih dan Indah mengalir setitik air mata. Keduanya saling menunduk kala sang hakim membacakan hasil keputusan sidang perceraian mereka.


'Dan pada akhirnya kita benar-benar berpisah, Indah. Akankah aku bisa berjalan menatap ke depan sedangkan mataku masih tetap saja menatap padamu?' batin Galih.


'Inilah awal hidup kita yang baru, Mas. Semoga kita bisa bahagia meski sudah berbeda arah. Tuhan tidak tidur, semoga kita tetap dalam lindungannya.' batin Indah.

__ADS_1


Hari ini, Indah tampil beda. Ia mengenakan hijab untuk menutupi seluruh rambutnya yang panjang. Galih sampai terpana kala melihatnya untuk pertama kali. Begitu cantik, dan anggun Dimata seorang Galih. Semakin besar penyesalan di diri Galih saat ini. Ia hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar dikehidupan keduanya ia bisa bertemu kembali dengan Indah dan bisa hidup bahagia dengannya.


Setelah sidang berakhir, semua orang yang ada di dalam ruangan itu berangsur angsur keluar. Ditemani kedua orang tuanya, Indah berjalan menuju mobil yang mereka tumpangi. Disaat mobil itu hendak berjalan sosok Galih berdiri di depan mobil, menghalangi jalan mereka yang ingin meninggalkan tempat itu.


"Apa dia sudah tidak waras? Sampai harus berdiri di depan mobil, hah?" Gertak Doni yang merasa terkejut melihat wajah mantan menantunya itu. Indah dan ibunya juga dibuat terkejut akan aksi tiba-tiba dari Galih.


"Sabar, Yah. Mungkin Galih ingin menemui kita," ujar Ratih yang berusaha menenangkan hati sang suami. Ia tidak ingin suaminya itu hilang kendali karena melihat Galih di sana. Sedangkan Indah hanya berdiam sambil terus menatap ke arah wajah mantan suami yang masih ia cintai.


Seperti apa yang dipikirkan Ratih, Galih berjalan menuju pintu samping Doni. Ia mengetuk jendela itu hingga Doni menurunkan kaca mobilnya.


"Ada apa?" Ketus Doni. Ia tidak ingin berlama-lama disana karena bisa membuatnya kalap dan menghajar Galih lagi mengingat semua perlakuan yang diterima oleh Indah.


"Yah?" Suara lembut Ratih membuat Doni hanya bisa menghela napas. Ia berusaha meredam amarahnya yang mulai meninggi saat ini.


"Maaf, Yah. Aku ingin berbicara dengan Ayah, Ibu, dan Indah. Bisakah kita bicara di tempat lain?" Tanya Galih. Melihat kedatangan Indah dan kedua orang tuanya, tentu menjadi kesempatan bagi Galih. Ia ingin meminta maaf kepada mereka karena kesalahannya.


Doni melirik ke belakang, melihat istri dan anaknya mengangguk kecil membuat Doni akhirnya menyetujui keinginan Galih.


"Baiklah. Ayo,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2