
AAI 26 - Galih berbohong
Kelopak mata milik Indah bergerak-gerak. Tak lama kemudian wanita itu terlihat membukanya.
"Astaga, aku ketiduran di depan televisi. Jam berapa sekarang?" Gumam Indah seraya mematikan televisi yang masih menyala. Ia mengalihkan pandangannya pada jam dinding.
"Jam empat pagi? Apa sampai sekarang Mas Galih belum pulang? Kemana ya dia? Apa mungkin dia kerja lembur di kantornya?" Rentetan pertanyaan yang ada di benak Indah karena suaminya yang tak kunjung pulang sejak semalam. Bahkan ia sampai ketiduran di depan televisi karena menunggu dirinya. Namun sayang, sampai fajar yang sebentar lagi menampakkan diri sang suami masih belum muncul juga.
"Aku mau mandi saja. Lalu menyiapkan makanan, kali aja Mas Galih akan pulang pagi ini." Meski gejolak hatinya begitu resah dan gundah, tapi dirinya harus bisa menahan diri. Ia tak mungkin mencurigai suaminya hanya karena tidak pulang dan ini juga baru pertama kalinya.
Indah beranjak dari duduknya dan berjalan naik ke lantai atas setelah ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku akibat tidur dengan posisi duduk.
Tak lama setelah Indah masuk ke dalam kamar, tibalah Galih di rumah itu. Laki-laki itu langsung menuju ke kamar milik ibunya alih-alih ke kamarnya sendiri. Raut wajahnya terlihat kentara sekali kalau sedang menahan amarahnya.
Tok tok tok
Berulangkali Galih menggedor kamar ibunya. Laki-laki itu terus menggedor karena pintu kamar tersebut yang tak kunjung buka juga.
Cklek
"Ada ap-" ucap Hesti terhenti setelah kedua matanya melihat kedatangan sang putra di depannya. Dikiranya tadi Indah, ternyata bukan.
__ADS_1
Galih menyelonong masuk dan langsung menutup pintu kamar ibunya. Ia ingat jika kamar ibunya itu kedap suara, hingga ucapannya takkan terdengar sampai luar kamar tersebut.
"Apa yang ibu lakukan padaku, HAH? Apa ibu benar ibuku?" Pertanyaan menohok Galih pada Hesti. Selama perjalanan pulang, pikiran Galih berkecamuk. Ia tak menyangka jika ibunya dengan tega melakukan hal sekecil itu kepada dirinya yang adalah anaknya sendiri. Bahkan Galih mengira jika dirinya itu bukan anak kandung Hesti, makanya ibunya itu begitu kejam padanya apalagi dengan istrinya.
"Apa yang kau katakan, Galih? Jelas-jelas kamu putraku," ucap Hesti yang tidak terima karena keraguan Galih padanya.
"Lalu kenapa, Bu? Kenapa ibu melakukan ini padaku? Kenapa ibu dengan keji menjebakku dengan wanita si alan itu?" Tanya Galih dengan amarahnya yang sudah melambung tinggi.
Hesti yang mendengar umpatan itu seketika langsung ikut terpancing. Ia tak terima jika Melinda dijelekkan. Bagi dia, Melinda adalah sosok Dewi kecantikan yang merupakan wanita idaman untuk istri anaknya.
"Jangan kamu sebut dia dengan sebutan itu, Galih. Melinda itu wanita terhormat," tegas Hesti dengan kedua matanya yang menatap tajam Galih. Namun Galih malah terlihat tersenyum mengejek. Ia tak menyangka jika ibunya tertipu dengan tampang wanita seperti Melinda.
"Tidak ada wanita terhormat yang akan rela melemparkan tubuhnya demi menjerat seorang suami orang, Bu. Bahkan pela cur di luaran sana tidak akan serendah itu untuk menggaet pelanggannya," desis Galih tepat di depan wajah sang ibu. Ia kehilangan rasa hormatnya pada sosok wanita yang telah melahirkannya itu.
"Maka, jaga tingkahmu itu, Bu. Atau aku akan benar-benar meninggalkan ibu jika kesabaranku sudah habis," balas Galih dengan nada tinggi. Ia tak mau sampai ibunya kian berbuat semaunya karena telah berhasil menjebak dirinya semalam.
Setelah mengatakan itu, Galih bergegas keluar dari kamar tersebut dengan membanting pintunya. Hesti sampai memegang dadanya karena tersentak.
Setibanya diluar kamar ibunya, pandangan mata Galih tertuju pada sebuah pigura foto pernikahan dirinya dengan sang istri. Setitik air mata menetes dari pelupuk matanya tanpa bisa ia cegah.
'Maafkan aku, Indah. Bukan keinginanku untuk menghianatimu karena aku sangat mencintaimu hingga kapanpun. Bagaimana aku bisa menatap wajahmu setelah semua ini terjadi pada diriku? Apa yang harus kulakukan, Tuhan? Aku tak ingin sampai membuat Indah mengeluarkan air matanya karena diriku.' ujar Galih dalam hati. Perasaannya campur aduk hingga tak menyadari jika Indah sudah berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Mas?" Panggil Indah seraya memegang lengan baju Galih. Galih gelagapan dan berusaha menahan diri untuk tak memperlihatkan kehancurannya itu.
"I-iya, Sayang?" Jawab Galih.
"Mas kemana saja? Semalaman tak pulang, aku telepon juga tak di angkat. Aku sangat khawatir, Mas." Keluh Indah pada Galih. Galih langsung memeluk tubuh ringkih Indah dengan eratnya. Mencari ketenangan dalam diri indah agar dirinya bisa merasa lebih baik dari sebelumnya.
Indah mencium ada yang aneh pada parfum suaminya, tapi ia buru-buru menepis pemikiran itu dari benaknya.
"Kamu kenapa, Mas? Capek? Memang lembur semalam suntuk kah?" Tanya Indah yang kian membuat dada Galih terasa sesak.
'Lihatlah, Tuhan. Bagaimana aku bisa menyakiti wanita yang sangat lembut ini? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika indah sampai tahu apa yang kualami kemarin malam? Aku tak sanggup melihatnya terluka, Tuhan. Aku tak sanggup,' setetes air mata Galih menetes kembali membasahi pakaian Indah saat ia mengucapkan kata-kata tersebut dalam hati. Dengan cepat Galih menghapus jejak air mata itu agar tak dilihat oleh Indah.
"Hm, aku sangat lelah Ndah. Aku butuh pelukanmu," ucap Galih yang masih betah memeluk tubuh Indah yang segar dan berbau harum sabun serta lotion yang digunakan olehnya.
Indah terkekeh mendengar ucapan tersebut. Namun ia kemudian merasa was-was jika kelakuan keduanya itu dipergoki oleh ibu mertuanya.
"Lepaskan, Mas. Nanti ibu bisa melihat kita," bisik Indah yang takut ketahuan oleh Hesti.
"Baiklah, aku ke atas dulu." Galih langsung melepaskan pelukannya dari Indah dan bergegas pergi ke kamar milik mereka. Langkahnya yang terlihat gontai membuat Indah merasa kasihan.
'Kasihan Mas Galih. Dia sampai harus lembur di kantornya demi kami. Semoga lelahmu menjadi berkah bagi kita semua, Mas.' gumam Indah yang kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia harus segera mulai memasak karena waktunsudah menunjukkan pukul setengah enam pagi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...