
AAI 48 - Pertengkaran Galih dan Hesti
Suara denting jarum jam mengusik pendengaran seseorang. Pelan tapi pasti kedua kelopak matanya mengerjap, berusaha menyesuaikan dengan keadaan di sekitarnya. Tangan kanannya terangkat, memegangi kepalanya yang terasa berat.
Eugh,
Lenguhan yang berasal dari mulut laki-laki itu terdengar sampai di telinga sang ibu. Dengan cepat wanita itu bangkit dan menghampiri ranjang sang putra. Raut wajahnya begitu khawatir akan kondisinya saat ini.
"Galih? Kau sudah bangun, hm? Galih?" Berulang kali Hesti memanggil nama Galih. Dahi Galih berkerut saat melihat pemandangan disekitarnya. Putih, dan berbau alkohol yang menyengat. Sedetik kemudian Galih tersadar, ia teringat dengan semua kejadian yang ia alami hari ini.
"Indah? Indah dimana, Bu? Indah dimana?" Tanya Galih antusias menanyakan keberadaan sang pujaan hati.
"Tenanglah, Galih. Indah berada di kamar sebelah. Dia belum sadarkan diri," sahut Hesti.
Di dalam kamar itu hanya Hesti sendirian yang menunggui Galih. Kartika beserta suaminya sudah pergi beberapa menit yang lalu dikarenakan ada telepon penting dari kantor tempat Sudarman bekerja.
"Tidak, aku harus melihatnya dengan mata kepala ku, Bu. Aku harus melihatnya," dengan menggelengkan kepalanya, Galih berusaha menarik selang infus itu dari punggung tangannya. Ia ingin segera menemui Indah, wanita yang sangat ia cintai itu.
Namun Hesti berusaha untuk mencegahnya. Galih masih butuh istirahat akibat pingsannya.
__ADS_1
"Jangan sekarang, Galih. Kamu masih butuh istirahat. Lagi pula sudah ada Ayah dan Ibunya yang menungguinya di dalam sana," ucap Hesti yang seketika membuat tubuh Galih membeku. Ia sangat terkejut saat mengetahui kedua mertuanya kini telah datang di rumah sakit tersebut. Apa jadinya jika keluarganya tahu tentang semua yang telah terjadi pada putrinya. Galih dilanda ketakutan yang sangat besar, apalagi sosok ayah Indah merupakan laki-laki yang tegas dan tidak pandang bulu.
"Ayah? Ibu? Mereka datang?" Tanya Galih dengan gemetaran.
"Ya iyalah. Ibu mengabari mereka karena memang seharusnya begitu," jawab Hesti sewot. Mana mungkin ia bisa menjaga Galih dan Indah sendirian. Maka dari itu ia menghubungi keluarganya Indah untuk membantu menjaganya.
'Jangan-jangan mereka ingin membawa Indah pergi dari hidupku? Tidak, aku tidak akan membiarkan mereka membawanya pergi. Indah adalah isteri ku, dan selamanya hanya akan menjadi milikku. Ya, aku akan memperjuangkan pernikahan kami karena aku sangat mencintainya.' ujar Galih dalam hati. Ia tidak mungkin akan membiarkan kedua mertuanya membawa Indah pulangke rumah mereka. Galih rela mendapat hukuman apapun dari mereka asalkan jangan dipisahkan darinya.
'Kalau perlu aku akan bersujud dikaki mereka memohon ampun atas semua yang telah terjadi. Ya, aku akan melakukan itu semua demi Indah. Demi kekasih hatiku,' imbuh Galih. Ia menyemangati dirinya sendiri agar lebih percaya diri bisa mempertahankan pernikahannya dengan Indah.
"Galih? Galih?" Panggil Hesti saat ia melihat Galih yang tampak melamun. Galih segera tersadar, lalu ia berusaha turun dari tempat tidur itu.
"Apa yang kau lakukan, hah? Kau mau kemana, Galih? Kamu itu masih butuh istirahat," ujar Hesti dengan nadanya yang meninggi. Namun Galih tampak acuh dan terus berusaha berdiri dari duduknya.
Hesti tak mau menyerah, ia ikut bangkit dan berdiri di depan Galih. Wanita itu memegang kedua tangan Galih dan menggenggamnya erat.
"Dengar, Galih. Ibu mohon, istirahatlah terlebih dahulu. Kondisimu belum pulih benar, dan dokter menyarankan untuk kau makan dulu. Makanlah, ini sudah mulai sore." Ucap Hesti pada Galih. Raut wajah Galih berubah. Ia hanya menatap datar ibunya, tak ada sinar kehidupan Dimata laki-laki itu. Fokusnya saat ini hanyalah Indah, tidak yang lain.
"Mana mungkin aku bisa makan sedangkan istriku tengah berbaring disana, Ibu? Apa Ibu mikir bagaimana perasaanku saat ini, HAH? Aku hancur, Bu. Aku sangat hancur," bentak Galih tepat di depan mata Hesti. Jantung Hesti seakan berhenti berdetak saat mendengar suara tinggi itu. Ia tidak menyangka Galih akan semenakutkan ini jika tengah marah. Pasalnya rona wajah laki-laki itu saat ini berubah memerah, menahan semua amarah yang kini menguasainya.
__ADS_1
"Sa-sabar, Galih. Ibu tahu apa yang kau rasakan saat ini. Tapi Ibu mohon, kendalikan dirimu. Saat ini kita tengah berada di rumah sakit," ujar Hesti dengan nada sarat akan memohon kepada Galih. Namun sayang, bukannya bersabar justru Galih mengepalkan kedua tangannya. Mengingat semua adalah rencana busuk sang ibu, membuatnya harus menduakan sang istri.
"Sabar, kata Ibu? Gara-gara jebakan yang Ibu buat, kini rumah tanggaku diambang kehancuran. Apa ini yang Ibu inginkan, iya? Ibu menghancurkan rumah tanggaku dengan membuatku harus menikahi wanita lain, HAH? Aku tak habis pikir, kenapa Ibu tega padaku. Apa salahku dan Indah, Bu? Apa kurangnya istriku?" Desis Galih dengan kedua matanya yang sudah berlinangan air mata. Ia masih ingat bagaimana hancurnya hati sang istri saat mengetahui kebenaran Melinda yang telah menjadi madunya.
Hesti merasa sakit hati mendengar semua ucapan Galih. Ia tidak suka mendengar Galih yang selalu memuja Indah, padahal wanita itu hingga kini tidak bisa memberi keturunan.
"Salahnya hanya satu, Galih. Istrimu tidak bisa memberimu keturunan, kau tahu itu. Sedangkan Ibu sudah sangat ingin menimang cucu. Salahkah Ibu yang menginginkan itu, hah? Sampai kapan Ibu harus menerima hinaan dari teman-teman Ibu karena hingga sekarang belum memiliki cucu? Ibu malu, Galih. Ibu malu," balas Hesti dengan suaranya yang meninggi. Saat dirinya berkumpul dengan teman-teman arisannya, Hesti selalu menyabarkan diri ketika mereka begitu asik membicarakan cucu-cucu mereka. Meski dalam hati Hesti mengumpati mereka tapi ia tahan. Tidak mungkin ia akan mencak-mencak di hadapan mereka atau harga dirinya akan tercoreng. Dan semua itu gara-gara Indah yang belum juga bisa hamil.
"Lalu sekarang? Lihatlah, gara-gara Ibu kami harus kehilangan calon bayi kami. Semua itu gara-gara IBU," bentak Galih sekeras-kerasnya. Kedua matanya terbelalak seakan ingin keluar dari tempatnya saking dirinya dikuasai oleh amarah. Entah apa jadinya jika yang dihadapannya itu bukan sang Ibu. Bisa saja Galih akan menghabisinya.
Tak ada kata yang keluar dari mulut Hesti. Ia tahu itu, dokter yang menangani Indah mengatakan semuanya. Dalam hati ia merasa bersalah, tapi dia begitu gengsi untuk sekadar mengatakan permintaan maafnya.
"Bukan salah Ibu, Galih. Itu karena kau yang bertengkar dengannya." Kilah Hesti.
"Jika saja kau bisa bicarakan semuanya dengan kepal dingin, tidak mungkin Indah akan berakhir di sini." Imbuh Hesti yang kian memojokkan Galih. Melihat Galih yang menundukkan kepala, membuat Hesti tersenyum tipis.
'Maafkan aku, Indah. Maafkan aku, ini semua salahku.'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1