Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 16 Pulang


__ADS_3

AAI 16 - Pulang


Sementara di dalam mobil, ketiga manusia itu saling diam. Galih fokus dengan kemudinya, Indah memikirkan segala hal yang terjadi selama diacara tadi, sedangkan Hesti tengah memendam kekesalannya di bangku belakang.


Ia begitu kesal dengan sikap Galih yang ditunjukkannya di hadapan para tamu. Hesti tak menyangka jika anaknya itu bisa mengorbankan nama baiknya demi melindungi wanita yang menjadi istrinya itu.


'Gara-gara wanita ini, Galih mulai berani padaku. Aku tak bisa menunggu waktu lama lagi. Aku harus bisa melakukan sesuatu agar bisa memisahkan mereka berdua,' batin Hesti dengan tatapan matanya yang menatap kearah pantulan wajah Indah yang terlihat di spion mobil. Bahkan jelas terlihat di kedua bola mata renta Hesti yang membara akibat amarahnya.


Tanpa sengaja Galih melihat arah pandangan mata ibunya itu pada Indah. Sampai sekarang Galih masih belum mengerti kenapa ibunya itu begitu kasar dan tidak bisa menerima Indah sepenuhnya. Padahal Indah sudah melakukan segalanya untuk menarik perhatian ibunya.


'Aku tak tahu apa yang membuatmu begitu membenci Indah, Bu. Tapi yang jelas aku tidak bisa memilih diantara kalian berdua. Kalian adalah duniaku, dan aku tidak bisa hidup jika tanpa kalian disisiku. Semoga ibu bisa secepatnya sadar dan bisa menerimanya,' ujar Galih dalam hati seraya ia fokus dengan kemudinya.


Disaat keheningan di dalam mobil itu kian terasa, terdengar suara telepon berbunyi nyaring. Hingga membuat ketiganya tersentak lalu terlihat Hesti yang merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel miliknya.


Senyum seringai Hesti muncul tatkala nama adiknya terpampang nyata disana. Tak perlu menunggu waktu lama lagi, Hesti segera menerimanya.


"Halo?" Ucap Hesti.


"Sudah sampai mana, Mbak?"


"Ini masih sampai di perempatan Jalan besar depan gang rumah mu. Ada apa, Kartika?" Tanya Hesti.


"Tapi Mbak semobil dengan Galih, kan? Aku takut jika Galih meninggalkanmu dan membuatmu menggunakan taksi,"

__ADS_1


"Tidak, tenang saja. Aku tadinya juga mikir begitu. Tapi tidak, untungnya Galih masih mempunyai rasa iba padaku dan tidak durhaka dengan ibunya sendiri karena membela orang lain," ucap Hesti masih dengan memegang ponselnya di telinga.


Galih yang mendengar ucapan tersebut seketika mengeratkan pegangan tangannya pada stir mobil nya. Ia begitu sakit hati mendengar ibunya yang berbicara seperti itu kepada sang Bibi.


Indah yang tahu jika suaminya itu tengah menahan amarahnya, perlahan Indah merah tangan kiri Galih hingga membuat laki-laki itu menoleh. Indah tersenyum dan menggelengkan kepalanya kepada sang suami. Galih menghela napas, ia berusaha untuk memahami dan tak mengambil pusing dengan ucapan pedas dari ibunya barusan.


Namun sayang, amarah yang tadinya sudah mulai dingin akhirnya kembali membara ketika mendengar lanjutan dari sang ibu.


"Ya, andaikan aku punya menantu seperti Melinda. Aku pasti akan bahagia sekali," ucap Hesti dengan tawa renyahnya tanpa mempedulikan Indah yang kini sudah meneteskan air mata.


Meski Indah menatap ke luar jendela, tapi Galih masih bisa melihatnya melalui pantulan dari kaca tersebut.


"Stop, Bu. Kalau Ibu masih belum bisa berhenti bicara, aku akan menurunkan Ibu disini." Bentak Galih yang seketika membuat Hesti mendecih. Mau tak mau ia menutup telepon itu daripada harus berjalan diatas trotoar pada malam hari yang dingin ini.


'Tak cukupkah Ibu menyakitiku sedari tadi disana? Hingga membuat Ibu kembali menyakiti hatiku saat ini? Apa yang harus aku lakukan, Bunda? Aku merasa sudah tidak kuat lagi harus berada satu atap dengan ibu mertuaku ini.' ucap Indah dalam hati. Ia seketika teringat dengan bundanya yang berada jauh di sana.


Melihat indah yang beberapa kali menghapus jejak air matanya, membuat Galih mengulurkan tangan kirinya untuk menyentuh punggung tangan Indah. Indah yang tadinya menatap ke jalanan kini menoleh.


Indah berusaha memperlihatkan senyuman manisnya meski dalam hati ia merasakan sakit yang tak terkira. Memiliki mertua yang mulutnya sepedas cabai rawit merah nyatanya tidak mudah. Berbagai cara sudah Indah lakukan untuk mengambil hati ibu mertuanya itu.


Meski Galih bisa melihat senyum manis Indah, tapi ia merasakan bagaimana perasaan istrinya itu saat ini. Galih membalasnya dengan senyuman serta anggukan kecil padanya.


Tak beberapa lama kemudian mobil yang dikendarai oleh mereka telah sampai di depan pelataran rumah mereka. Hesti melangkah cepat terlebih dulu, meninggalkan anak dan menantunya disana. Sedangkan Galih membukakan pintu mobil untuk indah.

__ADS_1


"Maafkan ibu, Sayang." Ujar Galih seraya menatap ke wajah cantik Indah ketika keluar dari dalam mobil.


"Iya, Mas." Sahut Indah seraya menundukkan wajahnya. Ia tak berani mengangkat wajahnya karena kedua matanya yang sudah terasa memanas sejak tadi.


'Entah sampai kapan aku bisa bertahan, Mas? Andai kata aku bisa memilih, aku akan lebih memilih untuk tinggal bersama kedua orang tua ku daripada dengan ibumu. Tapi apa dayaku? Semenjak kau menjadi suamiku, aku berkewajiban untuk mengikuti kemanapun kau pergi, sekalipun itu harus tinggal bersama dengan ibumu.' ucap Indah dalam hati.


"Baiklah, ayo kita masuk. Hawa dingin tidak baik untuk tubuhmu," ucap Galih seraya merangkul tubuh Indah yang saat ini memang menggunakan gaun pesta simpel dan tipis, berbahan satin.


Mendengar ajakan itu, Indah ahnaya bisa menuruti perintah suaminya. Langkah kaki keduanya saling berirama, sejajar dengan sedikit tergesa mengingat hari semakin malam. Sesampainya di dalam rumah, Galih bisa melihat ibunya yang tengah berada di dapur, tengah minum. Kesempatan untuk nya agar ia bisa mengajak ibunya itu berbicara.


"Kau masuklah dulu, Sayang." Ucap Galih seraya menghentikan langkahnya. Indah ikut berhenti dan menoleh ke arah Galih.


"Ada apa, Mas?" Tanya Indah. Galih tak menjawab, tapi sudut matanya menatap ke arah dapur. Indah mengikuti arah pandang itu dan seketika membuatnya takut.


'Astaga. Jangan bilang kalau Mas Galih ingin berdebat dengan ibu karena kejadian tadi? Tidak-tidak. Jangan sampai itu terjadi,' meski Indah kecewa dengan ibu mertuanya, tapi ia juga tak ingin sampai hubungan antara ibu dan anak itu renggang gara-gara dirinya.


"Jangan, Mas. Aku mohon," ucap Indah mengiba pada suaminya. Galih menoleh lalu tersenyum tipis. Ia menghadap Indah dan memegang kedua bahunya.


"Tenanglah, Sayang. Aku tidak akan bicara macam-macam sama ibu. Aku hanya ingin mengajaknya mengobrol santai," dengan seutas senyumannya, Galih mengatakan itu supaya tidak membuat Indah menghawatirkan dirinya.


"Tapi, Mas..."


"Sudah. Jangan tapi-tapian, Indah. Ikuti saja oerkataanku. Oke?" Belum jug Indah menyelesaikan ucapannya, Galih lebih dulu menyela. Sehingga membuat indah tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti semua perintah dari sang suami.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku ke atas dulu, Mas." Setelah memastikan apakah Ndah sudah keatas dan masuk ke dalam kamar, barulah Galih berjalan mendatangi ibunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2