Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 25 - Kemurkaan Galih


__ADS_3

AAI 25 - Kemurkaan Galih


Eugh,


Suara lenguhan berasal dari mulut Galih. Laki-laki itu memegangi kepalanya yang terasa berat dan pening.


"Kepalaku sangat sakit," ujar Galih dalam hati dengan tangan kanannya yang memegang kepalanya. Pelan tapi pasti ia membuka matanya. Melihat sekitar hingga membuat dirinya terkejut karena terbangun ditempat yang bukan miliknya.


"Dimana aku?" Tanya Galih lirih hingga pandangannya tertuju pada sesosok wanita yang berada disampingnya.


Deg


Galih semakin dibuat terkejut kala melihat wanita yang bukan istrinya dengan berani memeluk tubuhnya. Dengan cepat Galih beranjak bangun dari tidurnya. Kedua matanya terbelalak saat melihat tubuhnya saat ini telan Jang bulat tanpa sehelai benangpun.


Pikirannya berkecamuk hingga ingatannya kembali pada saat sang ibu mendatangi dirinya dan memintanya untuk pulang bersama. Dan saat di tengah perjalanan ia diberikan sebotol minuman yang kemudian membuat dirinya kehilangan kesadarannya. Kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya berubah memutih saking eratnya. Perasaan hancur, kecewa, dan amarah kini menguasainya.


Baji Ngan


Dengan cepat Galih memakai pakaiannya yang berserakan di lantai. Pikirannya kalut karena kejadian ini. Ia begitu hancur karena telah menghianati sang istri yang begitu mencintainya dan ia cintai. Menghianati wanita yang selalu ada di sampingnya dan menemaninya semenjak dirinya belum menjadi apa-apa hingga sekarang.


Gerakan cepat dan terburu-buru Galih menimbulkan suara gaduh hingga membuat wanita yang masih tidur di atas ranjang besar itu menggeliat.


Perlahan Melinda mengerjapkan mata hingga ingatannya kembali pada kejadian kemarin malam. Ia bangun dan memegang selimut tebal itu hingga menutupi tubuhnya sebatas dada. Pandangannya tertuju pada sosok laki-laki yang ia inginkan itu kini telah menjadi miliknya seutuhnya.


"Kamu sudah bangun, Mas?" Dengan tanpa bersalah, Melinda menanyakan hal itu. Ia tak tahu jika pertanyaan yang ia lontarkan itu mampu membuat jiwa amarah Galih berkobar.

__ADS_1


Masih dengan kemejanya yang belum rapi, galih menghampiri wanita itu dan langsung menarik rambutnya hingga membuatnya mendongak keatas dan merintih kesakitan.


Aw


"Sa-sakit, Mas." Keluh Melinda. Ia begitu takut melihat kedua mata Galih yang tampak berkobar saat menatapnya kali ini.


'Ke-kenapa dia sangat menakutkan?' batin Melinda yang merasa ciut nyali melihat kemarahan dari Galih.


"Apa yang sudah kau lakukan padaku, Ja lang? Dasar wanita murahan. Apa semua ini bekerjasama antara kau dengan ibuku untuk bisa menjebakku, HAH?" Bentak Galih tepat di depan mata Melinda. Di dalam kedua matanya nampak terlihat seperti ada kobaran api yang mampu menghanguskan apa saja yang ada di depannya. Dan Melinda bisa melihat itu. Raut wajah cantik nya kini tampak pias melihat wajah garang Galih yang selama ini tak pernah ia lihat. Meski Galih terlihat selalu dingin, tapi Melinda tak menyangka jika ia akan menjadi semenakutkan ini.


"Ma-mas? A-aku..." Tenggorokan Melinda seakan tercekat. Ia tak mampu lagi mengucapkan kata-kata. Kedua matanya tampak memerah karena ketakutan akan murka Galih yang akan dilampiaskan padanya.


"Asal kau tahu, Wanita. Aku hanya mencintai istriku dan akan selalu mencintainya. Meski kau telan Jang bulat didepan mataku sekalipun, aku tidak akan pernah tergoda karena hanya istriku lah yang menjadi rumahku untuk pulang. Jika kau berpikir ingin menggunakan cara menjijikan ini untuk menjeratku, maka kau salah. Bahkan untuk melihatmu saja aku tak ingin karena tidak ada wanita lain dihidupku selain Indah Permatasari." Desis Galih dengan suaranya yang sangat tegas. Otot-otot yang ada di wajahnya ikut memegang saat ia mengatakan hal itu.


Galih yang mendengar ucapan itu seketika langsung menarik selimut tebal itu hingga kini terlihat setitik noda merah yang sudah mengering di atas sprei ranjang nan putih itu. Noda merah sebagai tanda hilangnya sebuah kehormatan seorang wanita. Galih tampak tertegun melihatnya. Sedetik kemudian ia menggeleng-gelengkan kepala menolak kenyataan yang kini berada di depan matanya itu.


"Tidak, itu tidak mungkin. Aku tidak mungkin melakukannya." Desis Galih seraya menghempaskan kepala Melinda hingga membuat tubuh wanita itu terdorong ke depan. Dengan cepat Galih membenahi penampilannya karena ia harus segera pulang untuk menemui istrinya.


'Aku harus pulang. Indah pasti menungguku semalaman. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Ibu. Ini semua pasti ulahnya. Dialah otak dibalik kejadian ini,' batin Galih yang merasa geram dengan kelakuan ibunya yang sudah melewati batas.


Saat langkah kaki Galih ingin meninggalkan tempat itu, suara Melinda kembali terdengar hingga membuat tubuh Galih membeku di tempatnya.


"Bagaimana jika aku hamil, Mas? Ini adalah masa suburku." Kata-kata yang keluar dari mulut Melinda seketika terdengar bagaikan seperti petir yang menyambar tubuh Galih di pagi itu. Napasnya tercekat, hingga membuat Galih seakan sulit untuk mengambil napasnya.


Perlahan Galih berbalik dan menatap Melinda yang masih setia duduk di atas ranjang dengan memegang selimut guna menutupi seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Maka itu bukan darah dagingku. Aku yakin itu." Desis Galih dengan kedua tangannya yang masih mengepal kuat. Dalam hati ia juga mengucapkan hal yang sama. Ia bersikeras tak mengakui jika dirinya telah melakukan itu meski bukti sudah di depan mata.


"Kamu jahat, Mas. Setelah semua yang kuberikan padamu, kau tak mau mengakuinya. Aku sangat mencintaimu, Mas. Aku sangat mencintaimu dan ingin menjadi istrimu." Melinda menangis tersedu-sedu kala ia mengatakan hal itu.


"TUTUP MULUTMU!" Suara keras milik Galih menggema di dalam kamar hotel itu. Telunjuk kanannya mengarah tepat di depan kedua mata Melinda yang masih setia dengan tangis buayanya.


"Bahkan jika itu memang benar anakku, aku tidak akan pernah menerimanya karena aku hanya ingin memiliki anak dari istriku. Dan istriku hanyalah Indah Permatasari, bukan yang lain." Ucap Galih tegas. Kemudian Galih berbalik dan berjalan kembali. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti lagi.


"Dan ingat satu hal. Jangan kau pikir karena mendapatkan dukungan dari ibuku, kau bisa memisahkan ku dengan Indah. Itu tidak akan pernah terjadi karena aku ditakdirkan hanya untuk menjadi miliknya seutuhnya." Tanpa melihat ke belakang, Galih mengatakan kalimat itu dengan nadanya yang sangat tegas.


Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah Indah. Bagaimana ia bisa menjelaskan semua yang ia alami kepada sang istri? Akankah Indah akan percaya sepenuhnya kepada dirinya atau malah akan meninggalkannya jika ia tahu yang sebenarnya? Galih harus segera pulang dan bertemu dengan istrinya.


Brakk


Galih membanting pintu kamar hotel itu hingga membuat Melinda sampai terjingkat karenanya. Wanita itu terlihat mengepalkan tangan seraya melihat kepergian laki-laki yang semalam bersamanya itu.


'Jika aku tak bisa membuat kamu lepas dari istrimu, Maka biarkan istrimu yang akan melepasmu Mas. Aku masih punya segudang cara untuk bisa melakukannya. Apalagi ada bukti kuat yang kini berada dalam genggaman tanganku,' gumam Melinda. Beruntung semalam ia mengotori ranjang putih itu dengan noda merah, seakan itu merupakan darah keperawanan miliknya yang direnggut oleh Galih.


Argh


Wanita itu tampak memukul-mukul ranjang itu demi melampiaskan segala emosi yang menguasainya. Emosi karena Galih yang begitu sulit ia taklukkan meski ia telah menyerahkan dirinya sekalipun.


'Tidak, aku tidak segampang itu untuk menyerah. Tunggu saja, apa yang akan aku lakukan setelah ini.'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2