
AAI 24 - Kegelisahan Indah
Bruk
Dua orang pegawai hotel membantu Galih yang tak sadar itu berbaring di atas ranjang kamar hotel yang telah di booking oleh Melinda kemarin.
Melinda dan Hesti berjalan mengikuti mereka di belakang. Melinda begitu bahagia saat melihat kehadiran Galih meski dengan kondisi yang seperti itu.
'Tak apa, yang penting aku bisa mendapatkan dia meski dengan cara paling licik sekalipun. Indah, Indah. Kini milikmu akan menjadi milikku seutuhnya. Tunggu saja kehancuranmu,' batin Melinda seraya melihat tubuh kekar Galih yang terlentang di atas ranjang sana.
"Sekarang lakukan tugasmu, Melinda. Tante sudah membawanya kemari, dan itu butuh perjuangan yang sangat keras. Tante harap rencana ini akan berhasil agar kamu bisa menjadi menantu Tante," ucap Hesti yang membuyarkan lamunan Melinda. Wanita itu tergagap kemudian ia menganggukkan kepalanya menyanggupi perintah yang diberikan oleh Hesti padanya.
"Tante jangan khawatir. Meli akan melakukannya dengan sangat baik. Aku akan membuat wanita itu menuntut cerai pada Mas Galih dan membuatku menjadi menantu satu-satunya Tante." Ucap Melinda dengan memeluk tubuh Hesti dari arah samping. Hesti menganggukkan kepala mendengar ucapan dari Melinda. Ia sangat percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu. Dimata Hesti, tak ada satu wanita yang pantas mendampingi Galih selain Melinda. Sudah cantik, tinggi, putih, pintar, mempunyai bisnis pula.
"Kalau begitu, Tante pulang dulu. Okay?" Ucap Hesti dan dijawab anggukan kepala dari Melinda. Wanita itu mengantar kepergian Hesti hingga ambang pintu kamarnya. Setelah itu, Melinda berjalan menghampiri tubuh Galih yang masih tak sadarkan diri karena obat bius yang diberikan oleh Hesti melalui air putih yang diminum oleh Galih.
Melinda berjalan menuju pinggir ranjang dan duduk di sana. Pandangan matanya tertuju pada sosok dingin Galih yang kini berada di depannya. Tangan kanannya terulur membelai garis wajah yang sangat tegas itu. Bulu-bulu halus yang ada di sekitar dagu serta leher Galih membuat Melinda semakin tergila-gila padanya.
Sosok makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan nyata bagi Melinda. Namun sayang, bulan dirinyalah pemilik dari tubuh dan jiwa laki-laki itu. Tapi tak mengapa, itu bukan masalah.
"Lihatlah, Galih. Pada akhirnya kau akan menjadi milikku, hanya milikku." Gumam Melinda dengan senyum seringainya yang menghiasi wajah cantik nya.
__ADS_1
Perlahan wanita itu membuka satu persatu pakaian milik Galih dan membuangnya asal. Setelah itu, giliran dirinya. Melinda melepaskan semua pakaiannya sendiri hingga membuat ia dan Galih sama-sama polos. Setelah itu, Melinda masuk ke dalam selimut tebal dan memeluk tubuh kekar Galih.
"O iya, aku lupa. Aku akan mengabadikan momen ini untuk kenang-kenangan kita, Mas. Dan akan ku gunakan juga untuk senjataku agar kau tak lari dariku." Ucap Melinda seraya melancarkan aksinya. Berbagai pose ia berfoto ria dengan tubuh Galih yang terlihat polos sama dengan dirinya. Meski tak sampai bawah, tapi bagi siapa yang tahu dan melihat foto itu, mereka pasti berpikir sedemikian rupa seperti apa yang dibayangkan oleh Melinda.
"Entah mengapa, aku tidak sabar melihat bagaimana reaksi istrimu jika melihat foto-foto ini, Mas." Setelah selesai dengan aksinya, Melinda pun memejamkan mata seraya memeluk tubuh Galih. Hari ini ia begitu lelah karena menuruti kemauan Dimas dan juga Hesti yang seharian mengajaknya pergi belanja.
Di rumah Galih,
Setelah menyelesaikan rencananya, Hesti pulang ke rumah. Dengan menenteng beberapa paper bag, wanita itu berjalan memasuki rumah dengan wajahnya yang sumringah. Kebetulan saat itu Indah tengah memasak, jadi ia tak mengetahui kepulangan ibu mertuanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Indah pun juga sudah selesai membersihkan tubuhnya dan turun ke bawah. Berulangkali ia menatap ke layar ponselnya untuk menunggu balasan atau panggilan dari suaminya.
"Ayo makan, aku sudah lapar." Ucap Hesti yang baru saja tiba dan duduk di kursi miliknya. Indah tampak kikuk dan tak menyahuti ucapan dari ibu mertuanya itu.
"Tapi Mas Galih belum pulang, Bu." Jawab Indah. Ia begitu khawatir dengan suaminya saat ini. Pesan dan panggilan darinya tak satupun yang mendapat balasan dari Galih. Ini pertama kalinya selama keduanya bersama.
Hesti yang mendengar hal itu seketika tersedak lalu ia buru-buru minum air putih. Ia berusaha tetap tenang meski dalam hati merasa deg-degan.
"Palingan juga lembur. Makan aja dulu, nanti juga pulang. Mau makan kok repot," gerutu Hesti seraya melanjutkan makannya.
'Sebentar lagi. Sebentar lagi aku bisa melihat putraku bersanding dengan Melinda. Ah, betapa bahagianya aku.' ujar Hesti dalam hati. Diam-diam ia sangat bahagia melihat keretakan rumah tangga putranya.
__ADS_1
Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Itulah peribahasa yang saat ini tengah dirasakan oleh Hesti. Bukan hanya demi menyatukan Galih dan Melinda, tapi ada tujuan lain yang ia dapatkan jika mereka benar-benar bisa bersatu. Dan Hesti sangat menantikan hal itu. Keinginan yang sudah lama ia impikan akan jadi kenyataan.
Setelah selesai makan malam, Hesti pun bergegas masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Indah duduk di kursi ruang tamu menunggu kedatangan sang suami. Ia bahkan tidak menyentuh makanan sedikitpun karena ingin makan bersama dengan Galih.
"Kamu dimana, Mas? Kenapa gak pulang-pulang? Bahkan teleponku juga gak diangkat. Kau membuatku sangat khawatir," gumam Indah seraya menyalakan televisi demi membunuh rasa bosannya.
Semakin lama kedua mata Indah semakin terasa berat hingga ia tertidur dengan kondisi duduk de depan televisi. Sedangkan Hesti yang berada di kamar terlihat sangat bahagia dengan orang yang diteleponnya.
"Akhirnya, Tika. Akhirnya aku bisa memisahkan mereka berdua. Aku sudah tak sabar melihat Galih dan Melinda menikah," ucap Hesti pada sang adik - Kartika. Setibanya tadi ia di kamar, ia langsung meneleponnya dan memberikan kabar tentang rencananya yang lancar jaya tanpa hambatan.
"Kau tak takut dengan kemarahan Galih, Mbak?" Tanya Kartika.
"Takut, tapi biarkan saja. Dia tidak akan bisa marah padaku karena aku punya kartu as nya. Kalau dia sampai berani, aku akan memberitahukannya pada Indah." Ucap Hesti dengan liciknya. Ia begitu bahagia melihat foto-foto yang senonoh yang dikirimkan oleh Melinda padanya. Itu akan ia jadikan senjatanya untuk menekan Galih agar mau menikahi Melinda.
"Benarkah? Apa itu, Mbak?" Tanya Kartika penasaran.
"Melinda mengirimiku foto mereka berdua yang tak menggunakan baju." Ucap Hesti.
"Wanita itu berani juga. Bagaimana kalau dia sampai hamil, Mbak?" Tanya Kartika. Bukannya resah, justru Hesti semakin bahagia mendengarnya.
"Tentu saja aku sangat bahagia jika itu memang bisa terjadi dengan satu kali berhubungan. Itu artinya anakku sehat dan istrinya itu memang mandul," ucap Hesti tanpa ada rasa bersalah sedikitpun pada Galih maupun Indah karena sudah menjadi pihak ketiga dalam pernikahan mereka.
__ADS_1
Hesti dan Kartika saling tertawa lepas merasakan euforia kemenangan yang terjadi. Tak menghiraukan bagaimana nanti jadinya jika apa yang hari ini terjadi diketahui oleh Indah. Betapa malangnya nasib Indah memiliki mertua jahat bagaikan iblis seperti Hesti. Yang rela mengorbankan kebahagiaan putranya demi kepentingannya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...